DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 6


__ADS_3

~ Bagaimana bisa aku membuka hati, jika mimpi buruk itu selalu datang setiap malam, saat mata ini mulai terpejam.


_Nathan_


*****


Siang hari setelah pulang kuliah,


Aku turun dari mobil, dan berlari kecil menuju sekolah Arsy.


Mataku mencari kesana kemari, Ah itu dia.


Arsy sedang duduk di ayunan ditemani dengan seorang wanita berseragam batik, yang kutebak sebagai gurunya.


"Arsy... Maaf ya kakak telat. Tadi drivernya lama datang." Aku menangkupkan kedua tanganku, lalu mengangguk sopan kepada wanita di sebelah Arsy.


"Iya kak gak apa - apa, Arsy ditemani sama Miss Dewi kok." Arsy tersenyum manis sekali.


Ah seandainya saja papanya Arsy juga bisa tersenyum seperti ini. Dapat paket komplit deh.


Aku mengucapkan terima kasih kepada Miss Dewi. Dia hanya membalas dengan tersenyum, lalu memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Waduh. Ada apa gerangan?.


"Kamu... Suster baru Arsy?" Tanyanya dengan nada tak yakin.


Arsy menarik - narik tanganku kebawah, maksudnya agar aku berjongkok dan sejajar dengannya. Setelah itu, dia membisikiku sesuatu,


"Kakak, Miss Dewi itu suka sama papaku lho." Arsy berbisik di telingaku.


Upss . Jadi begitu toh. Aku mengangguk paham. Lalu berdiri kembali, dan memasang senyum lebar untuk Miss Dewi.


"Saya bukan susternya, Miss. Tapi...Calon mamanya Arsy." ucapku dengan pedenya. Skak mat!


Biar dia tidak usah berharap lagi deh dengan Pak Nathan.


Miss Dewi terlihat kaget mendengarnya. Begitu juga Arsy, ia menutup mulut dengan kedua tangannya.


Guru Arsy itu, kini menatap Arsy, seolah tak percaya dengan apa yang aku katakan.


"Benar itu Arsy?"


Arsy mengangguk sambil tetap menutup mulutnya. Aku hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi lucunya Arsy.


"Kalau begitu, kami pulang dulu ya Miss... Selamat siang."


Aku pamit dan bergegas menggandeng Arsy, untuk meninggalkan tempat itu. Tidak tahan juga rasanya di perhatikan terus menerus olehnya. Memangnya seaneh itu kalau aku menjadi calon mamanya Arsy.


Mobil online yang ku sewa masih menunggu di seberang jalan. Setelah masuk ke mobil, Arsy melepaskan kedua tangannya.


"Kenapa kamu menutup mulut begitu?" tanyaku heran.


"Itu ekspresi kagetku kakak.." sahut Arsy.

__ADS_1


"Oh yaa? Wah kakak baru tahu. Jadi kalau kaget harus menutup mulut ya?"


"Iya aku melihatnya di acara TV yang di tonton Bik Munah kemarin. Ada anak kecil yang kaget, terus dia menganga, dan menutup mulutnya begitu. Tapi ini rahasia ya.. jangan kasih tau papa."


Aku tertawa mendengarnya. "Siap bos. Kamu pintar banget deh."


"Hihii. Arsy memang pintar. Miss Dewi itu selalu titip salam ke papa lewat Arsy, tapi papaku gak suka."


Aku mengernyit ."Kenapa papa kamu gak suka? Miss Dewi kan cantik."


Arsy mengangkat kedua bahunya.


"Papa bilang wanita cantik itu racun. Arsy juga gak ngerti. Racun kan rasanya pahit emangnya papa pernah rasain."


Wah.. wahh. Pak Nathan hebat sekali dirimu ya. Dia bilang aku tidak boleh mengajarinya hal yang absurd dan tidak - tidak kepada Arsy. Tapi ternyata dia sendiri bilang kata-kata begitu ke anak kecil seperti Arsy. Aku harus protes sama dia nanti. Sungguh terlalu.


**************


Sesampainya di rumah, makanan sudah di siapkan oleh Bik Munah.


Arsy makan dengan lahap. Masakan Bik Munah memang enak sekali.


Ternyata Bik Munah itu sudah 8 tahun bekerja disini. Tentu saja dia paham betul seluk beluk keluarga ini.


"Loh, non Nindi gak ikut makan? " Bik Munah menegurku, yang sedang di dapur mengambil minuman di kulkas.


"Gak bi, saya masih kenyang. Nanti aja."


"Ih bibi, apaan siih." Aku tersipu malu - malu.


"Tapi ya non, bibi juga kaget waktu non Nindi datang, ini pertama kalinya Den Nathan bawa perempuan, setelah nyonya Jihan gak ada."


Jihan?


Siapa itu. Wah kesempatan nih cari info dari Bi Munah.


"Nyonya Jihan itu ibunya Arsy ya, bi.. emang dia kemana ?" tanyaku penasaran.


Bi munah menundukkan wajah, "Itu biar non tanya sendiri sama Den Nathan yaa... Bibi gak berani cerita. Kalau Den Nathan udah bisa terima kehadiran non Nindi, nanti pasti dia cerita sama non."


Aku mengangguk memakluminya.


Yah gagal deh dapat info. Sejak kemarin aku memang penasaran dengan sosok ibu kandung Arsy. Kenapa disini tidak ada satupun fotonya. Aku juga belum berani untuk bertanya pada Pak Nathan. Hubungan kami belum sedekat itu, untuk saling bercerita.


"Baiklah bi, saya kedepan dulu yaa temani Arsy." aku berjalan meninggalkan dapur.


Kulihat Arsy sudah selesai makan, dan sekarang sedang menonton TV di ruang keluarga, duduk diatas karpet bulu berwarna marun. Aku berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.


"Kakak, Arsy ngantuk. Temani Arsy tidur ya.."


Aku mengangguk setuju. Membelai rambut halusnya, dan menggendong Arsy menuju kamarnya.

__ADS_1


Kamar Arsy berada di lantai bawah, sedangkan kamar Pak Nathan berada di lantai atas.


Aku merebahkan tubuh Arsy di atas kasur berukuran single yang dilapisi sprei motif Barbie, dan mulai membacakannya cerita.


Kami bercanda dan tertawa bersama, hingga akhirnya dia tertidur.


Aku tersenyum menatap wajah polos Arsy yang tertidur. Kulitnya yang putih dan halus.


Serta rambutnya berponi, sedikit berwarna pirang.


Pasti ibu kandung Arsy cantik sekali ya...


Tapi kenapa Arsy juga tidak pernah membicarakan ibunya. Sungguh aku tidak mengerti dengan keluarga ini.


Sepahit itukah sampai kalian semua tidak mau mengenang perempuan itu...


Aku mengecup kening Arsy, lalu perlahan - lahan keluar dari kamarnya.


Hufh. Ternyata lelah juga. Ku ikat rambutku keatas. Karena tengkukku rasanya sudah berkeringat.


Ketika melewati ruang keluarga, aku berpapasan dengan Pak Nathan yang baru saja turun dari lantai atas.


"Oh Pak Nathan sudah pulang." Aku menyapanya. Mendadak semangatku kembali. Semua lelah itu hilang entah kemana. Pak Nathan layaknya mood boster untukku


"Arsy sudah tidur?" tanya Pak Nathan, mengabaikan sapaanku tadi.


Aku mengangguk mengiyakan. Lalu mengambil tasku yang tergeletak di atas sofa.


"Kamu sudah mau pulang?" tanya Pak Nathan lagi.


"Iyaa.. saya ada tugas yang belum selesai hari ini. Lagipula bapak kan sudah datang. Kenapa? bapak gak mau saya pulang ya....?" ujarku sedikit menggodanya.


Pak Nathan tersenyum miring. "Ngaco kamu!"


Bibirku mengerucut sebal. Kenapa nggak ngaku saja sih. Bilang saja masih kangen. Iya kan pak....


"Kamu pulang naik apa? mau di antar ?"


"Nggak usah pak, saya udah pesan ojek online. Ah ini dia sudah datang. Saya pergi ya pak.."


Aku sudah bersiap untuk membuka pintu. Ketika pak Nathan kembali memanggilku.


"Eh tunggu. Ini masalah bayaran kamu. Berapa saya harus membayar untuk mengasuh Arsy?"


Aku terdiam sebentar, pikiranku mulai jahil.


"Itu nanti saya pikirin dulu ya pak, yang jelas bayarannya gak murah lhoo. Hihii. Bye bye Pak Nathan.. "


Aku mengedipkan sebelah mata, lalu bergegas kabur keluar sebelum Pak Nathan sempat menjawab.


Di dalam rumah tadi mungkin aku terlihat santai, padahal sebenarnya aku menahan debaran dada yang tidak karuan saat ini. Perasaanku campur aduk, seperti naik roller coaster.

__ADS_1


🌸🌸


__ADS_2