Dragon Warrior

Dragon Warrior
Disekap


__ADS_3

Dimulai sore hari, Bapao dengan identitas barunya bertugas sebagai koki istana melakukan semua tugas asisten koki.


Dia banyak mengupas bawang merah dan beberapa jenis bawang beserta sayur untuk dimasak sang juru masak.


Setelah dikupas terpisah dari kulitnya, dia pergi mencuci hingga bersih lalu dipotong sesuai jenis masakan yang hendak dimasak.


Dia merajang bawang merah setipis mungkin, bawang putih pada digeprek memar hancur, daun bawang diiris menyerong panjang, begitu juga paprika dan cabe dirajang dadu.


"Bawa kemari paprika!" juru masak utama memberi perintah tanpa peduli atas rekomendasi siapa asisten pengikut.


"Baik," membawa semangkuk besar rajangan paprika hijau dan orange.


Melihat dayang kesulitan mengulen tepung jadi kalis, dengan timbang rasa dia menukar posisi yang lebih gampang buat dayang itu.


"Nona bantu saja koki!" ucapnya melumuri tangan dengan tepung tapioka.


"Tapi, koki tidak akan suka jika ada orang yang berganti posisi secara tiba-tiba," sahut dayang berkata pelan.


Dayang-dayang yang dapat tugas di dapur sudah tau bagaimana tempramen koki utama. Diantara mereka tidak ada yang berani mengatakan pendapat sebaik gimana pun juga.


Mereka lebih memilih diam dari pada harus berurusan dengan koki utama yang berwajah tampan rupawan tapi cukup seram dilihat terlalu lama.


"Telur!" panggilannya memerintah, tidak pernah memanggil nama, status orang yang sedang diperintah.


"Baik," sahut Bapao merasa terpanggil tugas.


Dia bergerak gesit untuk terus melatih ilmu beladiri dan juga ingin membantu pekerjaan orang lain.


"Bisa kan, masak bebek packing?" tanyanya dingin tidak berperasaan.


"Bisa."


"Kau masak itu, jangan ada 1 bahan yang kurang!" hardiknya melempar 7 ekor bebek sudah dilucuti bersih bulunya.


"Emmm..." Bapao menangkap lemparan bebek dengan bantuan tampa bergerak gesit.


"Boleh juga ilmu kungfu gendut ini," ucap batin koki utama.


Bapao segera mencuci 7 ekor bebek sampai bersih, lalu diberi bahan herbal khusus untuk masak bebek.


Lihat kecepatan Bapao memasak 7 ekor bebek, tentu buat koki utama ingin terus menguji kecepatan masak Bapao.


"Siapkan minum sarang walet," kembali memerintah, tetap pada masakan yang sedang dimasak.


"Baik," bertanya pada dayang dimana ia bisa mengambil sarang walet yang mau dibuat.


"Akan saya ambilkan," sahut dayang berjalan cepat tidak jauh ambil keranjang berisi sarang walet yang sudah dicuci bersih dan kering.


"Terima kasih," satu tangan mengulen adonan tepung yang belum kalis dibuat dayang,1-nya lagi mencari beberapa bahan untuk minum sarang walet dengan banyak manfaat bagi yang minum.


Semakin Bapao gesit, ekor mata koki utama terus mencari kesalahan.


"Nanti lanjut buat tim telur," dinginnya berucap tidak bertatap mata langsung.


"Baik," bergerak cepat ambil bahan masakan selanjutnya.


Adonan tepung sudah kalis, selanjutnya dilanjutkan dayang untuk meneruskan tugasnya membuat kulit pangsit.


Satu tangan Bapao membersihkan jelly sarang walet, dan satunya lagi meletakkan bumbu masakan bebek.


Setelah satu tangan lebih leluasa, dia kembali ambil puluhan butir telur lalu dipecahkan dalam baskom ukuran besar.

__ADS_1


Cukup takjub koki utama dengan keahlian serta kecepatan asisten barunya yang bisa menandingi kecepatan dia bekerja.


Bebek sudah masuk dalam kuali pengukus, begitu juga jelly sarang walet sudah dibersihkan secara seksama. Sekarang waktunya dia mengocok puluhan butir telur dalam baskom sampai teraduk rata, kemudian menambahkan cacahan daging,daun bawang, wortel cincang ke dalam adonan untuk diaduk kembali sampai rata sebelum dimasukkan dalam mangkuk cetakan dan dikukus dengan api sedang.


"Ada lagi?" tanya Bapao hampir selesai tuang adonan telur dalam mangkuk cetakan.


"Bersihkan dapur!" sahut dingin ketus koki utama memberikan perintah pada Bapao.


"Baik " memasukkan puluhan mangkuk cetakan dalam dandang yang berair mendidih.


Ia pun membersihkan beberapa peralatan masak yang tidak dipakai masak lagi.


Dari luar dapur istana,semua orang yang didekat bisa merasakan betapa lezat masakan yang dimasak.


"Aku jadi lapar," ucap prajurit.


"Sama. Selalu buat kita cepat lapar," sahut temannya ngelus perut di sisi lain berjaga.


Aroma masakan lezat keluar dapur itu juga menoel hidung Feng Ni yang segaja melewati kawasan dapur.


"Baguslah jika Bang Bapao sudah bisa beradaptasi," kata batin Feng Ni melintas lihat pintu dapur terbuka melebar sambil melirik ke dalam.


Dia kembali melangkah menuju tujuan yang jadi lebih lama ke perpustakaan istana.


Sampai di perpustakaan, dia dibekap oleh seseorang menutup wajah dengan topeng wujud iblis.


"Diam !!" bentak orang itu menekan pengucapan.


"Kamu siapa dan mau apa ?" Feng Ni tampak tenang meski ada benda tajam menodong punggungnya.


"Lebih baik diam dan ikut!" menarik tubuh putri penguasa pergi bersamanya.


Tidak ada perlawanan dari Feng Ni dijadikan tawanan.


Sepertinya beberapa orang ini amat mengenal situasi istana dalam. Selain itu, mereka juga sudah menyiapkan jalan keluar rahasia dari istana.


Feng Ni dibawa paksa merangkak melalui jalur bawah tanah seukuran tubuh orang dewasa merangkak.


Pakaian mewahnya tentunya menjadi kotor dan sobek.


"Kalian tentunya tau siapa saya sebenarnya kan?" tanya Feng Ni merangkak dalam oksigen yang irit dipakai bersama beberapa orang.


"Tutup mulut kau! Kami tidak peduli siapa kau! Uang adalah majikan kami," maki orang di belakang Feng Ni yang merangkak.


"Cukup besar juga nyali kalian," ujar Feng Ni coba tebak siapa orang berpengaruh besar dalam istana selain beberapa keluarga yang sudah dia tau.


Sampai juga Feng Ni dibawa mereka keluar dari terowongan buaya. Dan ternyata menyambung pada sebuah lorong bawah tanah yang tidak asing dikenal.


"Ini seperti tempat....." Feng Ni mengilas balik ingatan akan tempat penjara bawah tanah.


Samar-samar dia mengingat tempat ini, tempat yang dulu pernah menahan puluhan gadis muda untuk diperdagangkan.


"Kalian anak buah paman ke-4 kan!" seru Feng Ni menunjuk orang-orang mengepung dia.


"Diam!" seseorang mengibas tangan untuk mengambil tali dan kain untuk menahan korban.


"Cepat kalian bilang ke orang yang perintahkan untuk tidak bertindak nekat, sebelum saya bertindak secara hukum," Feng Ni memberi peringatan tegas.


Hahaha.....


Mereka tertawa terbahak-bahak. Apa yang harus mereka takuti jika majikan mereka adalah uang. Dimana ada uang yang lebih banyak membayar mereka, mereka pun rela mengorbankan nyawa.

__ADS_1


"Tuan datang," ucap seseorang masuk memberitahukan kedatangan majikan mereka.


"Ikat dia!" perintah seorang yang pergi sambut majikan mereka.


Saat orang tadi pergi menjemput majikan uang mereka, Feng Ni coba menyihir pikiran orang-orang yang tersisa.


"Sekarang kalian bersikap wajar, tapi tetaplah jadi pengikut saya." Feng Ni mensugesti pikiran orang yang tersihir.


"Baik Tuan Putri," serentak kaku jawab mereka.


Begitu terdengar pergerakan mendekat, Feng Ni membiarkan tangan dan mulut diikat.


"Tuan, itu orang yang anpda maksud," ucap orang yang tadi keluar menjemput.


"Emm..." mengibaskan tangannya agar orang suruhan menjauh sedikit.


Kulit tangan keriput itu mencengkeram dagu Feng Ni, lalu ditepuk-tepuk mukanya.


"Kau bocah ingusan yang akan menyusul saudara-saudara kamu," ujar pria paruh baya memakai cadar hitam.


Suara yang juga sudah dikenal Feng Ni semakin buat dia ingin segera buka kedoknya untuk dapat hukuman setimpal kejahatan yang dilakukan.


"Jika kau mati, maka selanjutnya aku akan meneruskan tahta," tangan melambai panggil orang suruhan.


"Ya, Tuan." ketua kelompok mendekat.


"Ambil botol itu!" titahnya menunjuk botol di atas meja dibungkus kertas merah.


Ketua kelompok pun meneruskan perintah pada orang yang lebih dekat meja.


Botol yang sudah ada semenjak mereka datang,tapi tidak tau apa isi di dalamnya.


Botol diraih majikan mereka,lalu menuangkan isi botol masuk mulut Feng Ni secara paksa.


"Sekarang jadilah Putri yang nurut jika tidak mau cepat susul saudaramu yang lain!" pria paruh baya menepuk pipi Feng Ni.


"Kamu salah, Paman," sahut tercekat Feng Ni, merasakan panas di kerongkongan.


Pria paruh baya yang dipanggil paman itu, menjontor kepala Feng Ni hingga kepala Feng Ni menubruk ke tembok.


"Berdoa saja besok masih bisa hidup," mencekik leher Feng Ni.


Setelah Feng Ni pingsan tidak bergerak, pria itu keluar diantar ketua kelompok.


Feng Ni sadar kembali dengan pandangan kunang-kunang, untuk mendapatkan obat penawar yang pasti ada juga di situ.


"Kalian cepat cari penawar racun!" titahnya para orang dalam efek sihir.


"Baik," bergerak cepat sebelum orang lain datang.


Rasa panas racun itu sudah turun ke paru-paru dan mulai nyebar ke jantung.


Rasanya terbakar bara api arang yang menyiksa sampai uluh hati.


"Tuan Putri, ini!" seseorang menyerahkan bungkusan warna putih.


"Cepat," terlihat menderita dengan racun.


Orang itu membantu memasukkan obat yang ditemukan ke mulut Feng Ni.


Dalam hitungan detik Feng Ni bereaksi makin sakit bercucuran keringat jagung.

__ADS_1


Sihir yang mengontrol mereka luntur dengan pikiran Feng Ni yang kacau terbelah.


**


__ADS_2