
Ibu dan anak pergi menuju taman belakang yang terhindar dari perkataan 2 anak tiri tak tau balas budi tersebut.
"Berceritalah pada ibu yang kamu alami selama tidak berada di istana," pinta Ibu Ratu pada putrinya setelah mereka duduk.
"Cerita apa, bu?" Feng Ni bertanya bingung.
"Apa saja," jawab ibu Ratu.
Feng Ni terlihat berpikir, "Baiklah, bu. Aku akan bercerita saat sedang menolong seorang gadis di kandang kerbau dan juga tentang desa yang bernama desa janda."
"Wah, sepertinya cerita kamu sangat menarik. Berceritalah, nak. Ibu ingin mendengarnya," sahut ibu Ratu.
Feng Ni tersenyum.
Flash back. . .
Saat itu Feng Ni sedang melawan Do Mo Cien.
Pufff....
Do Mo Cien melesatkan jarum beracun. Untuk bidikan kedua kalinya, dia tidak melempar 1 jarum saja, akan tetapi 4 jarum beracun sekaligus menyerang Feng Ni.
"Jika bersekutu dengan iblis jadi begini" gerutu Feng Ni, meliuk-liuk tubuh hindari serangan.
Sekelompok pria bertopeng datang dengan pedang tajam ditangan mereka, siap untuk membantai.
Mereka berlari kencang seperti angin, menginjak tanaman padi yang siap dipanen warga.
Jika saja mereka tau siapa yang dihadapi, mungkinkah menghentikan pergerakan?Atau sebaliknya, malah akan mempercepat pembantaian?
Feng Ni tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia yang memang kembali untuk tegakkan keadilan, tidak akan berpangku tangan lihat kejahatan merajalela di kerajaan tercinta.
Tidak dalam perubahan wujud kultivasi saat Feng Ni melawan keroyokan pria bertopeng, karena tidak sebanding dengan energi kekuatan yang banyak keluar.
Dengan sebilah batang padi tua yang cukup panjang, Feng Ni melawan senjata pedang mereka yang tajam terasah.
Sringg.....
Tebasan bilah batang padi cukup runcing tajam juga jadinya setelah terkena tebasan salah satu pedang lawan.
"Kalian yang meminta," ucap Feng Ni tidak sungkan melukai secara sengaja ataupun tidak saat menyerang balik.
Sebilah batang padilah senjata Feng Ni untuk mengalahkan semua musuh. Syukur-syukur kalau dia tidak khilaf menyerang sampai mengorbankan nyawa lawan.
Ilmu beladiri diri para pria bertopeng itu tidak boleh diremehkan sebelah mata. Ada percampuran budaya asli negara China dan Jepang yang sedikit dimodifikasi.
Meski gerakan para penyerang secepat angin, tetapi dia juga tidak kalah gesit.
Tubuh Feng Ni bisa berputar melayang di udara seringan kapas, menciptakan pusaran angin tornado.
Pedang yang terpegang erat para pria bertopeng tertarik oleh pusaran angin pada satu titik kumpul kekuatan Feng Ni.
Seperti gasing yang sudah lepas dari benang penggerak dan menciptakan putaran, maka Feng Ni akan terus berputar menciptakan arus putaran angin tornado kencang.
Tidak hanya pedang yang terhisap geomagnetik arus putaran, tetapi benda-benda yang mengandung pengantar arus magnetik juga terhisap kedalam pusaran.
Saat yang sama, pria menawan membawa kabur gadis yang sedang dijadikan target olehnya.
"Ayo ikut!!" bentaknya menarik tubuh gadis setengah berpakaian utuh.
"Tidak," gadis mencoba melawan, meraih batu atau kayu yang bisa dijadikan senjata.
__ADS_1
Takkk....
Tidak sabaran, pria menawan itu memukul tengkuk si gadis hingga jatuh pingsan. Lalu ia membopong tubuh gadis itu di atas pundak untuk dibawa ketempat lebih aman.
Sekelompok pria bertopeng dibiarkan untuk memusnahkan Feng Ni berpenampilan gembel.
Pria menawan terus berjalan cepat melalui arah yang tidak terjangkau pusaran angin itu.
"Sial! Kenapa ada gembel yang hebat," pria menawan menggerutu kesal harus menunda keinginan. Tubuh gadis juga semakin berat saat dibopong pada pundaknya.
Harap maklum saja tubuh gadis yang dibawa pergi itu, sudah diubah Feng Ni dengan karung beras 60 kg, kekuatan ilmu sihir tingkat dasar yang baru terpraktek setelah sekian tahun belajar otodidak dari buku mitos diperpustakaan istana.
Akan disayangkan jika pria menawan segera sadar apa yang sedang dipikul pada pundak kekar itu.
2 pikiran terpecah menyatu kembali untuk segera menyelesaikan tanpa menunda waktu.
Pria bertopeng sudah tidak memiliki senjata, pakaian, topeng mereka juga sudah tercabik pusaran angin yang kencang.
Wuzzz....
Sekali kibasan batang padi menghentikan pusaran, dan telah melukai sekujur tubuh mereka semua.
"Ckckck.....Tadi kalian sungguh sadis, sekarang tidak lebih tikus masuk kubangan air." Feng Ni menyindir,tapi pikiran masih mengawasi keadaan gadis yang tergeletak bawah pohon jagung.
"Diam kau gembel!!" maki seorang pria bertopeng hanya memakai ****** ******** warna krem terbuat dari karung tepung.
"Uhhh.... Sungguh tidak tau malu," cibir Feng Ni ngibaskan tangan, males ladeni musuh yang tidak berdaya.
Langkahnya lengang kangkung, melempar batang padi ke belakang dan berhasil merobek belahan celana jadi 2 bagian.
Hahaha.... Tawa beberapa orang lihat celana dalaman temannya robek panjang.
Feng Ni melepaskan pakaian pelindung luarnya, untuk menutupi aurat gadis setengah berpakaian lengkap.
"Ayo saya bantu," ucap Feng Ni yang mengulurkan tangan.
"Kamu kah yang sudah menolong aku?" tanya gadis ragu untuk terima ajakan.
"Iya," jawabnya menarik berdiri gadis itu. "Kita harus segera segera pergi," lanjut ucapnya memastikan keadaan masih terkendali,dan diangguk gadis.
Feng Ni dan gadis itu berlari diantara tanaman jagung hampir siap panen warga. Karena si gadis merupakan penduduk lokal,maka dia memandu arah yang cepat sampai tempat lebih aman.
Mereka terus berlari berpegang tangan, sampai disebuah kandang kerbau salah seorang pengembala sapi yang galak, mereka pun bersembunyi diantara kerbau-kerbau yang terjaga dalam tidur mereka.
Ngoww....
Si gadis pun tidak sengaja menyenggol seekor kerbau betina yang tidur dalam posisi berdiri mereka.
"Maaf sudah mengganggu," ucap gadis itu, mengelus kerbau untuk tetap tenang dan tidak ketahuan pemilik.
Seumur hidup, baru hari ini Feng Ni merasakan jadi rakyat jelata. Berada dalam kandang hewan peliharaan yang amat bau penuh kotoran dan serangga bercampur kuman bakteri.
Iuhhhh.....
Rasa jijiknya terlukis di wajah berlumpur yang mengelupas rontok. Tapi tidak mungkin juga ia keluarkan rasa ingin muntah akan bau teramat menyengat.
Gadis berbalik menoleh, lihat pendekar penyelamat seperti gembel menutup hidung dan terus mengibas tangan.
"Kamu kenapa?" tanya gadis.
"Tidak apa-apa," jawab Feng Ni dengan suara serak berat.
__ADS_1
Gadis tersenyum tipis di balik punggung tangan yang menutup bibir.
"Pengemis kok merasa bau dengan tempat seperti ini," gumam sehalus mungkin gadis.
Biasanya gelandang dan setara strata sosial itu tidak akan merasa bau atau jijik jika berada di tempat kandang kerbau. Dikarenakan mereka bisa tetap terjaga kehangatan sepanjang musim, selain dapat tinggal gratisan.
Jauh beda dengan gembel penolongnya yang tampak jijik dan kebauan.
"Apa dia bukan gembel ya?" monolog batin gadis, melihat penolongnya tidak terlihat gembel asli biarpun sekilas mata mengatakan 'Gembel'.
"Kamu tetap di sini. Saya akan melihat sekitar " ucap alasan Feng Ni bersuara tertahan ingin muntah.
"Baik." gadis tetap berwaspada.
Kaki Feng Ni melangkah keluar dari kandang kerbau yang bau menyengat.
Haaa....Hufff....Haaaa.... Huufff....
Secepatnya Feng Ni mengatur nafas tertahan dari tadi. Dia menghirup dalam-dalam udara segar, lalu dihembuskan kembali melalui jalur mulut.
"Ternyata tidak semua rakyat negeri ini hidup layak," gumam Feng Ni sadar kehidupan rakyat jelata yang jauh ekspetasi dari laporan pejabat daerah.
Keadilan memang harus segera ditegakkan. Penjahat juga harus segera dibersihkan.
Malam yang singkat itu Feng Ni habiskan dekat kandang kerbau, menjaga gadis yang bersembunyi antara kerbau yang terjaga tidur.
.
Kukuruyukkkk......
Ayam jantan berkokok menyambut datangnya fajar yang bawa harapan lebih baik untuk semua.
"Nona, bangun." Feng Ni terpaksa masuk kandang kerbau hanya untuk membangunkan orang yang numpang tidur di dalamnya.
Eemm...
Gadis pun membuka mata dengan sayup-sayup ngantuk lelah.
"Saya akan bawa kamu pulang," ucap Feng Ni harus cepat keluar sebelum udara busuk melekat dalam ingatan seumur hidupnya.
"Tidak bisa," jawab gadis, bukan tidak ingin pulang tapi lebih takut jika ketangkap lagi.
"Kenapa?" Feng Ni mengibas wajah dengan tangan.
"Karena.... Karena...." gadis ragu untuk bercerita tentang siapa orang yang ingin melecehkannya kemarin malam.
"Sssttt...." tiba-tiba Feng Ni menutup mulut gadis karena ada pergerakan manusia keluar dari rumah gubuk.
Feng Ni mendekap tubuh gadis yang sedikit gemetar resah.
Rasa pelukan yang hangat dan nyaman menenangkan gadis yang sempat resah.
"Dia gembel, pengembara, atau pendekar?" batin gadis bertanya-tanya,mata melirik dagu penolongnya yang mulus luntur dari lumpur.
Takut akan ketahuan, Feng Ni memerintahkan gadis itu untuk naik ke punggungnya, agar bisa bawa lari.
Wuzzz....
Seakan tidak percaya, gadis digendong dengan kecepatan lari extra cepat.Ya, secepat ninja. Itu yang terpikir dalam benak gadis memegang erat-erat tangannya, jangan sampai terjatuh dalam kecepatan angin itu.
***
__ADS_1