
Dalam gubuk, terlihat Ling Ni yang sedang menumbuk obat untuk agen kembar yang masih terbaring koma.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Feng Ni hampiri.
"Kritis." Ling Ni geleng kepala nunjuk 2 orang terbaring berbalut perban kotor.
"Sebaiknya kita bawa pulang saja," ucap Fun Cin.
Feng Ni ngangguk, karena setiba di kota atau istana akan lebih permudahkan mereka dapat obat dan juga lebih steril kebersihan luka.
Atas seizin tuan rumah, agen kembar dibawa mereka pulang.
Nenek tua yang rada pikun pun menangis tersedu bagai kehilangan 2 putranya.
"Nenek.... Nenek jangan menangis lagi,kami bawa mereka untuk diobati." Feng Ni mengelus lembut punggung nenek tua.
"Jangan pisahkan aku dari anak-anakku," tangis nenek tua nahan tandu pergi.
"Ibu, akulah anak Ibu. Ibu jangan halangi mereka lagi untuk cari tabib terbaik," penebang kayu memeluk ibunya yang terus menahan kepergian sekelompok orang berpakaian bagus.
Tidak kuasa lihat kesedihan nenek tua, Feng Ni pun mengajak keluarga penolong untuk ikut bersama ke kota.
"Jangan Tuan. Kami takut merepotkan," penebang kayu sungkan terima ajakan.
"Tidak akan. Ayo kami tunggu." Feng Ni yakinkan tidak akan kerepotan.
Keluarga penebang kayu hanya membawa bekal makanan yang sudah dimasak, dan juga beberapa baju anak-anak mereka yang diletakkan dalam gerobak sapi.
Siang itu mereka keluar hutan perlahan dari jalur yang lebih nyaman dilalui, ya tentunya juga akan lebih lama sampai di kota tujuan.
"Ternyata ada jalur lain." Da Min rasa salah bawa jalan.
"Tidak apa," dimengerti Feng Ni.
Matahari sudah terbenam seutuhnya, menyambut bulan bintang yang akan bersinar terang dalam kegelapan.
Tiba juga mereka di kota yang ramai penjual dan pembeli setiap malam.
"Kita ke penginapan dulu," ucap Feng Ni memilih penginapan lengkap dan praktis untuk segala aktivitas.
Feng Ni menyewa 4 kamar, dimana 2 kamar untuk keluarga penebang kayu, dan 2 nya lagi untuk tempat mereka.
Lihat kamar luas, keluarga itu tidak pernah menyangka bahwa ada hari dimana mereka akan hidup dimanjakan dalam 1 hari.
"Silahkan Nenek dan Tuan sekeluarga beristirahat. Nanti akan ada pelayan yang bawa makanan dan minum." Feng Ni mengantar sampai kamar masing-masing.
"Terima kasih banyak, Tuan," ucap terharu penebang kayu dan istri, nunduk kepala.
Sementara itu, Da Min yang sudah mengenal tempat kota di negeri Semangi, dia pergi cari tabib untuk obati agen kembar.
Untung saja seluruh tubuh dari kepala sampai kaki terbungkus perban kain mirip mummy, jadi tidak akan ada mata-mata jahat yang akan dapat info terbaru.
"Bang, saya kembali ke istana dulu. Urusan di sini Abang dan lainnya tolong bantu atasi, ya," pintanya sebelum pergi.
"Kamu tenang saja." Fun Cin ngangguk.
Sebelum disadari keluarga penolong, Feng Ni segera keluar dari penginapan.
Bergegas dia kembali ke istana agar hentikan kecemasan orang tuanya sedari pagi.
__ADS_1
Kuda berlari cepat, membiarkan angin hempas wajah penunggang.
Tidak lama dia sampai seorang diri, lalu kabarin kepulangan pada ibu yang sedang cemas menunggu.
"Kamu dari mana saja?" ratu Semangi ngelus wajah anak berpenampilan pria.
"Saya habis jemput pulang agen, Bu."
"Apa mereka baik-baik?"
"Tidak bisa termasuk baik. Tapi bisa dibilang cukup beruntung."
"Lalu sekarang dimana?"
"Saya tempatkan di penginapan..." bercerita panjang lebar akan keadaan prihatin agen kembar, serta alasan tidak dibawa masuk istana untuk dapat pengobatan terbaik tabib istana.
Selama ada Ling Ni yang turut bantu penyembuhan, hati Feng Ni lebih lega. Biar bagaimanapun juga, saudarinya itu paham akan obat.
7 hari berlalu, kemajuan luka fisik yang dialami agen kembar ngalami proges membaik.
Namun tanda alat vital kehidupan masih lemah seperti awal ditemukan.
Hari ini Feng Ni datang berkunjung, sekaligus ingin memindahkan mereka semua pada rumah yang sudah disewa beberapa bulan ke depannya oleh Kasim Kim.
"Nenek. Saya ingin ajak Nenek dan semua pindah ke tempat yang lebih baik. Nenek mau kan?" lembut bertanya.
"Iya. Nenek mau, asal semua ikut," sahut nenek tua kumat penyakit pikunnya.
Untuk zaman dahulu, obat penyakit pikun belum ada, dan juga tidak bisa ada jalan penyembuhan kecuali keluarga yang harus hadapi dan berkolaborasi untuk tetap dampingi.
Gerobak kuda sudah menunggu membawa rombongan itu pindahan.
Dengan koin emas yang Feng Ni bayar, pemilik penginapan merasa bahagia dapat uang tips yang banyak.
"Hei Bos!!" panggil seseorang tamu ngeteh.
Pemilik penginapan masih melambaikan tangan ngantar tamu tajir sampai ujung penginapan.
"Ya...Ya....Ada apa?" pemilik berjalan hampiri, melempar kecil rentengan koin emas banyak.
"Mereka siapa?"
"Ntahlah. Mungkin saudagar kaya," mengangkat bahu.
"Jangan-jangan buronan negara?" celetuk pria berpakaian petugas keamanan daerah setempat, menyumpit sayur hidangan.
"Ahh.... Tidak mungkin. Tampang mereka aja kaya, baik. Dan juga ada yang susah ikut dengan mereka," pemilik penginapan kibas tangan dan berlalu.
Gerobak kuda mengangkut mereka menuju tempat rumah sewa.
Sampai juga gerobak membawa rombongan tiba di depan sebuah pintu pagar papan rumah sewa.
3 orang pria saling bahu membahu mengangkat satu persatu tubuh agen kembar. Sedangkan Feng Ni bantu menuntun nenek tua dan juga Ling Ni yang membawa perlengkapan medis.
Rumah cukup besar untuk ditempati banyak orang. Perlengkapan masak dan tidur sudah lengkap siap digunakan.
Berhubung Feng Ni yang tidak bisa keluar istana terlalu lama, setelah dia pastikan semua bisa beristirahat dan semua kebutuhan sudah lengkap, dia berpamitan pergi pada Fun Cin.
"Kamu tenang saja. Jika ada kabar terbaru, akan Abang minta Da Min segera beritahu." Fun Cin tenangkan kekhawatiran adik yang berat melangkah.
__ADS_1
"Baiklah jika Abang sudah berkata demikian," langsung keluar.
"Hati-hati di jalan!" bantu Feng Ni naik kuda dan diangguk.
Kuda pun membawa Feng Ni kembali ke istana dengan selamat sampai tujuan.
**
30 hari berlalu lagi. Kondisi fisik agen kembar sudah pulih sepenuhnya, hanya tinggal tulang patah yang membusuk dan diamputasi yang belum kering sepenuhnya. Begitu juga kesadaran mereka belum menunjukkan perubahan.
Bukan ratu bidadari atau Feng Ni sekalipun tidak bisa menyembuhkan dengan cepat pakai energi tenaga dalam mereka. Tetapi karena ada orang lain disekeliling agen kembarlah yang menghalangi penggunaan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi.
Hari ini mungkin hari baik untuk murid-murid So Po Ta. Keluarga penebang kayu setelah 1 bulan menikmati kemewahan dan kenyamanan, berniat untuk kembali ke gubuk kecil.
"Jika begitu, lebih baik tunggu saudara kami Ahok datang dulu." Fun Cin meminta agar kepulangan diketahui Feng Ni .
"Tentu saja. Aku juga harus berterima kasih sudah diajak ke kota," sahut penebang kayu.
2 jam lebih penungguan penebang kayu akhirnya bertemu dengan Feng Ni berpenampilan pria muda nan tampan imut.
Lihat banyak bungkusan dan kotak di samping pintu, Feng Ni langsung bertanya dan dijawab penebang kayu amat berterima kasih banyak.
Agar kehidupan keluarga penolong agen kembar terjamin beberapa bulan kemudian, Feng Ni memberikan sekantong koin emas dalam kantongan yang sering dijadikan dompet masa itu.
"Terimalah niat baik kami ini. Jika ada hal penting jangan sungkan mencari kami di sini.Kami pasti akan sekuat tenaga membantu," ucap Feng Ni memaksa penebang kayu terima kantongan kain isi koin emas.
"Aku jadi tidak enak hati ini, Dek," penebang kayu garuk rambut tidak gatal, terpaksa terima kantong pemberian.
"Nenek... Aku pasti akan merindukan Nenek dan anak-anak lucu ini," celetuk Ling Ni memeluk perpisahan nenek tua dan anak-anak kecil.
Dalam keadaan normal, nenek tua akan ingat siapa saja keluarga dan orang luar.
"Kalau rindu datang saja ke rumah, ya," nenek tua hapus kesedihan Ling Ni.
"Pasti-pasti." Ling Ni meluk erat.
"Sudah. Jangan tahan Nenek lagi. Bisa-bisa larut malam sampai rumah!" Da Min narik lepas pelukan Ling Ni.
Hiksss .....Hiksss...
Mereka semua mengantar keluar gerobak kuda sampai pintu pagar.
Da...Da...
Anak-anak dalam gerobak berteriak dan lambaikan tangan disertai tawa ceria bahagia.
"Ada pertemuan pasti ada perpisahan." Feng Ni merangkul pundak Da Min dan Ling Ni.
Terlihat Feng Ni yang dulu mereka kenal telah kembali, mereka juga turut berbahagia.
"Ayo ceritakan keadaan dalam istana," ajak Da Min masuk rumah, rangkul balik pundak.
"Iya. Aku juga mau tau," tambah Ling Ni menyandarkan kepalanya di pundak Feng Ni.
"Kalian ini jangan buat Feng Ni capek. Sana cepat awasi keadaan kembar!" ujar dingin Fun Cin akan kekurang sopanan saudara lainnya.
"Siap, Ketua," cepat lepaskan tempelan kepala dan tangan setelah dapat pandangan tajam Abang tertua.
Hihihi...
__ADS_1
Ketiganya tertawa geli harus manggil Abang dengan sebutan 'Ketua'.
***