
Kukuruyukkkk.....
Ayam jantan berkokok membangunkan orang-orang yang punya tugas mereka setiap pagi. Pertanda sang surya sudah datang.
Tukk....Takkkk.....Tukk .....
Para istri petani juga sudah bangun subuh untuk mengeluarkan lumpang menumbuk anai padi.
Lumpang dan pukulan yang menumbuk padi berirama menyanyikan sebuah kisah mereka dengan tarian padi yang berlompatan setiap kena hentakan pukulan.
Begitu juga dengan dayang istana yang sedang menumbuk padi yang dikeluarkan oleh kasim.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Bapao yang harus menempuh perjalanan lumayan jauh itu, juga sudah bangun dan membuatkan sarapan seadanya dari bahan makanan yang ada untuk keluarga baru bohongan.
"Biar Ibu saja yang masak, Sing," ucap wanita tua meraih periuk nasi.
"Tidak apa, Bu. Aku saja yang masak," sahut Bapao lalu menggambil kembali periuk berisi beras untuk dicuci.
"Jangan. Kamu sudah lelah, biar saja Ibu."
Bapao malas berdebat dengan orang yang lebih tua darinya. Dan membiarkan wanita tua itu pergi mencuci beras, lalu dia mengupas sebongkah besar keladi dan juga labu siam.
Wanita tua itu memasak beras di atas tungku api yang sudah dinyalakan hidup oleh Bapao sebelumnya.
Sambil nunggu beras masak menjadi bubur, pekerjaan memasak lainnya wanita tua sudah diambil ahli Bapao yang hidupkan 1 tungku lagi.
Osengan keladi dan kuah labu siam dijadikan menu peneman makan bubur bersama.
Srezzzz.....Tring....Tring ....Treng.....
Kuali wanita tua itu tidak pernah mendapat suara merdu orang menggunakan dirinya, menciptakan menu masakan enak.
"Kamu pantas menjadi koki istana anakku," wanita tua memuji bakat ketrampilan masak Bapao.
"Ibu terlalu memuji," sahut Bapao sembari menabur sedikit garam, lalu mengaduk-aduk masakan agar rata.
"Bukan memuji, tapi bukti nyata," menghirup aroma lezat memukau dari masakan.
Bapao tersenyum saja, sambil membolak-balik masakan hingga matang dan siap disajikan bersama bubur.
"Biar aku saja yang aduk buburnya, Bu," ucapnya canggung.
"Baiklah. Ibu akan pergi panggil Mei Hwa dulu," pamitnya tinggalkan dapur.
Wanita tua itu keluar dapur memanggil gadis kecil yang sedang melipat selimut dan kasur.
"Nenek. Ayah dimana ?"
"Ayahmu sedang memasak. Yuk kita sarapan bersama," tangan mengulur raih tangan kecil itu menuju dapur.
Mereka bertiga duduk pada 1 meja reyok dengan hidangan sederhana tapi rasa mewah.
"Selamat makan," seraya mereka mengatupkan tangan di dada.
Sumpit dan sendok mulai mengambil makanan mengisi perut kosong mereka di pagi hari.
Suapan penuh masuk ke dalam mulut gadis kecil yang bahagia.
"Makannya pelan-pelan saja!" Bapao menasehati Mei Hwa yang buru-buru makan.
"Benar apa kata ayahmu," tambah wanita tua.
__ADS_1
"Habis enak banget bubur dan sayur ini," menyodorkan mangkuk yang sudah kosong untuk diisi bubur lagi.
"Iya. Selama kamu pergi, kami belum lagi nikmati makanan selezat ini," wanita tua terharu bahagia.
"Oh, begitu. Baiklah, jika begitu lain kali akan aku masak makanan enak lainnya lagi," ucap Bapao memperhatikan 2 wajah orang di depannya yang begitu menyemangati jiwa.
Usai makan, Bapao berpamitan pada keluarga palsu untuk mentaati perintah surat dari istana.
Mei Hwa yang baru bertemu sosok ayahnya itu terlihat berberat hati untuk melepas kepergian Sing Erl.
"Ayah jangan pergi lama lagi," rengek gadis kecil memeluk pinggang lebar ayah palsu.
"Baik, baik," tangan kaku saat mengelus kepala gadis kecil yang memberikan kehangatan padanya.
Wanita tua menarik cucu palsunya untuk biarkan mantu palsu pergi laksanakan amanah penting.
Bapao berlangkah keluar gubuk kecil, sesekali berbalik melambaikan tangan pada orang yang masih berdiri mengantar dirinya sampai jauh.
"Ayo masuk," ajak wanita tua gandeng tangan gadis kecil.
Srashhh.....
Begitu kaki wanita tua menapak masuk gubuk, sekelompok orang muncul dari balik pohon. Lalu menyerang wanita tua dan gadis.
Wanita tua itu memang sudah tua keriput bungkuk. Akan tetapi dia masih punya ilmu beladiri untuk menjaga dirinya sebagai seorang mantan mata-mata.
"Nenek !!!" gadis kecil berteriak memanggil, tangannya mengulur minta tolong.
"Lepaskan dia. Kalian tidak boleh melukainya!" wanita tua menodong ujung tongkat yang dipegang untuk melawan orang lainnya.
"Hahaha.....Kau pikir kami bodoh! Cuihhh !!" cibik pria bermuka codet pada mata.
"Tolong Mei, Nek," rengek gadis dalam sekapan penjahat.
Emmm.... Emm.......
Panggilannya dalam bekapan penjahat.
Wanita tua telah dimanipulasi penjahat dengan umpan yang diberikan melalui gadis kecil. Punggung wanita tua itu tertebas oleh salah seorang penjahat yang tepat masih dibelakang saat dia tidak memegang senjata apapun.
"Kalian !!" ringis kesakitan wanita tua, menunjuk para penjahat dengan pandangan buram sebelum terkapar jatuh.
Tubuh renta itu jatuh terkapar berlumur darah segar yang banyak keluar dari hasil menebas punggung.
Mei Hwa dibawa pergi sekelompok orang itu untuk dijadikan sandera.
***
Bapao sudah keluar dari perbatasan kampung tadi dan terus berjalan menuju gerbang ibukota yang menyambut dia dengan aroma masakan lezat penggoda hidung, perut juga.
Di dalam istana utama, Feng Ni terlihat normal-normal saja bersikap.
Dia masih setia melakoni posisinya sebagai seorang anak berbakti pada orang tua yang cukup lama ditinggal pergi untuk menuntut ilmu.
Tepat di paviliun pinggir kolam, Feng Ni sedang menemani ibunya berjemur matahari pagi sehat buat tubuh mereka.
"Ibu, lihat capung-capung itu," tunjuknya pada capung berterbang di atas kolam ikan.
Ratu melihat capung yang sudah biasa banyak setiap tahunnya di musim gugur.
"Hidup mereka tidak lama,tapi bahagia juga bebas," ucap Feng Ni menangkap capung yang menghinggapi lututnya.
__ADS_1
Ratu tidak paham maksud putrinya yang mengandung konotasi kiasan dalam.
"Apa kamu menghadapi masalah?" tanya ratu pegang tangan putrinya semata wayang.
"Di dunia ini, siapa yang tidak punya masalah, beban, kebahagiaan dan apapun,dimanapun, bagaimanapun juga," melepaskan capung tangkapan.
Semakin bingung pikiran ratu. Tidak sangka ternyata ilmu keagamaan putrinya sudah mirip seorang guru yang memberi ceramah tausiyah tingkat tinggi.
"Lepaskan sedikit beban di hati Ibu ke alam. Biarkan hukum alam bertindak tegas tegakkan keadilan." Feng Ni menangkup punggung tangan ibunya yang pegang tangannya, lalu diberi tepukan pelan untuk menyalurkan kekuatan.
Air mata ratu mengalir penuhi tabung matanya, dan bersiap untuk meluncur keluar jika terpancing lagi.
"Feng Ni pulang untuk temani Ayah Ibu. Jadi Ibu harus lebih santai," mengusap mata ratu sebelum ada yang keluar.
"Iya, Putriku." mendekap erat tubuh Feng Ni yang menjadi penopang kesedihan.
3 jam kemudian....
Bapao sampai digerbang istana dengan membawa surat gulungan panggilan langsung berstempel sah.
Perihal kedatangan Bapao disampaikan Kasim Kim pada Feng Ni, setelah raja Xiao Se Mang menerimanya untuk bekerja.
"Terima kasih," ucapnya sudah dikasih info.
"Hamba pamit dulu," pamitnya membungkuk pada ratu dan putri Semangi, lalu berjalan mundur 3 langkah sebelum jalan maju.
"Ibu pasti akan suka masakan koki rekomendasi ini," ucap Feng Ni memapah ratu berdiri untuk lihat cara proses masak koki baru istana.
Tidak lama, kabar kedatangan Bapao diketahui 3 saudara lainnya di dalam mercusuar.
"Akhirnya Bapao tiba dengan selamat," ucap bahagia lega perasaan Da Min.
"Iya. Jadi kita juga akan tau info terbaru," sahut Fun Cin.
"Kita juga bisa kecipratan makan istana," tambah Da Min berharap lebih baik untuk dapat makan asli selain pil racikan Ling Ni untuk mereka.
"Jangan berharap," celetuk sindir Ling Ni, berjalan menyenggol bahu Da Min.
"Kamu ini gak bisa hidup tenang tanpa ngajak aku gaduh ya!" ujar Da Min menunjuk Ling Ni berjalan mondar mandir.
"Kamu yang tidak tenang,jika lihat aku bahagia," balas Ling Ni berkacak pinggang, berhenti mondar mandir.
"Sudah, sudah, sudah. Jika kalian begini terus,musuh akan gampang hancurkan kekompakan kita." abang tertua selalu dibuat puyeng dengar debatan adiknya, yang tidak habis dibahas.
"Dia." Da Min, Ling Ni saling tuding dan menghempas pandangan ke arah lain.
"Kalau kalian sering bertengkar, bisa-bisa kalian jadi suami istri di kehidupan ini," keluh Fun Cin menggeleng kepala.
"Apa ?? Suami?? Tidak!!" frontal Ling Ni menolak.
"Idihhh.... Siapa pula mau punya istri macam kamu ini?" cibir Da Min menunjuk penampilan Ling Ni jauh dari wanita lembut dan pengertian.
Huffff.....
Baru terpancing sedikit kedua adiknya kembali berdebat, dan dia berhela nafas panjang jauhi orang yang bergaduh balik.
"Sepertinya mereka bakal jadi suami istri," gumam Fun Cin duduk dipojokkan jendela lihat keadaan.
Mata Da Min dan Ling Ni berkorbar api kesal yang sama-sama tidak sudi dijodohkan.
Malah mereka sama-sama mengeraskan ego untuk tidak ada perasaan lain selain teman, saudara.
__ADS_1
Keduanya pun berpisah arah beda untuk tidak terlalu saling bertatap muka.
**