DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 18


__ADS_3

🍀Ajari aku apapun, asal jangan tentang bagaimana aku harus tanpamu.


***


Siang ini aku menonton pertandingan basket di kampusku.


Ternyata ada salah satu anak UKM basket yang menjadi gebetan Sarah, dia memaksaku untuk menemaninya. Karena aku sahabatnya yang baik hati dan tidak sombong jadilah aku berada di sini sekarang.


Ikut menonton pertandingan bersama Sarah. Kebetulan kampus kami menjadi tuan rumah ajang LIMA ( Liga Mahasiswa).


Team basket kampus kami cukup terkenal. Selain berprestasi, keunggulan lainnya adalah anggota team yang lebih mirip boyband.


Tubuh mereka yang kekar karena olahraga, rambut yang basah oleh keringat, dan bonus wajah tampan yang menawan. Tentu saja para mahasiswi tidak mau melewatkan kesempatan untuk menonton mereka.


Aku duduk di barisan tengah bersama Sarah, menatap serius para pria yang berlarian membawa bola.


"Waw. Keren.." Aku bedecak kagum melihatnya.


"Woy sadar. Sudah punya calon juga." Sarah menyenggolku kencang.


"Yaelah cuci mata doang. Lihat tugas terus lama - lama sliwer mata gue."


Mendengar aku mengomel Sarah malah semakin gencar meledekku.


"Memangnya Pak Nathan kurang keren?"


Aku tidak menjawab. Hanya meliriknya sinis. Tentu saja Mas Nathan-ku keren. Hanya saja setelah melamarku kemarin dia menjadi semakin posesif dan otoriter. Sehari bisa puluhan kali ia mengirim chat padaku. Bahkan kalau mau pergi pun aku harus laporan terus dengannya.


Di sela - sela obrolanku dengan Sarah, tiba - tiba ponselku berbunyi. Nada dering lagu Jennie - Solo terdengar cukup kencang, membuat orang di sekitar menoleh melihatku. Dengan tidak enak hati aku tersenyum pada mereka, lalu langsung memencet tombol hijau untuk mengangkatnya.


"Halo.."


"Hai.. kamu dimana?"


Suara Mas Nathan terdengar dari seberang. Nah kan panjang umur. Orangnya langsung telepon.


"Aku di...di kantin." Jawabku cepat. Bisa gawat kalau Mas Nathan tahu aku ada di sini.


Sarah yang mendengar aku berbohong melotot kaget padaku.


"Oh.. iya jangan makan sembarangan."


"Iya mas.." Jawabku sambil menaruh telunjuk di depan bibirku, agar Sarah tidak bicara. Takut nanti ketahuan oleh Mas Nathan.


"Oiya. Jangan lihat cowok - cowok main basket."


Mampus gue!


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, curiga kalau Mas Nathan ada di sini juga.


"Emm Mas ada dimana sekarang."


"Di ruangan saya lah. Lagi banyak kerjaan."


Fix. Ini berarti Mas Nathan bisa telepati. Atau jangan - jangan dia punya mata - mata. Bulu kudukku sampai berdiri membayangkan itu.


"Yasudah mas.. lanjutin aja. Aku mau makan dulu ya. Bye."


Tut.


Langsung aku matikan sambungan telepon itu. Sambil menatap ngeri ke ponselku sendiri. Ini sih gila.


"Lo kenapa sih?" Sarah menatapku bingung.


"Lo tahu enggak Sar.. Pak Nathan masa bisa tahu gue lagi ngapain sekarang. Apa dia bisa telepati ya.."


Mendengar itu Sarah hanya menoyorku dengan gemas.


"Cantik - cantik oneng sih lu. Itu namanya ikatan batin. Tandanya lo itu udah jadi soulmate dia. Jadi apa yang lo lakuin itu jadi firasat buat dia."


Aku masih sedikit bingung. Mengusap kepalaku yang masih sakit karena ulah Sarah tadi.


"Tapi kok gue enggak bisa begitu ya..."


"Yee otak lo aja masih kurang se'ons. Mana bisa kayak gitu. Haha."

__ADS_1


Dengan kesal aku membalasnya, dia tadi sudah menoyorku dan sekarang malah mengatai otakku kurang. Lihat saja!


Aku menggelitiki pinggang Sarah yang membuat dia teriak - teriak. Dan hasilnya ... Kami di usir pergi dari bangku penonton karena terlalu berisik sejak tadi.


Tapi diam - diam aku memikirkan perkataan Sarah.


Mas Nathan memang akhir - akhir ini lebih aneh. Dia selalu menghubungiku setiap hari. Sering juga dia mengantarkanku pulang. Padahal jelas - jelas aku membawa kendaraan.


Dengan gampangnya dia menyuruh orang untuk membawa motorku ke rumah.


Aneh kan... Ah cinta memang aneh.


*****


"Mas.. semalam Kak Faiz chat aku ajak ketemu." Ujarku pada Mas Nathan yang masih sibuk membereskan beberapa berkas.


Aku sedang berada di ruang keluarga Mas Nathan. Seperti biasa, sedang bimbingan TA dengannya. Film pendek sudah dalam proses pengerjaan dan pengeditan. Perannya aku ambil dari kegiatan sehari - hari di sekitarku.


Aku ingin cepat - cepat menyelesaikannya, tugas akhir sangat menyita pikiran fisik dan juga uang.


Untung saja Mas Nathan membantuku, bukan cuma sebagai dosen pembimbing tapi juga sebagai calon suami tentunya.


"Ya nanti kita ke kliniknya." Jawabnya sekilas.


"Kita?"


"Iya kita. Kamu sama saya. Memang kamu mau sendiri?"


Kali ini bukan cuma nada bicaranya yang datar, tapi tatapannya juga datar dan dingin.


Aku hanya memutar bola mata. Begitu saja emosi. Huh.


"Iyaa. Iya.."


Kalau sudah begini dia itu tidak bisa di bantah. Lagipula aku juga memang tidak mau bertemu dengan Kak Faiz sendirian, aku hanya ingin mereka berbaikan. Biar bagaimanapun Kak Faiz kan psikiater pribadi Mas Nathan.


"Assalamualaikum.."


Arsy datang bersama suster barunya. Dia baru saja pulang sekolah.


"Walaikumsalam.." Aku menjawab salamnya bersamaan dengan Mas Nathan.


"Papa..Tadi Arsy di ejek sama teman, kalau Arsy gak punya mama. Gara - gara Arsy enggak ada foto keluarga."


Mas Nathan terlihat kaget, ia menoleh bimbang ke arahku.


"Yasudah kita foto bareng ya.. Arsy, papa sama Kak Nindi."


Jujur saja aku terkejut mendengar Mas Nathan bicara seperti itu. Rasanya pipiku memanas saat ini. Bagaimana tidak, ucapan Mas Nathan tadi secara tidak langsung menganggap aku mama Arsy.


"Horee...Arsy mau foto. Berarti Kak Nindi jadi mama Arsy yaa.."


Mas Nathan kembali melirik ke arahku. Seolah meminta persetujuanku untuk di foto. Aku menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Iya boleh." Aku menjawabnya. Yang di sambut dengan pelukan dari Arsy.


Lalu Mas Nathan memanggil Milah. Suster Arsy yang baru.


"Milah.. bisa minta tolong fotoin."


Milah yang di panggil oleh Mas Nathan mengangguk malu - malu. Seolah dia yang mau di foto saat ini.


"Iyaa pak.." Jawabnya dengan nada halus.


Dia melihat Mas Nathan dengan tatapan kagum.


Instingku sebagai wanita tentu saja langsung berjalan, melihat gelagat si Milah itu.


"Ekhemm." Aku berdehem sambil menatapnya.


"Ini kameranya."


Sadar dengan tatapanku tadi, Milah hanya menunduk tidak berani melihatku secara langsung.


"Mulai sekarang yaa..."

__ADS_1


Setelah itu kami berpose bertiga. Dengan Arsy berada di tengah antara aku dan Mas Nathan.


Arsy menjadi pengarah gaya kami.


Mulai dari dia menyuruh aku dan Mas Nathan saling bertatapan, pose dia memeluk kami berdua, lalu pose terakhir...


Dia menyuruh aku dan mas Nathan berbarengan mencium pipinya, dengan dia berada di tengah.


Aku dan mas Nathan saling berpandangan mendengar permintaan Arsy tersebut. Sedangkan Milah hanya senyum - senyum melihat ekspresi kami berdua yang mungkin lucu bagi dirinya.


Arsy terus saja merengek ingin melakukan pose yang dia mau, katanya dia pernah melihat foto keluarga temannya seperti itu.


Mas Nathan akhirnya mengangguk padaku. Dan akhirnya ...dalam hitungan ketiga, kami melakukannya. Aku dan Mas Nathan mencium pipi Arsy dengan bersamaan. Pandangan kami bertemu saat itu. Seperti dalam film, aku membayangkan gerakan kami yang slow motion dengan soundtrack yang romantis.


Cekrekk.


Suara kamera kembali menyadarkanku.


"Sudah selesai. Wah.. hasilnya bagus banget."


Milah menatap sumringah layar kamera tersebut. Lalu memberikannya padaku.


"Ini non.."


Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih pada Milah, yang di jawab dengan anggukan sopan olehnya. Setelah Milah pergi, Arsy langsung merebut kamera itu, dia tertawa senang melihat hasil fotonya.


Dia bilang akan memamerkannya nanti di sekolah, kemudian dia berlari pergi sambil memanggil - manggil nama Bi Munah. Sepertinya dia juga ingin memamerkannya pada Bi Munah sekarang.


Setelah kepergian Arsy, tinggallah aku berdua dengan Mas Nathan. Suasana sangat canggung. Ku lirik Mas Nathan di samping, ternyata dia juga sedang menatapku.


Karena aku memergokinya, dia langsung berdiri dengan cepat dan mengambil buku di rak.


Aku tidak dapat menahan tawaku lagi saat ini. Melihat dia dengan santainya membaca buku itu. Dengan tawa yang kencang aku kembali bicara.


"Mas..."


"Hemm.." Dia menjawab. Masih dengan gayanya yang sok cool.


"Yakin kebaca tuh mas.. bukunya kebalik gitu."


Mas Nathan langsung gelagapan. Dia menutup bukunya dengan keras, lalu menatapku tajam.


Tapi bukannya diam aku malah semakin tertawa melihat ekspresinya. Melihatku seperti itu, kini dia maju mendekatiku dengan senyum menyeringai.


Waduh. Aku langsung terdiam melihat gelagatnya yang sedikit mencurigakan.


Lalu tiba - tiba dia melepaskan begitu saja kaos yang dia kenakan. Apa yang di lakukan Mas Nathan membuatku kaget, refleks aku menutup mata dengan kedua telapak tanganku.


"Mas.. ngapain sih. Ingat kita belum sah tau."


Tidak ada jawaban dari Mas Nathan. Aku memberanikan diri mengintip dari sela jariku.


"Wah, 'daebbak! (wah luar biasa!)" Tanpa sadar aku menggumam melihat otot perut mas Nathan yang sempurna itu. Ia sekarang sudah ada di depan mataku, sambil menatapku dengan ekspresi mengejek.


"Saya mau mandi. Dasar mesum." Ia mendorong pelan keningku dengan telunjuknya, sebelum akhirnya berlalu begitu saja menuju kamarnya di atas.


Sementara itu jantungku masih berdegup kencang, lebih cepat dari biasanya.


Mas Nathan suskes mengerjaiku sekarang. Sepertinya dia sengaja ingin membalasku, karena sudah menertawakan dia .


Melihat Mas Nathan seperti tadi, membuatku berpikiran yang tidak - tidak. Aku terus menggeleng - gelengkan kepala berusaha mengusir pikiran laknat itu.


"Anindira.. fokus! Fokus sebentar lagi lulus. Baru nikah. Ingat! Sebelum menikah enggak boleh ena - ena'!"


Aku komat kamit mengintrupsi diri sendiri saat ini.


Dalam rangka menenangkan diri, akhirnya aku memilih untuk menonton televisi.


Saat televisi menyala, acara gosip dan ngerumpi langsung muncul di layar kaca. Baru saja aku hendak mengganti channelnya ketika bel pintu berbunyi, pertanda ada yang datang.


Karena bunyinya tidak kunjung berhenti, akhirnya aku memutuskan untuk beranjak ke depan. Mungkin Bi Munah sedang sibuk di dapur dan Milah sedang bersama Arsy di kamar.


Bagai mendapatkan kejutan di siang hari bolong, ketika aku membuka pintu, seseorang berdiri di hadapanku. Dengan penampilannya yang super seksi.


Bella??

__ADS_1


Mau apa lagi dia.


*******


__ADS_2