DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
POV 7 NATHAN


__ADS_3

Beberapa hari ini aku berpikir kalau aku tidak pantas untuk Anindira.


Untuk menatapnya saja aku tidak sanggup. Aku terlalu takut..


Kedua kalinya aku menunjukkan kelemahanku di hadapannya. Saat itu dia menatapku cemas, khawatir.


Aku hanya tidak mau mengurungnya dalam kesakitanku.


Aku mengintipnya dari jendela kamarku di atas. Kulihat dia sudah pulang dengan mengendarai motor.


Setelah tadi berpapasan dengannya. Hati kecilku ingin menghampiri dia, tapi kaki ini terlalu berat untuk melangkah.


Sedangkan Arsy...dia juga marah padaku sekarang.


Dia kembali mogok bicara, karena tahu aku mengacuhkan perempuan kesayangannya itu. Bahkan Arsy ikut menatapku dengan tatapan sinis.


Entah darimana dia belajar ekspresi seperti itu.


"Den Nathan.. tadi non Nindi nangis lagi loh pas mau ambil minum di dapur. Maaf kalau bibi ikut campur. Tapi kalau memang den Nathan belum siap coba terus terang sama dia. Kasihan kan dia jadi murung terus. Jangan sampai menyesal nantinya."


Bi Munah bicara ketika ia mengantarkan makanan ke kamarku.


Aku menghela napas


"Apa kalau bersama saya dia bisa bahagia bi.. saya malah melukai dia."


"Yang bisa menentukan bahagia atau tidak ya Non Nindi sendiri. Buktinya dia bisa terima Den Nathan, bisa terima neng Arsy. Dia udah berjuang dan bertahan selama ini. Kalau memang Den serius ya harus sama - sama berjuang. Kalau begini malah Den Nathan lebih melukai dia."


Perkataan Bi Munah barusan berhasil menohokku. Perempuan yang sudah aku anggap sebagai ibuku ini menyadarkanku, kalau tidak seharusnya aku terpuruk.


Bukan hanya aku yang sakit. Tapi Anindira pasti lebih sakit dengan sikapku..


Bagaimana bisa aku sebodoh ini.


"Bi makasih ya.. saya mau susul dia sekarang."

__ADS_1


Bi Munah tersenyum lebar. "Semangat den. Kalau udah ketemu langsung lamar aja. Hehe."


Aku terkejut mendengar Bi Munah berkata seperti itu. Sepertinya dia sudah tertular sifat Anindira karena sering bergaul dengannya.


Tanpa membalas omongan Bi Munah aku beranjak pergi.


Maaf Anindira . Kali ini aku tidak mau melukai kamu lagi...


*****


Aku sampai di rumahnya. Berapa kali ku pencet bel tidak ada yang membukakan pintu. Sepertinya dia tidak ada di rumah.


Tapi aku melihat motornya terparkir di halaman rumahnya, mungkin dia tidak pergi jauh.


Sial! Aku lupa membawa ponsel untuk menghubungi dia.


Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya, duduk di bangku teras.


Satu jam, dua jam, tiga jam aku menunggu. Dia belum datang juga.


Teringat kejadian dengan Bella, dia meninggalkan motornya di rumahku, dan kehujanan sendirian.


Hari sudah mulai gelap.


Aku memutuskan untuk pulang, biar nanti ku hubungi dia setelah sampai di rumah.


Tapi, baru saja aku melangkah ke luar halaman rumahnya, mobil Fortuner berwarna putih berhenti tepat di depanku saat ini.


Aku mengenali mobil ini.


Hah! Aku tidak percaya mengalami ini lagi.


Mataku menyipit menatap dua orang yang baru saja keluar dari mobil.


Kilasan ingatan itu seakan berpusar kembali. Sejak remaja aku memang phobia jika melihat darah, Jihan yang tahu aku sakit memperkenalkanku pada temannya yang kuliah di kedokteran. Dia adalah Faizal.

__ADS_1


Akhirnya kami bersahabat. Dan ternyata Faizal juga sudah menyukai Jihan sejak dulu. Hubungan kami sempat renggang. Tapi kembali membaik setelah aku menikah.


Dan sekarang?


Lagi - lagi kami terjebak dengan wanita yang sama.


Ekspresi mereka berubah ketika melihatku di sana. Rahangku mengeras menahan emosi.


Aku menghampiri mereka. Menarik tangan Anindira bersamaku.


"Lo punya perasaan sama Anindira, iya?!" Tanpa basa - basi lagi aku berteriak pada Faizal.


Faizal mengetatkan rahangnya "Iya. Gue suka sama dia."


"****. Kenapa harus sama lo lagi sih?!"


Aku melirik Anindira yang terlihat terkejut. Segera ku tutupi tubuhnya di belakangku. Tidak rela jika Faizal menatapnya.


"Kali ini gue enggak akan ngalah, dulu gue mundur karena tau lo sakit. Tapi Jihan enggak bahagia kan sama lo." Faizal kembali bicara.


Tanganku terkepal menahan diri agar tidak memukul dokter brengsek ini.


"Maksud lo apa? Bukannya lo yang bilang supaya gue memikirkan Anindira. Dan lo mendukung selama ini."


"Gue emang bilang begitu. Tapi apa yang lo lakuin? selalu nyakitin dia! Kali ini gue enggak mau nyerah. Gue akan perjuangin dia."


Aku tahu Faizal serius. Dia memang playboy, tapi aku sangat mengenal dia.


Faizal tidak pernah serius dengan wanita lain. Setiap wanita yang bersamanya pasti akan berakhir dengan kekecewaan. Dia tidak pernah berjuang buat mendapatkan wanita. Selalu wanita yang datang kepadanya.


Tapi kali ini sebegitu kukuhnya dia ingin mendapatkan Anindira.


Aku menatapnya sinis.


Tidak semudah itu Ferguso! Dia milikku.

__ADS_1


***


__ADS_2