
"Bu Nindi maaf saya juga gak tahu. Pas saya datang teh, Pak Satpam bilang Arsy sudah pulang tadi di jemput saudaranya." ucap Mila. Dia tertunduk takut di hadapanku.
Tadi saat akan menjemput Arsy, Mila menelepon kalau Arsy sudah tidak ada di sekolah. Begitu pulang, dia menjelaskan kalau Arsy sudah pergi sebelum dia datang. Pak satpam mengijinkan, karena Arsy terlihat akrab dengan wanita yang menjemputnya itu.
Tapi siapa?
Arsy tidak mempunyai saudara lagi. Aku juga sudah menghubungi Tante Lisa. Tapi bukan dia yang menjemputnya.
Bagaimana ini? Mas Nathan baru saja berangkat kemarin ke Jogja. Aku nggak mungkin menghubungi Mas Nathan. Dia bisa cemas, dan akan mengganggu pekerjaannya.
Ting. Nong.
Suara bel berbunyi. Aku segera berlari menuju pintu, berharap itu adalah Arsy. Tapi harapanku tidak terkabul. Ternyata yang datang justru Tante Lisa dan Kak Faiz.
"Nindi, sabar ya. Kita cari bareng - bareng" ujar Tante Lisa, berusaha menenangkanku.
Aku mengangguk pelan, "Bagaimana ini, Tan. Ini salah aku. Harusnya aku jemput dia lebih awal."
"Sstt. Tenang yah. Arsy pasti baik - baik saja. Tadi kamu cerita, katanya Arsy pergi dengan orang yang dia kenal? kamu ada kepikiran itu siapa? saudaranya Nathan mungkin?"
"Aku gak tahu, tante. Setahu aku Mas Nathan gak punya keluarga lagi di sini."
"Tunggu. Seorang wanita, dan saudaranya Arsy? kayaknya aku tahu deh siapa." ucap Kak Faiz tiba - tiba.
Aku dan Tante Lisa memandang Kak Faiz secara bersamaan.
"Sepertinya itu Bella." Kak Faiz melanjutkan.
Bella?
Bella adiknya Jihan itu?
Mendadak kepalaku terasa pusing. Aku terhuyung dan hampir terjatuh, kalau tidak di tahan oleh Tante Lisa. Mereka memapahku ke dalam rumah. Dalam keadaan setengah sadar, aku melihat Tante Lisa merebahkanku di atas sofa ruang tamu. Wajahnya terlihat sangat khawatir, sambil berteriak memanggil Mila agar membawakan minuman.
"Nindi, sadar. Ayo minum dulu." Tante Lisa menyodorkan segelas air putih dan memaksaku untuk meminumnya.
"Uhuk."
"Nindi kamu gak apa? Faizal! kenapa kamu bengong aja sih? cepat periksa Nindi!"
"Aku psikiater, Lis! bukan dokter umum. Memangnya Nindi sakit jiwa apa?" sahut Kak Faiz bingung.
"Sudah tante, aku gak apa kok. Tadi cuma pusing sedikit." ujarku pelan.
Tante Lisa masih mendelik sebal ke arah Kak Faiz, membuatku sedikit tersenyum melihat pertengkaran mereka.
"Kamu tenang dulu ya, Nin. Aku akan coba hubungi Bella. Kebetulan aku punya nomornya." kata Kak Faiz.
Mendengar itu, Tante Lisa kembali melotot tajam padanya. Kalau dalam situasi normal, pasti Tante Lisa sudah mencak - mencak marah pada Kak Faiz, karena bisa - bisanya pria itu mempunyai nomor kontak Bella.
Tapi Tante Lisa berusaha menelan amarahnya bulat - bulat. Terlihat dari wajahnya yang memerah sekarang.
Dia melengos, ketika melihat Kak Faiz berbicara lembut di telepon menanyakan posisi Bella. Aku hanya diam, mencoba mendengarkan pembicaraan Kak Faiz. Sepertinya benar kalau Arsy di bawa oleh Bella, karena Kak Faiz menyuruh Bella untuk datang ke rumah.
Setelah pembicaraan selesai, Kak Faiz beralih menatapku.
"Nindi, ternyata benar Bella yang membawa Arsy. Dia sedang menuju ke sini sekarang."
Aku menghela napas lega. Setidaknya Arsy baik - baik saja. Tapi kenapa Bella?
Kenapa wanita itu masih menggangguku sampai sekarang?
Saat dia datang nanti, aku harus memberikan pelajaran padanya.
Bella sudah keterlaluan! kalau Mas Nathan tahu, dia juga pasti akan marah.
Tiga puluh menit kemudian, tidak ada tanda - tanda Bella datang bersama Arsy. Aku mulai gelisah, dalam tiga puluh menit tadi tidak ada yang bicara antara kami. Semua sibuk dengan pikiran masing - masing.
Bahkan Tante Lisa hanya cemberut menatap Kak Faiz. Sepertinya dia benar - benar kesal dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Kemudian, sebuah mobil honda jazz berwarna orange, terlihat memasuki halaman rumah. Aku segera beranjak dari sofa, menuju pintu.
Mobil itu berhenti, dan tidak berapa lama Bella keluar dari sana, bersama dengan Arsy.
__ADS_1
Wanita itu menggandeng Arsy yang kini berjalan riang sambil membawa beberapa papper bag. Aku hanya diam menantinya di depan pintu.
"Mama... Arsy habis jalan - jalan sama Tante Bella. Dia kasih aku banyak hadiah." Arsy berlari menghampiriku, memamerkan papper bag yang sejak tadi dia bawa.
Aku tidak menjawabnya, tapi justru menatap Bella dengan garang. Berani sekali wanita itu mengajak Arsy tanpa ijin lebih dulu?
Bella tersenyum lebar. Aku tahu, kalau sebenarnya senyum itu palsu.
"Kenapa kamu ajak Arsy? kamu tahu tindakan kamu ini sama saja dengan penculikan!" aku mencecar Bella, begitu dia sudah mendekat.
"Penculikan? Arsy itu keponakanku. Hal wajar kalau tantenya ajak dia bermain." jawab Bella dengan ekspresi angkuhnya yang sangat menyebalkan.
"Tapi seharusnya kamu ijin dulu. Arsy itu juga anakku!"
"Anak? apa aku gak salah dengar ya? Arsy itu anak Jihan, kakak kandungku. Kamu itu hanya orang luar. Gadis kecil yang sok ingin menjadi ibu Arsy, tapi gak becus mengurusnya!"
Plak!
Aku sudah tidak tahan lagi. Sebuah tamparan ku layangkan di wajah wanita cantik dan angkuh itu. Tante Lisa langsung maju berusaha menahanku, agar tidak menyerang Bella lagi.
"Mama. Kenapa mama tampar Tante Bella. Mama jahat!" Arsy kini menangis, dia lalu berlari ke dalam tanpa sempat ku cegah.
Ah, kenapa bisa emosiku terpancing oleh nenek sihir ini!
Dan itu terjadi di depan Arsy?
Dia pasti membenciku sekarang, menganggap aku ibu tiri yang jahat.
Bella menatapku nyalang, dia bergerak ingin menyerang dan memukulku, tapi keburu di tahan oleh Kak Faiz.
"Berani banget dia nampar gue! ****** kecil. B*tch."
"Cukup! Bella, lebih baik kamu pergi dari sini. Kalau Nathan tahu, dia pasti marah besar sama kamu." bentak Kak Faiz.
Mendengar nama Mas Nathan di sebut, gerakan Bella yang brutal berhenti. Dia mendorong Kak Faiz, dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Oke aku pergi. Dengar ya Nindi! aku gak akan biarin kamu bahagia. Sampai kapan pun kamu hanyalah orang luar, jangan berharap bisa menjadi ibu Arsy."
Tubuhku masih bergetar menahan amarah.
Orang luar dia bilang?
Aku sudah menikah sah dengan Mas Nathan. Tentu saja Arsy juga sudah menjadi anakku.
Seharusnya dia yang berkaca sendiri, orang luar itu bukan aku, tapi dia!.
******
Ini pertama kalinya Arsy marah denganku, berulang kali aku mengajaknya bicara, tapi gadis kecil itu tetap saja tidak menghiraukan.
Sepertinya aku terlalu sombong, menganggap diriku bisa menghadapi Arsy sendiri. Nyatanya, dia benar - benar sulit di bujuk kalau sudah marah.
Pantas saja dulu Mas Nathan sampai mengalah, mengajakku ke rumahnya karena Arsy mogok bicara.
"Arsy sayang... Jangan marah lagi dong." aku kembali membujuknya, dengan menaruh kedua tanganku di telinga. Berharap Arsy luluh.
Dia melirikku sekilas, lalu mendengus kecil seakan mengejekku. Lalu kembali sibuk mewarnai buku bergambar.
Aih, anak ini benar - benar mirip papanya kalau sedang marah begini.
"Arsy, mama kan udah minta maaf. Gak mau menerima permintaan maaf itu termasuk perbuatan tidak baik loh."
Kini Arsy mengalihkan perhatiannya.
"Kan belum 3 hari. Marahan boleh asal gak lebih dari tiga hari."
What? jawaban macam apa itu
"Emangnya Arsy tahan ya, marah sama mama tiga hari. Kalau mama sih gak bisa." ucapku lagi.
Arsy masih diam saja, dia hanya beranjak untuk mengambil cat warna di dalam tasnya. Lalu kembali duduk di meja belajar. Melewatiku, seolah aku tidak ada di sana.
Hufh. Gadis kecil ini benar - benar menuruni sifat Mas Nathan. Sepertinya aku harus mengalah dan membiarkannya sendiri dulu sekarang. Nanti malam baru aku kembali membujuknya.
__ADS_1
"Yaudah. Mama ke depan dulu ya, temani Tante Lisa dan Om Faizal. Kalau Arsy sudah gak sibuk, mama kembali lagi."
Aku mengecup pipinya sekilas, biasanya Arsy akan membalas kecupanku. Tapi karena dia sedang marah, jadi ia hanya cemberut tidak membalasnya.
Andai saja ada Mas Nathan, dia pasti akan membantuku. Tapi aku tidak bisa terus mengandalkan Mas Nathan.
Semangat Anindira!
Kamu pasti bisa menjadi istri dan ibu yang strong.
🌸🌸🌸
Malam hari,
Aku sengaja pergi ke kamar Arsy, berencana untuk tidur di sana. Saat aku membuka pintu kamarnya, Arsy sedang sibuk bermain dengan mainan baru yang di belikan oleh Bella.
"Arsy belum tidur?"
Dia hanya menoleh sekilas, lalu kembali bermain tidak mempedulikan kedatanganku. Ah rupanya mogok bicara masih berlanjut.
"Boleh mama ikutan?"
Begitu aku duduk di sampingnya. Arsy menghela napas lalu beranjak pergi meninggalkanku. Dia naik ke atas kasur dan tidur dengan menghadap ke tembok.
Ternyata sesakit ini rasanya di abaikan oleh Arsy, dia bisa semarah ini hanya karena aku menampar tantenya.
Yah.. aku juga salah sih. Tidak seharusnya memperlihatkan kekerasan di depan Arsy.
"Arsy, mau sampai kapan marah sama mama?" aku menghampiri Arsy, lalu ikut naik ke kasurnya.
Membelai rambut gadis kecil itu dengan lembut. Rambutnya berwarna pirang coklat, mirip dengan Jihan. Wajahnya juga sangat mirip dengan Jihan, hanya sifatnya saja mungkin yang benar - benar mirip dengan Mas Nathan.
Yaa.. benar kata Bella, aku hanyalah orang luar untuk Arsy. Berbeda dengan Bella, statusnya sebagai saudara kandung Jihan, tentu saja membuat hubungannya dengan Arsy lebih kuat.
Tanpa terasa air mataku menetes, mengenai pipi Arsy. Aku segera mengusapnya sebelum Arsy sadar. Tapi terlambat, Arsy sudah membalikkan badannya. Mata bulatnya kini menatapku sendu.
"Mama kenapa nangis?"
Aku segera menggeleng. Berusaha menyembunyikan air mataku.
"Iya Arsy maafin mama. Tapi jangan nangis lagi ya. Kata papa, Arsy harus jadi anak baik. Gak boleh buat mama nangis."
Penuturan gadis kecil yang polos itu membuat hatiku terketuk.
"Mama yang harusnya minta maaf sama Arsy. Maaf ya... Tadi siang itu mama khawatir banget. Takut Arsy di culik. Makanya mama marah."
Arsy mengangguk, "Arsy juga minta maaf ya, ma. Udah buat mama khawatir."
Akhirnya.... Aku langsung merengkuh Arsy dalam pelukanku. Sungguh aku sangat menyayanginya dengan tulus.
"Mama." Arsy melepaskan pelukannya.
"Ya sayang?"
"Tadi siang Tante Bella bilang, kalau punya ibu tiri gak enak. Karena ibu tiri itu jahat."
Bella!
Dia benar-benar nenek sihir. Aku tahu tujuan Bella kali ini ingin mempengaruhi Arsy agar membenciku.
"Menurut Arsy gimana? memangnya mama jahat?"
Arsy menggelengkan kepalanya. "Nggak. Mama Nindi baik. Sayang sama Arsy. Jadi Tante Bella itu bohong dong, Ma."
"Arsy, mama itu sayang banget sama Arsy. Jadi kalau ada yang bilang mama akan jahat ke Arsy, itu gak benar."
"Iya ma. Arsy ngerti."
Aku menghela napas berat. Sepertinya masalah ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Mas Nathan harus tahu apa yang telah di lakukan Bella hari ini.
*******
__ADS_1