DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 16


__ADS_3

🍀Jika air matamu masih menetes setelah mengingatnya, berarti dia masih segalanya untukmu.


****


Setelah kejadian kemarin, Mas Nathan seolah menjaga jarak kembali denganku. Bahkan untuk bimbingan TA saja dia memerintahkan agar di titip ke Bi Munah, esoknya baru aku ambil kembali.


Dia juga menyewa suster baru untuk mengantar jemput Arsy, seolah tidak membutuhkanku lagi.


Aku menghela napas. Lelah sekali rasanya.


"Kak Nindi..mau langsung pulang lagi ya..." Arsy kini merajuk padaku.


Aku berada di rumah Mas Nathan saat ini, untuk mengambil kembali pengantar tugas karya akhir yang sudah dia koreksi kemarin.


"Iyaa sayang. Maaf ya. Kakak lagi sibuk banget. Banyak tugas kuliah." Ucapku lirih.


Sebenarnya selain sibuk aku juga tidak ingin berada lama di sini.


Setiap melihatku, Mas Nathan berlalu begitu saja seolah aku tidak ada di sana. Seperti tadi saat aku baru sampai, dia yang hendak turun dari kamarnya langsung berbalik begitu melihat kedatanganku.


Di kampus pun dia tidak mau melihatku saat sedang memberikan materi, seolah tak menganggapku ada dalam kerumunan mahasiswa di sana. Bahkan dengan mahasiswa yang lain dia bisa berbincang dan tertawa leluasa. Dia selalu menghindari mejaku saat di kelas.


Rasanya benar - benar sesak.


Kalau aku boleh memilih, lebih baik dia mengomel saja seperti biasanya daripada dia mendiamkanku seperti ini.


"Kak Nindi lagi berantem ya sama papa aku? Kata miss di TK Arsy, kalau berantem gak boleh lebih dari tiga hari lho kak."


Perkataan Arsy barusan berhasil membuatku Tersenyum.


"Kakak gak berantem. Pokoknya nanti kalau tugas kakak sudah selesai semua, kita jalan - jalan lagi."


Wajah Arsy langsung sumringah mendengarnya. "Benar ya kak..."


Ia bahkan langsung memelukku. Aku sendiri sangsi apa bisa keadaan kami kembali seperti sebelumnya.


Ku cium pucuk rambutnya dengan lembut. Menatap mata jernihnya yang cantik. Siapa saja pasti bisa menyayangi gadis kecil ini.


Kulihat kamar Mas Nathan di atas tertutup rapat.


Apa salahku mas?


Kenapa kamu menjauhiku seperti ini...


Aku saja bisa selalu menerima dan memafkanmu, kenapa kamu dengan mudah merubah sikapmu padaku, yang aku sendiri tidak tahu dimana letak kesalahanku.


*******


Setelah pulang dari rumah Mas Nathan tadi, aku kembali ke rumah. Tapi karena di rumah hanya ada aku sendiri, akhirnya aku memutuskan berjalan - jalan sebentar.


Langkahku terhenti di minimarket yang terletak tidak jauh dari rumahku.


Aku membeli minuman soda kaleng dan beberapa coklat juga cemilan disana.


Setelah itu, aku duduk di kursi yang memang di sediakan di minimarket itu untuk pembeli yang ingin makan atau sekedar duduk dan mengobrol.


Ku letakkan belanjaanku tadi di meja. Membuka kaleng soda dan meminumnya.


Terlihat menyegarkan.


Tapi kenapa mata ini berair... Ku angkat kelapaku menghadap ke atas, agar bisa menahan air mataku yang sudah tidak terbendung lagi. Lihatkan.. soda saja sekarang berasa pahit bagiku.

__ADS_1


"Apa rasa sodanya tidak enak.. sampai ekspresi wajah kamu seperti itu."


Seseorang tiba - tiba menegurku. Ia langsung duduk begitu saja di kursi kosong yang ada di hadapanku.


Aku menyunggingkan sedikit senyum melihatnya. Aku lupa, seharusnya aku tidak memilih tempat ini. Karena minimarket ini memang ada di dekat tempat praktek Kak Faiz.


Dia tersenyum lebar saat aku menatapnya, Tapi hanya sebentar, seolah dirinya baru menyadari kalau sudah salah mengartikan ekspresiku tadi.


"Kamu nangis?" Dia berkata pelan.


Satu persatu air mataku jatuh. Kak Faiz langsung terlihat panik. Apalagi beberapa orang menyadari ada yang salah, dan mulai memperhatikan kami sambil berbisik - bisik.


"Hei Nindi.. ayo ikut aku." Dia menarik tanganku untuk pergi.


Merasa tidak enak dengannya jadi aku mengikutinya, karena sekarang dia jadi pusat perhatian. Orang lain pikir , dia yang menyakitiku saat ini hingga aku menangis.


Kak Faiz membawaku ke dalam mobilnya. Di sana aku mulai menangis lagi. Dia hanya diam, lalu menyodorkan sekotak tisu padaku.


"Apa salahku sih kak, kenapa dia dingin banget sekarang sama aku. Setiap aku chat jangankan di balas di baca aja enggak. Dia seolah anggap aku enggak ada. Bimbingan pun sampai tidak mau ketemu, harus melalui kurir atau orang ketiga. Yang benar saja!."


Aku mengomel dan meluapkan emosiku yang selama ini tertahan. Kak Faiz masih diam mendengarkan. Seolah sengaja membiarkan aku menumpahkan semuanya.


Yaa.. untunglah.


Karena saat ini aku memang hanya butuh di dengar. Ingin menyampaikan perasaanku sendiri tanpa harus menahan diri lagi.


Setelah sedikit tenang ia memberikanku sebotol air mineral untuk ku, yang langsung aku minum dalam sekali teguk.


"Aku memakluminya kak, dia begitu karena memang emosi dia tidak stabil. Tapi sampai kapan? Sepertinya cuma aku yang berjuang sendiri. Buktinya dia bisa dengan mudahnya cuekin aku kayak gini. Dia kasih harapan ke aku. Tapi dengan gampangnya dia berubah sikap seolah kita bukan siapa-siapa."


Sroott. Aku mengelap cairan yang keluar dari hidungku dengan tisu. Kak Faiz menelungkup kepalanya di atas setir mobil, lalu menoleh miring ke arahku. Dia malah tertawa geli.


Aku memandangnya sinis. "Lucu yaa lihat kesedihan orang. Baru tau kalau psikiater begitu."


"Gak.. bukan Nin. Aku lucu lihat ekspresi kamu. Imut."


Perkataannya barusan membuatku membeku. Kak Faiz juga sepertinya menyadari itu. Seketika suasana menjadi canggung.


"Sori.. maksudku kamu kayak anak kecil kalau nangis begini." Ucap Kak Faiz sambil mengusap - usap tengkuknya.


"Hemm." Aku hanya menjawab singkat.


"Ah iya. Aku punya voucher film. Kamu tahu film zombie yang di dalam kereta itu.. film keduanya sudah tayang. Dan aku punya tiketnya."


Kak Faiz memamerkan dua buah tiket yang dia keluarkan dari saku kemejanya.


Aku menatapnya setengah tak percaya.


"Beneran? Wah susah banget dapatin tiket film itu kan. Aku aja enggak kebagian terus."


Yaa benar, aku beberapa kali membeli secara online tapi tetap saja tidak kebagian, dan kemarin saat dengan Sarah di mall, kami juga sebenarnya berencana menonton film tersebut. Tapi lagi - lagi kehabisan tiket.


Kak Faiz tersenyum menyombongkan dirinya.


"Iyaa dong. Aku kan punya chanel khusus. Gimana? Mau ikut? Aku rasa kamu butuh hiburan saat ini."


"Ber..dua aja?" Tanyaku dengan ragu.


"Iyaa tadinya aku mau pergi bareng teman, tapi dia bilang ada acara. Tapi kalau kamu enggak mau ya gak usah."


Bagaimana yaa.. apa aku ikut saja. Tapi aku takut. Gimana kalau Mas Nathan tau nanti. Waktu dia melihatku konsultasi sendiri dengan Kak Faiz saja dia marah - marah.

__ADS_1


Tapi... Memikirkan sikap Mas Nathan akhir - akhir ini, sepertinya dia sudah tidak peduli lagi denganku.


Benar kata kak Faiz, saat ini aku butuh hiburan untuk sejenak melupakan masalahku. Tugas yang menumpuk, deadline TA yang semakin dekat, ditambah lagi dengan urusan Mas Nathan. Jujur saja aku lelah.


Aku berharap Mas Nathan lah yang mengajakku nonton saat ini.


Tapi itu mustahil, untuk jalan - jalan saja harus aku yang berinisiatif mengajaknya lebih dulu.


"Oke kak. Aku ikut."


Akhirnya aku menyetujui ajakan Kak Faiz. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Kalau Mas Nathan tipe cowok tampan yang macho, nah Kak Faiz ini termasuk tipe cowok metroseksual. Dia sangat peduli dengan penampilannya.


Pakaiannya selalu rapi, dan wajahnya bersih tanpa ada rambut halus atau cambang yang menghiasinya. Kalau Mas Nathan duduk bersebelahan dengan Kak Faiz, aku rasa seluruh perempuan yang melihatnya akan menjerit histeris bagaikan melihat tokoh dalam komik.


"Sebentar ya Nin. Aku terima telepon dulu."


Ponselnya yang berada di atas dashboard terlihat bergetar. Dia meraihnya.


Tanpa sengaja mataku menangkap nama yang muncul di layar ponselnya. Cindy.


Setelah itu Kak Faiz keluar dari mobil, dan sibuk berbicara dengan peneleponnya di luar.


Aku menatap ke arah lain. Tidak ingin terlihat ikut campur dengan urusannya.


********


Kak Faiz berjalan membawa dua bucks popcorn ukuran besar dan dua minuman cola.


"Sini aku bantu." ucapku menghampirinya dan langsung ku ambil satu bucks popcorn yang sedang di pegangnya.


Aku kembali menatap jejeran makanan yang terpajang di etalase. Terlihat nachos dengan taburan saus keju yang menggugah selera.


"Mau itu?" Tanya Kak Faiz. Ternyata dia menyadari aku sedang memandang ke arah makanan itu.


Aku hanya nyengir lebar.


Dia langsung memesankan makanan itu kepada petugas bioskop yang menjaga. Setelah selesai membelinya kini aku dan Kak Faiz berjalan menuju studio.


Kami duduk di bangku tengah dan deretan paling ujung. Lampu studio mulai padam, layar bioskop menampilkan iklan terlebih dahulu.


Aku mulai menyantap makanan yang tadi di pesan, mulutku tak berhenti mengunyah karena memang perutku belum sempat diisi hari ini.


Film pun sudah mulai tayang, aku kembali menontonnya dengan serius.


Sejenak aku melupakan semua masalah dan beban pikiran yang aku rasakan.


Adegan demi adegan ku tonton tanpa berkedip, walaupun itu menakutkan.


"Kamu enggak takut?" Kak Faiz berbisik padaku.


Karena kaget aku langsung menoleh padanya. Pandangan kami bertemu. Entah kenapa aku melihat tatapan Kak Faiz kali ini lebih menyeramkan daripada film yang ku tonton sekarang.


Aku segera memalingkan wajah, kembali menatap layar di depan, tapi pikiranku jadi kacau sudah tidak fokus menonton seperti tadi.


Ada perasaan yang aneh yang aku rasakan sekarang.


Mas Nathan.. aku kembali memikirkannya.


Merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan sekarang.


********

__ADS_1


__ADS_2