
Kedatangan So Po Ta dan naga emas sudah ditunggu pemimpin para bidadari.
Namun tidak akan mudah bagi So Po Ta untuk langsung mengatakan keinginan mereka datang ke pulau ini.
"Mari minum teman," ucap pemimpin bidadari, mengangkat cawan ke depan.
"Terima kasih," ucap So Po Ta.
Sedangkan naga emas dengan wujud raksasanya jadi sorotan primadona antara kaum bidadari yang ingin melihat dekat naga sakral yang dipuja-puji seluruh alam.
"Kim Long, jika saya kelak jadi dewa. Bisakah anda jadi pelindung saya?" pinta seorang pemuda berdarah keturunan campuran.
Goarr...
Kim Long mengoar, yang berarti boleh jika ada jodoh terjalin kemudian.
Suara yang mengaum keluar dari moncong naga itu adalah bukti akan adanya dirinya dan leluhurnya sejak jutaan abad silam.
Satu persatu tangan bidadari berdarah campuran itu coba mengelus punggung naga yang amat panjang, dengan warna keemasan mengkilau dan tanduk bercabang.
So Po Ta masih di dalam sebuah ruangan bersama pemimpin kaum, untuk membahas kelanjutan tujuan mereka datang.
Pembahasan yang masih belum jelas alur kedatangannya, pembahasan yang masih menunggu waktu tepat untuk diomongin mereka.
Sementara itu, naga emas yang gagah perkasa membopong terbang beberapa bidadari kecil. Dia bersalto melingkar mempertunjukkan kehebatan dirinya yang bisa meliuk-liuk indah dengan tubuh besar serta panjang.
Yeahhh....
Yuhuu....
Teriak bahagia bidadari kecil yang terbang beratraksi naik di punggung sang naga raksasa.
Sorakan bahagia mereka terdengar hingga tepi laut yang mengelilingi pulau mereka dan lapisan langit pertama.
.
Langit pertama
.
"Emmmm.... Asal suara mana ini?" tanya seorang dewa tingkat rendah yang mengurus kuda putih bercula satu pasukan langit.
"Iya. Suara manusia biasa tidak mungkin bisa menembus alam ini," sahut dewa lain, berhenti menyikat punggung kuda.
Ngikkkk.....Ngikkkk.....
Kuda-kuda pada meringkik, bergejolak minta lepas dari kandang kuda yang membelenggu mereka setiap hari.
"Tenang, tenang, tenang!" ucap dewa ke- 3 lain, menarik tali pelana agar kuda yang dilayani tidak memberontak.
Ngikkk...Ngikkkk... Beerrrr....
Bukan lebih tenang, tetapi kuda-kuda dengan tenaga penuh coba bobolkan kandang mereka yang dilapisi mantra-mantra.
"Ini pasti karena suara itu," keluh dewa ke-2, menepuk lembut punggung kudanya.
__ADS_1
Dua dewa lain ngangguk setuju, mereka juga kesulitan untuk tenangkan ringkikan kuda yang pinta keluar bebas.
Ringkikan puluhan kuda tersebut terdengar sampai lapisan langit kedua, dimana para peternak unggas seperti merak dan bangau ikut terganggu.
Koakk....Koakk....
Bangau dan merak terus mengepakkan sayapnya, menghamburkan dedaunan kering yang habis tersapu bersih oleh dewa penjaga mereka.
"Huffff.... Baru disapu, berantakan lagi," keluh dewa muda di ujung langit ke-2.
"Sama," sahut temannya, dimana susah membersihkan kotoran unggas setelah terpisah dari sampah.
Suara unggas-unggas itu tengah menganggu ketenangan langit lapisan ketiga, dimana para dewi-dewi sedang bercocok tanam menanam aneka buah surga.
"Mengapa unggas-unggas itu resah ya?" tanya dewi 1 pada dewi lainnya.
"Iya, tidak seperti biasanya," sahut dewi ke-3 berkumpul di tengah pusat kebun buah mereka.
Semua telinga mereka mendengar suara koakkan unggas-unggas, yang seakan ada makhluk lebih tinggi dari mereka menyerukan sebuah perintah.
"Pasti dewa-dewa sulit menenangkan mereka," ujar dewi ke-6, membawa keranjang berisi benih buah peach.
Tidak ada yang bisa mereka perbuat untuk membantu dewa-dewa di langit bawah untuk nenangkan hewan langit yang bergejolak. Karena mereka sendiri juga sukar menabur benih, jika langit lapisan ke-3 tempat mereka berpijak otomatis terselubung lapisan mantra, seakan memblokir tanaman yang sudah tumbuh berkembang lenyap.
.
Bumi
Hahaha....
Tawa bidadari kecil puas diajak terbang tinggi hampir ke surga, tempat tujuan mereka setelah berhasil dengan segala ujian kehidupan mereka di alam manusia.
"Maaf " para bidadari kecil menunduk cemas sedih.
"Tidak apa. Lagian di surga itu terlalu tidak ada kehidupan," celetuk Kim Long, menurunkan seorang bidadari kecil meluncurkan mulus sampai ekornya.
Mata bidadari wanita itu menatap bingung. Mengapa Surga yang jadi tempat tujuan mereka tidak ada kehidupan? Apa karena tidak ada kehidupan di sana, maka salah satu orang tua mereka yang berjabat dewa dewi melakukan kesalahan dengan menikahi seorang manusia.
Pertanyaan itu melekat pada pikiran bidadari wanita yang bertampang melamun menghayati pertanyaan sendiri.
Goarr...
Auman naga emas membuyarkan pikiran melamun bidadari wanita itu.
"Kamu tidak usah memikirkan apa yang lalu terjadi. Tapi jalani dan hadapi yang akan terjadi." Kim Long menasehati bidadari wanita itu dan juga bidadari kecil yang meluk dan ngelus tubuhnya penuh sisik.
"Baik," sahut bidadari wanita tersadar dari lamunannya.
Usai tebar kejayaan dan pamor,naga emas menyusul masuk ke dalam ruangan untuk ikut berdiskusi.
Masih tidak ada pembahasan yang spesifik terlontar keluar mulut So Po Ta setelah sekian jam duduk sambil ngeteh.
"Kim Long," ucap pemimpin bidadari, berdiri menyambut masuk naga emas dengan wujud kewibawaan.
"Sudah lama kita tidak bertemu, pasti kau juga sudah menunggu hari ini tiba," ujar Kim Long melayang tidak terbang bebas pada seseorang selain pemimpin itu.
__ADS_1
"Sudah pasti tentunya," jawab sopan pimpinan bidadari,ngira dia yang diajak bicara.
Wajah pemimpin bidadari juga terlihat gerogi,serba salah untuk bertutur kata dengan makhluk sakral di depannya.
"Keluarlah, jangan hanya diam di sana," ucap Kim Long, membuka pelapis penutup di balik tahta yang kosong.
Spicles tentunya pemimpin bidadari, mengetahui bukan dirinya sedari tadi diajak berbincang.
Goarr....
Aumannya membuka pelapis pelindung mantra, membangunkan ratu bidadari yang memilih tetap tinggal di pulau bidadari setelah ujiannya selesai dan dapat gelar dewi di surga.
"Hamba terlambat menyambut anda," ucap Ratu bidadari, membuka sayup-sayup matanya.
"Kamu pasti sudah tau, keperluan aku kemari," lanjut Kim Long, berubah jadi naga emas kecil.
"Maaf, hamba tidak bisa memprediksi kedatangan Kim Long yang agung," jawab Ratu bidadari, keluar dari balik singasana.
"Tidak apa. Kita teman lama, harus saling memaklumkan," naga emas kecil memilih duduk di singgasana bidadari.
"Kamu keluar dulu " titah lembut ratu bidadari pada pemimpin.
"Baik Yang Mulia," sahut kagum pemimpin.
Wajah ratu bidadari yang bak dewi surga memang membuat siapapun yang lihat akan terkagum-kagum.
Bukan karena kecantikan, melainkan aura yang memikat lekat keluar terpancar.
So Po Ta pun membungkuk memberi hormat pada ratu pemilik pulau bidadari sesungguhnya.
Ya, kedatangan mereka memang ada hubungan dekat dengan sang Ratu. Ratu yang berabad-abad tidak menampakkan diri, hanya diwakili seorang pemimpin yang terpilih berganti setelah pemimpin lama kembali menetap di alam surga dengan tugas besar.
"Silahkan duduk," ucap Ratu bidadari, persilahkan So Po Ta kembali duduk.
"Terima kasih." So Po Ta kembali duduk.
Untuk sesi ini, So Po Ta membiarkan naga emas untuk berdiskusi dengan sang ratu. Sedangkan dirinya duduk menyimak.
"Ada keperluan besar apa Kim Long sampai membangunkan saya dari pertapaan ini?" tanya ratu bidadari memilih duduk berdiskusi di samping kursi tahta singgasana.
"Meminta 3 janji kamu," jawab naga emas rebahan di kursi singgasana yang amat besar untuk tubuh kecilnya.
Ratu bidadari coba mengingat,apa pernah ia berkata untuk mengabulkan 3 permintaan sang naga kecil di samping kursinya.
Flash back...
Jutaan ribuan tahun lalu, sewaktu ratu bidadari sebelum menjadi ratu seperti sekarang, masih seperti bidadari kecil yang ngluntang nglangtung di bumi yang kacau, dia pertama kali bertemu naga emas yang juga masih baru menetas keluar dari cangkang raksasa.
Persahabatan mereka di mulai sejak itu, saling membantu satu sama lain hingga mencapai tujuan mereka.
100 tahun persahabatan itu, mereka telah memiliki kekuatan spiritual yang mereka tempah dari guru yang sama,yaitu dewa bintang timur.
"Naga, nanti suatu saat setelah aku bisa sampai jadi Dewi di surga, kamu harus bersama aku jadi dewa di sana," ujar ceplos Ratu bidadari sewaktu kecil, rebahan di pinggir pantai menunjuk langit biru dengan awan putih seputih kapas.
"Wkwkkkk....Benar boleh?" tanya tawa naga kecil.
__ADS_1
"Tentu boleh. Kita bersahabat baik. Jika tidak percaya,kamu boleh minta 3 permohonan padaku kelak," tangan terangkat tinggi, menjulur dengan 2 jari bentuk V.
"Baiklah, setelah aku minta kamu kabulkan 3 janji permohonanku padamu," jawab naga, mengaitkan ekornya dengan jari kelingking calon ratu bidadari.