
"Siapa kamu sebenarnya?" selidik gadis, dalam gendongan punggung Feng Ni berlari kencang.
"Katakan dimana kamu bisa aman?" Feng Ni tanya balik.
Tidak ada waktu baginya untuk mengulur tiap kesempatan dalam setiap kondisi.
"Depan belok kanan," jawab gadis tanpa dapat jawaban atas pertanyaan.
Feng Ni mengikuti arah yang ditunjuk gadis. Setelah sampai, Feng Ni menurunkan gadis pada sebuah rumah tua di pinggiran sungai.
"Seharusnya kamu sudah selamat. Saya harus pergi," ucap Feng Ni berpamitan.
"Tunggu!!" tangan gadis mengulur niat hendak hentikan langkah penolongnya. "Semoga kita bisa bertemu lagi," ucapnya lirih tidak bisa menghentikan langkah orang yang sudah jauh.
**
Di pagi yang cerah dan sinarnya yang menyinari seluruh belahan bumi Asia, Feng Ni kembali harus menapaki jalan setapak untuk sampai di istana sendiri.
Dia kembali melihat kehidupan rakyat jelata di desa lain. Rakyat yang hanya di tempati para janda tua dan anak-anak kecil dalam kepulihan mendapat sesuap nasi.
Dengan koin emas yang masih tersisa dalam kantong kain di ikat pinggang, Feng Ni menyumbangkan seluruh isi kantong pada para janda yang mengharap mukjizat menyambung kehidupan mereka.
"Belilah beras dan jagung," ucap Feng Ni menyerahkan kantong kain isi koin emas.
"Terima kasih. Semoga Dewa Dewi akan melindungi kamu " ucap kelompok janda dengan wajah sendu bahagia.
"Sama-sama," jawab Feng Ni dan berjalan lagi.
Kelompok janda itu pun pergi ke pasar terdekat untuk mendapatkan bahan makanan kebutuhan mereka semua.
Koin emas yang lumayan itu mereka pun belanjakan setengah saja. Sisa koin emas yang tersisa, mereka ingin kelola untuk mencukupi kelompok desa janda setiap hari tanpa mengharapkan penantian panjang dalam kelaparan.
Beberapa bahan untuk usaha mereka beli dari toko berkaitan. Setelah semua terbeli, kelompok janda yang ikut pergi ke pasar pun pulang dengan segala bahan, dengan kereta gobrak yang sudah terisi penuh membumbung tinggi.
3 orang janda mendorong dari belakang gobrak,4 orang menarik dari depan,dan masing-masing 2 sisi dibantu seorang wanita janda.
"Untuk berterima kasih kita telah dapat kesempatan nyambung hidup. Kita harus gigih mengembangkan keberuntungan ini," ucap salah seorang janda di depan gerobak.
"Iya, benar," jawab janda lainnya setuju.
Semangat untuk berjuang bangkit kembali mampu membuat mereka membawa gerobak penuh dan berat sampai di desa penampungan janda dan anak-anak.
__ADS_1
Kepulangan mereka dapat sambutan kebahagiaan tiada tara oleh warga desa janda.
Mereka saling bahu membahu menurunkan setiap benda dalam gerobak. Termasuk anak-anak yang sudah bisa mengangkat benda, maka akan turut andil.
"Ibu, lapar," adu rengek seorang bocil laki-laki berbusung lapar.
"Sabar ya. Sebentar lagi makanan akan dimasak," jawab sang ibu janda bermata berkaca-kaca, teringat selama ini yang dimasak adalah batu kerikil dalam panci tanah liat. Dimana air rebusan batu-batu itulah yang diberikan pada putranya yang lapar sepanjang hari.
Pilu yang sama juga dialami janda lainnya, ada yang juga sampai anak mereka meninggal dalam keadaan lapar berkelanjutan.
Semua barang yang dibeli sudah turun dari kereta gerobak. Tiba saatnya untuk memasak makanan penyambung nyawa mereka semua.
Desa janda yang seperti desa kutukan tanpa seorang memberi bantuan pada kehidupan harian mereka. Hari ini seakan kembali dapat siram keberkahan dari orang yang terlihat tidak terlalu kaya.
Puji syukur mereka panjatkan atas mukjizat yang mereka terima dari Dewa Dewi di surga.
Beberapa orang janda mengupas ubi jalar kuning untuk ditambahkan dalam masakan bubur, dalam dandang (periuk/panci) berukuran besar di atas tungku api.
"Ibu...Kami laper," keluh beberapa anak duduk di depan pintu gubuk mereka yang mengelilingi tungku masak umum itu.
Perih rasanya hati melihat keluhan anak-anak setiap hari yang hanya meminum rebusan air bercampur batu kerikil yang dimasak cukup lama.
Tetapi untuk saat ini, anak-anak itu akan mendapat makanan yang nyata, bisa membuat perut mereka kenyang padat seharian.
Bubur lembut bercampur ubi jalar manis sudah matang sempurna, dengan aroma yang harum dan menggoda.
2 wanita janda menciduk bubur ubi dengan centongan panjang ke dalam sebuah wadah yang didapat mereka dari batok kelapa, dan dijadikan mereka sebagai salah satu bagian peralatan mereka pengganti mangkuk dan piring.
Sendok yang mereka pakai juga terbuat dari batok kelapa yang retak dibagi jadi beberapa bagian. Ada juga yang memakai sendok terbuat dari daun pisang tua.
Bubur ubi jalar yang masih panas mendidih itu ditiup penuh rasa terima kasih sebelum masuk ke dalam mulut anak-anak yang masih butuh bantuan untuk makan sendiri.
Aaakk....
Anak-anak itu membuka lebar mulut mereka yang sudah laper menunggu masakan di dapur umum depan gubuk mereka.
Nyammm.....Nyammm.....
Senang rasanya hati wanita janda itu saat melihat yang tersisa untuk dikenang mereka bisa merasakan makanan sungguhan setelah bertahun lamanya.
Setelah memberikan makanan pada anak-anak, para wanita janda memilih untuk berbagi air bubur ubi yang tersisa dalam dandang.
__ADS_1
"Semoga kelak kita bisa penuhi kebutuhan sendiri," ucap doa seorang janda sebelum meneguk 1/4 centong air bubur ubi yang dibagi rata semua ke janda.
Lalu serentak mereka meneguk dengan rasa puas diri dan lebih kenyang,dari pada harus minum air saja.
Pekerjaan mereka masih banyak, beberapa anak yang agak besar membereskan keadaan dapur umum.Sementara para janda mulai membagi tugas pekerjaan sesuai keahlian masing-masing.
Ada yang menanam ubi jalar dari ubi yang mereka beli.Ada yang menanam biji jagung di pinggiran gubuk mereka. Ada juga yang mengembangkan keahlian dengan kain tenunan. Ada juga yang membuat caping bambu setelah selesai menyemai bibit jagung.
"Ibu, kenapa kita tanam itu?" tanya seorang gadis kecil, membantu menyusun helaian bambu tipis, melanjutkan keinginan tahuannya.
"Itu bisa cepat panen dan membantu kebutuhan semua orang di sini " jawab sang ibu mulai buat dasar caping.
Dari tanaman ubi dan jagung,maka ubi akan lebih siap panen. Selain itu daun ubi jalar bisa dijadikan sayuran ketika belum dipanen.
"Sekarang sudah paham kan?" tanya sang ibu mengelus wajah gadis kecilnya yang ikut menderita.
Bocah pun ngangguk paham dan punya keinginan untuk membantu merawat tanaman mengelilingi gubuk mereka.
**
Di tempat lain, Feng Ni masih berjalan diantara jalan setapak dan kadang lereng gunung yang masih jadi tempat tinggal binatang buas.
Untuk keamanan semua makhluk yang hidup berdampingan, Feng Ni membuat pagar pembatas darurat, guna manusia dan binatang buas di tengah hutan tidak saling mengacau.
Banyak ranting pohon yang ditancapkan Feng Ni ke tanah sebagai pembatas, dengan ilmu beladiri dan tenaga dalam tidak memustahilkan pekerjaan itu selesai cepat dalam 1 hari.
"Ini ranting terakhir," ucap Feng Ni menancapkan ranting di tanah.
Selesai juga pekerjaan setelah malam tiba. Feng Ni kembali melanjutkan perjalanan singkat untuk menemukan tempat untuk mengistirahatkan kaki.
Melihat kandang kerbau milik warga, Feng Ni enggan untuk bermalam di sana. Tidak ada perkebunan atau gubuk sawah yang ada dalam kampung ini.
"Ini, mereka pasti peternak hewan," ucap Feng Ni sulit dapatkan tempat bermalam.
Semua kampung ini memang dipenuhi kandang peternakan hewan, selain kerbau ada juga kandang unggas seperti bebek, ayam, burung puyuh.
Bau yang menyengat mengusik Feng Ni yang coba keluar dari batas kampung peternakan.
Langkah ringan tubuh Feng Ni yang berlari diantara gubuk peternak dan kandang peternakan membuat dirinya lebih cepat gapai batas wilayah kampung.
"Akhirnya..." lega Feng Ni bernafas bebas.
__ADS_1
Flasback off
**