
Sampai di klinik,
Aku berlari memasuki klinik Kak Faiz, diikuti tatapan aneh dari semua orang di sekitar. Sesampainya di sana, aku melihat Mas Nathan sedang duduk di sofa bersama Kak Faiz di ruangannya.
"Mas, kamu gak apa-apa?" aku langsung menghambur ke pelukannya dengan napas terengah. Menatap tubuh Mas Nathan, takut ia terluka.
Tapi kelihatannya Mas Nathan segar-segar saja tuh.
Dia hanya nyengir lebar melihatku kalut dan panik, begitu juga dengan Kak Faiz.
"Kalian kenapa sih, kok malah ketawa!"
"Nindi... tadi kan saya belum selesai bicara, kamu udah tutup telepon gitu aja." kata Kak Faiz, di sela-sela tawanya.
"Ya ampun, jadi... kalian bohong?" aku menghela napas, dan menghempaskan tubuhku di sofa.
Yang benar saja!
Padahal di perjalanan tadi aku benar-benar khawatir padanya. Tapi ternyata Mas Nathan tidak kecelakaan?
"Nathan memang kecelakaan tadi. Tapi cuma mobilnya aja tuh yang rusak nabrak trotoar." seru kak Faiz, yang di sambung dengan tawa khasnya.
"Yang benar, Mas?" aku bertanya pada suamiku untuk memastikan.
Mas Nathan mengangguk, lalu ia menggenggam tanganku.
"Aku gak apa kok."
"Ehem, kalau gitu aku tinggal kalian berdua di sini ya. Sudah nikah kok masih kayak ABG marahan terus." keluh Kak Faiz, kemudian berlalu meninggalkanku berdua dengan Mas Nathan.
Suasana canggung kini meliputi kami berdua, aku bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Anindira, saya minta maaf." ucap Mas Nathan tiba-tiba.
Sesuatu yang sangat tidak di sangka. Aku tahu, kalau Mas Nathan saat ini sudah berusaha dengan baik untuk menekan egonya padaku.
"Aku juga minta maaf, Mas." sahutku pelan.
Mas Nathan tersenyum, lalu ia merengkuhku dalam pelukan yang erat, sampai aku bisa merasakan napasnya saat ini.
"Untuk masalah mama, aku pasti akan bantu. Kamu gak usah khawatir ya."
Aku mengangguk pelan, tidak ingin kembali bertengkar dengannya. Untuk sekarang mungkin aku harus percaya dulu dengan Mas Nathan.
"Oh iya Mas, aku dapat undangan dari Sarah, dia mau nikah. Kamu bisa datang kan sama aku?"
__ADS_1
"Kapan?"
"Minggu depan. Bisa kan?"
Mas Nathan mengerutkan kening, seperti sedang berpikir. "Nanti coba saya lihat jadwal ya."
Yah, nggak pasti dong kalau begitu. Padahal aku ingin sekali datang dengannya. Nggak ada salahnya kan memamerkan suami yang tampan pada teman-temanku nanti. Ups.
"Iya...nanti saya usahakan ya. Udah jangan cemberut."
Senyumku langsung merekah saat itu juga, aku kembali memeluk Mas Nathan. Rasanya rindu sekali, padahal cuma beberapa jam saja tidak bicara padanya.
"Auhh.." Mas Nathan meringis kesakitan, ketika aku menyentuh tangannya.
"Kenapa? mana yang sakit?" ucapku panik, sambil meraba tangan Mas Nathan.
"Bukan di situ, sayang."
"Terus?"
Mas Nathan tersenyum miring menggodaku,
"Di sini." ujarnya, sambil menunjuk ke arah pipi sebelah kanannya.
Aku mendengus ketika melihat dirinya memejamkan mata, lalu menyodorkan pipi kanannya padaku. Ya ampun, dia bersikap seperti anak kecil sekarang.
Cup
Satu kecupan mendarat di pipinya, membuat Mas Nathan tersenyum lebar.
"Thanks. You win, I love you."
"Too late." jawabku singkat.
Raut wajah Mas Nathan seketika berubah. Padahal aku berkata begitu, hanya ingin balas menggodanya saja.
"Maksud aku, terlalu terlambat. Harusnya aku yang bilang I love you duluan."
Tawa Mas Nathan langsung meledak.
"Hei, saya udah takut tadi."
"Buat apa takut, aku tuh dari dulu sudah berjuang buat Mas Nathan. Gak ada alasan buatku untuk berhenti berjuang, sebelum Mas Nathan yang suruh aku berhenti."
Setelah itu tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut kami berdua, karena kini Mas Nathan sudah memagut bibirku dengan lembut, membuat segala pikiran burukku melayang. Ya, Mas Nathan bagaikan obat penawar untukku. Begitu pun sebaliknya.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸
Aku dan Mas Nathan sampai di rumah tepat jam 7 malam. Kedatangan kami di sambut oleh Arsy.
"Mama, papa...dari mana sih? kok gak ajak Arsy?"
Mas Nathan langsung menghampiri Arsy dan memberikan sebuah bungkusan yang sudah kami persiapkan sebelum pulang tadi.
"Ini apa?" tanya Arsy bingung.
"Buka aja, itu hadiah dari papa dan mama. Iya kan, ma?"
Aku mengangguk, mengiyakan perkataan Mas Nathan.
Dengan semangat, Arsy membuka bungkusan itu. Dia bersorak senang begitu melihat isinya.
Satu set permainan barbie edisi terbaru, lengkap dengan tempat tidur, dan perlengkapan bajunya.
"Wah, cantik banget." seru Arsy.
"Makasih papa, makasih ma."
Dia pun mengecup pipiku dan Mas Nathan secara bergantian.
Canda tawa kami terhenti, ketika ponsel Mas Nathan terus bergetar dan menyala. Sepertinya ada yang menelepon.
"Sebentar ya sayang, aku angkat telepon dulu." Mas Nathan mengecup pipiku, lalu berjalan menjauh untuk bicara di telepon.
Aku meliriknya sekilas, Mas Nathan kelihatan bicara serius dengan seseorang. Mungkin itu berhubungan dengan pekerjaannya.
Ku lihat, Arsy juga sudah kembali sibuk dengan mainan barunya.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamar lebih dulu, agar bisa menyiapkan air hangat untuk Mas Nathan mandi nanti.
Sekarang, aku sedikit bisa bernapas lega, karena sudah berbaikan dengannya. Untuk masalah mama, aku percaya dengan perkataan Mas Nathan, kalau ia akan membantuku menyelesaikannya.
Semoga saja semua berjalan lancar, tanpa kendala. Tunggu, sepertinya aku melewatkan sesuatu yang penting.
Dengan langkah cepat, aku memasuki kamar, dan meraih kalender kecil yang bertengger di meja rias.
Bulatan merah terlihat di sana, satu bulan yang lalu. Dan sekarang, belum datang lagi?
Sepercik harapan kembali muncul di hatiku. Semoga saja kali ini tidak meleset lagi.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1