
Beberapa jam kemudian petanda kesadaran Feng Ni sudah kembali. Naga emas sengaja tetap di atas jidatnya untuk tau bagaimana reaksi orang yang tidur berhari-hari tidak bangun.
Plak....
Tangan Feng Ni menampol keningnya yang berasa dingin berlendir.
"Hmmmm." Naga emas kecewa dirinya tidak di agungkan malah kena tampol orang yang berkali-kali sudah diselamatkan.
"Kim Long..." mata Feng Ni membelak lebar. "Maaf," merasa bersalah sudah salah sangka.
"Cepat bangun! Atau negeri kamu akan hancur!" merajuk ketus naga emas, berjalan turun dari tubuh Feng Ni.
"Baik," jawabnya singkat. Tapi kayaknya ada perubahan lagi dalam wujudnya.
Hal yang menyenangkan setelah sadar adalah dirinya kembali ke wujud manusia normal semula.
Walaupun ingat kesedihan yang sedang dialaminya, dia harus kembali tegar setelah cukup lama merenung dalam alam bawah sadar.
"Matahari sudah terang. So Po Ta dan yang lainnya sudah sampai," ucap sewot naga emas memberitahu informasi yang sudah waktunya tiba untuk menyatukan semua rencana terpisah.
"Benarkah?" Feng Ni beranjak turun dari tempat dia berisitirahat.
"Mmm..." naga emas dehem mengangguk.
Untuk secepatnya berkumpul, Feng Ni harus menyusul orang-orang yang masih terpencar tempat berbeda.
Namun kendalanya juga ada. Dia tidak bisa menampakkan batang hidungnya telah kembali ke istana setelah dengar banyak rumor yang memang ada nyata buktinya.
Sebelum menjemput bala bantuan masuk tenang ke dalam istana yang merupakan rumah tinggalnya, Feng Ni memberi penghormatan terakhir mengantar kepergian pangeran mahkota yang pasti juga telah tidur dalam liang kuburnya, secara simbolik hingga dapat menampakkan kepulangan pada seluruh isi istana.
Ketika hari mulai gelap kembali, Feng Ni pun keluar untuk menjemput bola kelompok yang terpisah.
Terlebih dahulu dia menjemput kelompok saudaranya yang sudah ada dalam istana dan bersembunyi dalam suatu ruangan.
Kode siulan burung hantu menggema dari mulut Feng Ni yang bersiul di atas atap bangunan istana yang paling tinggi.
Kukkk.....Kukkkk...
Begitu panjang dan bergema seakan burung hantu yang tidak pernah ada disekitaran istana tiba-tiba muncul.
"Itu suara burung hantu kan?" tanya seorang prajurit 1, mencari asal suara yang cukup buat bulu kuduk merinding berlari.
"Iya," sahut prajurit 2 yang berjaga pintu kamar raja ikut merinding berjoget.
"Konon katanya, jika ada suara burung hantu maka akan ada orang yang meninggal beruntun," tambah prajurit 4, celingukan lihat arah luar.
"Ihh...Seram," bergedik bahu prajurit 1,2,3.
Biar ingat lari dan mencari keberadaan suara burung hantu itu, mereka tetap tidak diperbolehkan pergi tanpa perintah atau pun berganti jaga.
Kukk.... Kukk....
Begitu terdengar dekat suara panggilan burung hantu yang menambah aura mistis kelamnya malam.
Di ruang penyimpanan makanan, Da Min mendengar suara burung hantu seakan tidak asing di telinganya.
__ADS_1
"Kamu cepat pastikan itu kode, atau burung benaran!" ujar Ling Ni, tau Da Min bisa bersiul dan mengerti bahasa isyarat beberapa hewan.
"Iya,iya. Aku juga butuh ambil nafas dulu" sahut Da Min harus menyimpan oksigen dalam kantung katup jantung,agar menyamakan frekuensi panggilan.
"Hehehehe..... Dulunya pasti dia ini burung hantu." Ling Ni berbisik nyindir Da Min yang atur pernafasan, pada Bapao yang hampir tidur pulas.
Kukk.....Kukkkk....Kukukkkk.....
Da Min menjawab panggilan suara burung hantu tidak kalah bergema nyaring.
Orang-orang istana pada merinding ketakutan, mitos yang mereka dapat dari beberapa orang lain juga menambah ketakutan sehabis kematian pangeran mahkota.
"Pasti Pangeran Mahkota tidak tenang di alam kuburnya." dayang 1 bergerak nyamping nempel dayang yang sebelahnya.
"Bisa jadi. Kan Pangeran wafat dengan penyakit aneh," tambah dayang 4 merangkul lengan bahu dayang 3.
"Nggak mungkin. Selama hidup, Pangeran orang baik," sahut dayang 2 terusik tidur malamnya oleh para dayang terbangun dan berkumpul kayak barisan semut.
"Atau jangan-jangan ada hantu lain," celetuk tambah dayang 7, berhambur meluk orang disebelah.
"Jangan sembarang fitnah, atau nyawa kita taruhannya," sahut dayang 5, sudah tidak peduli suara hantu atau binatang yang akan menggangu tidurnya.
Kikukkk......
Makin didengar makin terdengar melengking suara sahutan burung hantu-hantuan itu.
Malam kelam itu kian mencekam. Seolah negeri yang tempat mereka berpijak akan tenggelam dalam lautan sejarah tersingkat sepanjang kepemimpinan raja Xiao Se Mang.
Sepanjang malam dayang-dayang penakut tidak berani tertidur, mereka saling berpelukan mendengar sahutan burung hantu yang belum berhenti setelah lama bersua.
"Untung saja Bang Da Min pernah ngajarin isyarat siulan," ucap batin Feng Ni, menyelinap antara prajurit penjaga yang bersiaga dari pada biasanya.
Kecepatan larinya juga kencang secepat angin berhembus.
Setelah tau tempat 4 saudaranya berada, Feng Ni pun bergegas menuntut saudara-saudaranya itu keluar ke tempat lebih nyaman aman.
"Ikut saya," ucap pelan Feng Ni memimpin arah jalan aman.
4 saudaranya mengikuti dari belakang dengan hati-hati tanpa boleh bersuara.
Da Min yang digendong pada punggung Bapao, mendapat bantuan kekuatan Feng Ni untuk bisa berlari seiring.
Sampai di puncak mercusuar, keadaan Da Min pun diperiksa Feng Ni tanpa banyak tanya langsung bertindak.
"Akan sedikit sakit, jadi Abang harus tahan," ucap Feng Ni memperingatkan agar tidak menjerit.
"Iya." Da Min angguk paham.
Saat Feng Ni mengumpulkan semua tenaga dalam pada telapak tangannya, Da Min, Bapao, Ling Ni tercengang menganga lebar.
Pikiran mereka bertanya dengan pertanyaan sama, 'Kapan ilmu tenaga dalamnya begitu besar ?'
"Tutup mulut kalian!" ucap Fun Cin, dan sumpel mulut Da Min dengan kain yang digulung tebal.
"Ini?" Ling Ni menunjuk bola energi pada telapak tangan Feng Ni.
__ADS_1
"Sssttt.... Jangan ganggu konsentrasinya!" sahut Fun Cin, memerintahkan Ling Ni dan Bapao untuk pegang tangan Da Min.
Zretttt..,....
Bola energi perlahan dilepaskan tepat pada luka kaki Da Min yang masih terbungkus penyangga kayu berbalut kain.
Rrrrgggg......
Jerit tertahan Da Min terima sentuhan bola energi.
Semua pun ikut tegang lihat reaksi Da Min menahan sakit bukan sekedar sakit kecil.
Beberapa menit kemudian.....
Kening 4 saudara itu bercucuran keringat jagung dingin, terutama Da Min sampai basah kuyup sekujur tubuh.
"Istirahatkan dulu Bang Da Min!" ucap Feng Ni terlihat lelah.
Bapao dan Fun Cin memindahkan tubuh Da Min ke ujung satunya. Dan Feng Ni di tempat tadi untuk menetralkan kembali tenaga dalam.
Dretttt.....
Ling Ni tiba-tiba merinding gemetar setelah menyadari ruang mercusuar yang dipenuhi sarang laba-laba yang menjuntai turun, dan juga beberapa patung arca dewa berwajah seram.
Tap.....
Tangan seseorang telah mengagetkan dirinya yang sedang berdiri melamun ketakutan.
"Kamu takut?" tanya Feng Ni lihat expresi saudarinya yang tegang takut.
"I-ya," jawab kakunya dan ngangguk.
"Ini hanya patung," sahut Feng Ni menunjuk wajah patung yang terlihat seram.
"Kamu jangan jauh-jauh sama aku, ya," rengek takut Ling Ni bersembunyi di balik punggung Feng Ni.
"Iya. Yuk tidur," ajaknya agar semua tertidur nyaman.
Ctakkk....
Seakan tersihir, 4 saudaranya itu langsung tertidur begitu Feng Ni menjentikkan jari.
Waktu baginya pula untuk membawa gurunya berkumpul bersama mereka.
Dia menggunakan telepati mencari Guru-nya yang dikabarkan sudah ada di negeri ini.
"Guru," panggilnya melalui telepati.
So Po Ta yang jauh berpuluh meter dapat menerima signal panggilan itu. Ia pun menyapa murid kesayangan yang sudah sadar.
"Beberapa hari lagi kita bertemu," ucap So Po Ta masih harus menolong kehidupan rakyat di kampung lain yang tidak terjamah tabib.
"Baik, Guru," sahut Feng Ni paham maksud dengan kiriman gambaran keadaan yang dikirim pikiran So Po Ta.
Dia pun kembali duduk bersila untuk menyempurnakan ilmu tenaga dalam kaku setelah entah berapa lama tidak dipakai.
__ADS_1