DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
POV 5 NATHAN


__ADS_3

Seminggu aku tidak bertemu dengannya. Mata ini tidak bisa di cegah untuk mencarinya, sosok gadis kurus, mungil yang selalu bertingkah absurd di depanku.


Dia sudah memasuki tahun akhir. Pastilah dia sangat sibuk.


Dan kebodohanku selanjutnya adalah... aku menawarkan diri kepada kepala jurusan untuk menjadi dosen pembimbingnya.


Dia mengajukan untuk membuat film pendek tentang PTSD.


Gadis yang menarik bukan?


Padahal dia tahu aku mengidap penyakit itu. Tanpa rasa takut dia terus mendekatiku. Aku jadi ingin tahu apa isi otaknya itu, kenapa selalu mencari gara-gara denganku.


Dan sekarang dia kembali menggodaku. Aku merasa tidak bisa bersikap sesuai umurku jika dengannya.


Ini gawat!


Saat dia mulai memajukan tubuhnya, dan berbisik kepadaku


"Kalau saya kangen sama bapak emang boleh?"


Saat itu kami saling menatap. Aku merasakan debaran hebat di jantungku. Dan pertahananku hampir saja runtuh. Biar bagaimanapun aku juga lelaki normal kan...


Untung saja aku masih bisa menguasai diri.


**


Siang ini seseorang datang, dia adalah Bella.


Adik iparku. Atau bisa disebut mantan iparku.


Dia adalah adik dari Jihan.

__ADS_1


Setelah kepergian Jihan, orang tuanya menyarankanku untuk menikah dengan Bella.


Aku menolaknya tentu saja. Menikah dengan Bella malah akan membuatku semakin sakit.


Dia tidak beda jauh dengan Jihan. Bahkan wajahnya pun sangat mirip.


Setahun lalu Bella ke luar negeri. Mengurus usaha butiknya disana.


Dan sekarang dia kembali...


Dia bilang ingin menikah denganku. Bahkan ia mengancam akan mengambil hak asuh Arsy bersama mantan mertuaku itu.


Lihatkan ....kehidupan memang tidak berpihak padaku.


Bagaimana bisa mereka mengusikku ketika aku dan Arsy sudah hidup tenang?


Di waktu yang tidak tepat Anindira datang. Ia melihatku dan Bella. Dan anehnya Bella mengetahui siapa Anindira.


Padahal aku tidak pernah bercerita sedikit pun tentangnya.


Selama ini dia selalu menatapku dengan mata kagum dan memujaku.


Ada rasa takut di hati ini ketika ia pergi.


"Bella, bisa kamu pergi sekarang?"


"Kenapa, mas? Jangan bilang Mas Nathan mau mengejar cewek itu. Dia masih kecil mas, gak pantas buat kamu. Apalagi jadi ibu Arsy"


Aku melotot menatap Bella. Aku sudah mencoba sabar menghadapinya sejak tadi. Karena aku masih menghargainya sebagai kerabat dari Jihan.


Tapi bagaimana bisa dia menghina Anindira, padahal dia tidak lebih baik dari gadis itu.

__ADS_1


"Dengar Bella. Aku punya penyakit. Gangguan kejiwaan. Apa kamu masih mau menikah denganku. Hemm?"


Bella terlihat syok dan keget mendengar perkataanku.


"Kamu nggak serius kan, mas?"


Aku tersenyum sinis padanya. Lihatkan.. baru mendengarnya saja dia sudah merasa takut.


"Kenapa? Kamu tidak mau kan sama orang gangguan mental disorder sepertiku?"


Bella hanya diam tertunduk. Aku segera pergi meninggalkannya. Tidak ada waktu untuk meladeninya.


Ku lihat motor Anindira masih ada disana.


Ceroboh banget sih tuh cewek!


Aku menjalankan mobilku dengan cepat. Nomornya tidak bisa dihubungi. Ditambah hujan mulai turun.


Perasaan cemas itu datang lagi.


Bagaimana kalau terjadi apa - apa dengan dia?


Bagaimana kalau dia juga pergi meninggalkanku seperti yang lainnya?


Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu dengannya lagi?


Hanya dia yang selama ini tahan dengan sikapku.


Hanya dia juga yang tidak menjauh dariku.


Dan hanya Anindira yang bisa membuatku kembali tenang saat diriku tidak stabil.

__ADS_1


Lalu apa yang kamu ragukan lagi Nathan?


*****


__ADS_2