
Cukup lama proses kesemuanya, dan buat Feng Ni terkapar pingsan setelahnya.
"Baru setengah sudah pingsan," sindir naga emas mengibaskan ekor pindahkan tubuh Feng Ni untuk beristirahat layaknya manusia normal.
Beralas bumi, pelindung langit dan berselimut daun talas, Feng Ni tidur dalam kedamaian setelah berbulan-bulan tidak pernah tidur.
2 hari kemudian.....
Feng Ni terbangun dari tidur panjangnya. Tubuh terasa sakit tapi ringan untuk digerakkan bebas.
"Saya seperti melayang," gumam Feng Ni berjalan melayang terhuyung-huyung tanpa disadari.
"Sudah bangun," sindir naga emas berbaring berjemur matahari pagi yang sehat.
"Iya, Kim Long," jawab Feng Ni merasa malu bisa tertidur tanpa ingin penuh kelanjutan setelah proses yang dilakukan naga padanya.
"Hari ini kamu latihan berjalan di atas air!" ucap naga emas, menunjukkan samudera yang membentang dihadapan mereka dengan kakinya.
"Berjalan di air?" tanya ragu Feng Ni. Hal mustahil yang dilakukan oleh manusia, bahkan gurunya So Po Ta tidak pernah melakukan hal tersebut.
"Ya!" sahut naga emas berubah ukuran raksasa, menarik tubuh Feng Ni lalu dicampakkan di atas air bergelombang lumayan tinggi.
"Tolong!" teriaknya ketakutan dalam gulungan ombak tinggi.
"Kau tidak boleh kembali ke daratan sebelum berhasil!" ujar Kim Long, membentengi perbatasan bibir laut dengan benteng transparan.
Feng Ni tidak tau apalagi yang diucapkan penjaga padanya. Yang dia tau sekarang ini dia dalam ambang hidup dan mati setelah tidur.
Gelombang mengulung tubuh Feng Ni, membanting, mengangkat tinggi, lalu masuk dalam gelombang.
Rasanya latihan yang ia dulu terima dari So Po Ta tidaklah sekejam saat ini.
Kegigihan seolah dilucuti rontok menjadi seorang pecundang yang gagal dalam medan perang.
Aaaaarrrggggghhhhhh.....
Sudah beberapa hari Feng Ni berteriak kencang sepanjang hari, tanpa berhasil melawan gelombang air yang menyiksa.
"Manusia jika tidak dipecut, tidak akan tau rasa sakit menjadi kuat," oceh ceramah naga emas kecil menonton atraksi sambil makan buah pemberian dewa bumi yang datang berkunjung beberapa minggu sekali.
"Aduh. Jangan terlalu keras mengajar seorang anak manusia, apalagi dia hanya seorang perempuan!" ucap dewa bumi membujuk untuk keringanan latihan.
"Sssttt.... Kamu jangan lemah. Jika tidak dilatih keras yang ada dewa langit berpikir aku ini pelit berbagi ilmu," sahut naga emas menyodorkan buah apel.
"Tidaklah mungkin." Dewa bumi menggambil apel pemberian.
__ADS_1
"Apanya tidak mungkin, hmm? Coba lihat diri kamu saat ini?" menunjuk pakaian hanfu tidak semegah jirah ksatria. "Jika dia lemah, mungkin kelak setelah mati hanya menjadi dewa dewi tingkat rendah," menyindir dengan fakta.
"Hahaha.... Kim Long terlalu menyanjung," ujar tawa dewa bumi tidak merasa dihina. "Alangkah bagusnya juga jadi dewa dewi bumi. Bisa dikenang terus setiap hari," memuji jabatan yang dianugerahkan.
"Iya. Tapi tidak punya waktu ke istana langit mencicipi makanan dan minuman surga," naga emas dibuat jengkel dewa bumi yang tidak punya ambisi sebesar dirinya.
"Lahir, tua, sakit, menghilangkan. Itu semua sudah ada jalan cerita. Begitu juga takdir dan tujuan keberadaan," dewa bumi berceramah dharma.
"Ya,ya, ya. Soal filsafat aku ngaku nyerah. Tapi jika kita adu kekuatan, pasti aku yang menang," jawab angkuh si naga emas kecil.
Melihat Feng Ni berlatih sebegitu bahaya, dewa bumi juga tidak bisa menasehati naga yang berpola pikir keras kepala.
Beberapa jam kemudian setelah puas berbincang, dewa bumi menghilang pergi untuk mengawasi keadaan manusia di bumi.
Kini tinggal naga emas yang berbaring nyantai tiduran.
Di tempat pelatihan, sebuah musibah tengah terjadi.
Keempat murid So Po Ta kedatangan pemberontak negara yang ingin merampas wilayah tempat latihan mereka.
Perkelahian sudah pasti tidak akan terelak. Kerusakan material juga sudah pasti ada.
Melihat tempat latihan mereka yang sudah menimbulkan keserakahan parah, So Po Ta berserta murid-muridnya membawa pindah material yang bisa dibawa sepanjang perjalanan membuat tempat latihan baru mereka.
Guru dan murid itu menuruni kaki gunung itu, berpindah pada gunung kembaran yang disebelah gunung mereka tempati.
Mereka harus mendaki gunung hingga ke puncak.
Gunung yang tidak memiliki kehidupan itu sama sekali mungkin akan mengakhiri kehidupan perjalanan sesampainya mereka.
"Guru,,di sana ada gua," ucap Da Min menunjuk samping kirinya, arah gua yang terlihat olehnya.
So Po Ta memerintahkan dirinya untuk melihat situasi sekitar gua yang dikatakan. Sementara yang lain juga melihat pepohonan tinggi yang mengelilingi mereka.
Beberapa jam kemudian....
Da Min melaporkan hasil pemeriksaan itu. Gua yang tidak berpenghuni dan sekitarnya yang layak di tempati, sangat cocok dijadikan rumah baru untuk mereka.
"Baiklah. Kalian menjauh dulu!" ucap So Po Ta pada 4 muridnya.
So Po Ta menetralisir aura negatif yang ada, sebelum mereka tempati. Biar bagaimanapun juga, tempat yang kurang terpapar sinar matahari akan banyak di tempati makhluk-makhluk tak kasat mata orang biasa.
Bulu kuduk Ling Ni dan Bapao berdiri merinding ketakutan, saat hembusan angin dingin oleh pepohonan tinggi bergoyang.
"Aku takut," bisik Ling Ni merangkul tangan Bapao.
__ADS_1
"Sama," jawab Bapao ada yang tidak beres dengan rumah baru mereka.
"Sssttt ....!!" ujar Da Min menoleh ke belakang.
Rrrrgggg.....
Terdengar gigi bergetar dari mulut Ling Ni yang kurang mengatup rapat.
Sebuah tepukan pelan pada punggung tangannya, makin buat ketakutan cetar membahana. Tangannya mencubit lengan Bapao yang padat daging empuk untuk dicubit juga.
Hssshhhh.....
Bapao meringis desah kesakitan dicubit Ling Ni, tapi tidak berani menjerit selagi guru mereka melakukan atraksi pensterilan.
Syuzzzz......
Angin kencang dan cepat menyapu wajah mereka.
Aaaaa.......
Ling Ni tidak kuat lagi menahan rasa teramat takutnya sedari tadi gurunya melakukan ritual sakral.
"Sssttt....!!" Da Min dan Fun Cin menoleh ke belakang.
"Aku mau pulang! Hiksss.... Hikss..." rengek tangis ketakutan Ling Ni mencoba gigit lengan empuk Bapao.
"Kemarilah!" ucap So Po Ta memanggil Ling Ni.
Ling Ni menggeleng nolak untuk dekati gurunya yang juga ikut terlihat menakutkan.
"Sana!!" ujar Bapao melepaskan orang yang berusaha nyiksa sedari tadi.
"Ling Ling!" So Po Ta memanggil dengan tatapan dingin.
Da Min menarik Ling Ni untuk segera hampiri guru mereka yang sudah membelakangi mereka.
"Aku takut. Muka guru seperti....." jawabnya penuh ketakutan, tidak berani melanjutkan jawaban.
Ling Ni memilih bersembunyi di balik punggung Bapao yang mampu menyembunyikan dia seutuhnya.
"Kalian bereskan tempat ini sebelum kita tempati!" titah So Po Ta memerintahkan 4 murid.
"Baik," jawab 3 murid pria.
Ling Ni terus ngintilin Bapao pergi, dirinya masih merasa takut lihat wajah So Po Ta yang masih beda biasanya.
__ADS_1
"Kamu ini gak bantuin, yang ada nyimak saja," keluh Bapao susah bergerak membuat tempat tidur untuk mereka berlima.
"Pokoknya aku ikut," rengek manja Ling Ni tidak ingin ditinggal melakukan apapun sendiri.