DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 10


__ADS_3

🍀 Walau hilang percayaku, Biar cinta menuntunku untukmu...


*****


Sepanjang perjalanan Pak Nathan uring - uringan. Dia mengumpat dan membunyikan klakson kepada siapa saja yang ada di depannya, sampai - sampai dimarahi oleh beberapa pengendara lain.


"Pak.. sabar oke? Coba tarik napas dalam - dalam....." Aku mencoba menenangkan.


Tapi dia malah melotot menatapku, membuat nyaliku ciut.


Aku kembali duduk bersandar, dengan wajah manyun. Lebih baik aku diam saja deh, daripada nanti kena semprot lagi.


"Kamu ngapain disana. Katanya sakit tapi malah main - main. Malah gak kuliah lagi."


Pak Nathan mulai mengomel.


Omelannya benar-benar seperti mamaku, bawa - bawa kuliah dan nilai mata kuliah.


"Saya gak main - main kesana pak. Makanya dengerin dulu kenapa sih. Saya tuh kesana mau tanya tentang bapak." Aku menjawab dengan sedikit kesal.


Pak Nathan terdiam. Alis tebalnya bertautan. Ia kembali bertanya dengan nada ketus.


"Tentang apa?"


" Ini tentang penyakit Pak Nathan. Bapak ingin sembuh kan... Tapi untuk sembuh, pertama bapak harus berubah. Cobalah untuk terima bantuan dan uluran tangan dari orang lain. Dan saya bersedia membantu bapak untuk itu." Aku menjelaskan dengan pelan. Takut dia marah atau tersinggung.


Pak Nathan sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Arsy, ditambah Kepribadiannya yang tertutup. Itu lah faktor yang menyebabkan ia sulit untuk sembuh, karena dia tidak bersosialisasi. Begitu penjelasan Kak Faiz yang berhasil ku tangkap tadi.


Pekerjaannya sebagai dosen juga atas saran dari Kak Faiz, maksudnya supaya Pak Nathan lebih banyak berinteraksi dengan orang lain.


Kupikir dia akan marah lagi. Tapi ia malah diam saja, tidak menjawab.


Lalu tiba - tiba ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan beralih menatapku.


Aku menahan napas karena gugup di tatap seperti itu olehnya.


"Kamu serius dengan omongan kamu barusan?" Tanyanya. Masih tidak mengalihkan pandangannya dariku.


"Itu kalau bapak mengijinkan." Jawabku mantap.


Dia kembali menatap lurus ke depan. Matanya menerawang seperti memikirkan sesuatu. Setelah beberapa lama diam, akhirnya Pak Nathan bicara lagi.


" Saya bukannya tidak mau sembuh atau tidak mau membuka diri, tapi setiap saya coba, hati kecil saya selalu berontak. Pikiran - pikiran negatif itu selalu muncul. Padahal Arsy sekarang sudah semakin besar. Jadi saya harus gimana? Apa yang bisa kamu bantu..?" Keluhnya.


Ia terlihat prustasi. Walaupun kini wajahnya lebih terlihat segar di bandingkan kemarin. Sudah tidak ada lagi lingkaran hitam di bawah matanya. Pertanda Pak Nathan bisa tidur nyenyak beberapa hari ini.


Aku mengerti perasaannya. tidak mudah memang bagi dia untuk percaya dengan orang lain. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah membantunya, dan meyakinkannya bahwa tidak semua wanita sama.


Bukankah cinta itu memang butuh perjuangan...?


Aku juga sebenarnya sudah memikirkan caranya. Tapi gak yakin dia akan setuju.


Yang aku tahu dari Kak Faiz dan Bi Munah, Pak Nathan belum pernah dekat dengan wanita manapun, setelah Jihan tidak ada.


Kak Faiz bilang, Pak Nathan selalu menghindar dan ia selalu takut untuk mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain.


" 3 bulan. Beri saya waktu 3 bulan untuk ada di dekat bapak. Selama 3 bulan itu, saya akan menemani bapak terapi, dan berusaha membantu menghilangkan trauma bapak. Terutama trauma sama wanita. Kasian kan Arsy, dia pasti mau punya keluarga yang utuh. Gimana?"


Pak Nathan terlihat terkejut mendengar kata - kataku. Ia tersenyum sinis.

__ADS_1


" Kamu yakin..? Walaupun setelah 3 bulan nanti ternyata saya tetap gak bisa bersama kamu?"


Nyutt. Ada rasa nyeri di hati ini mendengarnya. Rasanya seperti di tolak sebelum mencoba. Tapi aku berusaha menepisnya sekarang.


"Tenang aja. Saya akan menyerah dan menjauh dari bapak." Ujarku, menjawab pertanyaannya tadi.


"Kenapa? Bapak takut..? Gimana kalau setelah 3 bulan bapak malah mencintai saya?" Aku menambahkan, sengaja menantangnya dengan menatap mata Pak Nathan langsung.


Karena kata orang tatapan mata itu gak bisa berbohong.


Kupikir Pak Nathan akan menanggapinya dengan melengos, atau akan mengomel dengan telinga yang memerah karena malu seperti biasa kalau aku mulai goda dia.. Tapi sekarang dia balas menatapku dan berkata..


"Oyah? Gimna kalau selama 3 bulan malah kamu yang tambah cinta sama saya?"


Pak Nathan malah balik menggodaku, sambil memamerkan senyuman manisnya, bukan senyuman sinis atau mengejek yang biasa dia perlihatkan.


Ya ampun, ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan.


Dia terlalu kelewat ganteng, bikin pengen meluk. Eh..


Jangan mikir mesum Nindi..! Belum sah.


Rasanya seperti ada petasan kembang api di kepalaku ini. Aku segera mengalihkan pandangan . Senjata makan tuan ini namanya.


Niat mau kerjain dia, malah aku yang baper sendiri.


Kenapa juga Pak Nathan jadi genit begini?


Belajar dari mana coba!


Bisa diabetes kalau setiap hari aku di suguhin pemandangan kaya gini.


Dia kembali bicara. Tapi kali ini nada bicaranya sudah tidak lembut seperti tadi.


Aku melongo mendengarnya. Menatapnya takjub.


Luar biasa!.


Pak Nathan sudah kembali dalam mode galaknya.


Perubahan hatinya memang cepat banget. Tadi dia baik, terus jadi genit, dan sekarang sudah kembali lagi galaknya.


Kalau aku tidak tahu dia mengidap ptsd, mungkin aku sudah anggap dia punya kepribadian ganda.


" Kan dia dokter psikiater bapak. Masa saya gak boleh tanya si." Ucapku heran.


"Dengar ya.. kenapa Faizal masih sendiri Sampai sekarang? Dia itu playboy. Pacarnya ada dimana - mana."


" Terus hubungannya sama saya apa? Oh.. jangan - jangan bapak cemburu ya...."


Aku memicingkan mata menunjuk ke arahnya.


Pak Nathan malah tertawa garing. Iya garing banget.


Ketawa maksa kayak gitu.


" Saya cuma gak mau kamu di amuk sama cewek - ceweknya Faizal. Nanti saya juga yang repot."


Hah?

__ADS_1


Alasan macam apa itu. Aku diam saja tidak menyahut. Demi menjaga ketenangan dan ketentraman. Malas ribut lagi deh.


Tetap saja pak dosenlah yang selalu benar.


Pak Nathan mulai menjalankan mobilnya lagi.


Dia masih saja terus mengoceh tentang Kak Faiz yang beginilah, yang begitulah.


Terserah deh. Ora urus!


Ku ambil ponsel dan earphone dari tasku.


Lalu menyetel MP3. Suara bening Rossa terdengar, melantunkan lagu yang berjudul kepastian..


Dibatas keraguan


Tersimpan keyakinan


Ketulusan cintaku


Ku ingin kepastian


Sungguh adanya aku


Untuk dirimu kasih


Mengapa kau tak mengerti


Halusnya perasaanku


Kau goreskan keraguan


Namun ku menyayangimu


Walau hilang percayaku


Biar cinta menuntunku


Untukmu..


Ah.. pas banget nih lagu. Aku punya ide.


Aku ambil earphone sebelah kanan, lalu ku selipkan langsung di telinga Pak Nathan.


Dia yang daritadi mengoceh langsung terdiam.


Menoleh bingung ke arahku.


" Dengerin aja. Enak kok lagunya. Biar bapak bisa peka."


Ujarku, sambil nyengir.


Wajah Pak Nathan terlihat kaku. Telinganya kembali memerah.


Hihi. Mungkin dia kepanasan mendengar lirik lagunya.


Merasa kesindir ya pak.....ups.


***

__ADS_1


__ADS_2