DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Bimbang


__ADS_3

Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, aku terbangun ketika mendengar suara Mas Nathan bicara sedikit keras di telepon. Ku lihat dia sedang berjalan mondar-mandir dengan pakaian yang sudah rapi, ponsel genggamnya menempel di telinga.


Astaga! aku kesiangan. Istri macam apa aku ini.


"Mas..." Aku memanggilnya.


Mas Nathan menoleh, dia baru sadar kalau aku sudah terbangun.


"Halo sayang sebentar ya..." Bisiknya pelan.


Lalu perhatian Mas Nathan kembali teralih dengan orang di seberang sana.


Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini?


"Oke sudah. Baik kalau itu mau ibu, saya kabari nanti." Mas Nathan mematikan sambungan telepon, nada bicaranya terlihat kesal.


"Kenapa Mas?"


"Sayang, aku mau minta tolong sama kamu. Tapi kalau kamu gak bisa gak apa-apa. Kamu bisa tolak ini."


Keningku mengernyit, tidak biasanya Mas Nathan minta tolong seperti ini.


"Minta tolong apa, Mas?"


"Ibu Gea, dia bersikeras mau bertemu Arsy. Kemarin aku memang berhasil membuat dia pergi. Tapi dia tetap ingin bertemu. Aku gak bisa biarin Arsy sendiri bertemu dia. Apa kamu bisa temani mereka?" Mas Nathan menatapku ragu.


Oh jadi itu... Mas Nathan pasti takut kalau Arsy nanti di bawa pergi oleh keluarga mereka.


Menemani Bu Gea?


Dari cara dia menatapku kemarin, sudah kentara sekali kalau dia tidak menyukaiku.


Tapi... Mas Nathan sedang membutuhkan bantuan sekarang, dan aku ingin berguna untuknya.


"Baik aku bisa. Kapan waktunya?"


"Kamu serius?" Tanya Mas Nathan dengan tatapan tak percaya.


Aku mengangguk berusaha meyakinkannya.


"Syukurlah. Maaf kamu harus terjebak di situasi seperti ini. Tapi aku harus pergi ke kampus." Mas Nathan menghela napas.


"Mas tenang aja, serahkan sama aku."


Senyuman lebar terukir di wajah tampan Mas Nathan. Rasanya aku tidak perlu meminum vitamin lagi kalau sudah melihat serangan fajar seperti ini. Silau dan menghangatkan.


"Makasih ya, Sayang. Waktunya hari ini, dia akan tunggu kamu di sekolah Arsy."


Hah? aku langsung berdiri tegak saking kagetnya.


Waktunya hari ini juga? wah aku harus menyiapkan stok sabar yang banyak untuk menghadapi Bu Gea.


"Oke, Mas. Ya udah mas tenang aja yah."

__ADS_1


"Kalau begitu aku berangkat ya, udah telat. Kamu gak usah antar aku ke bawah."


"Hemm, hati-hati, Mas."


Cup. Sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Kemudian Mas Nathan berlalu pergi.


Aku mulai memikirkan, apa yang harus ku siapkan untuk bertemu Bu Gea nanti.


🌸🌸


Siang hari


Saat aku tiba di sekolah Arsy, Bu Gea sudah menunggu di sana.


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikumsalam." sahut Bu Gea datar.


Aku berusaha tersenyum padanya, dia pun membalas walaupun hanya seulas senyum tipis.


"Arsy belum keluar ya, Bu?"


"Belum, katanya sebentar lagi."


"Oh."


Setelah itu hening. Tidak ada yang bicara antara kami. Bu Gea kelihatan sibuk dengan ponselnya. Syukurlah, dia tidak datang bersama Bella juga. Bisa darah tinggi aku kalau menghadapi Bella juga.


Tidak berapa lama, bel sekolah Arsy berbunyi, dan riuh ramai suara anak-anak bersahutan. Arsy pun terlihat keluar kelas, bersama teman-temannya yang lain.


"Mama..." Arsy memeluk pinggangku.


"Halo sayang, gimana hari ini?"


"Seruuuu, Arsy berhasil membuat kalimat loh." ucap Arsy antusias.


"Wah pintar."


Arsy tertawa senang karena ku puji. Tetapi, tawanya terhenti ketika melihat Bu Gea memperhatikannya.


"Dia siapa, Mah?" bisik Arsy.


Aku melirik ke arah Bu Gea, dan memberi isyarat padanya agar mendekat.


Bu Gea pun mengerti, dia berjalan mendekati kami.


"Halo, Arsy. Aku Oma kamu." sapa Bu Gea.


"Oma? aku sudah punya Oma."


Ah, mungkin maksud Arsy adalah mamaku.


"Arsy, Ibu ini juga Oma kamu, namanya Bu Gea. Ayo salaman."

__ADS_1


Arsy menuruti ucapanku, dia mengulurkan tangan mungilnya, lalu mencium punggung tangan Bu Gea.


"Arsy gimana kalau kita jalan-jalan sekarang?" tanya Bu Gea dengan lembut.


Arsy pun menoleh padaku, meminta persetujuan.


"Arsy mau? nanti mama juga ikut."


"Mau!" sahut Arsy antusias.


Ah, senang sekali rasanya melihat Arsy antusias seperti ini. Dia pasti merasa kesepian, karena beberapa bulan ini Mas Nathan sibuk. Kami sekeluarga pun sudah jarang pergi bersama.


Nanti malam aku harus bicara dengan Mas Nathan.


🌸


Bu Gea ternyata mengajak kami ke mall. Arsy sedang asyik di arena bermain, sedangkan aku dan Bu Gea menunggunya sambil sesekali mengobrol.


Bu Gea menatap Arsy yang sedang bermain dengan mata berkaca-kaca.


"Andai saja Jihan masih hidup, dia pasti senang sekali. Arsy sangat mirip dengan Jihan. Lihat rambutnya... warna rambutnya juga sama dengan Jihan kan."


Deg. Ada yang perih tapi tidak berdarah. Apa itu? hatiku. Sabar Nindi... Jihan itu ibunya Arsy. Wajar kalau mereka mirip.


Bu Gea kini beralih menatapku.


"Anindira, terima kasih kamu sudah mau merawat Arsy dengan baik. Maafin kata-kata saya tempo hari ya. Saya hanya emosi karena Nathan selalu melarang saya menemui Arsy." ujar Bu Gea sambil mengusap tanganku.


"Iya, Bu. Tenang aja, aku akan menyayangi Arsy seperti anakku sendiri."


Senyuman tulus terukir di wajah Bu Gea, bahkan tatapannya kini melembut tidak seperti kemarin saat berkunjung ke rumah.


"Dulu, saya pernah menyalahkan Nathan atas meninggalnya Jihan. Mungkin itu yang menyebabkan Nathan benci keluarga saya. Pamannya Jihan bahkan memukul Nathan saat di rumah sakit, dan ingin memenjarakan Nathan. Tapi itu gak terjadi, karena bukti kuat kalau Jihan bunuh diri."


Aku sangat terkejut mendengarnya. Jadi ada kejadian seperti itu?


Kasihan sekali Mas Nathan, pantas saja dia sampai sakit psikis.


"Maaf, Bu. Gimana dengan Bella? apa benar dia menyukai Mas Nathan?"


Bu Gea mengusap air matanya yang mulai turun, "Ah iya, Bella. Anak itu memang sejak dulu menyukai Nathan. Bahkan dia yang membela Nathan, saat di pukul oleh pamannya. Saya juga menyuruh dia untuk menikah dengan Bella, tapi Nathan menolak kan? dia lebih memilih kamu."


Aku terdiam, benang-benang yang terputus kini mulai tersambung dan membuatku mengerti. Jadi seperti itu keseluruhan ceritanya. Hal ini nggak akan ku dapatkan dari Mas Nathan. Karena dia sangat tertutup dengan masa lalunya.


"Anindira, saya mau minta tolong sama kamu. Tolong bujuk Nathan supaya saya bisa sering melihat Arsy. Cuma dia satu-satunya kenangan dari Jihan. Saya tidak masalah Nathan menikah dengan siapa pun, asalkan Arsy cucu saya di rawat dengan baik. Kamu bisa tolong Ibu kan?"


Kata 'Ibu' membuatku luluh. Ya... biar bagaimanapun Bu Gea adalah seorang Ibu. Dia sudah kehilangan anaknya, dan sekarang dia sedang berjuang agar bisa terus melihat darah daging anaknya.


Arsy bahkan tidak mengenal Bu Gea. Itu berarti selama ini Mas Nathan tidak pernah mempertemukan mereka.


Apa yang harus ku lakukan?


Apa aku harus membantu Bu Gea dengan bicara pada Mas Nathan?

__ADS_1


Tapi bagaimana kalau Mas Nathan malah marah kalau aku ikut campur?


🌸🌸


__ADS_2