DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Nadi ( Nathan Nindi )


__ADS_3

POV AUTHOR


Sudah tiga hari, dan Nathan masih setia menemani Nindi di rumah. Dia selalu mendampingi istrinya untuk belajar berjalan kembali.


Bukan karena Nindi lumpuh, namun otot-otot kaki Nindi terasa kaku karena selama satu minggu lebih terbaring dalam koma. Jadi untuk di bawa berjalan, masih ada rasa nyeri.


"Mas, kamu mending balik kerja deh. Aku gak apa kok." ucap Nindi.


Mungkin ini pernyataan Nindi yang ke sembilan puluh sembilan kali. Nindi selalu bilang pada Nathan, kalau dia sudah baik-baik saja, tapi suaminya itu tetap ngeyel tidak mau meninggalkan Nindi.


"Aku cuti kok." sahut Nathan cuek. Dia sedang membaca beberapa buku di atas ranjang.


"Oh ya? di kampus juga cuti? memangnya kamu melahirkan?" Nindi mencibir, dan menyenderkan kepalanya ke dada bidang Nathan. Memaksa Nathan untuk menatap dirinya.


Nathan terkekeh, dia mencubit pelan hidung Nindi.


"Kenapa? bosen ya ada suami di sini?"


Satu kecupan mendarat di bibir Nindi yang mengerucut.


"Bukan gitu... tapi aku cuma gak mau, gara-gara aku, kerjaan Mas terbengkalai."


"Ya gak lah... aku kan tetap kerja dari rumah."


Sumpah ya.. sifat keras kepalanya itu tetap tidak berubah. Bukannya aku tidak senang dia menemaniku di rumah, hanya saja aku merasa bersalah. Dari info yang ku dengar, selama satu minggu kemarin dia sana sekali tidak bekerja.


Nathan sangat protective. Jika ingin makan, maka dia akan menyuapi Nindi.


Jika Nindi ingin mandi, dia juga tidak segan untuk membantunya untuk mandi.


Sedangkan Nindi? harus menahan malu setengah mati saat Nathan melakukan semua itu. Dia belum siap mental untuk melakukan mandi bersama, karena selama setahun menikah belum pernah melakukan itu.


"Besok aku kerja."


"Benar?"


Nathan menganggukkan kepalanya, lalu mengusap rambut Nindi lembut, dan memainkannya dengan jari.


"Janji gak akan melakukan hal yang bahaya."


"Iya... lagipula melakukan apa? toh semua sudah di kerjakan sama Bibi."


"Good. Kalau begitu aku bisa tenang." tukas Nathan. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke sebuah buku tebal yang sejak tadi ia baca.

__ADS_1


Nindi maklum kalau suaminya itu memang hobi membaca. Berbeda dengan dirinya, baru melihat buku setebal itu saja, dia sudah sesak napas. Apalagi harus membaca. Lebih baik lari keliling lapangan.


Karena bosan, Nindi meraih ponselnya, dan membuka sosmed. Sudah lama dia tidak membuka akun sosmed miliknya. Akun GI atas nama Anindira.M itu, semakin bertambah followersnya.


Nindi tersenyum kecil membaca DM dari teman-temannya. Bahkan ada undangan reuni yang belum sempat ia baca.


"Itu apa?" tanya Nathan tiba-tiba.


Nindi sampai kaget, karena ia pikir Nathan masih sibuk membaca buku.


"Ini akun aku, Mas."


Mata Nathan memicing menatap layar persegi yang ada di tangan Nindi.


"Kenapa banyak foto kamu?"


"Loh, ini kan akun aku Mas, ya banyak foto aku dong."


"Oh.." Nathan hanya menjawab singkat, lalu kembali mengalihkan pandangannya.


Kenapa sih? memangnya salah kalau banyak foto diri sendiri?


Nindi bingung. Kenapa dengan suaminya? kenapa dia terlihat marah begitu.


"Gak punya."


"Heh? yang benar?" tanya Nindi tak percaya.


"Iya buat apa? Buang waktu, gak tertarik."


"Hem, kamu kenapa sih Mas? marah sama aku?"


"Pikir saja sendiri."


Pikir sendiri? Dia pikir aku cenayang?


"Ya ngomong dong, aku kan gak bsa baca pikiran Mas Nathan."


Akhirnya Nathan berbalik, kembali menatap Nindi, "Kenapa di sana cuma ada foto kamu? gak ada foto Arsy, atau...foto suami kamu."


Telinga Nathan memerah, dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa bisa bertingkah kekanakan seperti ini.


Tapi itu karena ia kesal, di akun Nindi hampir semua yang like adalah cowok. Komentar-komentar di fotonya pun, banyak cowok yang memuji. Dan Nathan tidak suka itu.

__ADS_1


Senyum simpul terukir di bibir Nindi. Ah, jadi suaminya cemburu? uwu.. gemas sekali.


"Ya maaf... ini tuh akun lama. Setelah kita menikah, aku gak pernah buka. Baru hari ini coba buka, Mas. Maaf yah... Mas Nathan Mahendra-ku, suami yang paling tampan sedunia kalahin Brad pit." Nindi merayu Nathan.


Tentu saja pria itu luluh, apalagi Nindi melakukannya sambil tersenyum nakal.


"Hapus foto-foto yang seksi. Lihat itu! ya ampun bikini. Aku saja belum pernah melihat kamu pakai itu."


Nindi tertawa. Dia memang pernah memakai bikini sewaktu liburan bersama keluarga, itu pun di private beach saat dia masih SMA. Bersama Tante Lisa, dan Mama Lusi.


"Oke. Oke. Aku hapus sekarang."


"Jangan pernah pakai baju begitu lagi!"


"Di depan kamu juga gak boleh?"


"Itu jelas beda." sanggah Nathan.


Nindi tertawa lagu, dia mengecup pipi suaminya gemas.


🌸🌸🌸🌸


Di sisi lain,


Bella sedang bicara dengan pengacaranya dan Ibu Gea. Dia ingin mengajukan banding. Karena hukuman Bella sangat berat. Di kenakan pasal berlapis, percobaan pembunuhan dan tabrak lari.


"Ma... tolong bantu aku." Bella terisak di balik jeruji. "Aku gak mau di sini, Ma."


"Bella, ini hukuman buat kamu, karena kamu salah."


"Ma, tolong bujuk Nindi dan Mas Nathan agar memaafkan aku." rayu Bella.


"Betul, mungkin dengan begitu akan lebih meringankan hukuman Bella." timpal pengacara Bella.


"Ma, aku mohon. Apa mama tega kalau aku menua di tempat ini? aku gak sanggup, Ma. Aku janji akan berubah." ucap Bella, air matanya mengalir.


Rambut Bella yang kusut tidak terawat, juga lingkar hitam di bawah matanya, menandakan Bella tidak bahagia di sana.


Hati ibu mana yang tega melihat anaknya menderita?


Bu Gea menangis, dia pun tidak sanggup hidup sendiri tanpa Bella.


🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2