DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
POV 8 NATHAN


__ADS_3

***


Siang ini aku mengajak Anindira menemaniku berbelanja di supermarket.


Dalam hati aku menertawakan diri sendiri, bagaimana mungkin di umurku yang sekarang ini malah berperilaku seperti ABG jika berhadapan dengan Anindira. Belanja hanyalah akal - akalanku saja sebenarnya.


Karena aku ingin bertemu dengannya malam ini. Padahal baru kemarin kami bertemu untuk fitting gaun.


Kehilangan dan trauma yang aku alami di masa lalu, membuatku bersikap posesif terhadapnya. Semoga saja dia bisa tahan dengan sikapku ini.


Anindira memasuki mobilku, dengan penampilannya yang berbeda dari biasanya. Dia mengenakan dress selutut berwarna nude. Sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Mataku sampai tak ingin berkedip melihatnya.


Dengan segera ku alihkan pandangan darinya, kembali fokus untuk mengemudikan mobil.


"Mas.." Anindira memanggilku.


"Hemm?" Aku menyahut pelan tanpa menoleh padanya.


"Aku pernah bilang kalau mas ganteng?"


Ups. Aku hampir saja mengerem mendadak mendengarnya. Begini nih.. Anindira terkadang kalau bicara enggak lihat situasi dan kondisi. Asal ceplos saja.


Aku berusaha mengatur ekspresiku. Kembali memasang tampang datar.


"Sepertinya sudah."


"Oh. Tapi hari ini mas lebih ganteng. Hehe."


Anindira terkekeh.


Sumpah deh. Kenapa aku bisa jatuh cinta sama anak pecicilan ini!


Tukang gombal. Pasangan lain mungkin pria yang lebih banyak menggombal. Tapi kalau kami tidak. Justru dia yang lebih sering menggodaku.


Kamu tahu Anindira?


Kalau kamu terus menggoda saya seperti ini. Rasanya saya mau menikahi kamu saat ini juga.


Aku memilih tidak menanggapi ucapannya yang tidak penting itu.


Hingga membuat dia semakin cerewet.

__ADS_1


"Arsy enggak ikut mas?"


Kalau Arsy ikut aku tidak bisa berduaan dengannya. Jadi aku memang sengaja tidak mengajak Arsy.


"Enggak. Dia ada tugas prakarya dari sekolahnya." Jawabku. Tentu saja aku berbohong. Arsy tidak tahu kalau aku akan bertemu dengan Anindira. Kalau dia tahu, pasti dia ingin ikut denganku.


Anindira mengangguk. Wajahnya terlihat menggemaskan kalau sedang diam begini.


"Mas masih jauh ya?"


Aku menghela napas. Melirik sekilas ke arahnya. Ku usap pucuk kepalanya dengan lembut.


"Sabar yaa sebentar lagi sampai."


Anindira langsung tersenyum lebar, bagaikan anak kecil yang di sogok dengan permen. Perbedaan umur kami yang lumayan jauh memang membuat aku harus selalu bersabar untuknya. Apalagi kalau penyakit pengagum oppa nya kambuh.


Wahh.. itu bisa bikin moodku berantakan seharian. Yah aku memakluminya karena memang umurnya masih semuda itu.


Mobilku memasuki parkir basement sebuah supermarket besar di kota. Kami turun bersama memasuki supermarket.


Anindira langsung mengait tanganku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling dan memasukkan bebarapa barang ke troli yang ku dorong.


"Kamu yakin makan ini semua?"


Anindira nyengir lebar. "Aku suka ngemil."


Dia lalu menunjuk ke sebuah etalase minuman kaleng.


"Sama ini ya mas. Boleh?"


"Oke."


Lalu dia kembali menarikku. Matanya tertuju pada boneka Teddy bear kecil


"Ini boleh?"


"Buat apa? Kalau tidak penting, enggak usah."


Anindira langsung manyun saat itu juga. Dia kembali melangkah ke depan.


"Ini boleh ya, mas.." Kali ini dia menunjuk ke beberapa cokelat.

__ADS_1


"No. Makanan kamu sudah banyak begini. Dan yang kamu ambil makanan manis semua."


Anindira merengut. Dia menyentakkan tangannya yang sejak tadi melingkar di tanganku. Ah baiklah. Dia kesal sekarang.


Dengan gerakan cepat aku mengambil semua cokelat yang ada di etalase itu, lalu menaruhnya di troli.


Melihat itu dia kembali tersenyum. Aku jadi merasa seperti mengasuh Arsy saat ini.


"Makasih sayang..." Anindira mengulum senyum. Kembali menggandeng tanganku.


Sayang?


Tunggu. Ini pertama kalinya dia memanggilku sayang.


"Jadi? Kamu mau apa lagi huh?" Aku bertanya dengan antusias.


"Ciki? Coki coki? Cola? Atau.. donat? Enggak apa - apa. Ambil aja semua. Nanti saya yang bayar."


****


Dalam perjalanan di mobil. Anindira bercerita dia pernah menonton dengan Faizal. Tentu saja aku kesal. Aku saja yang berstatus pacarnya saat ini belum pernah mengajaknya nonton.


Tunggu dulu. Aku tidak mau di samakan dengan Faizal. Aku akan menyenangkan Anindira dengan caraku sendiri.


Dua hari yang lalu aku mempelajari lagu Korea. Ku ambil dari playlist di ponselnya. Aku tertarik dengan judul lagu itu.


Ini memang bukan gayaku sama sekali.


Tapi aku melakukannya demi Anindira. Selama ini selalu dia yang mengejarku, memberikan cinta untukku. Sekarang aku juga ingin membuat dia bahagia.


Kebetulan sekali Anindira tertidur di mobil. Aku menghubungi sepupuku di Resto Green. Dan menyuruh beberapa pegawai di sana untuk menyiapkan semuanya.


Aku tersenyum sendiri membayangkan ekspresi Anindira nanti.


Lihatkan?


Cinta bisa membuat seseorang mabuk.


Ya.. mungkin ini yang namanya terserang virus bucin!.


**

__ADS_1


__ADS_2