Dragon Warrior

Dragon Warrior
Bab 29


__ADS_3

Mereka mengambil bambu penopang ember untuk keruk timbunan salju. Secepatnya mereka bekerja sama untuk selamatkan saudari mereka yang sudah ketakutan dalam tutupan bongkahan.


"Hiksss..... Hikss...." tangisannya menemani sepanjang penantian pertolongan orang yang mungkin saja lewat.


"Ling Ling," Fun Cin segera minta Da Min bantu keluarkan saudari mereka melalui celah yang mereka buat.


Setelah berhasil keluar dari tutupan bongkahan, Ling Ling mulai reda tangisannya. Fun Cin pun lega sudah berhasil menyelamatkan saudari mereka.


Bapao pun memikul ember air milik Fun Cin yang menggendong Ling Ni untuk kembali tempat mereka berlatih.


Di tengah perjalanan, Ling Ni merasa iba kasihan pada saudaranya yang telah terbebani untuk menggendong dan bawa keranjang kosong obatnya. Dia hendak turun dan berjalan sendiri.


"Aku turun jalan sendiri saja, Bang," ucapnya penuh penyesalan.


"Baik," Fun Cin berhenti dan lepaskan tangan yang menampung Ling Ni di gendong pada punggung.


Ling Ling pun turun dari gendongan Fun Cin, "Kamu yakin bisa jalan sendiri?"


Ling Ling pun menganggukkan kepalanya yakin, "Iya, Bang."


"Ini juga," celetuk tambah Da Min menyerahkan keranjang obat yang seharusnya dibawa sendiri.


"Ihhh....Bang, lihat tuh Da Min. Ngeselin sejagad," mengadu manja bercampur kesal seubun-ubun.


Fun Cin bergeleng kepala pada tingkah 2 adiknya yang akhir-akhir ini semakin sering adu mulut.


"Kita pulang!" ucap datar Fun Cin pada Bapao.


"Iya," jawabnya lugas sebelum ikut-ikutan bertengkar garing.


"Bang, tunggu!!" seraya Ling Ni mengulur tangan lambai pada punggung yang berjalan lurus di depan mereka.


"Emang enak dicuekin?" sindir Da Min. Dia pun langsung nyusul saudaranya yang tidak membela saudari manjanya itu.


"Hei, tunggu!!" teriak Ling Ni tidak rela ditinggal.


Da Min dan Ling Ni berlarian, kejar mengejar sampai di tempat pelatihan mereka. Suara tawa, teriak dan sindiran mereka tidak sengaja telah mengganggu seseorang yang sedang bermeditasi hingga menampakkan sosoknya.


"Guru," sapa canggung Da Min dan Ling Ni kepergok langsung. Mereka pun menundukkan kepala.


"Mana air-mu?" tanya So Po Ya melihat ember di pundak Da Min tidak berisi. "Mana tanaman obat?" lanjut tanya ke Ling Ni yang juga kosong.

__ADS_1


Da Min juga baru sadar beban pikulan pundaknya jauh terasa ringan saat turun gunung.


"Jatuh," jawabnya cengengesan, garuk-garuk kepala serba salah seraya menundukkan kepala malu.


"Kamu?" tegas So Po Ta bertanya ke murid wanita.


"Gak berhasil dapat," jawab Ling Ni tertunduk kaku. Dia *******-***** jari jemarinya, gelisah.


"Malam ini kalian tidak boleh tidur. Hafal semua kitab perang dalam ruang baca!" tegasnya memberi hukuman pada mereka.


"Guru," sapa Fun Cin dan Bapao baru nongol dengan beban berat pada pundak mereka.


"Kalian jangan ada berani memohon untuk mereka!" tegas So Po Ta memperingati 2 murid lainnya yang baru tiba dengan 4 ember berisi air setengah membeku.


"Baik," jawab serentak Fun Cin dan Bapao.


Fun Cin dan Bapao kembali memikul ember ke dapur tempat penyimpanan gentong air raksasa.


Air yang didapat lumayan cukup untuk kebutuhan harian mereka, walau harus setiap hari naik turun mendaki gunung.


So Po Ta sehabis makan malam terlihat termenung berdiri samping pilar penyangga bangunan tempat pelindung hujan dan badai saat mereka semua beristirahat tenang, sambil menatap bintang-bintang musim dingin, dia memperhitungkan ramalan masa depan dinasti kerajaan Semangi.


"Kamu masih ingat kejadian beberapa waktu lalu kan?" tanya So Po Ta yang meresahkan sesuatu tapi tidak terucapkan.


"Iya. Apa itu buat Guru kurang nyaman," tanya Fun Cin. Walaupun dia tidak ingat detail seluruh kejadian, tapi ia juga merasa sesuatu yang seakan timbulkan rasa penyesalan terdalam.


So Po Ta mengangguk, mengelus janggut putih yang memanjang terurai.


"Apa tidak sebaiknya Feng Ni kembali ke sini, Guru?" tanya Fun Cin ikut memandang bintang-bintang berkelip tanpa tahu arti reaksi bintang yang bertaburan di angkasa luas.


"Tidak bisa, dia punya beban dan tanggung jawab yang besar untuk masa depan. Dia mesti berlatih lebih keras dibanding saat di sini," jawab So Po Ta tidak boleh mengubah rencana guratan takdir yang hanya bisa dipikul orang terpilih.


"Maksud, Guru?" tanya Fun Cin kurang nyimak paham. Dahinya berkerut.


"Hari sudah larut, kalian beristirahatlah!" ucap So Po Ta tanpa menjawab, menepuk pundak murid tertua dan berlalu pergi.


"Baik."


Otak Fun Cin terkadang telmi, kadang juga terkoneksi baik dan lancar. Saat telmi (telat mikir) dia membutuhkan penjelasan tanpa mengandung kata-kata tersirat apalagi ambigu.


Malam kian dingin mencekam. Da Min dan Ling Ni masih harus menghafal 1 kitab perang zaman dinasti sebelum dipimpin raja Xiao Se Mang, dengan penerangan lampu minyak dan kayu bakar sebagai penghangat suasana.

__ADS_1


Hoammmm.....


Terdengar suara kantuk saling menyapa mereka berdua yang masih membaca 1/2 isi kitab perang berisi 200 halaman.


"Gara-gara kamu, aku dihukum," celetuk tuding Ling Ni sudah ngantuk tapi hukuman belum kelar.


"Kamu," balik tuding dengan muka mengejek.


Aksi keributan tanpa suara gaduh kuat pun terjadi. Bukannya menghafal kitab perang, mereka malah saling lempar melempar buku yang ada.


Buku-buku berterbangan dengan sayap terbentang.


Tidak ada buku samping meja mereka yang bisa dilempar lagi, mereka pun tersadar dan tercengang dengan keadaan mereka.


"Cepat rapikan sebelum tambah hukuman!" ujar Da Min muka acak panik.


"Iya," jawab Ling Ni yang acak panik untuk kompak.


Mereka bergotong royong rapikan semua buku yang terbang melintasi tempat seharusnya berada.


Pagi tidak peduli mereka yang masih merapikan ruang penuh buku dan gulungan ilmu beladiri itu.


Krettt..... Suara pintu terbuka. Da Min dan Ling Ni reflek menoleh ke arah pintu.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Bapao buka pintu untuk panggil sarapan bersama.


Wajah Da Min dan Ling Ni begitu pucat tegang berkeringat dingin dan wajah mereka terlihat capek. Tangan yang masih memegang buku langsung disembunyikan di balik punggung.


"Sudah pagi, ya?" balik tanya Da Min dengan senyum cengengesan. Dia lalu duduk tak jauh dari Bapao.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya interogasi Bapao melihat ruang baca tampak beda.


"Waktunya sarapan," celetuk Ling Ni harus segera keluarkan Bapao sebelum ketahuan guru mereka.


"Betul, betul," ujar tambah Da Min meletakkan buku, lalu dorong keluar Bapao.


"Kalian aneh," gumam Bapao terdorong jalan,ekor mata mengintrogasi gerak gerik 2 saudara.


"Mana ada. Ya kan bang Da Min?" sahut Ling Ni dengan sikap manis kaku.


"Iya, dek," Da Min ngangguk terus mendorong Bapao tetap di depan mereka.

__ADS_1


__ADS_2