Dragon Warrior

Dragon Warrior
Makhluk Spiritual


__ADS_3

Saat sarapan mata Da Min dan Ling Ni tidak berani menatap sejajar abang dan juga guru mereka. Mereka memilih menunduk seraya menatap mangkuk bubur di hadapan mereka.


Semangkuk bubur ubi jalar kuning dengan taburan jahe parut goreng renyah secepatnya diseruput mereka dalam keadaan panas.


Enak banget, ini. Batin Ling Ni.


Hmm, badan dan perutku jadi hangat. Da Min pun membatin.


"Kalian lakukan kesalahan apa?" tanya Fun Cin curiga.


"Tidak ada!" jawab serentak keduanya tertunduk sambil telan bubur panas. Mereka tidak berani menampakkan wajah kemerahan mereka karena gugup.


"Habis ini kalian hafalkan kitab yang dibaca!" ucap perintah tegas sang guru menyendok, dan hembus bubur dalam sendok kayu cekung.


"I-ya," jawab keduanya kaku. Mereka berdua saling pandang satu sama lain lalu kembali melanjutkan menyantap bubur selagi masih terasa sedikit panas.


Gimana tidak kaku, kitab yang dibaca masih 1/2 halaman buku. Mana mereka menghafal tidak dalam keadaan konsentrasi. Hanya sedikit saja yang nyangkut di otak mereka.


Waktu sarapan habis. Fun Cin dan Bapao bersiap kembali naik turun gunung ambil air.


"Kami pergi dulu, guru," pamit Fun Cin memikul ember kayu kosong.


"Iya," jawab So Po Ta.


"Kami juga ikut," seraya Da Min dan Ling Ni cari kesempatan kabur.


"Boleh. Setelah bacakan hafalan kalian!" jawab tegas So Po Ta beranjak pindah untuk dengar bacaan muridnya.


Mati tegang Da Min dan Ling Ni tidak bisa mengelak kabur. Ada rasa menyesal kenapa mereka tidak konsentrasi saat menghafal.


Kedua saudara lainnya sudah keluar dari gerbang meninggalkan mereka yang tegang ketakutan setengah mati. Jantung mereka berdegup tidak beraturan.


"Dalam teknik perang yang diajarkan dinasti Liao, panglima perang menempatkan pasukan pada titik tengah. Musuh yang menyerang seakan memakan umpan. Dalam strategi ini banyak korban jiwa pada kedua belah pihak," Da Min menghafal hafalannya dengan suara pelan sedikit gugup.


So Po Ta menatap Ling Ni untuk bergilir dan beristirahat ambil nafas.


"Strategi dinasti Miao!" ucap perintah So Po Ta.

__ADS_1


"Dalam era dinasti Miao, strategi perang yang dipakai melawan musuh lebih bersifat agresif. Alat-alat yang diperuntukkan untuk perang merebut batas wilayah baru juga masih berupa tombak dan pemanah yang diberi racun," jelas Ling Ni dengan jantung berdegup kencang.


So Po Ta kembali melempar pertanyaan acak pada keduanya.


Sampai dipertanyaan yang mungkin terakhir, mereka tidak mampu menjawab lagi.


Kebimbangan dan ragu-ragu terlukis jelas pada raut wajah tegang mereka berdua.


"Kenapa kalian tidak jawab?" tegas So Po Ta bertanya dengan wajah tenang menunggu.


Secangkir teh melati hangat menemani ketenangan So Po Ta yang duduk menunggu jawaban, yang pasti tidak bakal terjawab dengan lugas seperti pertanyaan sebelumnya.


"Kalian belum menghafal, atau lupa?" tanya dingin So Po Ta meniup cangkir teh panasnya.


"Mmmm....Lupa," mereka bertatapan tidak berani bilang kejujuran.


"Baik. Kalian boleh susul mereka!" jawab So Po Ta tau muridnya telah berbohong.


Mata batinnya bisa melihat beberapa kejadian untuk ungkap fakta kebenaran, jadi tidak perlu untuk diperpanjang sampai berlarut-larut.


Langkah mereka begitu cepat berlari menyusul Fun Cin dan Bapao yang sudah mendaki setengah lebih gunung menurut prediksi.


"Lebih baik jangan cari masalah baru" nasehat Da Min ingin akur selama guru mereka belum melupakan hukuman mereka.


"Iya, tau!" ketus jawab Ling Ni masih kapok berbohong pada guru mereka.


Mereka pun berpisah untuk melakukan tugas mereka.


***


Di tempat jauh dari pusat keramaian manusia, Feng Ni hampir berhasil membuat kolam permintaan naga emas yang masih berkunjung di dasar samudera terdalam.


Kolam yang sudah sedalam 1 meter dengan lebar 1,5 meter itu masih dikeruk meski akan tertutup taburan salju.


Tidak terasa dinginnya suhu extrem saat dia melakukan pekerjaan itu, karena dirinya telah menyatu dengan alam semesta yang jadi tempat tinggalnya kedua.


Sudah beberapa bulan semenjak tinggal di pinggiran laut Feng Ni tidak makan, makanan layaknya manusia normal. Ia lebih banyak makan gagang laut dan juga rerumputan hijau yang tumbuh agak ke dataran kering.

__ADS_1


Tapi tubuhnya tampak sehat penuh energi segar, dikarenakan makanan tersebut sengaja diciptakan hadir oleh naga emas guna memenuhi kebutuhan Feng Ni sesekali.


"Kim Long kok belum kembali juga ya?" gumamnya memandang jauh samudera luas membentang di depan mata.


Selama target kultivasi belum dapat, atau dalam keadaan aman, naga emas tidak akan menampakkan diri selama bertukar pikiran dengan kaumnya saat bertemu.


Di dasar Samudera


Naga emas menunjukkan peningkatan kultivasi yang dia dapat berkat sang pendekar pilihan takdir pada semua kaumnya yang belum mencapai level 5 (level awal sebagai naga penjaga).


"Kamu beruntung dapat pendekar yang gigih berlatih," ujar naga kecil mirip cacing kurus, sekurus pendekar yang tidak niat meningkatkan tenaga dalam mereka.


"Iya. Kalau aku dapat yang gemar makan. Lihat bentuk tubuhku tidak seperti naga, tapi ulat," keluh naga gemuk, untuk bergerak juga tidak leluasa.


"Heng!! Kalian ini ribut! Apa gunanya kita hadir jika mereka tidak anggap. Lebih baik kembali ke asal kita," ujar ketus naga sombong angkuh tidak bersedia menjadikan seorang manusia sebagai majikan atau pendekar.


Terlihat wajah pro dan kontra, antara setuju undur diri dan ada yang ingin mendapat perubahan baru seperti yang dialami kaum mereka Kim Long.


"Sudah-sudah. Jika ingin majikan kalian sukses, maka kalian juga harus memotivasi mereka juga," ucap naga emas tenangi kericuhan.


"Bagaimana caranya?" semua memandang serius.


"Banyak caranya. Kalian yang harus cari tau sendiri, apa saja yang bisa memotivasi mereka," jawabnya lugas.


Naga-naga itu saling berpandangan dan berbicara tentang pendekar mereka yang punya sisi kelemahan yang sulit diatasi.


Dengan adanya tukar pendapat, mereka juga menemukan solusi dari naga lain. Ibarat kita tidak bisa lihat luka di balik punggung sendiri dan tidak mampu mengobatinya tanpa bantuan orang lain.


Dengan semangat membara, beberapa naga berpamitan untuk menegur pendekar mereka agar bangkit bersemangat latihan.


"Semua sudah pergi, waktunya aku juga pergi lihat hasil latihan pengembangan dirinya," gumam naga emas dengan wujud naga kecil bertanduk.


Tubuhnya menyelam lincah gesit di arus tenang hingga terbawa arus deras untuk naik ke permukaan samudera.


"Nyaman sekali saat pulang. Walau harus dengar keluhan mereka," naga emas memperlambat gerakan untuk sampai di pinggiran laut.


Adakalanya juga makhluk spiritual seperti naga emas butuh waktu bebas melepas kejenuhan. Tapi waktu dipakai untuk melepas kejenuhan terlalu lama dan lambat terasa oleh Feng Ni yang manusia biasa.

__ADS_1


__ADS_2