DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Kesedihan mendalam


__ADS_3

Setelah jalan-jalan seharian, kami memutuskan untuk mampir ke resto Green. Mas Nathan bilang, ada menu baru di restonya, dan dia mau aku dan Arsy mencicipinya.


Sampai di Resto, para karyawan di sana menyambut kami dengan ramah, ada Rina juga di sana. Dia tersenyum canggung melihatku.


"Halo, Rina. Bagaimana kabar kamu?"


Rina terkesiap, ketika aku menyapanya.


"Baik, Kak."


"Syukurlah. Semangat ya kerjanya."


Rina mengangguk dan tersenyum, lalu pamit undur diri untuk kembali bekerja.


"Mama, kakak itu siapa?" bisik Arsy.


"Hemm.. dia yang kerja di Resto ini sayang." bukan aku yang menjawab, tapi Mas Nathan.


Arsy pun mengangguk, "Apa di sini ada es krim?"


"No. Di sini gak ada es krim. Dan papa gak ijinkan Arsy untuk makan es krim."


Mendengar itu, Arsy langsung merengut dan memajukan bibirnya. Lucu sekali, aku hampir tertawa karena gemas.


"Papa, kalau mau restonya laris itu harus ada menu es krim. Kalau ada tamu kecil kayak Arsy gimana? pasti mereka senang kalau ada es krim." Arsy kembali bicara dengan gayanya yang khas.


"Nah, tuh dengar kata anak kamu, Mas."


Mas Nathan tertawa, dia mengacak-acak rambut Arsy hingga berantakan.


"Papa!" Arsy melotot, dengan pipi yang sengaja di gembungkan.


"Anak papa pintar. Nanti papa angkat jadi manajer Resto mau?"


"Ish. Ish. Ish. Tak nak..." sahut Arsy dengan menirukan gaya dua bocah kembar seperti yang ada di TV.


Kami pun tertawa bersama, mengundang perhatian semua orang di sana. Namun, tidak ada yang berani menegur. Toh ini resto milik Mas Nathan.


"Ya sudah, papa ke sana dulu ya, mau siapkan menu spesial buat dua orang tercinta papa."


"Tiga, Pa." ralat Arsy.


Mas Nathan mengernyit kebingungan, "Tiga?"


"Iya dong, kan sama dede bayi di perut mama."


"Hemm. Kalah lagi deh sama anaknya. Arsy memang pintar." aku menimpali.


"Ya.. ya.. kalian sangat kompak. Papa kalah. Tunggu di sini ya." Mas Nathan pun beranjak pergi meninggalkan meja kami.


Aku tersenyum menatap punggung tegap Mas Nathan yang berjalan semakin menjauh.


Setelah itu, aku berniat untuk menghubungi mama. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa kangen padanya. Tapi, beberapa kali mencari, benda pipih keluaran terbaru pemberian Mas Nathan, tidak juga di temukan di dalam tasku.


Ah dasar Nindi pikun!

__ADS_1


aku meninggalkannya di atas dashboard mobil. Bagaimana ini?


Ku lihat kunci mobil Mas Nathan masih tergeletak di meja. Syukurlah dia tidak membawanya.


"Arsy, bisa tunggu di sini? mama mau ke mobil dulu, ambil handphone yang ketinggalan."


"Arsy mau ikut, Ma. Gak mau di sini sendiri. Takut papa lama."


Arsy ikut?


"Hemm oke deh. Ayo."


Aku menyetujuinya, dia masih asing dengan tempat ini. Wajar kalau Arsy tidak mau di tinggal sendiri.


Kami bejalan bergandengan menuju mobil yang terparkir di seberang Resto. Karena pengunjung sedang penuh, jadi tempat parkir yang tersedia pun full, terpaksa kami parkir di lahan kosong yang ada di seberang.


Sampai di mobil, aku segera mengambil ponsel. Cuacanya mendung, dan mulai turun gerimis. Kasihan kalau Arsy terkena hujan, nanti dia bisa sakit.


"Ayo Arsy, kita kembali." Aku kembali menggandeng Arsy.


Yakin jalanan aman dan kosong, ku tuntun Arsy untuk menyebrang. Namun, tiba-tiba saja mataku menangkap sesuatu yang aneh.


Mobil berwarna putih yang sejak tadi berhenti di ujung jalan, menyala dan mulai bergerak ke arah kami berdua.


Aku tertegun sebentar, sebelum menyadari ada yang tidak beres. Di balik kemudi itu... aku melihatnya dengan jelas.


Wajah yang sempurna dengan tatapan penuh kebencian yang di tujukan hanya padaku.


Mobil itu melaju cepat tanpa aba-aba.


Kejadiannya begitu cepat, aku memeluk Arsy dan membawanya kembali ke pinggir jalan hingga terjatuh. Mobil itu terus melaju kencang tanpa berhenti, melewati kami begitu saja.


Arsy! bagaimana dengan Arsy. Tidak peduli sakit yang menyerang tubuhku, Arsy harus selamat.


Benturan aspal tadi cukup menyakitkan, hingga membuat tanganku terluka. Perih sekali.


"Arsy kamu gak apa, Nak?" tanyaku padanya, melepaskan Arsy dari pelukanku.


Arsy mengangguk, namun matanya menatapku dengan ekspresi takut.


Dia menangis kencang.


"Mama.... mama berdarah."


Akh sakit sekali. Aku ingin segera pergi dari sini. Tapi begitu melihat kakiku berlumuran darah, tubuhku lemas seketika. Semua rasa sakit itu berkumpul jadi satu.


Jangan... aku mohon jangan. Kenapa darahnya tidak mau berhenti.


"Kak Nindi... Ya Allah, Kak Nindi." tiba-tiba Rina datang.


Dia menatapku dengan panik. Lalu berteriak minta tolong, di sertai tangisan Arsy yang semakin kencang.


"Mama...mama..."


Beberapa orang yang berada di Resto kini berbondong-bondong keluar. Aku melihat Mas Nathan di sana. Dia berlari menghampiriku dengan wajah panik.

__ADS_1


Namun ketika ia melihat keadaanku dari dekat, Mas Nathan mendadak berhenti. Dia menyentuh dadanya sendiri. Ekspresi itu.... pertama kali aku melihatnya saat di Taman dulu, ketika penyakitnya kambuh karena melihat orang yang berdarah akibat kecelakaan.


Kini aku melihatnya lagi....


Jadi kamu belum sembuh Mas?


Atau sekarang aku yang menyebabkan kamu kembali di serang sakit itu lagi?


"Mas..." ucapku lemah, tanganku terulur padanya.


"CEPAT SIAPA SAJA BAWA ISTRI SAYA KE RUMAH SAKIT."


Dalam kesadaran yang tinggal setengah, aku melihat Mas Nathan terjatuh, dia meraung kencang. Sebagian orang berusaha menenangkannya, sebagian lagi membawaku ke dalam mobil.


Maaf, Mas.... aku telah membuat kamu menderita lagi.


🌸🌸🌸🌸


POV AUTHOR


Di rumah sakit,


Nathan terduduk lemas di depan ruangan IGD. Dengan penampilan yang sangat kusut. Kemejanya kotor, dan rambut yang berantakan, karena beberapa kali ia menjambak rambutnya sendiri.


Jika ada predikat suami paling tidak becus di dunia, itu pantas di nobatkan padaku.


Nindi hampir sekarat di depan mata, dan aku tidak bisa menolongnya. Aku malah terkubur sendiri dalam luka.


Kilatan peristiwa menyakitkan itu kembali datang menyerang jiwaku.


"Faizal bagaimana ini? jika terjadi apa-apa pada Nindi, itu salahku."


Faizal menatap sahabatnya itu dengan iba. Nathan berada di titik terendahnya sekarang, ia tahu itu.


Faizal mendapatkan telepon dari Nathan ketika sedang berkumpul di rumah Nindi, bersama Lisa dan Mama Lusi. Begitu mendengar kabar mengejutkan itu, mereka segera pergi ke rumah sakit.


Setelah sampai, Lisa langsung mengantarkan Arsy pulang ke rumah. Karena tidak baik, bagi Arsy berada di situasi pelik seperti ini.


Nathan yang kelihatan depresi tidak berhenti meneteskan air mata. Mama Lusi pun sama, terus terisak dan berdoa untuk keselamatan putri semata wayangnya.


Faizal berada di antara keduanya. Jujur, ia juga merasa sedih dan takut, namun profesinya sebagai psikiater, menuntut dia untuk tenang. Apalagi melihat keadaan Nathan yang kini sangat depresi dan terus menyalahkan dirinya.


Sebelum Arsy pulang tadi, anak pintar itu bercerita pada Faizal. Dia bilang, ada sebuah mobil yang melaju kencang.


Dan Arsy mengenali mobil itu, karena pernah menaikinya.


"Om, aku pernah naik mobil itu sama Tante Bella."


Perkataan Arsy terus terngiang di pikiran Faizal. Sekarang hanya dia yang bisa mengusut tuntas kasus ini. Nathan tidak mungkin dengan kondisi kesehatannya sekarang.


Faizal mengepalkan tangannya, jika memang benar itu Bella, dia berjanji akan membuat wanita itu membusuk di penjara. Dia akan melaporkan kasus ini, dan ikut menyelidikinya sendiri, mencari bukti agar wanita itu di tangkap.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Jangan lupa tinggalkan Vote, komentar, dan like-nya yaaaaa.... 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2