
🌸POV NATHAN🌸
"Pak, saya tidak mau di libatkan lagi dengan urusan menjadi dosen pembimbing."
Aku menemui Radit, selaku kepala jurusan di ruangannya.
"Maaf, Nat. Tapi cuma kamu yang saya andalkan sekarang. Dia itu sudah dua kali gagal lulus. Saya rasa cuma kamu yang cocok untuk membantu Rina." jawab Radit. Dia tiga tahun lebih tua dariku, kami memang sudah saling mengenal, kebetulan saat SMA dia adalah kakak kelasku.
Aku menghela napas berat dan mendelik menatap Radit. Melihat ekspresinya yang memelas, sungguh membuatku ingin menghilang saja dengan situasi ini.
Kalau aku setuju, maka bisa di pastikan hariku akan semakin sibuk. Di tambah dengan urusan Resto Green yang belum sepenuhnya selesai.
Dengan kesal, aku keluar dari ruangan Radit, lengkap dengan bantingan pintu untuknya. Kejadian akhir-akhir ini sungguh membuat kepala ini sakit. Aku meraih ponsel dan menghubungi Faizal.
[ Halo, Faizal. Saya on the way ke sana! ]
Tanpa menunggu jawaban dari Faizal, aku mematikan sambungan telepon, dan kembali berjalan menuju mobil.
Saat ini aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita, dan itu tidak bisa ku lakukan pada Anindira.
Mengingat pertengkaran kami kemarin malam, Anindira pasti marah padaku.
Dalam perjalanan, pikiranku tidak karuan. Kalut dengan berbagai macam permasalahan. Ku lihat tidak ada pesan sama sekali dari Anindira.
Apa dia marah padaku?
Argh, Nathan bodoh! kapan kamu bisa berdamai dengan ego. Anindira itu sekarang istri kamu. Bagaimana kalau dia nanti pergi dan berpaling seperti Jihan dulu?
Dalam kebimbangan, aku menjadi tidak fokus mengemudi. Sekelebatan memori masa lalu yang menyakitkan kembali hadir, membuat telingaku berdenging.
Aku memejamkan mata sejenak, untuk mengusir bayangan itu, sehingga tidak sadar ketika di depanku ada pedagang asongan yang ingin menyebrang. Kesadaranku langsung kembali, dan refleks membanting setir ke arah sebaliknya, hingga mobilku menabrak trotoar di sisi jalan.
Suara klakson beberapa kendaraan di belakangku terdengar bersahutan.
Jantungku ikut berdebar kencang, dengan tubuh gemetar, aku mulai menghubungi seseorang, Satu-satunya orang yang bisa menolongku saat ini adalah Faizal.
************
__ADS_1
🌸POV Anindira 🌸
Dengan langkah ragu, aku berjalan menuju sebuah perusahaan besar tempat Sarah bekerja. Dia benar-benar hebat bisa bekerja di perusahaan seperti ini, bahkan calon suaminya adalah atasannya sendiri.
Setelah aku menghubungi Sarah, dia mengajakku bertemu di kantornya. Karena hari ini dia ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Aku mengabari Sarah lewat pesan, dan menunggunya di lobby.
Tidak berapa lama Sarah datang, dengan pakaian yang rapi dan feminim. Dia sangat cantik dengan wajahnya berseri, khas orang yang ingin menikah tentunya.
"Nindi... sorry ya gue suruh ke sini. Soalnya benar-benar gak bisa di tinggal kerjaannya, harus di selesaikan sebelum cuti nikah. Hehe."
Aku tersenyum mengiyakan ucapan Sarah.
"Oiya, lo bawa persyaratannya?" tanya Sarah kemudian.
"Persyaratan apa?"
"Ih ya lamaran dong, Nin. Emang gue gak ngomong ya kalau bawa lamaran langsung?"
Aku menggeleng pelan. Seingatku Sarah memang tidak bicara seperti itu di telepon tadi.
"Eh tapi benar pasti di terima? gue kan gak punya pengalaman kerja. Apalagi di kantoran kayak gini."
"Jadi ada rekan bisnisnya Mas Indra calon suami gue, dia butuh sekretaris. Lo mau gak? yang penting lulusan vokasi, dan bisa menguasai komputer. Untuk pengalaman, gue yakin lo bisa kok. Yang dia cari itu, wanita aktif dan komunikatif."
Aku terdiam mendengar penjelasan Sarah. Sebenarnya ini kesempatan besar, tapi aku masih ragu karena belum mendapatkan ijin dari Mas Nathan.
"Sar, gue gak bisa kasih keputusan sekarang. Soalnya gue belum dapat ijin dari Mas Nathan."
"What? terus kenapa lo mau kerja kalau Pak Nathan gak kasih ijin?" Sarah menatapku bingung.
Akhirnya aku menceritakan semua pada Sarah, perihal masalah yang ku hadapi, tentang keadaan mamaku, dan hutang yang harus di lunasi. Sarah mendengarkan dengan serius tanpa memotong ucapanku sedikit pun. Dia memang sahabat yang baik, tidak berubah sejak dulu.
Ya, yang aku butuhkan sekarang itu memang seorang pendengar. Mas Nathan sendiri sedang banyak masalah, aku takut terlalu membebaninya. Apalagi, setelah bertengkar kemarin dia belum juga mau bicara denganku. Dan sampai siang ini, Mas Nathan juga belum menghubungiku.
"Jadi gimana ya, Sar..." aku mendesah pelan.
"Menurut gue, lo harus tetap ijin dulu deh sama Pak Nathan. Dia kan sekarang suami lo, Nin."
__ADS_1
"Tapi Mas Nathan marah deh kayaknya sama gue."
Sarah menghela napas, ia lalu mengusap tanganku berusaha untuk menenangkan.
"Nindi.. lo tau kan sifat Pak Nathan itu kaku kayak kanebo kering. Dia pasti merasa bersalah juga sama lo, cuma kan tau sendiri gengsinya suami lo itu kayak apa dari dulu."
Aku nyengir lebar mendengar perkataan Sarah. Ada benarnya juga memang, aku lupa kalau Mas Nathan itu memang sangat kaku. Sifatnya yang seperti ini lah, sering di salah artikan oleh orang lain. Hanya orang terdekatnya saja yang tahu, kalau Mas Nathan itu aslinya baik hati dan tidak sombong.
"Makasih ya, Sar. Gue harus balik sekarang deh. Takut Mas Nathan udah pulang. Nanti gue kabarin lo ya, keputusannya gimana." aku beranjak dari duduk, ingin segera pergi untuk menemui Mas Nathan.
"Sip deh. Udah jangan galau mulu. Jelek tau."
Sarah mengantarkan kepergianku sampai di pintu utama kantor. Untunglah aku bertemu Sarah hari ini, sehingga suasana hatiku lebih membaik sekarang.
Aku meraih ponsel dan menelepon nomor yang sudah sangat kuhafal di luar kepala. Hari ini tekadku adalah untuk menyelesaikan masalah dengan Mas Nathan. Aku benar-benar tidak sanggup kalau harus terus berdiam diri dan tidak bertegur sapa dengannya. Ibarat sayur tanpa garam, rasanya sangat hambar jika dalam satu rumah suasana sepi dan tidak harmonis.
"Halo, Mas..." ucapku ketika sambungan telepon terhubung.
Tapi aku terkejut begitu mendengar suara orang di seberang sana bicara. Itu bukan suara Mas Nathan.
"Kak Faiz? Mas Nathan mana?" tanyaku bingung.
Di seberang sana, Kak Faiz menjelaskan kondisi Mas Nathan sekarang, kalau Mas Nathan berada di kliniknya, dan baru saja mengalami kecelakaan kecil. Tentu saja aku panik mendengarnya.
Aku bergegas mematikan telepon, dan mencari taksi untuk pergi ke klinik Kak Faiz.
Ya Tuhan... bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Mas Nathan.
Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi pada suamiku. Bahkan terakhir kali aku bicara dengannya adalah kemarin malam, saat kita bertengkar. Aku pun belum sempat meminta maaf padanya.
Mas Nathan, semoga kamu baik-baik saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk denganmu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Mulai sekarang akan di usahakan cepat up yaa... Jangan lupa vote dan komentarnya 😍😍😍
👇👇👇
__ADS_1
Nathan Mahendra