Dragon Warrior

Dragon Warrior
Bab 66. Penghasut


__ADS_3

Kusir kuda berlalu dengan wajah kesal mendumal.


Ingin rasanya keluarkan semua uneg-uneg sedari tadi. Tapi dia tidak punya tempat untuk keluarkan semua gundah gulana dalam hati itu.


Di kandang kuda dia juga hanya berteman dengan orang tua tuli dan seorang anak kecil sekitar 11 tahunan.


Pada siapa lagi dia harus mengadu semua kabar burung tersebut.


Ditatapnya langit biru berawan putih tebal mengepul tanpa berkedip. Pikirannya menerawang kemana-mana.


"Oh, Dewa Dewi di khayangan. Mengapa orang baik selalu banyak cobaan dan berumur pendek? Sedangkan yang jahat engkau permudahkan urusan dan berumur panjang... " keluhnya sembari menengadahkan kepalanya memandang langit.


Jderrr.....


Langit cerah seketika menyambut awan abu-abu membuat sang kusir terkejut.


"Maaf, Dewa. Aku bukan ingin berlaku kurang ajar tanya hal seperti itu," kusir langsung berlutut sembah sujud hantukkan kening.


Jderrr....


Awan hitam halangi langit cerah dengan kumpulan yang banyak.


Angin pun bertiup kencang, meniup pohon yang sudah rontok dedaunannya di musim dingin


Wuzzz..... Wuingggg......


Jika hujan pun yang turun bukan air, tapi butiran salju yang ngurangi suhu sekarang sampai minus seminusnya.


Kusir segera berlari untuk menutup pintu kandang kuda sebelum kuda-kuda tersebut mati karena kedinginan suhu extrem.


"Huffff.... Ternyata jadi hewan tidak perlu dengar rumor busuk. Cukup makan hidup tenang, tidak usah rebutan harta," curhat kusir, sambil nyisir rambut seekor kuda putih.


Ngiikkkk.....Berrrr......


Kuda pun menjawab dengan bahasanya.


"Apa kau paham dengan ucapanku? Ahhh.... Tidak mungkin kalian paham bahasa manusia. Sedangkan sesama manusia saja, kadang tidak saling paham. Mereka hanya ingin di pahami tanpa peduli dengan perasaan orang lain." tanya dan jawabnya dalam kegalauan.


"Bang...Bang...." panggil bocah pengurus kuda, menarik ujung baju kusir berkomat kamit sendiri.


"Apa?" bentaknya lihat samping.


"Kuda milik putri kecil sakit," nunjuk kuda yang jatuh tergeletak di ujung sudut.


"Ayo kita periksa!" bergegas periksa kesehatan kuda para keluarga kerajaan.


Zaman itu sungguh harus belajar sendiri pengetahuan akan hewan, jika sebagai pemelihara atau peternak hewan. Beda dengan zaman modern yang sudah ada dokter hewan khusus memeriksa penyakit yang diderita hewan peliharaan.


Dia sebagai kusir, tentu harus lebih banyak paham dalam ngurus kuda. Ibarat dokter juga montir yang bisa kapan saja, dimana saja hewan yang mereka tangani jatuh sakit harus segera dapat pertolongan.


Kuda yang jatuh tergeletak diperiksa secara seksama. Mulai mata, mulut, kaki, perut sampai ekor, semua diperiksa tanpa bantuan sebuah alat.

__ADS_1


"Dia hipotermia," lihat kuda yang alami kedinginan.


"Lalu gimana, Bang?" bingung terus lihat cara ahli periksa.


"Ambil kain, dan jerami yang banyak!" titahnya sembari menggosok punggung kuda biar tidak tambah kedinginan.


Ngiikkkk....


Sebagai sesama binatang, insting mereka cukup berfungsi baik. Tau salah seekor dari mereka jatuh sakit, kuda yang lain ikut meringkik piluh sedih.


"Tenang.... Tenang.... Saudara kalian tidak akan cepat mati kalau aku di sini," seru kusir tenangi kuda-kuda lain yang gelisah dalam barak mereka.


Ngikkkk.....


Bocah pengurus kuda datang membawa kain tebal dan jerami yang banyak dalam kereta dorong.


"Bang, ini," bawa masuk kereta dorong dalam barak kuda sakit.


"Kamu selimut dia. Abang coba hangatkan tubuhnya dengan jerami," titah kusir pada bocah, berbagi tugas biar cepat.


Biar tidak senang dengan pemilik kuda, bukan berarti kusir harus balas dendam terhadap hewan tak berdosa karena hewan tidak mengerti apa-apa.


Hati nuraninya tidak mampu melakukan kejahatan itu, terlagi pada makhluk yang tidak tau menahu.


Kuda tadi sudah lebih tenang dan hangat. Ringkikan kuda lainnya juga mulai berhenti, dan lanjut nikmati jerami kering.


"Memang beda juga setiap watak makhluk hidup," keluh kusir baru nyadar manusia dan hewan tidak beda jauh sekali.


Di dalam bagian istana lain, anggota kerajaan bisa menikmati hangatnya suhu udara berkat bara api yang dinyalakan pada tungku.


"Berikan Tuan Putri mantel yang tebal!" titah lembut ratu pada dayang.


"Baik Yang Mulia," segera laksanakan perintah.


Dayang pun pergi mengambil mantel terbal terbuat dari kulit beruang berlapis kain sutra halus.


Di dalam kamar, Feng Ni sendiri mengeluarkan banyak kain dari dalam peti penyimpanan ibarat lemari pakaian.


Kesemuanya itu, hendak ia berikan pada 3 saudara yang masih belum ia temukan pekerjaan cocok untuk berbaur.


"Semoga kain-kain ini bisa hangatkan mereka," membungkus tumpukan banyak kain panjang lebar sebelum dibawa keluar.


Dalam dapur, Bapao juga diam-diam menyediakan bahan makanan untuk buat kue yang tahan lama.


Semua itu bisa dia kerjakan setelah koki utama dan dayang pergi, dan memastikan keadaan dapur murni kosong.


"Aku harus buat yang banyak lagi nanti," gumam Bapao menyimpan aman semua bahan pokok.


"Hei! Cepat bantu selesaikan makan malam ini!" ujar ketus koki utama.


"Baik, " jawab Bapao bareng dayang.

__ADS_1


Dayang dapur mengupas banyak bawang serta jahe.


Bapao memetik sayur dan merajang sesuai ukuran standar.


Koki utama pun sibuk dengan menumis, menggongseng, serta mengukus dengan 3 tungku masak yang nyala.


Tugas mengisi kayu bakar pun jadi bagian tugas Bapao.


Jika semua tugas sudah selesai termasuk dapur sudah bersih dengan cepat, maka Bapao bisa membuat stok makanan untuk 3 saudara yang terkukung dalam bangunan tertinggi.


Beberapa jam setelah semua hidangan selesai dimasak, Bapao membantu kasim dan dayang mengeluarkan semua hidangan lezat nikmat itu.


"Sebentar lagi aku sudah bisa masak," kepala Bapao ngangguk- ngangguk lihat hidangan sudah keluar semua, dan hanya tersisa sedikit makanan untuk dimasak juru masak dapur.


"Cepat makan, lalu bersihkan!" hardik ketus koki utama.


Bapao dan dayang dapur segera menciduk nasi ke mangkuk mereka, tidak ada ukuran batasan sebanyak apa mereka makan asal makanan yang tersisa bisa habis tidak terbuang sia-sia.


Dalam ruang makan istana, raja beserta keluarga sedang menikmati sajian yang lezat dalam keadaan masih panas.


Dan seperti biasanya pula, 2 gadis kecil akan ada sesuatu yang dibahas akan kakak mereka.


"Ayah, tadi kami dapat rumor tentang kakak," adu putri selir Xu buka percakapan.


"Benar sekali Ayah. Rumor yang kurang nyaman didengar," tambah putri selir Qi.


"Iyakah? Kakak kok belum dengar. Jika boleh tau, rumor apa yang melibatkan Kakak?" tanya Feng Ni menyumpit sayur.


"Sudah .... Sudah.... Tidak baik saat makan berbicara rumor." raja Semangi tidak ingin dengar rumor apa pun yang berkaitan dengan Feng Ni. Karena rumor yang beredar juga berasal dari orang yang ingin menyingkirkan putri tertua.


2 gadis nurut untuk diam, namun mata mereka dan raut muka begitu jelas terlukis kebencian merasuk sukma mereka.


Benar-benar mereka ingin sekali singkirkan Feng Ni sebagai batu penghalang tujuan mereka.


Usai makan bersama, 2 gadis kecil kembali cari kesempatan untuk mengadu pada ayah yang sudah sering dengar hasutan keduanya.


Dengan berbekal berupa surat kaleng, mereka menambah bumbu hasutan di dalamnya.


"Bukankah Kakak tidak boleh berbuat seperti ini, Ayah" ucap putri selir Qi memijat pundak raja Xiao Se Mang dengan lembut.


"Citra baik negeri kita sudah tercemar. Sebaiknya Kakak kembali ke tempat latihan saja," celetuk ide putri selir Xu, sambil mijat tangan kiri raja.


Ratu yang sesekali menemani raja sehabis makan malam bersama, begitu dengar hasutan anak tirinya tentu tidak bisa terima semua aduan yang mengada-ngada.


"Apa salah putri saya? Mengapa mereka begitu jahat, padahal setiap hari Feng Ni lah yang menjenguk dan beri perhatian pada ibu mereka," keluh batin ratu Semangi tidak ingin blak-blakan di depan dayang pengikut.


"Yang Mulia Ratu, ini mantel yang anda minta " seorang dayang muncul dari samping membawa mantel bulu tebal milik raja.


"Kamu berikan saja pada Yang Mulia!" titah dingin ratu males ikut berkumpul dengan 2 gadis penghasut.


"Ibu kenapa?" tanya Feng Ni maksud nyusul ingin gabung.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Yuk kita ke taman belakang saja," ngajak Feng Ni jauhi penghasut.


***


__ADS_2