
Pedang pada tak berhati itu membelokkan runcingnya mengarah kepemilik.
"Ada apa ini?" panik sekelompok orang terarah dengan ujung pedang runcing mereka yang melengkung belok mengarah ke mereka.
Tak seorang yang berani lepaskan genggam pedang. Antara nyawa mereka atau berhasil membunuh sasaran? Itulah yang mereka gelisahkan.
Saat beberapa orang sibuk menahan pedang tidak menusuk diri mereka, Feng Ni berjalan lembut membantu kasim dan kusir.
"Mereka bukan lawan anda," ucap lembut Feng Ni, menarik kerah baju kasim dan kusir ke belakang.
"Kau juga harus mati!" seru penjahat menghunuskan pedang.
Feng Ni mendorong kasim dan kusir ke samping, lalu dia maju untuk melawan penjahat berjumlah 2 orang itu.
Hiattt.... Ciattt.... Sringg.....
2 penjahat itu maju bersama serang seorang wanita, yang padahal apapun ceritanya, dan bagaimana keadaan dunia persilatan, menyerang seorang wanita secara keroyokan merupakan perbuatan memalukan dunia persilatan saja.
Pedang yang terhunus lurus dibiarkan Feng Ni mengarah terus padanya, karena dia punya strategi untuk meminimalisir pertumpahan darah.
"Awas Putri!!" seru Kasim Kim dan kusir yang deg-degan lihat penjahat menyerang seorang wanita.
Sempat Feng Ni tersenyum layaknya menyapa orang baru dikenal.
Kemudian hal menakjubkan terjadi, pedang yang terhunus ke arah Feng Ni berubah jadi pisang.
Ya pisang. Pisang yang dapat dimakan langsung bukan merupakan sebuah sihir atau halusinasi belaka.
Bwaahhhh..... Hahaha.....
Kusir dan kasim tertawa terpingkal-pingkal lihat 2 penjahat yang masih gigih menyerang putri mereka dengan sebuah pisang.
"Mereka kok bodoh, ya?" ujar kusir menunjuk petarungan terlucu.
"Bukan bodoh, tapi mereka naif," sahut Kasim Kim, mengangguk kepala berlipat tangan dengan wajah tenang bahagia.
"Kalau begini, sebaiknya kita bisa bantu Tuan Putri lawan mereka," kusir memberi usul setelah keberanian terkumpul lagi.
"Setuju." Kasim Kim pun memunggut tongkat mereka untuk membantu Feng Ni.
Dari depan, 2 penjahat menyerang Feng Ni bersamaan.Dan dari belakang, mereka dapat balasan sama dari kusir dan kasim.
Baghhh.....Bughh.....
Kusir dan kasim memukul anggota tubuh penjahat sedapat mereka, karena pergerakan penjahat yang tidak bisa mereka imbangi dengan gerakan kaku.
Terlihat cukup bagi kusir dan kasim memberi hukuman dan meningkatkan rasa percaya diri mereka, Feng Ni lalu menjatuhkan 2 penjahat dengan 1 tendangan kaki berputar dan 1 lagi sebagai poros bertumpu.
__ADS_1
"Wahh.... Putri hebat," kusir menyanjung dengan tepukan tangan.
"Sebaiknya kita pergi sekarang," titah Feng Ni tidak ingin berlama.
Dan membiarkan para penjahat hidup untuk memberikan informasi kegagalan mereka beroperasi pada penyuruh mereka.
Kereta kuda tidak utuh kembali dipacu kusir,angin pun menyapu wajah cantik Feng Ni yang tidak tertutup apa.
Feng Ni tidak masalah jika debu, angin dan sampah menyapa dirinya, karena pada hakekatnya semua bisa dibersihkan.
Namun Kasim Kim terus mengoceh dan mengeluh sepanjang jalan, dikarenakan tidak menemukan sesuatu untuk melindungi Feng Ni layaknya putri terhormat.
"Hei kamu! Jalannya jangan terlalu cepat ! Jika kecantikan Tuan Putri rusak, maka kamu harus dapat hukuman!" oceh ngancam Kasim Kim pada kusir.
"Baik," menyetel pacu kuda menjadi agak lambat.
Tetapi setiap kembali melambat lama, maka Kasim Kim kembali mengoceh untuk berjalan cepat, agar cepat sampai istana dan terhindar dari hal tidak diinginkan.
"Mentang-mentang kasim ketua, bisa suka-suka hati ngatur. Apa enggak sadar diri, di sini dia bukan orang yang berhak mengatur, kan ada Tuan Putri," umpat dongkol hati kusir sambil macu kuda sesuai perintah.
"Lihat matahari sudah mulai hilang total. Cepat masuk ibukota," titah Kasim Kim menunjukkan hari sekitar pukul 7 malam.
"Baik," menurut dongkol.
Kereta kuda dipacu sangat cepat, tentunya wajah Feng Ni tersapu cepat pula oleh debu bermix angin.
"Tuan Putri, wajah anda," panik cemas Kasim Kim menoleh ke belakang.
Usaha untuk menghalau debu bermix angin telah dilakukan berulang kali oleh kasim, dengan membentang lebar tangan, dan memunggungi Putri mereka, namun gagal karena tiupan angin selalu lebih.
"Putri, setelah sampai istana, hamba akan perintahkan para dayang untuk menyiapkan segala keperluan anda bersih-bersih," ucap Kasim Kim merasa bersalah tidak bisa melindungi Tuan Putri mereka semaksimal mungkin.
"Tidak usah. Saya ingin berdoa saja untuk Abang-abang," sahutnya terbawa situasi sedih.
"Baik. Akan hamba persiapan segala sesuatunya"
Tidak lama kuda berpacu cepat, mereka tiba di depan gerbang istana. Kepulangan Feng Ni tidak mendapatkan sambutan meriah seperti biasanya, seakan kepulangan dia hanya menganggu rencana.
Obor minyak yang menyala berbaris rapilah yang hanya menyambut kepulangan mereka.
"Maaf Tuan Putri. Raja tidak bisa mempersiapkan penyambutan anda," ucap Kasim Kim berasa salah dan sedih.
"Tidak masalah."
Kuda berhenti tepat di depan pintu utama istana. Seakan ikut merasa sedih, kuda yang membawa mereka pulang pun meringkik,lalu perlahan menekuk kaki depan.
"Sepertinya kuda ini kelelahan," ucap pelan kusir merasa aneh tingkah kuda.
__ADS_1
"Bukan. Kuda ini memberi penghormatan," sahut Feng Ni turun, lalu berjalan ke depan membelai kepala kuda yang telah memberi penghormatan padanya.
"Maaf, hamba tidak paham." kusir tertegun tidak percaya jika Feng Ni juga mengerti bahasa tubuh hewan.
Padahal dia seorang kusir pengurus kuda semenjak kecil, dan telah diturunkan dari leluhurnya untuk mengerti gerakkan kuda biar mudah dirawat.
"Tuan Putri punya banyak keahlian, ya?" tanyanya pada kasim, setelah Feng Ni masuk pintu istana.
"Iya. Beliau bisa baca pikiran kamu juga," sahut jutek Kasim Kim dan berlalu nyusul Feng Ni.
"Haa! Hebat sekali." kusir terkagum melihat keahlian Feng Ni yang belum pernah dilihat langsung pake mata kepala sendiri.
Dia pun membawa pergi kuda beserta kereta untuk dibiarkan beristirahat dan diperbaiki bagian rusak.
Kasim Kim memanggil beberapa dayang dan juga kasim, untuk membantu dirinya menyiapkan beberapa keperluan Feng Ni.
"Kalian cepat siapkan semua yang tadi saya bilang," titahnya pada kasim dan dayang berbaris rapi.
"Baik," serentak jawab dan pergi bergerak cepat untuk jalankan perintah.
Feng Ni sudah sampai di aula tempat leluhur dan anggota kerajaan hanya tinggal papan altar bertulis nama dan gelar yang disertai syair menyanding kebaikan yang telah diperbuat semasa hidup.
Pintu dibuka lebar, langkahnya pun tenang memasuki aula altar.
Lalu ia bersujud 3 kali di depan altar leluhur memberi penghormatan, sebelum bersujud bersimpuh untuk melafalkan doa-doa peringangan karma.
"Abang, maaf adik terlambat memberi penghormatan," ucap sedih Feng Ni.
Sebelum air mata mengalir jatuh sentuh tanah, Kasim Kim tiba bersama 2 dayang membawa buah dan bunga.
"Letakkan hati-hati," titah Kasim Kim bersuara pelan.
2 dayang pun berjalan pelan untuk meletakkan benda persembahan pada meja altar.
Suasana aula cukup seram saat dikunjungi malam hari. Lukisan cat kuas air para leluhurnya dan juga lain yang masih hitam putih, menambah perasaan ingin cepat keluar setelah tugas selesai.
Mata pada lukisan seakan bergerak hidup dan memperhatikan gerakan yang ada. Tapi ini hanya berlaku pada orang yang terlalu percaya hal tahayul dan penakut.
Bukan untuk seorang Feng Ni yang menjunjung tinggi tradisi leluhur tapi tidak takut, karena bisa membedakan kedua alam berbeda.
"Kasim Kim, kami sudah boleh pergi?" tanya bisik seorang dayang usai letakkan buah persembahan.
"Ya, baik," mengibaskan tangannya.
Langkah seribu cepat 2 dayang berlari keluar dari dalam aula.
Sementara itu, Kasim Kim menyalakan sumbu minyak dan juga membakar sebatang gaharu untuk Feng Ni memberi tanda penghormatan tradisional.
__ADS_1
"Silahkan Tuan Putri," menyerahkan batang dupa yang terbakar.
Feng Ni mengambil dupa itu, lalu memberi penghormatan sebelum dupa ditancapkan pada guci penampung abu dupa.