
Semua duduk berkumpul setelah pantau keadaan agen yang masih terbaring atas tempat tidur.
Dia pun mulai bercerita dengan segala kasus dalam istana sudah hampir semua terselesaikan.
Ada yang dengan kesadaran diri sendiri mengakui tindak kejahatannya, dan atas kejujuran itu hukuman yang diterima tidak seberat beberapa orang yang memang harus dapat hukuman mati.
"Berarti usaha kita cari bukti tidak sia-sia," ucap Da Min penuh syukur.
"Benar. Dan terima kasih Abang-abang dan Ling Ni yang sudah berdedikasi untuk negeri kami." Feng Ni menunduk kepala hormat untuk 3 orang luar negeri sudah turut andil dan berdedikasi brantas KKN.
"Kamu jangan begini." Fun Cin canggung dapat kehormatan dalam jasa tak sebanding.
"Tidak apa Bang. Saya mewakili ayah dan seluruh rakyat ini, sudah patut berterima kasih pada semua," kembali nunduk.
***
Hari terasa cepat bergulir, dalam sekejap percakapan itu Feng Ni sudah hendak kembali.
"Kamu nginap saja, ya," rengek Ling Ni tahan Feng Ni pulang.
"Saya belum bisa. Lagian tadi belum izin pergi lama."
"Ya....Aku jadi sendiri," memasang wajah sedih.
"Kan ada aku," celetuk Da Min menarik lepas tangan Ling Ni.
"Enggak mau! Kan kamu tiap hari ejek aku terus," jawab nyolot tarik menarik.
"Sabar ya. Mereka itu kucing dan anjing," tambah bisik Fun Cin yang berbalas senyum lucu.
**
Feng Ni pulang ke istana, untuk berkumpul makan bersama keluarga.
Di sana seperti biasanya sudah menunggu anggota keluarga lengkap, termasuk 2 selir raja Xiao Se Mang mulai ikut makan bersama setelah beberapa bulan absen.
Tatapan yang sama, dan aura sama juga seperti 2 selir belum terima azab perbuatan jahat mereka.
"Hufff..... Sudah sakit cukup lama masih saja belum taubat," keluh batin Feng Ni bergeleng kepala.
"Sepertinya Kak Feng Ni kurang berkenan Ibu kami ikut kemari," ketus sindir putri selir Qi dengan lirikan mata keji.
"Benar sekali," tambah putri selir Xu dengan muka sombong.
"Yang Mulia," kedua selir mengadu dengan bahasa mata seolah sedang dianiaya.
"Benarkah itu?" sahut tenang Feng Ni , meraih cawan isi air. "Bukankah selama ini Kakak yang setiap hari pergi menjenguknya keadaan 2 selir."
Fakta yang dilihat banyak mata bawahan memang mengatakan hal yang dikatakan Feng Ni adalah benar. Tidak sekalipun putri-putri selir itu yang berkunjung masuk kamar menanyakan keadaan ibu mereka.
"Bukankah ini seperti air susu dibalas tuba?" kembali nyindir dengan intonasi lembut nan tegas.
Kedua selir terdiam terpojok. Tapi tetap saja perhatian Feng Ni merupakan sebuah bom yang bisa kapan dan dimana bisa meletus.
Nian picik sempit dangkal pikiran selir Xu dan selir Qi. Maka dari itu penyakit yang diberikan ratu bidadari tidak mungkin sembuh cepat pula.
**
2 bulan kemudian...
Tanda-tanda alat vital agen kembar mulai dapat menunjukkan progres positif.
Hari itu ketika Da Min dan Fun Cin membasuh tubuh mereka, mereka dapat respon pergerakan bola mata tertutup kelopak mata.
"Tuan...Tuan..." Da Min memanggil untuk dapat tanggapan.
"Jika kesadaran Tuan sudah kembali, bisakah beritahu kami?" tambah Fun Cin.
"Sepertinya itu hanya refleks saja Bang," sahut Da Min pupus harapan.
__ADS_1
Mereka kembali membasuh bersih tubuh orang terbaring.
"Bang.... Baju bersih ku letakkan samping pintu," ucap Ling Ni bersuara tinggi.
"Tunggu di sana dulu," bergegas tutupi tubuh agen dengan selimut tebal.
Fun Cin keluar untuk panggil Ling Ni masuk periksa tanda kehidupan yang sempat mereka rasakan.
"Baik," cepat ikut masuk cek pasien.
Ling Ni memeriksa denyut nadi pasien, dan juga beberapa bagian tubuh yang diperkirakan akan mudah bereaksi jika dapat stimulus.
Dengan palu kayu, Ling Ni mengetuk pelan dengkul pasien.
"Lihat!" Da Min nunjuk reaksi pada tangan agen kembar sedikit gemuk.
"Aneh??" Ling Ni bingung akan reaksi.
"Kenapa?" Fun Cin ikut natap bingung.
"Seharusnya kaki yang berespon," pindah ke kembar kurus untuk lihat reaksi.
Palu kembali mengetuk pelan dengkul kembar kurus, hasil reaksi kaki bergerak.
"Kamu kenapa lagi?" Fun Cin kembali bertanya.
"Ada masalah sama dia, Bang." Ling Ni nunjuk saudara kembar yang responsif beda.
Untuk keakuratan, Ling Ni harus memeriksa secara detail dengan serangkai tes anatomi.
Tidak lama, kembar kurus mengerjapkan mata berkunang-kunang kabur.
Sementara yang lain masih bantu Ling Ni mendiagnosis kembaran satunya lagi.
"Haus," ucap pelan kembar kurus.
3 orang memunggunginya tidak mendengar panggilan itu.
"Tanganku..." rutuknya nyentuh lengan yang putus.
"Aku mau ambil obat dulu," ucap Ling Ni.
"Ya. Cepat kembali," sahut Da Min memakaikan perban pada bekas luka habis amputasi.
Ling Ni berbalik, dan sedikit kaget tapi senang.
"Bang..." tangan lambai ke belakang,coba raih punggung saudaranya.
"Ada apa?" Fun Cin berputar balik.
"I-itu..." nunjuk kaget senang terharu.
"Cepat periksa kondisinya," ujar Fun Cin.
Ling Ni langsung ambil peralatan disampingnya.
Diperiksa keadaan orang yang sadar dan dalam kebingungan.
"Kamu cepat beritahu Feng Ni, kalau salah seorang dari mereka sudah siuman!" titah Fun Cin pada Da Min.
"Baik!" cepat keluar.
"Sekalian obatnya !!" jerit Ling Ni.
Semua kondisi kembar kurus dicek. Tak lupa mereka memberi beberapa pertanyaan ringan.
"Tuan,siapa nama anda?" tanya Fun Cin.
"Dimana ini? Kenapa tangan ini?" balik nanya.
__ADS_1
"Aku coba, Bang," bisik Ling Ni dan diangguk. "Kakak tampan, ingat siapa dia?" memiringkan tubuh agar orang itu bisa mengenali kembarannya.
Begitu lihat kembaran, kembar kurus coba bangkit dan menangis.
"Sepertinya lupa ingatan, Bang" bisiknya pelan.
"Tidak mungkin. Lihat saja, dia tau itu saudara kembarnya," mengelus dagu.
Da Min berlari cepat dengan kuda. Ketika sampai gerbang istana, siapa sangka bahwa pengamanan begitu ketat.
"Aku harus bagaimana?" keluh, mondar mandir celingukan.
Kebetulan Kasim Kim yang baru keluar dan berjalan jauh dari para prajurit, Da Min langsung narik Kasim Kim.
"Emmm....Emmm....." ronta Kasim Kim nginjak kaki penculik.
"Aduh..."
"Kamu berani sekali menculik seorang kasim ya!!" omel kasim Kim, meninju asal tubuh penculik.
"Kasim Kim....Ini aku!!" menangkis tangan yang makin kuat mukul.
"Da Min??"
"Iya. Ini aku."
"Ada apa kamu sampai berani culik saya!" hardik Kasim Kim mata melotot besar.
"Maaf. Jika bukan karena susah masuk, aku tidak lakukan ini." Da Min menangkup tangan di dada.
"Hempphh! Terus ada apa!!" ketus bertanya.
"Tolong sampaikan ke Feng Ni.Eh... Maksudku Tuan Putri, jika ada berita gembira setelah berbulan-bulan nunggu hasil"
"Apa maksud kamu....." Kasim Kim tau kemana maksud pesan tersirat.
"Iya. Jadi tolong sampaikan ya Tuan Kasim," tangan di dada terus memohon.
"Baiklah. Sekarang pulang sebelum ketahuan." Kasim Kim ngusir penyampai pesan.
Kasim cepat berbalik untuk sampaikan berita bahagia yang dibawa mata-mata rahasia sekaligus saudara perguruan Tuan Putri mereka.
Nafasnya hampir saja habis begitu tiba tempat Feng Ni sedang menyelesaikan pekerjaan luar ruangan.
"Tuan.... Putri...." pekik panggilannya ngos-ngosan capek berlari cepat.
Feng Ni berbalik pada orang yang manggil teriak dirinya.
Lihat Kasim Kim berhenti dengan tubuh membungkuk pegang lutut dan nafas putus-putus, Feng Ni yang berjalan hampiri.
"Ada apa Kasim Kim?" bertanya lemah lembut ciri khas seorang keluarga kerajaan.
"Hamba.... Hamba...." nunjuk kebelakang.
"Tarik nafas dulu," memandang pemandangan yang indah tersusun rapi,sambil biarkan Kasim Kim atur nafas.
Sekian detik setelah nafas normal, Kasim Kim membisikkan berita dari seseorang.
"Begitu ya," sahut Feng Ni dengan raut wajah dan sikap tenang.
"Benar Putri," mundur jaga jarak sopan santun.
"Tolong nanti belikan saya sesuatu ya?" pinta Feng Ni, masih harus tetap waspada pada mata-mata berniat jahat.
"Baik," ikuti Feng Ni berjalan.
Dalam ruang baca, Feng Ni menulis sepucuk surat yang akan diantar Kasim Kim. Tak lupa, dia minta Kasim Kim membeli semua bahan pokok obat berkualitas pilihan terbaik untuk dikirim ke rumah sewa.
"Hamba mengerti," pamitnya keluar ruang baca, sengaja buka lembaran kertas isi pesan lain.
__ADS_1
"Saya harus beli tinta warna, kuas kecil, pena bulu merak," sengaja membaca sambil jalan keluar.
**