
Wanita pemilik rumah mengangguk dengan wajah kikuk dengar pertanyaan Ling Ni tanpa jeda tarik nafas.
Tangan wanita pemilik rumah menunjuk arah depan pagar rumah, yang berarti Da Min memang sedang tidak ada dalam rumah.
Tanpa a,i,u,e,o lagi Ling Ni berjalan langkah seribu keluar mencari saudaranya yang jalan pincang nyeret.
"Da Min...!!" teriaknya memanggil orang yang memunggungi dia.
Orang itu pun berhenti dan menoleh kebelakang.
"Loh! Bukan Da Min?" gumam Ling Ni kalah malu sudah salah panggil orang.
"Nona panggil saya?" tanya pria yang juga pincang berjalan nyeret.
"Bukan-bukan, tapi sedang panggil anak tetangga," asalnya menjawab, sambil garuk-garuk tengkuk tidak gatal.
"Oh," pria pincang pun kembali berjalan.
Tap ...Tap ....
Seseorang menepuk pundaknya 2 kali, dan tentunya efek refleks diberikan Ling Ni yang punya ilmu kungfu.
Hiatttt...
Ling Ni menangkap tangan orang yang masih nempel di atas pundak. Ketika dipelintir tangan orang itu bersama dirinya berbalik, dia langsung melepaskan putaran tangan.
"Tempo hari kaki, sekarang sengaja tangan juga!" Da Min menyindir dengan tatapan dingin.
"Eh .... Abang Da Min. Enggak mungkinlah. Aku kan masih adik yang baik," sahut manja Ling Ni cengengesan menahan malu, sambil bantu rapikan pakaian Da Min yang sedikit kusut dibuatnya.
"Hmm... Tapi rasa-rasanya aku tidak percaya," Da Min memajukan muka, dengan tatapan kosong. Karena pikiran dan jiwanya sedang mencemaskan saudara lainnya, hanya raga tertinggal menemani Ling Ni.
"Harus percaya. Ayo masuk, angin di luar masih kencang," dalih Ling Ni muka memerah semerah tomat, dan membalikkan tubuh Da Min untuk masuk dan berpamitan.
Usai sarapan dan cuaca agak sedikit hangat, mereka pun berpamitan untuk lanjutkan perjalanan. Perjalanan yang akan sampai tidak kunjung malam tiba meski berjalan perlahan.
Sekarang hari sudah sore, mereka pun sudah tiba di depan gerbang masuk istana.
"Prajurit yang baik, tolong izinkan kami bertemu Tuan Putri Feng Ni," pinta Ling Ni sedikit tebar pesona.
"Sana pergi ! Tuan Putri tidak ada di tempat," prajurit menghalau dengan tombak menyilang,ngusirnya juga ketus kasar.
"Pasti ada kok." Ling Ni mengedipkan 1 matanya.
"Husshhh....Sana pergi " prajurit satunya lagi mendorong tubuh Ling Ni menjauh.
"Sudahlah." Da Min membujuk, narik Ling Ni yang terdorong ke belakang.
"Kamu diam saja!" ujar ketus Ling Ni tidak terima di kasari, tangan menghempas tangan Da Min. "Hei!! Kalian apa tidak tau siapa kami,ha!!. Bakal nyesel kalian sudah berani berbuat seperti ini pada...." ujarnya dengan tangan nunjuk nuding prajurit yang menghalanginya, namun terhenti dengan mulut dibekam tangan Da Min.
"Maaf, kami akan pergi," ucap Da Min menarik Ling Ni hindarkan keributan.
"Lepaskan ! Akan aku buat perhitungan dengan mereka!" bentak berontak Ling Ni ditarik menjauh gerbang istana.
__ADS_1
"Kamu ini gegabah banget. Pakai otak lebih baik dari pada otot." Da Min berceramah sambil maksa Ling Ni berjalan ikuti dia.
Sampai mereka di dinding tembok tak berpenjaga di atasnya, diri mereka ditarik dengan cepat oleh orang lain.
"Bapao," ucap Da Min menoleh.
"Bang Bapao," celetuk Ling Ni berbalik dan meluk.
"Sssttt..... Jangan berisik, ikuti aku." Bapao menutup mulut saudaranya yang akan manggil prajurit.
Da Min dan Ling Ni mengangguk dan ngikutin Bapao.
Sampai dibutuhkan tempat mereka harus berlari secepat cahaya, Da Min tidak mungkin ikut lagi, dikarenakan kakinya yang hanya akan jadi hambatan belaka.
"Mana Da Min?" tanya Bapao tidak lihat Da Min saat berbalik.
"Gawat ! Da Min tidak bisa berlari," sahut Ling Ni, baru tersadar kondisi Da Min.
"Kamu tunggu di sini!" ucap Bapao menyembunyikan Ling Ni dalam keranjang sayur.
"Baik." Ling Ni siap ditutupi sayuran.
Bapao kembali ke tempat sebelumnya untuk menjemput Da Min, dan untungnya saudaranya itu belum ketahuan prajurit yang bergantian sift jaga.
"Sini aku gendong," ucap Bapao berjongkok membelakangi Da Min.
"Tidak usah." Da Min sungkan digendong.
"Cepat, waktu kita tidak banyak." Bapao sudah hafal pergantian prajurit penjaga yang tidak lama.
Mereka tiba dimana Ling bersembunyi, tapi Bapao tidak menurunkan Da Min karena masih harus berlari berkumpul dengan abang tertua mereka.
Hoshh....Hoshhh .....
Terdengar jelas suara ngos-ngosan kecapean Bapao di telinga Da Min.
"Maaf!" ucap Da Min merasa bersalah dan dapat anggukkan Bapao masih berlari kencang.
Sesampai disebuah ruangan tertutup, Bapao berhenti dan menurunkan Da Min.
"Ayo masuk," ucap Bapao membuka pintu di depannya.
"Baik," serentak jawab.
Mereka ngikut dan ternyata mempertemukan mereka kembali, dan yang akan tersusul berkumpul dengan guru dan 1 saudara seperguruan mereka.
4 saudara duduk berkumpul membahas rencana untuk membantu Feng Ni kapan pun juga.
"Kalian ingat, utamakan keselamatan Feng Ni," ucap Fun Cin ke topik utama rencana mereka.
"Siap. Paham!" mereka pun serentak jawab.
Mereka pun sedikit rileks setelah merencanakan. Fun Cin pun baru bertanya keadaan Da Min dan Ling Ni sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Awal cerita, Ling Ni bercerita segala kejadian yang dialaminya begitu horor, sampai bagian Da Min bisa terluka sedemikian rupa.
"Aku pikir kamu lupa penyebab kakiku begini." Da Min menyindir dengan ekor mata tapi muka bertatap Bapao yang gantikan obat di kakinya.
"Memang keputusan guru tepat membagi kelompok kita," sahut Bapao tidak mengerti dunia pengobatan, hanya bisa mengikuti arahan protokol pembimbing.
"Kurang tepat. Cocoknya dia sendiri lewat jalur gunung," cibir Da Min keluarkan uneg-uneg beberapa hari tersiksa sendiri.
"Apa kau bilang!!" suara Ling Ni menekan tinggi,mata melotot lebar.
"Sudah, sudah, sudah." Fun Cin menarik duduk Ling Ni ke tempat semula.
"Dia itu ngeselin banget, Bang. Selalu repot mau makan dan tidur." Ling Ni mengeluh keluh deritanya.
"Elehh....Sama. Dia itu takut dengar suara sedikitpun" celetuk Da Min ikut ngadu.
Huffff.....
Fun Cin dan Bapao menghela nafas membiarkan saja 2 orang itu berdebat keluarkan keluhan mereka masing-masing.
"Untung Abang pilih tempat yang tidak dikunjungi prajurit," ucap Bapao, melihat kiri kanan orang yang berdebat hebat.
"Hahaha.... Ini tempat yang dulu Feng Ni tunjukkan, jika tidak kedatangan kita sudah jadi masalah untuk Feng Ni," sahut Fun Cin mengingat kejadian tahun lalu saat masuk istana kayak penjahat.
"Kalian lapar nggak?" tanya Bapao mulai laper.
"Iya," serentak jawab 2 orang yang berdebat.
Bapao dan Fun Cin tersenyum lucu,dan Bapao mengambil bungkusan isi banyak kue kering yang ia buat banyak dan bisa di simpan banyak hari, sebelum mereka terobos masuk istana.
Mereka masing-masing menikmati makanan kue kering yang melempem masuk angin, namun terasa enak karena disantap bersama.
Malamnya mereka tidur beralaskan jerami tipis yang disusun Ling Ni dan Bapao. Lalu mereka menatap langit-langit atap bangunan, membayangkan sedang menatap bintang-bintang di alam bebas.
Tangan Ling Ni mengulur ke atas seolah dirinya sedang menyapa bintang-bintang bertaburan bebas.
"Bintang libra, menunjukkan keadilan. Scorpio setia kawan," gerutu Ling Ni membayangkan 2 rasi bintang sedang ada di tangan.
Dari semua bintang, yang disukai olehnya hanya itu karena bintang yang lain seakan menjauh jaga jarak untuk didekati.
Malam kian larut pekat, mata mereka juga sudah lengket ngantuk akibat lelah.
Zzzzzzz...
Dengkuran Bapao dan Ling Ni seakan bersahutan dan bercerita panjang.
Fun Cin dan Da Min pun memilih untuk tidur menjauh, dan mengambil jerami menutup telinga mereka.
Dengkuran 2 orang tadi juga jadi paduan nyanyian okestra serangga malam yang bersiap sambut musim dingin beberapa hari lagi.
Ngikkkk....Ngokk.... Beerrrr.....Krikk....Krokk....
Di tempat lain bagian istana, Feng Ni masih enggan sadar. Dia masih dijaga langsung naga emas kecil yang takut jiwa Feng Ni dimanfaatkan kaum iblis.
__ADS_1
"Cepat bangun, hei Nona!" ujar naga emas jalan mondar mandir di jidat Feng Ni.
Bukan tidak bisa membangunkan langsung, tapi akan lebih baik jika bisa bangun setelah berpikir jernih.