DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Kunjungan


__ADS_3

Akhirnya.. aku sudah bisa berjalan dengan normal, tanpa perlu bantuan kursi roda lagi. Ini semua berkat usaha dan dukungan dari Mas Nathan.


Hari ini dengan penuh persiapan kami pergi ke suatu tempat. Hanya aku dan Mas Nathan. Karena Arsy tidak mungkin kami ajak ke tempat ini.


Setelah menunggu sekitar lima menit, akhirnya yang kami tunggu muncul. Dia terlihat terkejut melihat kedatanganku.


"Kalian?" ucapnya pelan.


Wajah itu, terlihat sangat berbeda. Kecantikannya tidak pudar, hanya saja terlihat lebih pucat dan berantakan.


Bella menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya.


"Bagaimana kabar kamu, Bel?"


Dia mendongak, menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tiba-tiba saja air matanya luruh. Bella terisak dengan bahu yang terguncang.


"Maaf..." lirihnya. "Aku minta maaf Nindi atas semua perbuatanku padamu."


"Aku terlalu dibutakan oleh cinta, sampai tega melakukan hal jahat padamu. Aku benar-benar menyesal." isak tangis Bella tak berhenti.


Mas Nathan mencengkram tanganku dengan erat. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Aku tahu dia membenci Bella.


"Bella, aku sudah memaafkan kamu. Perbuatan kamu memang salah. Hampir merenggut nyawaku dan bayi dalam kandunganku. Tapi... aku gak berhak untuk menghakimi kamu."


Bella mengusap air mata, dengan punggung tangannya.


"Kamu memaafkan aku?" Dia mengerjap tak percaya.


"Lihatlah Bella, orang yang sudah kamu sakiti, masih mau berbesar hati menjenguk kamu dan memaafkan kamu seperti ini." kali ini Mas Nathan yang bicara.


"Aku mengerti, Mas. Kamu memang gak salah pilih menikahi Nindi. Dia sangat baik." sahut Bella.


"Dia memang memaafkan kamu. Tapi bukan berarti kamu bisa bebas. Kamu tetap harus menjalani hukuman di sini!"


"Mas pelan-pelan ngomongnya. Jangan kasar begitu."


Sungguh aku tidak tega melihat kondisi Bella.


Beberapa hari yang lalu, Bu Gea datang ke rumah. Dia memohon agar aku bisa memaafkan Bella. Awalnya Mas Nathan menolak. Dia melarangku untuk memaafkan Bella, apalagi menemuinya seperti ini.


Berhari-hari aku membujuknya, akhirnya Mas Nathan luluh. Dengan syarat, aku tidak sendiri, dan harus di temani olehnya. Mas Nathan juga tidak ingin aku mencabut laporan pada Bella. Dua harus tetap menjalani hukumannya.


Aku menyetujuinya.


"Bella... semangat yah. Yang penting kamu sudah menyadari kesalahan kamu."


Bella mengangguk, "Maaf ya, Nin... Maafin aku."

__ADS_1


Setelah itu tidak ada yang bicara, hanya Bella terus menangis sambil mengucapkan maaf padaku berulang-ulang.


🌸🌸🌸🌸


Setelah mengunjungi Bella, kami pergi ke Resto Green. Di sana para pegawai sudah menunggu kedatangan kami.


Bahkan mereka juga menyiapkan kejutan kecil.


"Selamat datang Kak Nindi..." Rina menghampiriku.


Aku sudah mendengar, kalau dia yang menjadi saksi di persidangan kemarin.


"Makasih ya, Rin."


Rina tersenyum, "Aku senang Kak Nindi sudah sembuh."


Setelah itu beberapa orang juga menyalamiku. Mengucapkan syukur dan selamat atas kesembuhanku.


Loh Mas Nathan mana? Aku tidak melihat dia di sampingku. Padahal sejak tadi dia di sini.


Tiba-tiba...


Panggung mini tempat live music di Resto ini menyala. Seperti dulu saat dia melamarku.


Bagaikan dejavu, semua terulang lagi.


Suara merdu Mas Nathan mulai mengalun indah, menghipnotis semua orang yang ada di Resto ini.


*Memenangkan hatiku


bukanlah satu hal yang mudah


kau berhasil membuat


ku tak bisa hidup tanpamu


Menjaga cinta itu


bukanlah suatu hal yang mudah


namun tak sedetik pun


tak pernah kau berpaling dariku


beruntungnya aku dimiliki kamu*


( Rina menuntunku untuk berjalan ke depan mendekati Mas Nathan. Rupanya ini semua rencana mereka.)

__ADS_1


*meruntuhkan egoku bukan satu hal yang mudah


dengan kasih lembut kau pecahkan kerasnya hatiku


beruntungnya aku dimiliki kamu ..


kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati


kau jadi harmoni saat ku bernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini


kaulah bentuk terindah (kaulah bentuk terindah) dari baiknya Tuhan padaku


waktu tak mengusaikan cantikmu (mengusaikan cantikmu)


kau wanita terhebat bagiku, tolong kamu camkan itu*


( Prok, prok, prok...)


Terdengar tepuk tangan riuh semua orang di sana. Aku malu sekaligus senang. Dengan perut yang besar seperti ini, dia masih memperlakukanku dengan romantis.


"Makasih, Mas."


Mas Nathan tersenyum, dan dia semakin merapat, mendekatkan wajahnya padaku.


Lalu semua terjadi, Mas Nathan menciumku di depan semua orang.


Sorakan mereka semakin ramai. Bahkan ada yang malah menutup wajah mereka sendiri.


Aku? hanya bisa mematung kaget dengan apa yang suamiku lakukan.


Selanjutnya.. aku membalasnya. Seakan dunia ini milik kita berdua.


Aku bersyukur, Tuhan memberikanku kesempatan kedua. Untuk mendampingi Mas Nathan juga Arsy. Untuk tetap melahirkan buah hatiku.


Semua telah selesai. Kami berhasil melewati ujian dan cobaan di tahun pertama kami, dengan satu kiat.. yaitu Cinta.


Sekarang tinggal memikirkan nama apa yang cocok untuk bayi laki-lakiku nanti.


Ada yang mau sumbang ide?


TAMAT.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Tamat yess.... terima kasih atas partisipasi dan dukungannya selama ini.


Mungkin nanti aku akan fokus ke cerita baru.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya.... 🤗🤗🤗


__ADS_2