
Setiba di kediaman Feng Ni, ratu melihat langsung keadaan fisik anak semata wayangnya.
"Kamu tidak apa-apa kan, Nak?" cemasnya bertanya memeriksa wajah cantik nan rupawan.
"Saya baik-baik saja, Bu," sahut Feng Ni lembut, menangkup tangan yang menempel di wajah.
"Tapi kamu dari tempat mereka," matanya berkaca-kaca tidak sanggup terima kenyataan jika kehilangan anak terakhir yang bersisa.
"Ibu harus yakin. Saya bisa atasi semua masalah tanpa terluka," menggenggam tangan ratu di atas pangkuan.
"Ibu yakin. Ibu percaya. Tapi Ibu tidak ingin kamu berurusan dengan mereka," tetap menasehati.
"Jangan terlalu banyak mencemaskan semua masalah, Bu. Ini tidak baik bagi progres kesehatan," kembali menasehati.
Kasim Kim berdiri serba salah antara ibu dan anak yang saling menasehati.
"Sebaiknya tadi saya tidak melapor. Tapi, jika tidak beri laporan, saya akan bersalah," galau batin Kasim Kim, menunduk gelisah.
"Kasim Kim, apa efek obat bius masih terasa?" tanya duplikat hilangkan kegalauan Kasim Kim.
"Haa...Maaf, Tuan Putri," tersentak dari lamunan galau.
"Tidak apa. Apa masih ngantuk ? Jika iya,anda bisa beristirahat dulu."
"Tidak lagi kok. Sekarang hamba lebih segar," sahut canggung Kasim Kim.
"Kasim Kim, bisa tinggalkan Ibu di sini bersama saya?" duplikat menatap orang yang berdiri menunggu diantara mereka dalam keadaan kaku.
"Baik," pamitnya langsung keluar.
Tinggal ibu dan anak yang berbincang nyantai saling menasehati dan berbagi.
Sepanjang cerita, ratu bidadari mengobati ratu Semangi dengan kekuatan spiritual tanpa disadari pasien.
Beberapa sesi pengobatan spiritual selesai dilakukan ratu bidadari.
"Ibu sudah merasa lebih baik?" memberikan cawan air minum di meja dalam kamarnya.
"Iya.Setelah bercerita, jauh lebih ringan," merasakan tubuh jauh lebih enakan tanpa banyak beban disimpan dalam hati.
"Jika pikiran tenang, hati tanpa beban. Semua penyakit Ibu akan segera hilang."
Ratu Semangi juga ingin seperti keadaan dulu menjalani hidup, mendampingi raja untuk memimpin negeri. Tapi waktu satu persatu putranya pergi, penyakit aneh menyerang beruntun.
Malam menjelang,2 gadis kecil itu cukup menerima bayaran kembali karma perbuatannya.
Mereka tidak bisa untuk duduk atau berbaring setelah seharian diserang diare akut,meski tabib sudah kasih obat manjur.
Ratu Semangi seakan tidak mengetahui perihal yang menimpa 2 anak tirinya. Dia hanya menemani keluarga kecilnya makan malam tenang.
"Yang Mulia ingin ini?" tanya ratu, menggambil piring masakan ayam pegar.
"Boleh," balas raja Xiao Se Mang dengan senyum khas penuh pesona.
Ibarat mereka masih muda, mereka mengenang masa-masa muda itu sebelum hadirnya para selir dari berbagai alasan dan aspek.
Ratu bidadari dapat melihat kenangan indah masa muda raja dan ratu Semangi.
Untuk merasakan kembali semua kebahagiaan itu, ratu bidadari menjeda waktu saat ini,membawa mereka menembus waktu sewaktu mereka muda penuh cinta kasih, yang membawa kebahagiaan bagi orang sekitar.
"Akan saya tinggalkan kalian untuk kilas balik semua masa muda kalian." ratu bidadari keluar dari dunia dimana raja dan ratu menjadi pengantin berbahagia.
__ADS_1
Raja dan ratu muda sebagai pengantin baru memadu kasih mereka di malam singkat bahagia itu.
Dalam sekejap terlewati, dengan lahirnya anak sulung mereka. Disusul dengan hadirnya wanita untuk di gelari 'Selir' yang merubah kehidupan awal bahagia itu.
Merasa kenangan bahagia terusik,ratu bidadari menghentikan masa-masa itu, menarik kembali untuk tidak terusak kenangan kecil bahagia itu.
Sementara di tempat lain, 3 murid So Po Ta mulai kehabisan bahan makanan. Mereka juga belum dikirim Bapao yang nyamar jadi asisten koki stok makanan kering untuk beberapa hari.
"Apa aku keluar cari makanan," usul Da Min, sebelum perut mereka bertahan dengan pil anti laper buatan Ling Ni.
"Tidak bisa. Jika ketahuan kita hanya menambah masalah." Fun Cin memikirkan cara lebih baik.
"Betul itu, Bang," ujar Ling Ni duduk memandang hujan bintang malam hari.
"Kalian tetap di sini. Abang saja yang keluar." Fun Cin memutuskan dia sendiri keluar mencari makanan.
Da Min dan Ling Ni menggeleng kepala jika harus ditinggal berdua. Yang ada mereka bukan hanya debat mulut, tapi bisa adu kekuatan.
"Kalian coba untuk akur," bujuknya.
"Lebih baik aku ikut," ujar Ling Ni siap dengan senjatanya.
Fun Cin melihat memang tidak bisa lagi biarkan 2 adiknya ditinggal sendiri. Dan untuk itu dia pun berat hati mengajak keduanya keluar bersama.
Dengan persiapan cermat mereka bertiga keluar dari dinding mercusuar memakai tali tambang panjang yang dikumpulkan dari tali-tali pengikat beberapa barang.
"Kalian harus waspada dengan dinding yang licin," nasehatnya lihat musim tidak menguntungkan harus manjat jarak tinggi.
Mereka juga berbekal jari besi membentuk cakaran burung, guna menahan timbunan es yang menutup permukaan kasar bangunan.
Cakaran dari jari besi buatan itu mencakar kuat, mendaratkan mereka dengan selamat pada daratan.
"Iya," sahut keduanya dengan penekanan.
Dengan arahan Fun Cin, kedua adiknya mengikuti dan ngawasin keamanan mereka mencari makanan.
"Bang!" ujar pelan Ling Ni narik tangan Fun Cin dari prajurit yang melintas.
Huffff.....
Fun Cin hampir saja mencelakai semua orang.
"Terima kasih," ucapnya nafas lega.
Kembali lagi mereka mengendap-ngendap cari makan.
Saat mereka sampai di tempat penyimpanan bahan makanan, mereka juga bingung siapa yang bisa masak setelah semua bahan terkumpul.
"Yang penting bawa dulu," sahut Da Min mengambil gandum halus selesai diolah.
"Baiklah." Ling Ni mengambil jagung kering.
"Hati-hati." Fun Cin membopong karung isi tepung.
Kembali lagi mereka keluar hati-hati dari gudang penyimpanan makanan.
Saat melangkah kaki Fun Cin keluar pintu, langkahnya terhenti karena ketahuan seseorang.
"Ayo masuk," ujar orang itu menghentikan semua keluar.
"Bapao," teriak rindu tertahan orang di belakang Fun Cin.
__ADS_1
Tidak ada waktu bagi mereka bercengkerama lama-lama. Secara singkat padat, Bapao menyerahkan bungkusan besar yang di pikulnya dari dapur istana.
"Maaf,aku terlambat," ucapnya lirih sedih bersalah.
"Tidak apa. Asal kamu juga baik-baik saja, Abang tenang," sahut Fun Cin menepuk pundaknya.
"Untung kamu masih ingat kami," tambah Ling Ni merangkul lengan besar berotot itu.
"Dia itu bilang begitu, karena tidak ada yang bela," sindir Da Min membagi isi bungkusan jadi 3 bagian lebih mudah untuk mereka bawa.
Ya, suasana yang lama tidak dirasakan semenjak jadi identitas baru. Biarpun tidak lama untuk bercanda, cukup sudah menghibur hatinya.
"Aku harus segera kembali," pamitnya pada 3 saudara.
"Jika bertemu Feng Ni, sampaikan rindu kami." Ling Ni menitip pesan.
"Baiklah," melambaikan tangan la lalu pergi.
Begitu juga mereka bertiga yang harus kembali ke dalam mercusuar tanpa ketahuan siapa pun juga.
**
Di ruang dimensi, Feng Ni masih belum bisa melawan gaya gravitasi tersebut.
Untuk menyejajarkan tekanan saja dia masih mencari benda.
Tapi anehnya, tiba-tiba sesuatu mencoba keluar dari kepalanya.
Seekor tarantula yang baru capai level tingkat 1 ingin membantunya menyelesaikan latihan itu.
Selain itu juga, tarantula mendapatkan tempat baginya menyatu dengan kekuatan spiritual Feng Ni.
Tarantula menyemburkan serat benang sutera pada bagian ujung ruangan tersebut sebagai pondasi sebelum membuat jaring lebih kokoh dan lengket.
Jujur saja Feng Ni masih bingung,mengapa seekor tarantula bisa keluar dari kepalanya? Bagaimana ceritanya,asal muasal munculnya?
Dalam pertanyaan pikirannya, Kim Long menjawab dengan menunjukkan putaran kilas balik kejadian beberapa tahun lalu di mulai awal pengabungan mereka.
"Sudah paham dan ingat kan! Sekarang lanjut latihan!" hardik Kim Long, lihat tarantula begitu cepat bangun jaring laba-laba raksasa bagi Feng Ni bisa duduk bermeditasi dengan tenang tidak ngambang kiri kanan atas bawah.
Untuk menetralkan racun yang tersisa dalam tubuhnya, ular juga keluar jalankan tugas.
Racun yang diisap ular ternyata mampu mengurangi massa tubuh Feng Ni. Sehingga dia bisa lebih stabil dengan gaya gravitasi ini.
Cepat Feng Ni duduk bersila di atas jaring laba-laba raksasa.
Setiap detik amat berharga bagi kelangsungan hidup semua rakyat negeri Semangi.
***
Pagi menyapa bumi. So Po Ta yang sudah ditinggal sendirian dalam naungan pejabat Lim mendapatkan kabar telepati dari ratu bidadari.
Dalam posisi duduk meditasi, So Po Ta bertelepati menanyakan setiap masalah yang harus ia turut ikut campur tangan.
"Saya akan merubah wujud kamu menjadi salah seorang yang bisa keluar masuk istana," usul ratu bidadari tidak mengenal raga yang sedang ingin dipinjam.
"Baik, jika itu keputusan yang baik," menyetujui usulan.
Akan sulit jika ingin merubah wujud seseorang lebih dari 5 meter.
Maka dari itu, ratu bidadari membagi jiwanya untuk membantu So Po Ta datang istana.
__ADS_1