
Pangeran mahkota tiba-tiba mengalami sakit yang aneh. Tabib istana juga tidak dapat menemukan penyebab apalagi untuk menyembuhkan.
Kecemasan seorang ibu pun tidak luput. Sepanjang hari, Ratu duduk menemani putranya yang batuk darah terus-menerus.
Uhukkkk.... Uhukkkk.....
Pangeran mahkota terus berbatuk, kerongkongan juga mulai terluka karena kurang cairan, paru-paru terasa begitu perih bagai diiris pedang bertabur cairan asam dan garam.
"Pelayan, cepat ambilkan kain baru!" titah Ratu memberikan kain yang sudah habis terpakai menampung dahak berdarah.
"Ibu, kalau saya meninggal, ibu pergilah menjauh bersama Feng Ni. Hiduplah berbahagia tanpa kekejaman," ucap wasiat pangeran mahkota, menggenggam tangan Ratu yang tidak kuat melihat keadaannya.
"Jangan bicara hal itu. Kamu akan segera pulih. Tabib istana juga sedang meracik ramuan yang berkhasiat," jawab Ratu menahan perih hati akan kondisi salah seorang anaknya.
"Menanggislah jika bisa buat Ibu lega," pangeran mahkota tahu ibunya menahan air mata yang sudah beberapa waktu tidak turun.
"Untuk apa? Ibu adalah Ratu, sekaligus pemberi semangat," melepaskan tangan pangeran mahkota agar tidak merasakan sakit hati yang bergetar sekujur tubuh.
"Feng Ni juga bangga sama Ibu. Saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Pasti saat ini dia sedang belajar ilmu agama mencari jati diri dan ketenangan," pangeran mahkota membayangkan adik kandung yang tersisa masih hidup walau cukup jauh terpisah.
Pangeran juga harus segera pulih. Biar bisa kumpul bersama," Ratu membasuh pelipis pangeran mahkota yang berkeringat dingin.
Era zaman itu belumlah ada alat canggih untuk mendeteksi suatu penyakit. Butuh penelitian yang sangat lama hanya untuk menemukan jenis varian penyakit. Maka sebab itu pula banyak orang tidak berhasil dari malapetaka takdir.
Lalu, apa nama penyakit yang menyerang tubuh pangeran mahkota itu?
Setiap hari penderitaan pangeran mahkota tidak terlukis kata-kata. Perlahan pelayan dan dayang yang menjaga dirinya seperti ikut ketimpa sial penyakit pangeran mahkota.
"Ibu jangan lagi merawat saya," ucap lirih pangeran mahkota sudah dengar rumor yang beredar.
"Kamu tidak usah percaya yang mereka katakan," jawab lugas Ratu, membantu membersihkan wajah dan lehernya.
"Tapi, jika rumor itu benar?" pangeran mahkota mencemaskan ibunya yang tak pernah putus berkunjung dan merawat.
Hubungan diplomatik yang akan dijalin pangeran mahkota Semangi dengan putri kerajaan tetangga sudah berakhir sepihak.
Tidak seorang putri raja kerajaan tetangga yang ingin mengikat jalinan kerjasama bilateral itu secara pribadi, dikarenakan takut terkena sial yang menyerang.
Dengar hal itu pangeran mahkota tidak berkecil hati, mungkin itu yang terbaik dari pada membuat para putri harus menyandang status janda diusia pernikahan muda mereka.
Ratu terus memberi dukungan yang harus ia lakukan sebagai ibu kandung sekaligus ibu negara.
"Saya ingin istirahat, Bu," ucap lemah pangeran mahkota.
"Ya tentu saja," jawab Ratu menarik selimut hingga dada putranya tertutup.
Kesedihan yang tersimpan dalam lubuk hati Ratu tidak seorang pun yang rasakan. Dalam ketenangan ia harus tetap pertahankan wibawa sebagai Ratu kerajaan Semangi.
Berita akan penyakit pangeran mahkota sudah sampai di telinga Feng Ni yang menyelesaikan latihan berat berbulan-bulan.
"Kim Long, apa abang saya bisa anda tolong?" tanyanya memohon kesembuhan sang abang.
"Semua ada garis kehidupan masing-masing. Bila berjodoh, maka ia akan sembuh," jawab naga emas kecil ,mengibaskan ekor.
Tidak mudah untuk meminta bantuan seekor naga sakral hanya untuk kepentingan pribadi semata.
Feng Ni pun kembali duduk bertapa dalam kolam penuh air.
Sekarang dia sudah bisa hidup di dua habitat, tanpa perlu harus menahan nafas berjam-jam lamanya.
__ADS_1
***
Musim panas berahli musim gugur, dimana dedaunan satu persatu mulai tanggal dari ranting.
Beberapa hewan juga sedang mempersiapkan pangan mereka untuk bertahan selama musim dingin Beberapa bulan lagi.
.
Hari ini sudah 1 tahun 2 hari Feng Ni berlatih dalam bimbingan penjaganya.
Musim dingin segera tiba seakan baru beberapa jam lalu ia dibawa naga ketempat samudera membentang luas di depannya.
"Beberapa hari lagi kamu bisa pulang," ucap naga emas, sudah cukup pendekar terpilih untuk menenangkan keadaan hiruk pikuk.
"Baik," senyumnya dalam kebahagiaan tiada tara.
Feng Ni kembali berlatih kembali, memadukan inti kekuatan naga emas dengan ilmu tenaga dalamnya.
.
Hari yang ditunggu akhirnya kunjung tiba. Di pagi yang cerah, naga emas berwujud raksasa membawa Feng Ni dari tempat latihan itu menuju tempat pelatihan baru saudaranya.
"Maaf jika saya belum bisa terbang cukup jauh," ucap sungkan Feng Ni menaiki tubuh naga emas wujud Kim Long.
"Makanya terus berusaha," jawab Kim Long mengepakkan sayap.
Dengan kecepatan 30 meter/detik,naga emas berhasil tiba cepat di tempat pelatihan baru So Po Ta.
Untuk tidak ketahuan manusia lain wujudnya, Kim Long berubah jadi naga kecil bersembunyi dalam kantong kain di pinggang.
Feng Ni berjalan lurus memasuki pagar kayu pembatas bermantra penghalang bagi mahkluk astral.
"Siapa yang datang ya? Suaranya juga tidak asing," Bapao bertanya pada 2 saudara yang menyusun peralatan senjata.
Da Min menoleh kearah suara berasal. Tombak latihan yang dipegang langsung dihempas jatuh begitu lihat yang datang berkunjung menemui mereka.
"Feng Ni......" serunya berlari menghampiri saudarinya yang gagah berani.
"Feng Ni?" gumam Fun Cin, menoleh.
"Iya, Feng Ni pulang," jawab Bapao dengan wajah bahagia.
Keduanya pun menyusul sambut kepulangan saudari mereka satunya lagi.
"Bang Fun Cin, Bapao," sapa sopan Feng Ni.
"Kamu tambah cantik," puji Bapao terkesima lihat rona wajah yang berseri-seri.
"Masuklah. Guru pasti senang!" ucap Fun Cin balas kesopanan sang adik.
"Iya, Bang," Feng Ni ngikutin langkah Fun Cin yang di depan, dan dia diiringi 2 saudara yang merangkul pundaknya.
"Jaga tata krama kalian!" ucap tegas Fun Cin dengar cicit cuit 2 pria di belakangnya.
"Baik," serentak mereka jawab, tapi tidak berhenti untuk ngobrol sambil jalan.
Sampai di depan gua Feng Ni dipersilahkan duduk menunggu sampai ada jawaban guru mereka.
Saat menunggu, Da Min dan Bapao makin banyak tanya dan menceritakan keseharian mereka.
__ADS_1
"Feng Ni !!" seru haru bahagia seseorang berlari keluar dari gua.
Feng Ni berdiri menyambut orang yang berteriak memanggil dirinya.
"Kamu jangan dekat-dekat sama dia," bisik Da Min.
Feng Ni tersenyum hangat seolah semua seperti dulu.
"Minggir kalian!!" bentaknya mengusir Da Min dan Bapao menghalangi pertemuan sesama cewek.
"Nggak ! Nanti kamu kira Feng Ni 'Hantu' pula," sindir Da Min, heran lihat Ling Ni berani keluar dari tempat persembunyian.
"Minggir!" mendorong jauh tubuh Da Min yang sering mengolok dirinya.
Akhirnya dia bisa memeluk Feng Ni yang sudah meninggalkan dirinya 1 tahun lebih.
"Feng Ni, aku merindukanmu. Hiksss....Hikss..." ucapnya disertai isak tangis.
"Sama. Saya juga" jawab Feng Ni menepuk lembut punggung Ling Ni.
"Kalau kamu pergi, aku mau ikut," rengek manja, memeluk erat.
***
Feng Ni tidak bisa menjamin jika Ling Ni akan ikut dengan dirinya setiap kali pergi. Karena ia akan lebih banyak pergi untuk menjalankan tugas rahasia dari pada sebagai seorang perempuan normal.
Tidak lama So Po Ta pun mengundang Feng Ni masuk gua, tanpa diperbolehkan murid lain untuk masuk.
"Masuklah, guru sedang menanti!" ucap Fun Cin menyampaikan amanah.
"Baik," jawab Feng Ni.
Satu langkah kaki Feng Ni melangkah maju,maka kaki Ling Ni juga ikut maju.
"Kamu di sini saja." Da Min menahan penguntil untuk ikut masuk temui guru mereka.
"Ihhh.....Aku kan sudah biasa di dalam," ketusnya menjawab memaksa buka cengkraman tangan.
"Kita tunggu di luar saja. Ada yang Guru ingin bicarakan sama Feng Ni," nasehat Fun Cin menahan kepergian Ling Ni.
"Tapi, aku kan tidak akan mengganggu," jawab Ling Ni dengan wajah memelas dikasihani.
"Kalau Guru tunjukan wujud hantu, kamu masih berani?" Bapao meledek yang sering ditakuti Ling Ni.
Ling Ni terpaku takut,dia bersembunyi dibalik punggung Fun Cin yang bisa diandalkan.
Sementara mereka berempat menunggu di luar, Feng Ni, naga emas dan So Po Ta membahas beberapa permasalahan yang sedang terjadi.
Untuk menyelesaikan semua masalah setelah hasil diskusi singkat, maka So Po Ta bersiap untuk turut andil bagian menyelesaikan permasalahan.
"Terima kasih, Guru," ucap Feng Ni berlutut.
"Berdirilah. Sudah saatnya juga saudaramu yang lain untuk turun gunung," jawab So Po Ta.
"Satu lagi!" celetuk naga emas kecil.
Dua pasang mata bola menatap naga emas.
"Setelah semua permasalahan ini selesai, maka beberapa ilmu tenaga dalamnya akan perlahan sirna, bersama diriku." Naga emas memberi peringatan dini, agar tidak memberi harapan palsu.
__ADS_1
"Tidak bisakah membiarkan tenaga dalam itu melekat terus?" So Po Ta memohon.