
Tap....
Kakinya menapak jauh dari batas tanaman ranjau sejarak 2 x 8 meter lebih seukuran lebar jalan.
"Sungguh terlalu!" keluh batin Feng Ni, sambil lihat jalan masih panjang di depannya.
Setelah lewat jalan yang panjang, Feng Ni menemukan pertigaan yang dikatakan penunjuk jalan. Lalu dia belok ke kiri dan tidak jauh dari jalan itu, dia melihat sebuah kediaman mewah sedang terang menderang.
Keberanian yang dimiliki untuk mengungkapkan semua kejahatan yang sudah menuntun Feng Ni tiba di area perkarangan luas kediaman mewah tersebut.
Dia berjalan hati-hati agar para penjaga tidak ada yang menyadari kedatangan dirinya seorang diri.
Dari pohon yang tinggi, dia berlompatan bagai tupai yang sedang mengambil buah kenari diantara banyak manusia berjaga di bawah pohon.
Berhasil melompati dari pohon ke atap kediaman, Feng Ni pun mencoba mengendap masuk seperti maling nekat.
Aksinya sungguh tidak diketahui, karena dia juga menggunakan sedikit trik ilmu sihir untuk membuat beberapa penjaga dalam kediaman seakan bodoh dan tetap berjaga dalam posisi yang sama.
"Kalian tolong bersikap normal!" ucap Feng Ni mensugesti pikiran kosong beberapa penjaga yang berjaga di bagian sudut dalam kediaman.
Para penjaga ngangguk nurut dengan tampang bodoh.
Bisa kita bilang ilmu sihir yang dipakai Feng Ni lebih dominan ke hipnotis atau gandam.
Disalah satu sudut kediaman, Feng Ni melihat penjaga yang berjaga ketat agak jauh dari ruang tersebut.
"Pasti di sana markas mereka," ucap Feng Ni memeriksa keadaan terkendali.
Untuk tidak terlalu mencolok dan cepat ketahuan, Feng Ni juga memukul seorang penjaga dengan postur tubuh tidak beda jauh darinya.
Trakkkk.....
Penjaga itu pingsan dipukul keras tengkuknya dengan tebasan tangan Feng Ni.
Kemudian, Feng Ni melepaskan pakaian luar dinas untuk dipakai.
"Sekarang topi," mengambil topi penjaga yang pingsan .
Agar penjaga tidak berteriak setelah sadar, maka Feng Ni mengikat tangan dan kakinya ke arah belakang, mulut di sumpel pakai sepatu lusuh Feng Ni yang diikat dengan ikat pinggang kain.
Tidak sampai situ saja. Feng Ni menyembunyikan tubuh penjaga yang pingsan ke dalam sebuah lemari baju kosong.
"Tidur yang lama saja," Feng Ni meletakkan kepala penjaga menyandar pada dinding lemari baju.
Ia mengunci lemari, dan kunci dilempar ke atas lemari.
"Sekarang kita lihat.Ada apa di tempat itu," Feng Ni merapikan penampilan dan gaya jalan seorang laki-laki.
__ADS_1
Gaya jalan yang sudah menyerupai seorang prajurit itu pun menyelinap berjalan antara penjaga dan pengantar makanan mewah.
"Tunggu!" ucap seorang penjaga menahan pengantar makanan dan penjaga bergilir jaga.
Sambil menunggu, Feng Ni mendengar selentingan percakapan sedapat mungkin saja.
Ada suara seseorang tidak asing saat suara itu keluar dan melintas telinganya.
Otak Feng Ni mencoba mendiagnosa suara familiar dari salah seorang di balik pintu ruang itu.
Dari banyak suara orang selain orang yang dikenal dari luar istana, dia juga harus memeriksa suara dari orang dalam istana.
Otak yang tidak terpasang microchip dan terprogram, pasti akan butuh beberapa waktu untuk mengenali pemilik suara yang hampir sama, atau mungkin dengan suara 1 orang yang sama.
"Masuk!" ucap penjaga yang sudah memberitahukan akan makanan yang boleh dibawa masuk.
Pelayan pembawa nampan isi makanan lezat didampingi seorang penjaga, masuk ke dalam ruangan yang ada beberapa orang jumlahnya sedang duduk berkumpul.
Sementara itu, Feng Ni yang sebagai penjaga yang berganti giliran jaga, memilih penempatan diri sendiri sedekat mungkin untuk menguping pembicaraan.
Penjaga dan pelayanan pembawa makanan sudah keluar, pintu pun ditutup rapat oleh penjaga yang keluar dari balik pintu.
Mata, telinga seakan menjadi alat untuk pendeteksi, tapi gerak gerik tidak akan leluasa jika ada sekitar 4 sampai 6 orang penjaga yang sedang mengawasi.
"Apa boleh buat. Saya harus kembali menyihir mereka," ucap batin Feng Ni berjalan perlahan untuk menyihir satu persatu penjaga tanpa kecurigaan dan keributan kecil.
Pundak mereka ditepuk, lalu dibisikkan kata-kata yang menyihir mereka jadi penjaga bodoh walau pun tetap berjaga.
Sementara penjaga asli yang disihir berdiri jaga mematung, Feng Ni dengan leluasa menguping dengan jarak teramat dekat.
Dari dalam balik pintu, ada percakapan senonoh tidak terpuji oleh beberapa pria.
Ada juga yang membahas keuangan yang mereka pungut secara pungli (pungutan liar).
Hahaha......
Tawa yang kencang keluar dari pejabat yang bertubuh gemuk dan rakus dalam segala bidang korupsi.
"Jika Tuan mencalonkan diri sebagai Raja selanjutnya, kami pasti akan terus mendukung," seorang partisipan menyanjung dan duluan beri dukungan.
"Baik," jawab orang yang ingin mengusungkan diri sebagai raja baru diusia yang seharusnya pensiun orang seumuran.
Rasa penasaran ingin tau pemilik suara familiar di dalam sana, karena belum terdeteksi memori otak, Feng Ni melubangi pintu yang terlapis dari kertas tebal khusus dijadikan pintu.
Jari telunjuk yang sudah dibasahi air liur, menusuk membuat lubang ngintip.
"Apa!!" kaget batin Feng Ni ngintip siapa saja yang ada dalam ruang itu.
__ADS_1
2 orang di dalam ruangan itu sudah dikenal sangat. Keduanya adalah paman yang sudah terdengar kabar burung akan tindak perbuatan mereka.
Untuk mencari bukti konkrit, Feng Ni harus menahan kemarahannya melihat langsung aksi tindakan kedua paman.
"Sebaiknya kita juga harus menyingkirkan beberapa putri," saran salah seorang pejabat, sambil meniup cawan isi teh melati yang panas.
"Tapi jika ketahuan kita semua bisa dalam masalah," celetuk pejabat tua, menyeruput teh yang masih panas.
"Terutama Putri Feng Ni," tambah seorang pejabat berwajah licik dengan kumis mirip patel lele.
"Hmmm.... Sepertinya untuk menghilangkan putri Xiao Feng Ni lebih sulit menghabisi nyawa para pangeran," sambung paman ke-4.
"Benar sekali. Jangan pernah meremehkan putri itu karena jarang ikut andil dan lebih banyak belajar ilmu agama. Dialah orang yang paling berbahaya. Selain itu, kematian dia akan menimbulkan banyak kejanggalan jika terjadi di dalam istana," sahut paman ke-2, mengelus jenggotnya yang masih hitam.
"Kita perintahkan mata-mata untuk menghabisi dirinya di suatu tempat saja," saran pejabat berwajah licik.
Semua setuju dengan saran tersebut, namun mereka harus sangat berhati-hati untuk tidak dicurigai kemudian hari.
"Ohhh... Ternyata semua yang telah terjadi adalah akibat ketamakan mereka," ucap batin Feng Ni, sadar sesadar sadarnya tingkah keluar sendiri yang ingin menusuk dari belakang.
Dia masih bertahan untuk mencari beberapa bukti lagi yang berupa jejak kejahatan perbuatan mereka.
Andai saja di zaman ini sudah alat perekam atau penyadap, itu akan lebih mudah untuk segera diproses orang yang berwenang.
Pertemuan berakhir, sekumpulan orang di dalam ruangan itu berdiri jalan keluar.
Agar tidak dicurigai akan kehadiran seorang mata-mata, Feng Ni langsung menyihir balik penjaga yang tampak bodoh.
"Sesekali kita akan mengundang penari dan wanita penghibur," ucap pejabat tua sekaligus pemilik kediaman mewah.
"Benar. Aku menunggu hal itu dari tadi.Hahaha.. " jawab pejabat licik, memelintir salah satu ujung kumis.
"Saya memberi hormat pada Tuan sekalian," ucap seorang gadis sekitar 12 tahunan melintas lorong yang berdekatan.
Pejabat lain mengangguk dengan wajah datar. Tapi tidak dengan pejabat licik dengan senyum genit.
"Wahh... Cucu anda sudah besar dan sangat cantik," ujar pujian pejabat licik dengan tatapan lirikan genit mengarah ke gadis kecil.
"Anda terlalu memuji," jawab pejabat tua sedikit risih dengan temannya yang terkenal senang menjajal wanita.
Pejabat tua mengibas tangan, untuk segera cucu kesayangan itu menghindar dari pertemuan mereka.
"Saya pergi dulu," pamit si gadis kecil, membungkuk lalu pergi diikuti pelayan wanita penjaga dirinya.
Memang Feng Ni tidak terlalu mengenal setiap pejabat dalam kabinet pemerintahan ayahnya. Tapi bukan berarti ia tidak bisa menghafal wajah pejabat yang patut diberantas.
"Sepertinya gadis tadi kelemahan dia " ucap batin Feng Ni masih dari jarak jauh bersama penjaga lain.
__ADS_1
Dilihat kasih yang memancar dari pejabat tua, gadis kecil adalah separuh bagian jiwanya yang berharga.
"Saya harus coba dekati gadis itu," ujar batin Feng Ni.