DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 24


__ADS_3

POV ANINDIRA


***


Enam bulan setelah honeymoon,


Aku kembali menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Mengurus keperluan Mas Nathan dan Arsy di rumah.


Memang sih, di sini sudah ada Bi Munah dan Mila yang membantu pekerjaan rumah, juga mengurus Arsy. Tapi tetap saja, kedua orang itu sangat manja padaku.


Seperti pagi ini,


"Mama.... Lihat tas Frozenku nggak?" tanya Arsy ketika aku sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Hemm, coba kamu cari di keranjang yang ada di kamar ya. Kemarin mama lihat, ada di sana." sahutku cepat, sambil membalik telur dadar yang hampir saja gosong.


"Oh iya Arsy lupa. Makasih mama."


Setelah itu, Arsy berlari menuju kamarnya. Dan, belum lama Arsy pergi, tiba-tiba Mas Nathan juga muncul.


"Sayang, dasiku yang warna biru di mana ya?" tanya Mas Nathan panik. Rambutnya bahkan masih basah dan berantakan. Dia juga sibuk mengancingkan lengan kemejanya.


Aku menghela napas, seraya membantu Mas Nathan mengancingkan lengan kemejanya yang satu lagi, karena ku lihat dia kesulitan untuk itu. Mas Nathan tersenyum menatapku.


"Ada di gantungan belakang lemari, mas. Kemarin aku gantung di sana semua dasi kamu."


Cup.


Kecupan dari Mas Nathan mendarat di pipiku.


"Makasih sayang... You're the best."


Aku hanya terkekeh pelan melihat tingkahnya. Lihat kan?


Mereka jadi sangat bergantung padaku. Bisa di bayangkan betapa sibuknya aku saat pagi hari.


Seringkali Sarah bertanya, apa aku tidak punya keinginan untuk bekerja?


Kalau di tanya seperti itu, dalam hatiku ada sepercik harapan ingin bekerja. Tapi aku masih ragu, apa nanti akan sanggup mengatur waktu nanti.


Aku dan Mas Nathan juga sedang menjalani program kehamilan. Sudah hampir satu tahun menikah, tapi belum ada tanda-tanda ada kehidupan di rahimku. Yah memang masih terbilang singkat sih. Hanya saja aku bosan selalu di tanya oleh mama.


Mamaku itu selalu bilang, tidak sabar ingin menimang cucu, karena dia bosan sendiri di rumah.


Ah iya, mengenai Tante Lisa, akhirnya dia menerima Kak Faiz dan akan menikah tahun ini. Aku turut senang mendengarnya...


Akhirnya mereka bisa bersatu, mengingat Kak Faiz begitu gigih untuk mendapatkan Tante Lisa.


Cinta memang seperti itu kan, jika sudah menemukan tempatnya untuk berlabuh, maka sang pujangga itu tidak ingin melepaskannya begitu saja, sampai tidak ada lagi jalan untuk kembali. Begitulah yang terjadi padaku dulu.


Oke, kembali ke pekerjaan dapurku sekarang. Dengan di bantu Bi Munah, aku mulai menata sarapan di meja makan. Arsy dan Mas Nathan sudah duduk manis di sana.


Lalu aku kembali beranjak ke dapur untuk mengambil dua buah kotak bekal.


"Arsy, ini bekal buat kamu ya. Di habiskan!" ucapku, lalu menyerahkan kotak bekal berbentuk teddy bear padanya.


"Siap mama."


"Nah, ini buat kamu mas." kali ini aku menyerahkan kotak bekal berwarna biru pada Mas Nathan.


"Isinya apa? Nasi bentuk love lagi kayak kemarin?" Mas Nathan berkata, sambil menatapku melas.

__ADS_1


Jadi, kemarin itu aku membawakannya bekal dengan nasi berbentuk hati, membuat Mas Nathan di ledek oleh para dosen lainnya. Dia memang masih mengajar seperti biasa, tapi dengan waktu yang sedikit, hanya seminggu tiga kali. Karena kesibukannya dengan bisnis Resto Green.


"Bukan, mas. Emang kenapa sih, kan bekal dari istri, wajar dong."


"Ya nggak gitu, kemarin itu sampai foto bekal saya di foto loh sama Pak Radit. Di jadikan story. Dan ramai di grup dosen." sahut Mas Nathan, sambil meminum segelas susu yang sudah ku sediakan.


"Terus Mas malu gitu? maunya di bilamg single aja ya?"


Aku mulai kesal. Memang apa salahnya sih kasih bekal bentuk love?


Mereka saja yang tidak pernah di buatkan bekal oleh istri tercinta, jadi merasa iri.


Arsy dan Bi Munah saling berpandangan bingung, melihatku berdebat dengan Mas Nathan.


"Ya ampun, Anin. Sudahlah terserah kamu!" bentak Mas Nathan.


Aku mematung, ini pertama kalinya Mas Nathan membentakku setelah menikah.


Hanya karena bekal kenapa dia sampai marah begitu sih?


"Yaudah. Nggak usah bawa bekal. Biar aku buang aja." ucapku kesal, lantas mengambil kembali kotak bekal itu dan membawanya menuju dapur.


Dasar laki-laki tidak peka. Aku sudah berusaha bikin bekal untuknya, tapi hanya karena bentuk love dia protes?


Aku juga tidak membuat nasi bentuk love kok sekarang, hanya telur dadarnya saja yang berbentuk love!


Aku membanting pelan kotak bekal itu di atas meja dapur.


"Anindira..." Mas Nathan menarik tanganku, dia ternyata menyusulku. Memang sudah seharusnya kan!


Mas Nathan menghela napas ketika melihatku memasang wajah cemberut padanya.


"Kenapa?" jawabku ketus.


"Nggak usah. Nanti mas malu lagi."


"Loh katanya nggak bentuk love nasinya?"


Aku melengos ke arah lain, tidak ingin menatap wajahnya, "Hari ini bukan nasinya yang bentuk love, tapi telur dadarnya."


Mas Nathan terdiam, mungkin dia syok sekarang!


"Kenapa? nggak mau?" tanyaku lagi.


"Ah, siapa yang bilang nggak mau? sini bekalnya! Maaf tadi saya marah, padahal kamu sudah capek buat bekal itu." ujar Mas Nathan. Suaranya sudah berubah lembut sekarang, tidak seperti tadi saat di meja makan.


Ya, memang seperti ini seharusnya kan? Perbedaan umur yang jauh, membuatku kadang bersikap manja pada Mas Nathan. Jika ada selisih paham seperti ini, memang harusnya dia mengalah. Toh, aku juga tidak berbuat hal yang salah. Aku melakukan ini karena mengekspresikan rasa cintaku padanya.


"Hemm, yaudah. Cepat berangkat, nanti Mas kesiangan loh." aku memberikan kotak bekal itu, lalu merapihkan dasi Mas Nathan yang sedikit miring tadi.


Dia menyentuh daguku agar menatapnya, lalu mengecup bibirku sekilas. Aku balas mengecupnya. Tapi bukannya berhenti, Mas Nathan justru memagutkan bibirnya lebih dalam.


Ini gawat!


Bisa-bisa dia telat berangkat bekerja, kalau tidak di hentikan.


"Mas..."


Belum sempat aku berkata, Mas Nathan kembali mengulanginya.


Astaga, ini dapur mas. Bagaimana kalau ada yang datang?

__ADS_1


"Papaa....Ayo! Arsy mau berangkat." Teriakan Arsy terdengar nyaring dari ruang makan.


Untunglah, Mas Nathan langsung melepaskan pagutannya padaku.


Dia mengerling nakal, melihatku yang megap-megap kehabisan napas.


"Nanti saya pulang cepat. Makasih bekalnya." bisiknya tepat di telinga, setelah itu beranjak pergi begitu saja menuju ruang makan di depan, meninggalkanku di dapur dengan jantung berdebar. Antara merasa gugup, senang, syok dan takut ketahuan tadi.


Dasar suami penggoda!


*****************************


POV NATHAN


"Selamat pagi, pak."


Beberapa mahasiswa menyapaku, ketika kaki ini melangkah menyusuri koridor kampus. Aku hanya mengangguk singkat pada mereka.


Ah, hampir saja telat!


Melihat Anindira pagi ini, sungguh menggoda imanku.


Dia benar-benar cantik, walaupun wajahnya tanpa make up sekalipun. Apalagi saat mengenakan apron di dapur, aku hampir saja menyerangnya tadi.


Sial!


Kenapa kamu jadi mesum begini, Nathan!


Ayolah fokus!


Hari ini aku harus mengajar materi di kelas baru. Kegiatan mengajar tidak semenarik saat Anindira masih kuliah di sini. Walau masih banyak beberapa mahasiswi yang tingkahnya ajaib seperti biasa.


Tadinya aku ingin berhenti jadi dosen, tapi kampus ini masih membutuhkan tenagaku, setidaknya sampai akhir tahun ini mungkin.


Aku ingin fokus menjalani bisnis, agar lebih banyak punya waktu luang dengan keluarga.


"Selamat pagi, saya Nathan Mahendra akan memberikan materi vokasi pada kalian para mahiswa baru. Sebelumnya saya ucapkan selamat datang di kampus ini."


Terdengar riuh suara mereka menyambutku. Aku hanya tersenyum kecil, lalu memberikan kesempatan pada mereka untuk bertanya.


"Pak, masih single gak?" tanya seorang mahasiswi yang duduk di bangku depan.


"Ini sebenarnya privasi. Tapi saya harus menjawabnya. Saya sudah menikah."


"Yaahhh... patah hati adek Pak." sahut mahasiswi itu lagi, yang di sambut dengan tawa riuh teman-temannya yang lain.


Ada-ada saja memang tingkah mereka ini. Selama mengajar, banyak sekali pengalaman yang ku dapat. Bermacam-macam sekali sikap mereka yang ku temukan. Dari mulai yang sangat pintar, sampai yang berperilaku sangat ajaib.


Mungkin ini sebabnya Faizal menyarankanku untuk menjadi dosen untuk terapi.


Agar aku bisa terbiasa berinteraksi dengan banyak orang.


"Baiklah, mari kita mulai materinya. Pertama saya akan absen nama kalian satu -persatu. Oh ya, biar saya jelaskan lagi. Di kelas saya di larang keras titip absen, dan jangan pernah ada yang telat. Saya tidak akan mentolelir mahasiswa yang datang telat. Paham?"


Mendengar perkataanku tadi, mereka yang tadinya ramai bersuara, kini kompak terdiam menatap ngeri ke depan. Seolah aku adalah orang yang menyeramkan.


Aneh memang!


Tadi mereka tertawa riang, kenapa sekarang jadi takut begitu hanya karena aku menjelaskan aturan kedisiplinan?


Memang salahku di mana?

__ADS_1


huh?


*******


__ADS_2