
Biarpun bulu kuduk merinding, tetap saja mereka terjaga dalam posisi sigap berdiri tegak memegang tombak.
Sementara itu, Feng Ni mencoba masuk ke dalam mercusuar melalui jendela.
"Kapan bisa kembali normal?" Feng Ni mengeluh keadaan fisik sekarang tidak rupa manusia.
Katanya dia tidak akan berubah wujud naga sepenuhnya. Katanya juga tidak akan menyusahkan dirinya. Katanya semua yang dialami demi kebaikan. Katanya, katanya dan katanya si naga saat Feng Ni mengalami perubahan fisik pertama berupa selaput dan disusul insang di balik daun telinga.
Mau bagaimana lagi Feng Ni menyesal,dan sebesar apa dia mengeluh, keadaan tidak akan mengubah wujud dengan segampang sihir yang dia pelajari otodidak.
Dini hari Feng Ni dengan sayap lebar membentang lurus beristirahat bersandar pada dinding bangunan yang menjulang tinggi.
Repot tentu saja karena belum terbiasa dengan kehadiran sayap serta ekor yang merisihkan sekujur tubuh.
Andai saja dia bisa tau cara menyembunyikan kembali sayap dan ekor, pasti tidak akan serisih sekarang ini.
Feng Ni harus bertahan dengan keadaan saat ini, hingga mentari menyapa dan rembulan kembali hadir.
Sudah 1 hari Feng Ni bersembunyi dalam mercusuar ini tanpa bergerak bebas leluasa.
"Saya harus bersabar sampai guru dan lainnya datang," ucapnya duduk memeluk erat lutut tertekuk.
Tanpa makan minum, Feng Ni memang bisa bertahan selama berpuluh hari, asal ada sinar yang berganti memberi makan energinya.
***
Beberapa hari terlewati dengan kekakuan posisi yang masih merisihkan.
Timbul kembali pertanyaan dalam benaknya yang galau.
"Apa abang Fun Cin dan lainnya akan kaget dengan penampilan saya sekarang? Mungkin mereka akan mengira saya bagian dari iblis," gerutu Feng Ni mendongak kepala lihat atap-atap langit bangunan tua yang masih kokoh hampir 1 abad.
Kembali matahari melambai pergi, menyambut bulan yang datang berkunjung.
Tanpa melihat keadaan di luar bangunan, bagaimana dia harus mengumpulkan bukti-bukti kejahatan beberapa pejabat.
"Saya harus kembali menyelidiki kasus ini. Tidak bisa duduk diam seperti ini," ujar Feng Ni setelah cukup mengeluh beberapa hari.
Dia berdiri perlahan agar tidak menimbulkan suara ribut akibat sayap yang tidak ingin mengincup.
"Pelan, pelan, pelan," ucap Feng Ni berjalan hati-hati tidak menyenggol benda berbunyi keras saat terbentur, dan tangan menarik ujung sayap agar tidak membentang terlalu lebar.
Wuzzz.....
Kepakan sayap langsung menyambut tiupan angin yang membawa dirinya terbang bebas di luar mercusuar.
Bagai hewan bebas dari sangkar, Feng Ni terbang melayang melingkari puncak mercusuar.
"Ternyata hewan dan manusia sama. Sama-sama butuh kebebasan," gumam Feng Ni menyadari hak sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Setelah beberapa putaran cepat, Feng Ni pun pergi kebagian sisi lain istana untuk mencari info.
Tengg....Tengg....
Seorang penjaga yang bertugas memberitahukan jam malam sedang membunyikan gong kecil, berjalan menelusuri jalan yang dilalui semua orang istana.
"Jam 10!" teriak kencang penjaga malam.
Beberapa menit kemudian suara teriakan lebih kencang membangunkan seisi istana.
__ADS_1
"Putra mahkota telah mangkat!" teriak seorang Kasim berlari keluar dari kamar pangeran mahkota, menyerukan kabar duka cita.
Nyala lampu kamar yang ditempati oleh para dayang menyala menderang. Mengharuskan mereka untuk berpakaian formal untuk membantu segala keperluan.
Dengan telinga yang dimiliki Feng Ni, dia bisa mendengar teriakkan yang kencang meski samar-samar di ketinggian yang hampir 1 km dari darat.
"Ada apa? Mengapa terdengar kepanikan?" Feng Ni menurunkan ketinggian terbang agar lebih jelas didengar.
Feng Ni meningkuk turun dalam jarak aman dirinya terbang.
Matanya melihat banyak dayang,prajurit lari berbondong gusar, berlalu lalang melintasi jalan menuju kamar abang.
"Saya harus ke sana," mengarahkan sayap untuk ke kamar pangeran mahkota.
Jlebbb...
Tidak percaya begitu ia terbang di atas kamar itu.
Lampu lampion yang biasanya menyinari sejumlah ruang dan kamar istana yang bewarna merah, pada di turunkan, diganti dengan lampu lampion bewarna putih.
"Tidak mungkin. Ini pasti ada kesalahan informasi," wajah Feng Ni tertegun menenggreng di atas atap bangunan menghadap kamar abangnya.
Mau percaya atau tidak, tapi yang terjadi adalah kenyataan.
Tidak ada suara tangis yang menghiasi kamar pangeran mahkota, meski beberapa wajah memerah memendam kesedihan.
"Kasihan pangeran. Sudah beberapa bulan sakit tidak kunjung sembuh, berakhir begini," ucap seorang dayang yang keluar untuk mengambil keperluan lain.
"Iya. Mana sakit beliau tidak dapat dispesifikasi jenis penyakitnya sama tabib ternama sekalipun," sahut dayang sebelahnya.
Feng Ni juga sudah mencurigai penyakit yang dialami abangnya, tapi belum sempat ia selidiki semua masalah, abang sedarah yang tertinggal sudah duluan pergi tidak dapat bertahan untuk waktu yang lama.
"Ibu," panggilannya dalam hati, tangan mengulur meraih bayangan yang berjalan.
"Yang Mulia!" seru dayang pengawal Ratu, menahan tubuh yang tiba-tiba terhuyung pingsan.
Para penjaga yang sekitar pun segera menghampiri, membantu Ratu mereka untuk ke kamarnya.
Sebagai seorang anak, Feng Ni merasa bersalah banget tidak bisa membantu, hanya melihat bayangan yang pingsan dari kejauhan.
Rasa bersalah itu dia bawa terbang tinggi ke angkasa. Lalu ia jeritkan semua kesedihan dan penyesalan di langit bertaburan bintang.
Aaaa.........
Pekiknya sejadi-jadinya, kibasan sayap juga menyapu awan yang berkumpul menjauhi rembulan.
Di tempat lain, seorang peramal melihat perubahan drastis benda-benda langit dengan cepat.
"Bahaya!" ucapnya menghitung gerak perbintangan dengan jari jemari.
Bagaimana tidak bahaya? Bahaya yang akan memakan lebih banyak korban baik tidak bersalah maupun penuh dosa.
Makin dihitung pergerakan bintang, makin cemas juga si peramal meramal nasib kerajaan sekitarnya yang terdampak imbas kebahayaan tersebut.
"Bulan dan bintang sejajar matahari. Perubahan besar yang mengulang sejarah ribuan tahun silam," gumam peramal.
Niat untuk meninggalkan sejarahnya juga dalam terbentuk sejarah baru kelak, peramal pun mengambil gulungan kayu dan alat tulis.
Dalam kosa kata bahasa kanji kuno, peramal menjabarkan apa yang ia prediksikan.
__ADS_1
Tidak sampai situ saja, peramal juga melukis cara perhitungan letak astronomi tata surya beserta planet di luar bumi.
Mungkin tidak akan selesai buku itu tercipta dalam 1,2 malam. Butuh waktu yang cukup lama untuk dia menulis semua pengetahuan astronomi itu untuk dikenang sepanjang masa.
Feng Ni seakan mengobrak abrik langit malam, mengacaukan perbintangan yang jadi panutan semua peramal perbintangan seluruh negara.
Naga emas yang sudah cukup untuk beristirahat dalam kotak terbuat dari kayu cendana, terbangun slow dengan mimik datar.
"Dia tetap tidak bisa kontrol emosi," gumam naga emas, keluar dari kotak persembunyian.
"Sudah tiba waktu kita turun gunung," ucap So Po Ta juga tersadar dari pertapaan beberapa hari.
"Ya, murid kamu yang lain juga sudah siap bertempur," jawab naga emas, berjalan keluar dari kotak cendana.
"Besok," ujar So Po Ta mempertimbangkan keadaan murid lain.
"Malam ini saja!" saran naga emas melompat naik ke bahu So Po Ta.
"Baiklah." So Po Ta menurut, karena naga emas juga turut andil dalam semua perubahan sejarah baru.
So Po Ta keluar dari ruang pribadi bertapa, membangunkan 4 murid yang tertidur pulas setelah berlatih keras sepanjang hari.
"Ling Ling, Da Min,Fun Cin, Bapao." panggilnya lembut membangunkan.
Fun Cin terbiasa akan siap siaga setiap saat walau tertidur, maka dirinya lebih mudah terbangun hanya dengan sedikit panggilan yang menyentakkan dirinya.
"Guru. Ada apa?" tanya Fun Cin.
"Bangunkan saudaramu. Kita akan turun gunung malam ini!" ucap So Po Ta dan berbalik untuk menyiapkan keperluan turun gunung.
"Baik," jawabnya tanpa banyak tanya panjang. "Ling, Da Min, Bapao bangun!" panggilnya menciptakan air ke wajah adik-adiknya.
Uhukkkk..... Uhukkkk....
Bapao tersendak karena air cipratan masuk kerongkongan yang ternganga lebar ngorok.
"Ada apa, Bang?" tanya Da Min, mengusap wajah basah.
"Cepat siapkan senjata!" titahnya pada Da Min.
"Ada apa ini?" tanya Ling Ni baru balik dari alam mimpi.
"Ada maling!!" seru Bapao kesendak.
"Apa! Kok ada maling?" lebay Ling Ni menyimak kondisi.
Untuk apa maling datang ketempat latihan mereka yang tidak punya harta benda berharga. Hanya menyia-nyiakan waktu dan usaha untuk sampai tempat kumuh mereka.
Sebodoh-bodohnya maling, tidak akan sebodoh pemikiran Ling Ni saat tersentak bangun.
"Cepat! Guru perintahkan kita turun gunung sekarang. Siapkan semua keperluan selama perjalanan!" ucap Fun Cin mengkomandoi adik-adiknya.
"Siap!" bergerak cepat mereka menyiapkan segala sesuatunya.
Bapao mengemas bahan makanan pokok berupa ubi dan tepung.
Ling Ni mengemas obat-obatan yang sudah diracik dalam banyak botol.
Fun Cin membantu Da Min mengemas peralatan mereka.
__ADS_1