
Pintu aula pertemuan dibuka dari dalam. Barisan rapi dimulai dari raja Xiao Se Mang disusul Feng Ni beserta pejabat lain keluar pintu tinggi sekitar 4 meter itu.
"Yang Mulia," sambut Kasim Do dan rivalnya dengan wajah ngos-ngosan habis jalan cepat.
Feng Ni menggeleng dengan wajah sedih tidak terlukis. Sebagaimana mestinya ia masih dalam tugas negara,ia tidak dapat menitikkan air mata kesedihan.
Tidak lama 4 orang prajurit khusus yang ada di dalam, membawa keluar jenazah penasehat sekaligus keluarga.
Kasim Do tertegun lihat jasad begitu mati mengenaskan, penuh luka tusukan sekujur tubuh dan kepala yang neteskan darah segar kental.
"Yang lain bersihkan ruang dalam!" jendral Li memerintah prajurit yang berjaga di luar selama persidangan untuk bersihkan aula yang kotor dengan jejak darah bau amis.
Feng Ni pun bergegas memberitahukan kabar duka cita tersebut pada sang ratu sebelum berganti pakaian berkabung menurut adat istiadat keluarga kerajaan.
"Kamu jangan merasa bersalah sepenuhnya akan nasib Paman ke-4 mu itu.Dialah yang telah memilih jalan diantara beberapa pilihan," ucap lembut ratu Semangi, menangkup wajah sedih Feng Ni terurai air mata.
"Tapi, jika Paman tidak terus berdalih akan kebohongannya, Feng Ni juga tidak akan membuka aib yang tersisa," sesenggukan.
Pelukan dan tepukkan perlahan tenangkan jiwa Feng Ni untuk pertama kali mengeksekusi keluarga sendiri.
3 jam kemudian....
Feng Ni dan seluruh keluarga kerajaan sudah berpakaian putih tanpa perhiasan mencolok.
Rombongan itu bersiap ke rumah duka, tempat dimana jenazah sedang dilakukan ritual pelepasan.
.
Tiba di rumah duka, keluarga besar lainnya menatap kejam pada Feng Ni, terutama keluarga yang ditinggal untuk selamanya.
"Pergi !!" seru usir gadis seumuran Feng Ni.
Feng Ni bersikekeh tidak beranjak pergi. Bagaimana pun juga sebelum melakukan sedikit ritual pelepasan, dia tetap enggan untuk pergi.
Gaharu dupa yang sudah dinyalakan Kasim Kim diambil untuk mengantar kepergian sang paman dengan segudang kenangan dan permasalahan semasa hidupnya.
"Saya pergi dulu," pamitnya pada istri paman yang membuang muka.
"Kalian tidak bisa bersikap seperti ini pada Feng Ni. Apa kalian lupa apa yang sudah dilakukan almarhum semasa hidupnya!" ucap tegas ratu Semangi, terasa sakit lihat anak semata wayang dapat perlakuan kejam.
Tidak ada seorang yang nyahut dari wajah berpaling mereka.
Ratu Semangi pun enggan berlama-lama turut larut dalam duka. Bersama Kasim Kim dan dayang, dia menyusul Feng Ni yang menunggu dalam kereta kuda.
"Putri ada di dalam kan?" tanya Kasim Kim pada kusir mewakili ratu Semangi.
"Tidak ada. Tuan Putri naik kuda seorang diri," jawab kusir kepala nunduk serba salah.
"Ada apa?" tanya lembut ratu Semangi ingin naik kereta kuda.
"Tuan Putri.....Tuan Putri... Pergi..." Kasim Kim nunjuk arah tak jelas seperti jawaban yang enggak jelas pula.
"Xiao Feng kenapa?" tegas tanya ratu mulai cemas.
"Kata Tuan Putri, dia ingin seorang diri," sahut gumam kusir tidak berani angkat kepala tertunduk takut.
"Cepat kalian susul Tuan Putri !" titahnya terdengar cemas berat.
3 orang prajurit yang ikut rombongan pergi nyusul Feng Ni yang tidak tau berbelok ke arah mana tujuan.
Kecemasan yang menerpa batin seorang ibu, buat ratu Semangi pulang tanpa mengikutkan rombongan dalam perjalanannya ke istana.
Sesampainya di gerbang istana, perihal yang ditanyakan adalah kepulangan batang hidung Feng Ni.
"Maaf Yang Mulia Ratu, Tuan Putri belum kembali sedari pergi dengan rombongan," jawab prajurit penjaga gerbang masuk istana.
Kereta kuda kembali melaju kencang membawa ratu kembali ke inti istana. Semua dayang dan prajurit berkumpul begitu ratu memerintahkan pencarian Feng Ni yang mungkin saja pulang tanpa sepengetahuan orang yang berjaga.
Bapao yang dengar kabar demikian juga penasaran ingin tau. Dengan alasan sakit perut,ia minta izin pada koki utama.
Ia pun berjalan cepat untuk memberitahukan kabar yang didengar pada 3 saudara lainnya.
"Kita harus berpencar cari," usul Fun Cin meraih pedang di atas meja.
4 saudara itu keluar ngendap-ngendap dari terowongan rahasia demi mencari orang yang sudah dipastikan sedih dan depresi.
So Po Ta yang dengar juga melacak keberadaan muridnya dengan telepati jarak jauh.
Namun sayang, So Po Ta gagal menembus signal telepati yang sudah diblokir pikiran Feng Ni.
Arrrgggggg...
Di ujung perbatasan negeri Semangi,Feng Ni berteriak kencang pada hamparan padang pasir kering.
"Baru satu yang mati kamu frustasi.Lalu bagaimana dengan nasib orang tuamu yang kehilangan banyak anak." naga emas terbangun akibat energi kacau Feng Ni.
Feng Ni terus melepaskan suara teriakan yang mengganjal hati kecil.
"Ingat semua kejahatan mereka atas imbalan perbuatan. Dan cukup kenang sisa terindah." naga emas menuruni kepang rambut Feng Ni.
Lihat pasir gersang yang panas, ingin rasanya naga emas kecil memanjakan diri selama pendekarnya gunda gulana.
Ratu bidadari yang diminta pertolongan So Po Ta berhasil menemukan teman yang berjalan nyantai di atas pasir gersang.
"Kim Long," sapa ratu bidadari menampakkan diri di depan.
"Kamu datang mau ikut berjemur ya?" tanya canda naga emas.
"Itu kita bicara lain waktu saja. Sebaiknya cepat redam energi Yin(negatif) dia sebelum timbulkan dampak buruk untuk alam." ratu bidadari mengangkat tubuh naga emas yang cuek bebek.
"Tidak apa biarkan dia begitu.Yang penting kita nyantai saja dulu," melepaskan diri dari tangan ratu bidadari.
"Kamu ini selalu begini....." lanjutan di skip naga emas yang mengunci mulutnya dengan mantra.
__ADS_1
"Santai sedikit, biar pahala kamu tidak berkurang," ujar naga emas mengorek pasir untuk tempat nyantai.
Saat sama, Feng Ni melepaskan aura negatif yang tentu saja membuat 3 siluman di dalam tubuh terpental keluar.
"Tuh... Mereka juga terpental keluar," cibir naga emas masih nyantai keruk pasir.
"Kamu!!" ratu bidadari dibuat kesal.
Mau tidak mau ratu bidadari turun tangan untuk tangani masalah.
Dengan daun willow, ratu bidadari memercikkan air suci dalam guci pada Feng Ni.
Energi Yin pun perlahan terkontrol, tapi 3 siluman binatang berbisa terluka akibat bentrokan energi.
"Kalian cepat minta pada Kim Long obati luka kalian," titah ratu bidadari, memberi pekerjaan pada makhluk sakral yang sedang nyantai sendiri.
3 siluman dalam wujud asal berjalan dan melata terseok-seok.
"Kim Long," ringkih mereka memanggil.
"Mau apa kalian!!" jawab ketus naga emas tanpa menoleh ke atas dalam pengerukan pasir.
"Tolong obati luka kami, Kim Long," pinta ringkih nona ular.
"Tunggu aku selesai."
Ratu bidadari bergeleng kepala dengan sifat naga emas yang memainkan 3 siluman terluka. Jika terluka karena hal biasa, 3 siluman juga tidak akan memohon.
Ilmu yang dimiliki juga belum sepadan untuk obati luka akibat benturan energi.
Beda dengan ratu bidadari yang bukan tidak bisa obati. Tetapi setiap makhluk punya tugas dan tanggung jawab sendiri untuk dikerjakan.
"Jika saya terus membantu, bukankah kemampuan Kim Long yang tersohor hanya kosong belaka," ucap lembut ratu bidadari menasehati.
"Hmpphh...!! Semua wanita itu pada dasarnya suka ngatur dan ngoceh," gerutu naga emas, berhenti mengeruk pasir.
Ratu bidadari dan 2 siluman wanita (tarantula dan ular) terdiam dengan tudingan sang naga yang merambat naik.
"Masuklah kalian!!" perintah ketus naga emas.
Lihat 3 siluman betapa pelan masuk ke dalam lubang pasir, naga emas pun menendang mereka satu persatu jatuh ke kubangan.
Hufff.....
Ratu bidadari berhela nafas berat terhadap sikap kasar temannya.
Naga emas kecil itu cepat-cepat mengais kembali tumpukan pasir di atas permukaan, tutupi hidup-hidup 3 siluman dalam lubang buatan.
"Kim Long !!" ujar kaget ratu bidadari.
Siapa sangka seekor naga suci yang diagungkan 3 dunia, bisa berbuat hal sekejam itu pada 3 siluman tak berdaya.
.
"Yang Mulia," sambut Kasim Do dan rivalnya dengan wajah ngos-ngosan habis jalan cepat.
Feng Ni menggeleng dengan wajah sedih tidak terlukis. Sebagaimana mestinya ia masih dalam tugas negara, dia tidak dapat menitikkan air mata kesedihan.
Tidak lama 4 orang prajurit khusus yang ada di dalam, membawa keluar jenazah penasehat sekaligus keluarga.
Kasim Do tertegun lihat jasad begitu mati mengenaskan, penuh luka tusukan sekujur tubuh dan kepala yang neteskan darah segar kental.
"Yang lain bersihkan ruang dalam!" jendral Li memerintah prajurit yang berjaga di luar selama persidangan untuk bersihkan aula yang kotor dengan jejak darah bau amis.
Feng Ni pun bergegas memberitahukan kabar duka cita tersebut pada sang ratu sebelum berganti pakaian berkabung menurut adat istiadat keluarga kerajaan.
"Kamu jangan merasa bersalah sepenuhnya akan nasib Paman ke-4 mu itu.Dialah yang telah memilih jalan diantara beberapa pilihan," ucap lembut ratu Semangi, menangkup wajah sedih Feng Ni terurai air mata.
"Tapi, jika Paman tidak terus berdalih akan kebohongannya, Feng Ni juga tidak akan membuka aib yang tersisa," sesenggukan.
Pelukan dan tepukkan perlahan tenangkan jiwa Feng Ni untuk pertama kali mengeksekusi keluarga sendiri.
3 jam kemudian....
Feng Ni dan seluruh keluarga kerajaan sudah berpakaian putih tanpa perhiasan mencolok.
Rombongan itu bersiap ke rumah duka, tempat dimana jenazah sedang dilakukan ritual pelepasan.
.
Tiba di rumah duka, keluarga besar lainnya menatap kejam pada Feng Ni, terutama keluarga yang ditinggal untuk selamanya.
"Pergi !!" seru usir gadis seumuran Feng Ni.
Feng Ni bersih kekeh tidak beranjak pergi. Bagaimana pun juga sebelum melakukan sedikit ritual pelepasan, dia enggan pergi.
Gaharu dupa yang sudah dinyalakan Kasim Kim diambil untuk mengantar kepergian sang paman dengan segudang kenangan dan permasalahan semasa hidupnya.
"Saya pergi dulu," pamitnya pada istri paman yang membuang muka.
"Kalian tidak bisa bersikap seperti ini pada Feng Ni. Apa kalian lupa apa yang sudah dilakukan almarhum semasa hidupnya!" ucap tegas ratu Semangi, terasa sakit lihat anak semata wayang dapat perlakuan kejam.
Tidak ada seorang yang nyahut dari wajah berpaling mereka.
Ratu Semangi pun enggan berlama-lama turut larut dalam duka. Bersama Kasim Kim dan dayang,ia menyusul Feng Ni yang menunggu dalam kereta kuda.
"Putri ada di dalam kan?" tanya Kasim Kim pada kusir mewakili ratu Semangi.
"Tidak ada. Tuan Putri naik kuda seorang diri" jawab kusir kepala nunduk serba salah.
"Ada apa?" tanya lembut ratu Semangi ingin naik kereta kuda.
"Tuan Putri.....Tuan Putri... Pergi..." Kasim Kim nunjuk arah tak jelas seperti jawaban yang enggak jelas pula.
__ADS_1
"Xiao Feng kenapa ?" tegas tanya ratu mulai cemas.
"Kata Tuan Putri,dia ingin seorang diri," sahut gumam kusir tidak berani angkat kepala tertunduk takut.
"Cepat kalian susul Tuan Putri !" titahnya terdengar cemas berat.
3 orang prajurit yang ikut rombongan pergi nyusul Feng Ni yang tidak tau berbelok ke arah mana tujuan.
Kecemasan yang menerpa batin seorang ibu,buat ratu Semangi pulang tanpa mengikutkan rombongan dalam perjalanannya ke istana.
Sesampainya di gerbang istana, perihal yang ditanyakan adalah kepulangan batang hidung Feng Ni.
"Maaf Yang Mulia Ratu, Tuan Putri belum kembali sedari pergi dengan rombongan," jawab prajurit penjaga gerbang masuk istana.
Kereta kuda kembali melaju kencang membawa ratu kembali ke inti istana. Semua dayang dan prajurit berkumpul begitu ratu memerintahkan pencarian Feng Ni yang mungkin saja pulang tanpa sepengetahuan orang yang berjaga.
Bapao yang dengar kabar demikian juga penasaran ingin tau. Dengan alasan sakit perut,ia minta izin pada koki utama.
Ia pun berjalan cepat untuk memberitahukan kabar yang didengar pada 3 saudara lainnya.
"Kita harus berpencar cari," usul Fun Cin meraih pedang di atas meja.
4 saudara itu keluar ngendap-ngendap dari terowongan rahasia demi mencari orang yang sudah dipastikan sedih dan depresi.
So Po Ta yang dengar juga melacak keberadaan muridnya dengan telepati jarak jauh.
Namun sayang, So Po Ta gagal menembus signal telepati yang sudah diblokir pikiran Feng Ni.
Arrrgggggg...
Di ujung perbatasan negeri Semangi,Feng Ni berteriak kencang pada hamparan padang pasir kering.
"Baru satu yang mati kamu frustasi. Lalu bagaimana dengan nasib orang tuamu yang kehilangan banyak anak." naga emas terbangun akibat energi kacau Feng Ni.
Feng Ni terus melepaskan suara teriakan yang mengganjal hati kecil.
"Ingat semua kejahatan mereka atas imbalan perbuatan.Dan cukup kenang sisa terindah." naga emas menuruni kepang rambut Feng Ni.
Lihat pasir gersang yang panas, ingin rasanya naga emas kecil memanjakan diri selama pendekarnya gunda gulana.
Ratu bidadari yang diminta pertolongan So Po Ta berhasil menemukan teman yang berjalan nyantai di atas pasir gersang.
"Kim Long," sapa ratu bidadari menampakkan diri di depan.
"Kamu datang mau ikut berjemur ya?" tanya canda naga emas.
"Itu kita bicara lain waktu saja. Sebaiknya cepat redam energi Yin(negatif) dia sebelum timbulkan dampak buruk untuk alam" ratu bidadari mengangkat tubuh naga emas yang cuek bebek.
"Tidak apa biarkan dia begitu.Yang penting kita nyantai saja dulu," melepaskan diri dari tangan ratu bidadari.
"Kamu ini selalu begini....." lanjutan di skip naga emas yang mengunci mulutnya dengan mantra.
"Santai sedikit, biar pahala kamu tidak berkurang," ujar naga emas mengorek pasir untuk tempat nyantai.
Saat sama, Feng Ni melepaskan aura negatif yang tentu saja membuat 3 siluman di dalam tubuh terpental keluar.
"Tuh... Mereka juga terpental keluar," cibir naga emas masih nyantai keruk pasir.
"Kamu!!" ratu bidadari dibuat kesal.
Mau tidak mau ratu bidadari turun tangan untuk tangani masalah.
Dengan daun willow, ratu bidadari memercikkan air suci dalam guci pada Feng Ni.
Energi Yin pun perlahan terkontrol, tapi 3 siluman binatang berbisa terluka akibat bentrokan energi.
"Kalian cepat minta pada Kim Long obati luka kalian!" titah ratu bidadari, memberi pekerjaan pada makhluk sakral yang sedang nyantai sendiri.
3 siluman dalam wujud asal berjalan dan melata terseok-seok.
"Kim Long," ringkih mereka memanggil.
"Mau apa kalian!!" jawab ketus naga emas tanpa menoleh ke atas dalam pengerukan pasir.
"Tolong obati luka kami, Kim Long," pinta ringkih nona ular.
"Tunggu aku selesai."
Ratu bidadari bergeleng kepala dengan sifat naga emas yang memainkan 3 siluman terluka. Jika terluka karena hal biasa,3 siluman juga tidak akan memohon.
Ilmu yang dimiliki juga belum sepadan untuk obati luka akibat benturan energi.
Beda dengan ratu bidadari yang bukan tidak bisa obati. Tetapi setiap makhluk punya tugas dan tanggung jawab sendiri untuk dikerjakan.
"Jika saya terus membantu, bukankah kemampuan Kim Long yang tersohor hanya kosong belaka," ucap lembut ratu bidadari menasehati.
"Hmpphh...!! Semua wanita itu pada dasarnya suka ngatur dan ngoceh," gerutu naga emas, berhenti mengeruk pasir.
Ratu bidadari dan 2 siluman wanita (tarantula dan ular) terdiam dengan tudingan sang naga yang merambat naik.
"Masuklah kalian!!" perintah ketus naga emas.
Lihat 3 siluman betapa pelan masuk ke dalam lubang pasir, naga emas pun menendang mereka satu persatu jatuh ke kubangan.
Hufff.....
Ratu bidadari berhela nafas berat terhadap sikap kasar temannya.
Naga emas kecil itu cepat-cepat mengais kembali tumpukan pasir di atas permukaan,tutupi hidup-hidup 3 siluman dalam lubang buatan.
"Kim Long !!" ujar kaget ratu bidadari.
Siapa sangka seekor naga suci yang diagungkan 3 dunia, bisa berbuat hal sekejam itu pada 3 siluman tak berdaya.
__ADS_1
**