
Terlihat jauh berbeda ilmu beladiri yang digunakan si abang perguruan. Saat ini tenaga pukulan jauh meningkat ke level 5 dari sebelumnya hanya konstanta di level 3 atau sekitar 4 saja.
"Baru tau kalau ilmu beladiri bang Fun Cin sudah naik," gumam Feng Ni lihat jurus yang digunakan untuk melawan musuh 20 an orang seorang diri.
Hiatttt......
Seketika dia juga dapat serangan dadakan dari arah belakang saat melihat jurus gerakan si abang.
Tuk....Plakk.....
Seorang ahli beladiri yang juga memiliki ilmu tenaga dalam dan Kanuragan, tentu bisa mengetahui gerakan bahaya yang menyerangnya, apalagi orang yang menyerang bersuara cempreng.
Sekali pukulan kain pengikat rambut, orang yang hendak menyerang langsung K.O .
"Seharusnya kalau menyerang jangan kasih aba-aba," ucap Feng Ni menepuk pipi orang yang sudah jatuh terkapar.
"Kau seperti Tuan Putri !!" seru gemetar ketakutan, baru mengenali wajah Feng Ni setelah dekat untuk di lihat.
"Sssttt... Akan lebih baik diam saja!" Feng Ni menutup mulut orang yang menyerang,lalu dipukul pingsan.
Tak seorang penjaga yang sadarkan diri setelah petarungan. Bahkan Fun Cin menyebarkan serbuk sari opium agar pingsan lebih lama, jika bisa sampai terjebak dalam labirin halusinasi yang lama panjang.
Naga emas yang masih bernaung dalam jiwa Fun Cin untuk membimbing ilmu tenaga dalamnya, kesusahan keluar karena aura yang terpancar saat keluar akan dikenali Feng Ni.
"Ya sudah, terpaksa menunggu mereka terpisah," ucap naga emas dalam jiwa Fun Cin, sambil istirahatkan tubuh naganya berukuran super mini.
Kedua abang beradik kembali melanjutkan tugas misi mereka ke istana untuk bertemu raja yang sedang terkepung para pejabat jahat.
Seperti yang diduga Fun Cin, bukan sekedar demontrasi penurunan tahta belaka. Pembantaian beberapa orang yang mendukung kepemimpinan raja saat ini sudah terjadi di sisi istana berkeliling pasukan pemberontak.
"Bang.... Hanya karena sebuah tahta mata batin seseorang akan gelap kah? Apa hati nurani mereka lenyap bersama ketamakan diri mereka?" tanya sedih Feng Ni lihat pertumpahan darah di setiap sudut istana.
"Iya. Karena haus harta, tahta, ketamakan adalah milik bangsa di iblis. Mereka tidak mengenal tali persaudaraan, persahabatan apalagi cinta kasih," jawab tegas lugas Fun Cin sambil mengendap masuk di antara berserakan mayat segar.
Jlebb.....
Tiba-tiba kaki Feng Ni ditarik seseorang yang bergeletak antara mayat-mayat berlumuran darah.
"Jangan masuk!" ucap nasehat orang yang pura-pura mati.
"Pejabat Wang?" kaget Feng Ni menunduk lihat siapa orang yang berbicara.
"Istana sudah dikuasai oposisi perdana menteri" ucapnya lalu tangan terlepas pegang kaki Feng Ni.
__ADS_1
"Pejabat Wang, bertahanlah!" Feng Ni memeriksa denyut nadi lemah yang masih punya persentase hidup 10 persen lagi.
"Kamu bawa dia, biar abang maju melawan mereka," nasehat Fun Cin memang lihat dengan kepala mata sendiri kekacauan parah.
"Tapi..." tidak tega biarkan orang luar negerinya membantu menumpas pemberontakan.
"Tidak ada tapi. Cepat sana pergi dan minta bantuan guru dan lainnya," titahnya sambil membantu pejabat Wang berdiri dipapah Feng Ni kabur.
"Hati-hati, Bang," ucap Feng Ni cepat bawa pergi pejabat Wang yang masih bernyawa.
Pelarian Feng Ni membawa korban pembantaian akan sangat sulit, dikarenakan akan meninggalkan jejak darah sepanjang perjalanan mereka.
Sampai di lumbung padi istana, tubuh pejabat Wang diletakkan pada ujung sudut terdalam, dan ditutupi timbunan jerami.
"Anda di sini dulu, saya akan pergi mencari obat," ucapnya menotok aliran darah pejabat Wang agar sedikit berhenti untuk bertahan hidup.
Feng Ni kembali alip-alipan dengan prajurit yang menyerbu dalam istana. Kemarahan yang memuncak membuat hilang tujuan dirinya keluar dari tempat lumbung padi untuk pergi ambil obat-obatan.
Lihat ada kembang api yang sering dimainkan oleh anak-anak pelayan istana, Feng Ni menggunakannya untuk memanggil bala bantuan yang mungkin saja dalam radius dekat istana bisa dapat membantu mereka.
"Sekarang saya harus membantu abang Fun Cin," ucapnya berusaha sedapat mungkin tidak ketangkap.
Memasuki area penyimpanan bahan bakar minyak lampu, dia memiliki ide untuk membuat bom frekuensi rendah. Ya cukuplah untuk mencederai, syukur-syukur ada yang tewas dengan bom yang diracik.
Lalu mengambil sekotak bubuk mesiu lain untuk dimasukkan kedalam sebuah wadah tabung bambu yang dikaitkan juga dengan sumbu minyak.
Merasa efek yang ditimbulkannya hanya akan melukai beberapa orang saja, Feng Ni mengambil minyak tanah, lalu dimasukkan bubuk mesiu bercampur bubuk merica serta cabai.
"Semoga para pemberontak bisa pukul mundur," ucap Feng Ni menyelesaikan semua ide dengan cepat.
Feng Ni berlari mengendap sambil menaburkan bubuk mesiu yang tadi dibawa dalam kantongan kain, dipinggiran setiap sudut bangunan istana.
Dia lebih merelakan bentuk bangunan akan hancur porak poranda ketimbang nyawa keluarga inti tidak terselamatkan.
"Hei, kau!!" teriak seorang prajurit yang hendak memberi tanda kemenangan pada orang yang memerintahkan mereka.
Feng Ni tanpa basa basi lagi langsung membungkam dan mematahkan leher antek pemberontak.
"Maaf" ucap Feng Ni telah membunuh nyawa,dan menyeret tubuh korban sampai ketempat para korban lainnya yang tewas. "Dosamu berat," gerutunya menghempas jatuh mayat yang dia seret .
Tidak banyak waktu lagi untuk bersosialisasi dengan semua mayat. Segudang tugas tengah menanti dirinya untuk membela negara.
Langkah cepatnya menelusuri tiap tikungan bangunan dalam istana terlihat amat gesit. Sampai di istana selatan yang ditempati seorang selir kesayangan ayahnya, dia melihat pemandangan yang sungguh mengecewakan.
__ADS_1
Giginya bergertakkan, tangan mengepal keras. "Sudahlah, dia akan ku urus nanti," ucapnya kesal melalui bangunan kecil bagian selatan istana .
Tapi dia berbalik untuk menyiram minyak tanah yang dicampur bubuk merica.
Cesss.....
Potongan korek api menyala dari kepalanya, lalu dilempar tepat pada siraman minyak tanah.
"Setidaknya mereka tidak bersenang-senang seorang diri," gumam Feng Ni tersenyum jahat, sambil mengelap tangan.
Nyala api berkobar menghiasi jajaran pintu depan bangunan itu, menghebohkan orang yang dalam ruang bangunan.
"Tolong...!!!" teriak panik selir kesayangan ayahnya.
"Kebakaran!!" tambah suara pria ikut berteriak panik, hampir dikepung api.
Mana asap yang ditimbulkan kebakaran membuat mata perih, pernafasan pedas membahana.
Sementara itu, Feng Ni terus pergi menyelamatkan orang yang butuh diselamatkan.
Sampai di tengah istana dimana ayahnya sedang dijadikan tawanan, dia langsung menaburkan bubuk mesiu kering ke udara.
"Jika masih berani menyerang maka kita semua akan tewas!" ancamnya memegang kayu dengan bara api yang bisa memancing letupan bom.
"Hati-hati," ucap pria berbaju jirah panglima pada prajurit dibawah pimpinannya.
Tak mungkin Feng Ni begitu berani mengorbankan dirinya tanpa persiapan matang.Biarpun ada yang akan menggagalkan rencana tersebut, masih ada rencana B, C, sampai Z.
"Tangkap Putri!" titah pria berstatus jendral dari arah berlainan arah, sambil membawa segentong air dalamnya.
Chuss....
Air dalam gentong dilempar membasahi tubuh Feng Ni membawa kayu bara api. Tapi sebaliknya yang terjadi, bara api semakin berkobar nyala dengan siraman yang ternyata adalah air arak kwalitas alkohol tinggi.
"Kabur!!!" seru prajurit satu disusul prajurit lain yang tidak ingin mati secara percuma tanpa penghargaan dedikasi setelah mati.
"Percuma!" ucap Feng Ni dengan seringai iblis.
"Xiao Feng Ni!!" teriak Fun Cin menyadarkan sang adik yang beda tatapan.
Naga emas yang bersemayam dalam jiwa Fun Cin terpaksa harus keluar dan harus menyelamatkan nyawa Feng Ni yang ditakdirkan sebagai pilihan untuknya jadi 'TUAN'.
Namun sungguh disayangkan, iblis lebih cepat menguasai 1 langkah jiwa Feng Ni untuk bersekutu dengan kaum iblis.
__ADS_1