
Beberapa hari kemudian, So Po Ta dijemput Feng Ni yang sedang bersiap untuk menjemput dirinya.
"Saya pergi jemput guru dulu," pamitnya pada 4 saudara.
"Iya," sahut Fun Cin membiarkan adiknya keluar seorang diri.
Feng Ni pun keluar, sementara Ling Ni mengomel tak karuan pada abang perguruan tertua yang biarkan Feng Ni keluar seorang diri tanpa ada yang menemani.
"Kenapa kalian membiarakan Feng Ni keluar seorang diri? Kalau ada apa-apa bagaimana? Apa kalian mau tanggung jawab? Apa kalian akan bisa membantunya? Dasar kalian ini!"
"Bilang saja kalau kamu mau ikut," celetuk sindir Da Min mengertakkan kedua kakinya.
Hahaha.....
Dan Bapao pun ikut tertawa pelan. Benar apa yang dikatakan Da Min bahwa sesungguhnya Ling Ni mengoceh sekedar tidak ingin ditinggal bersama 3 pria.
"Sudah. Jangan buat keributan," sahut Fun Cin merelaikan perdebatan tidak pada waktu dan tempat yang cocok.
"Dia itu loh, Bang," adunya manyun, sambil nunjuk Da Min yang keseringan mengolok dia.
"Kamu jangan suka sindir dia. Kita sekarang bukan di tempat latihan, tapi ada di dalam istana. Jadi wajib kita semua jaga etika demi wibawa Feng Ni!" sebagai abang dan juga seorang ksatria yang sudah pernah ikut bela negara, dia paham harus berbuat apa. Dan merupakan kewajiban untuk menasehati adik-adiknya untuk kompak.
Ketiganya ngangguk paham dengan ceramah nasehat abang tertua.
Tapi yang namanya habis berseteru mereka saling berpaling wajah dan diam-diaman pada posisi enak mereka.
Hari sudah siang, Feng Ni yang keluar sedari pagi buta juga belum kembali bersama guru mereka.
Timbul rasa kecemasan Fun Cin melihat bawah mercusuar dari daun jendela, tanpa diketahui adiknya yang lain.
"Bang, kita makan dulu." Bapao memanggilnya untuk berkumpul makan siang bersama.
"Iya," sahutnya membalikkan badan, berjalan samperin adik-adiknya.
Bapao membagi potongan kue kering dalam ukuran bundar gepeng besar. Emang rasa kue itu tidak selezat sewaktu pertama kali selesai dimasaknya, namun mau bilang apa jika kondisi mereka tidak memungkinkan Bapao untuk buat api memasak makanan baru.
Biarpun tidak enak lagi, mereka tetap harus mengunyah sampai habis demi ngisi perut mereka.
Sesekali muka mereka mengernyit untuk gigit potong alot(keras melar mirip permen karet), tapi ada sensasi yang buat mereka satu sama lain tersenyum dalam tanda kutip geli lihat wajah saudara mereka yang kesusahan mengigit apa lagi mengunyah.
Tidak usah dibahas apa yang mereka senyumin, mereka juga paham sendiri.
"Bang, Feng Ni dan guru kok belum datang ya?" tanya Bapao, mengunyah gigitan kue alot atos.
"Mungkin tunggu malam," sahut Fun Cin berpikir positif, tidak ingin buat yang lain ikut gelisah tak menentu.
Yang lain pun ngangguk, karena Feng Ni akan leluasa bergerak saat matahari tidak menerangi langkah gerakannya.
**
Senja mulai berporos di sisi barat, Fun Cin yang kembali menunggu adik dan Guru-nya datang masih tampak tenang dalam kecemasan.
__ADS_1
"Abang lagi ngapain ?" tanya Da Min menghampiri.
"Lihat keadaan," dalihnya tidak ingin buat gelisah yang lain.
"Ohhh....Biar gantian sama aku," sarannya karena cukup lama lihat abang mereka berdiri di daun jendela tertiup angin kencang.
"Tidak apa. Kamu dan yang lainnya istirahat saja. Pulihkan dulu kesehatan kaki, biar tidak nyeri saat bergerak nanti." Fun Cin menepuk pundak Da Min 2 sampai 3 kali.
"Baiklah," nurutnya untuk beristirahat.
Sementara adiknya pada beristirahat, mata Fun Cin yang tajam mengawasi para prajurit dari ketinggian puluhan meter, melihat prajurit yang coba masuk ke dalam mercusuar.
"Da Min, Ling Ni, Bapao bangun!" panggilnya bergegas pada 3 orang yang duduk posisi mata terpejam.
"Ada apa Bang?" Bapao membuka sipit matanya yang ngantuk, disusul 2 lainnya.
"Ada prajurit ke sini," sahutnya untuk bersembunyi ditempat mereka bisa sembunyikan diri.
4 orang itu bergegas sembunyi, ada yang di balik patung besar, ada juga yang di dalam peti berisi tumpukan kain, ada yang bersembunyi menggantung pada langit-langit atap bangunan, dan ada juga yang bersembunyi di balik pintu.
Tap....Tap....
Langkah berat menaiki anak tangga kayu terdengar semakin dekat dengan mereka.
"Tempat ini tampak seram," keluh celingukan prajurit 4 di bawah 3 prajurit di atasnya, sambil bawa peti ukuran kecil.
"Apa boleh buat," ujar prajurit 1 yang menarik peti berukuran besar dengan prajurit 2 di bawahnya.
"Siap!" prajurit 3 percepat menaiki anak tangga kayu.
Sesampainya prajurit 3, dia membuka pintu yang tertutup tanpa gembok.
Cekrekk....Ngikkkk....
Betapa nyaring suara pintu tergeser. Tetapi bau debu menerpa mereka tidak menyambut kedatangan 4 prajurit dengan kotak peti di tangan mereka.
"Aneh, tempat ini kok sedikit bersih?" prajurit 2 menaruh rasa curiga lihat sekeliling mercusuar agak beda.
"Iya," jawab prajurit 4, meletakkan peti pada sebuah rak di pojok dekat jendela.
Citt.....
Sesuatu berbunyi, buat 4 prajurit refleks untuk periksa bunyi tersebut.
Dengan hati-hati mereka berpencar untuk mencari bunyian tersebut.
Prajurit 2 mengatur arah temannya berpencar mengepung dan cari bunyi apa tadi.
Mereka mengambil tombak dan pedang yang tergeletak pada lantai itu, guna berjaga terhadap penyusup.
Citt...
__ADS_1
Lagi-lagi suara itu muncul dan waspadakan 4 prajurit untuk siaga 2 terhadap penyusup.
Citt.....Citt.....
Beberapa ekor tikus keluar dari sebuah lubang seukuran kepalan anak bayi.
Tikus-tikus itu berlari dan keluar dari pintu yang masih terbuka.
"Ohh.... Tikus," ujar prajurit 1, habis dilompati kakinya oleh serangga pengerat tersebut.
Lega sudah pasti dirasakan 4 prajurit. Mereka pun meletakkan kembali senjata yang dipegang, lalu keluar.
Pintu kembali tertutup, membiarkan kelam malam penuhi ruang mercusuar itu.
Huffff....
Fun Cin melompat turun dengan minim gaya tekanan gravitasi berpijak lantai. Lumayan pegal bergelantungan di atas langit-langit atap bangunan yang ternyata licin.
"Keluarlah!" ucap Fun Cin memanggil adik-adiknya yang bersembunyi pada tempat berbeda.
"Sudah pergi?" tanya Bapao keluar dari balik patung.
"Sudah. Aku panik loh," ujar Ling Ni mengelus dada berdebar kencang setelah muncul dari balik pintu yang terbungkus kain.
"Kita harus katakan pada Feng Ni, kalau tempat ini sudah tidak aman dijadikan tempat persembunyian kita semua," ucap Da Min keluar dari dalam peti dengan bantuan Bapao mengangkatnya keluar.
"Untung saja kita dilindungi dewa, dengan mengutuskan tikus-tikus tadi keluar dari sarang mereka," sahut Fun Cin tau asal suara tadi berbunyi, yaitu kaki Bapao yang bergerak ngeset.
"Hihihi....Iya." Bapao tertawa halus, menggaruk perutnya yang hilang buncit.
Jam makan malam sudah tiba, namun Feng Ni dan guru mereka belum kunjung pulang juga.
Awalnya 3 saudara itu percaya untuk tenang, tetapi sekarang mereka sulit untuk tenang sebelum tau apa yang terjadi dan dialami.
"Sebaiknya habis makan kita keluar cari Feng Ni dan guru." Da Min menyampaikan saran, gelisah yang tiba-tiba mengusik diri.
"Aku setuju," celetuk Ling Ni angkat tangan. Gadis itu memang sudah sejak tadi gelisah menunggu Feng Ni dan gurunya pulang namun sampai sekarang mereka belum juga kembali. Dia sangat khawatir.
"Tidak! Tidak ada salah seorang pun boleh keluar tanpa izin Feng Ni!" Fun Cin halangi niat mereka.
"Yahhh..... Untuk kali ini kita tidak patuh saja loh, Bang," keluh Ling Ni dengan wajah manyun manja.
"Boleh kan ,Bang?" tambah Da Min juga setuju.
"Tidak ! Kita tidak tau seberapa hebat kekuatan mereka. Kita juga tidak boleh menambah masalah baru." Fun Cin menjelaskan poin penting larangan darinya.
"Yahhh.... Tapi bagaimana jika Feng Ni dan guru butuh bantuan kita?" keluh Ling Ni dengan raut wajah cemas.
"Tidak." sahut tegas Fun Cin.
Biarpun hati merasa gelisah, dia tetap harus ambil sikap tegas untuk jaga keselamatan 3 adiknya, tanpa memberatkan saudari satunya lagi dan guru mereka. Walau sebenarnya di dalam hatinya tentu saja dia sangat mencemaskan Feng Ni dan guru yang belum juga kembali.
__ADS_1