
Kelamnya malam bertiup dinginnya angin, buat 4 orang itu semakin duduk menunggu gelisah sepanjang hari.
Di luar balik tembok pembatas istana, orang yang mereka cemaskan justru sedang mengumpulkan bala bantuan yang mengerti tentang hukum serta peraturan perundangan yang telah ada.
Disalah satu rumah seorang menteri, dimana telah berkumpul beberapa orang lainnya dengan sepemikiran, mereka juga siap untuk ikut serta membantu Feng Ni dengan sekuat tenaga mereka.
"Akan lebih baik jika Putri kembali seakan tidak terlalu banyak tau tentang kejadian terkait menimpa keluarga kerajaan," pejabat Lim memberi saran agar Feng Ni bisa membawa mereka masuk istana tanpa kecurigaan mencolok.
"Benar apa yang disarankan pejabat Lim. Dengan begini, musuh yang berkedok juga tidak akan curiga," tambah seorang pria cendikiawan.
Feng Ni berfikir sejenak, memang benar apa yang telah disarankan beberapa orang itu. Akan tetapi, dia juga harus berakting menjadi Tuan putri yang lemah serta mudah tertindas.
Demi menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat, dan keluarganya yang telah jadi korban kehausan serta serakah, maka Feng Ni pun bersedia.
Dan untuk itu, esok pagi dia harus mengirim surat ke istana seolah minta di jemput kepulangan dirinya.
Usai rapat itu, Feng Ni pun kembali ke istana secara diam-diam untuk memberitahukan rencana baru.
Sementara itu, So Po Ta dan ratu bidadari menjadi tamu istimewa di rumah pejabat Lim untuk bermalam 1 hari.
2 ruang kamar telah disiapkan untuk mereka bermalam. Kamar dengan tempat tidur layak serta selimut yang tebal cukup hangatkan tubuh mereka tanpa harus menguras sedikit energi selama ini.
Dalam kamar tamunya, So Po Ta duduk bersila di atas tempat tidur itu. Ia tidak hanya bermeditasi tapi ia juga mengundang makhluk suci lainnya tidak kalah sakti hebat seperti naga emas.
"Wahai Phoenix agung, hamba mohon bantuannya dalam penegakkan hukum di negeri ini," pintanya dalam alam meditasi.
Koakkk......
Phoenix menjawab dan terbang melayang mengelilingi jiwa So Po Ta yang sama berposisi duduk meditasi.
"Terima kasih Phoenix."
Wujud Phoenix itu terbang menungkik masuk dan bersatu dengan jiwa So Po Ta.
Hal itu dilakukan karena memang dalam jumlah personil prajurit, mereka jauh beda. Selain meminta pertolongan makhluk suci, So Po Ta tidak mungkin melibatkan rakyat jelata atau minta pertolongan dari negeri lainnya.
Begitu pula ratu bidadari yang mengundang harimau putih untuk bergabung dengan mereka menuntaskan raja iblis baru yang muncul, setelah berpuluh abad kehidupan di bumi damai tentram.
Dengan cepat harimau putih penjaga gunung salju abadi menyetujui undangan ratu bidadari.
Hanya cukup memberitahukan kapan dia perlu datang beraksi memberantas kejahatan di dunia fana.
3 hari kemudian. Ya 3 hari yang ditunggu sudah sampai juga dengan persiapan matang.
Kasim Kim keluar istana dengan berkendara kereta kuda untuk menjemput Tuan Putri kerajaan Semangi sesuai isi surat tertulis, yang menunjukkan tempat dan waktu dia sedang menunggu.
Hiakkk.... Ciattt.....
Kusir memacu kereta kuda lebih cepat, agar tidak membuat tuan putri mereka menunggu dalam jemputan.
4 jam kemudian kusir sampai pada sebuah tempat danau di luar batas istana.
Kasim Kim bergegas turun dari kereta kuda, dan berlari datangi paviliun danau sebelum tuan putri mereka tiba.
Ternyata dugaannya salah, di paviliun itu sudah ada seorang gadis berpakaian sangat sederhana duduk menunggu sambil memainkan bidak catur yang terukir permanen papan permainan catur.
"Hamba memberi hormat." Kasim Kim langsung bersujud memberi hormat.
__ADS_1
"Berdirilah," masih fokus memainkan permainan tunggal yang menggerakkan 2 bidak secara bergantian.
"Maaf, hamba telat." Kasim Kim tidak berani berdiri setelah membuat tuan putri mereka menunggu cukup lama, terlihat dari permainan yang sudah banyak langkah.
"Tidak apa. Sini temani saya selesaikan permainan ini dulu," tangan mengulur mempersilahkan kasimnya.
"Baik." Kasim Kim berdiri gemetar karena biar pun lebih tenang dibandingkan dengan putra putri raja lain yang hidup dan mangkat, tetap saja dia harus bertutur kata dan sikap yang baik.
Dia berjalan dan duduk tepat di depan Feng Ni.
Terlihat samar-samar wajah yang tenang,jauh lebih tenang dari pada air dalam danau yang masih ada biota yang berkeliaran.
"Silahkan maju," ucap lembut Feng Ni, persilahkan Kasim Kim meneruskan permainan bidak catur di depannya.
"Baik." Kasim Kim memeriksa tiap langkah permainan yang belum berakhir.
Dia menggerakkan salah satu bidak baru hitam, membenteng pertahanan miliknya.
Terukir senyum lembut tepat di pinggir bibir Feng Ni, tetapi senyum itu seakan menakutinya yang berhasil buat benteng pertahanan.
"Keadaan ayah, bunda dan lainnya bagaimana?" meletakkan bidak catur putih baru, mengepung pergerakan bidak lawan.
"Istana masih berkabung, Ratu sakit-sakitan, Yang Mulia juga mengalami masalah kenegaraan." Kasim Kim memakan 1 bidak putih yang masuk perangkap buatannya.
"Mmmm," angguknya paham, memajukan 1 bidak memancing lawan lengah.
6 langkah Feng Ni menjebak bidak Kasim Kim berhasil, dengan jumlah bidak sendiri berkurang.
"Raja anda sudah terperangkap," ucapnya berhasil menangkap raja permainan bidak hitam.
Kasim Kim tersenyum malu telah menyerang habis-habisan, ternyata masuk jebakan lawan dengan suka rela.
"Baiklah," menyimpan kembali semua bidak putih pada mangkuk disebelahnya.
**
Feng Ni naik kereta kuda bersama kusir dan Kasim Kim.
Beberapa kilometer mereka bergerak, kereta kuda itu terhadang sekelompok orang berpakaian hitam, muka bercoreng tebal seperti wayang orang.
Ngikkkk....
Kuda meringkik terhenti, kaki depan naik sehingga keseimbangan kereta berkurang.
"Gawat!" ujar kusir yang menarik tali pelana.
"Ada apa?" tanya Kasim Kim menonggolkan kepala dari kain penutup kereta kuda.
"Ada perampok!" menunjuk sekeliling mereka sudah terkepung.
"Apa!!" kaget Kasim Kim dan masuk ke dalam kereta.
Dengan panik, kasim bercerita singkat. Tanpa pengawalan seorang prajurit, atau ksatria tinggi, bagaimana mereka bisa melawan.
Bahkan untuk membawa kabur Feng Ni saja mungkin itu tidak akan terjadi.
"Tenang," sahut Feng Ni duduk tenang bersandar dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Lebih baik putri segera bersembunyi!" ujar Kasim Kim panik akut.
Feng Ni bergeleng kepala tidak bergeming untuk lari keluar.
"Huffff....Baiklah." Kasim Kim menghela nafas berat dan ambil posisi untuk melawan sekelompok orang-orang.
Dia keluar dengan gagah berani dengan penampilan Kasim yang banci.
"Mau apa kalian, haah!!. Jangan coba-coba berani menyerang jika tidak ingin mati sia-sia!" ujarnya bersuara cempreng berani.
"Kasim Kim jangan nekat." kusir menarik ujung lengan kasim yang nekat mengantar nyawa mereka bertiga.
"Apa? Kamu kalau takut pergi saja sana!" bentak ngusir, memelototi.
Kusir terdiam, tidak disangka orang yang berperilaku banci saja bisa seberani itu. Lalu mengapa dirinya yang pria tulen tidak berani melawan sekelompok orang dengan kungfu dasar.
"Hei kalian !! Majulah!" ujar gelegar suara kusir, berdiri sejajar kasim lindungi orang di dalam kereta.
"Ternyata kamu juga berani. Nggak akan sia-sia mati di tempat ini untuk melindungi Tuan Putri," ucap terharu Kasim Kim, menepuk pundak kusir.
Kasim Kim dan kusir yang tidak punya kemampuan lain selain tugas pekerjaan utama mereka, tentunya tidak akan dibiarkan oleh orang di dalam kereta untuk mati begitu saja.
"Bacot!!" cibir orang muka cemong tebal.
Pedang tajam berlari menyerang 2 pria yang berdiri seakan jadi pahlawan.
Cling....
Pedang mulai berayun tebas korban.
Takk...Takk....
Tubuh orang yang menyerang itu juga dapat serangan balik sebelum pedang menyentuh kasim dan kusir.
"Serang...!!!" seraya semangat kusir melompat turun dari atas kuda.
Kasim ikut lompat turun dengan tombak di tangan mereka.
Sudah dapat kita pastikan apabila pedang melawan tombak, maka tombak akan terbelah oleh besi tajam tak bermata dan berhati.
Baru saja kusir membalas serangan, dia mendapat tebasan luka pada pipi kiri.
Darah mengalir pada sayatan luka tidak terlalu panjang.
"Sial" umpat marah kusir.
Tempat sama,kasim juga dapat tebasan pedang membelah topi yang dipakai.
"Hei kau penjahat busuk! Berani bangat sudah merusak topiku!" maki kasim,mementunggi orang yang sudah berani mencabik-cabik topi kehormatan sebagai kasim ketua istana.
Saat beberapa orang layani kusir dan kasim, orang yang lain menyerbu kereta kuda dengan sabetan pedang tajam memotong kayu bingkai kereta.
Mata Feng Ni masih terpejam lekat saat penyerang sudah membelah kereta kuda jadi 2 bagian.
"Bunuh dia!" titah salah seorang dari bagian belakang.
Pedang tajam kembali mengayun,dan saat sudah pada jarak teramat dekat, pedang-pedang itu terhenti bergerak seolah berganti alih pemakai.
__ADS_1
**