
Senja menjemput malam, tiba sudah waktu Feng Ni melanjutkan tapa bratanya.
Begitulah teknik latihan Feng Ni selama berbulan-bulan tanpa mengecap yang dinamai 'MAKAN'. Malah keadaan dia jauh membaik, sehat bugar dengan aura ketenangan.
"Kolamnya belum jadi juga?" tanya naga emas berjalan dengan 2 kaki kecilnya memijak tanah.
"Belum," jawab Feng Ni pelan seraya mengusap peluh karena disengat matahari.
"Kalau begitu lebih keras lagi usahamu!" perintahnya lalu tinggal pergi ke laut lepas untuk bertemu teman, saudara dan lainnya.
"Baik!" jawab lugas Feng Ni.
Feng Ni kembali mencoba tenaga dalamnya untuk membuat kubangan air lebih besar dari sebelumnya.
Hiattt.....
Telapak tangan penuh energi tenaga dalam itu diarahkan pada kerukan lubang yang susah melebar dan dalam.
Srrrtttt.....
Sinar pantulan cahaya berpadu dengan sinar matahari kian menambah kegerahan di musim panas tahun ini.
Hufff....
Sudah terkuras banyak energi tenaga dalamnya hanya untuk membuat kubangan 1/2 meter dengan diameter lebar 1 meter. Dia menghempas bebas tubuh lelahnya jatuh dalam kubangan yang dibuat, sambil menatap matahari kembali pulang ke ufuk barat setiap sore.
"Sudah 4 bulan kolam ini tidak pernah berhasil saya buat," keluh Feng Ni, teringat setiap kerukan pasir dan tanah akan menutup rapat esok pagi karena deruan angin dan air ombak.
Tiba-tiba terpikir olehnya untuk membentengi hasil kerukan dengan batu dan balok kayu. Maka dari itu, ia pun pergi ke hutan mencari apa yang dia butuhkan.
Dengan semangat tinggi, Feng Ni mencari batu dan balok kayu untuk di kumpulkan.
***
Di tempat So Po Ta mengajar keempat muridnya, tampak kemajuan signifikan terutama Fun Cin yang bertekad membantu sang adik tegakkan keadilan.
"Bang, ayo makan dulu!" ucap pria gemuk yang mulai hilang 1/8 lemak dalam tubuh.
"Kalian dulu, aku selesaikan latihan ini!" jawab Fun Cin berdiri di atas hunusan pedang dan bara api.
"Baiklah." Bapao meninggalkan abang perguruan yang masih konsentrasi.
"Mana abang?" tanya seorang pemuda yang mulai muncul otot-otot keras sekujur tubuh.
__ADS_1
"Masih latihan," jawab Bapao sambil menyuguhkan makanan untuk 2 saudaranya.
"Habis ini kita juga cepat latihan!" ujar Ling-Ling dalam penyamaran sebagai laki-laki.
"Iya," seraya 2 saudara menjawab.
Mereka bertiga makan dengan cepat untuk meneruskan latihan yang ditunda.
Keuletan, kegigihan, serta rasa persaudaraan yang terpupuk makin mengugah hati So Po Ta yang bermeditasi.
Pemilihan murid-murid yang tepatlah menjadi kebanggaan besar tersendiri baginya, serta layak untuk terus dibimbing olehnya.
Lalu bagaimana keadaan istana? Masih belum jauh beda setelah beberapa bulan kejadian pemberontakan.
Dua agen kembar yang menginvestigasi selalu kehilangan jejak pencarian, seolah gerak gerik mereka setiap kali telah dibaca pasukan kudeta.
"Kamu dapat info?" tanya seorang agen kembar pada kembar yang baru datang pada tempat yang mereka tentukan.
"Belum. Tadi aku malah bertarung dengan manusia bertopeng" jawab lapornya, sembari menuang air.
"Sama. Aku bertemu ninja jepang yang coba membantaiku," adu kembaran lain.
Sepertinya akan sulit bagi mereka untuk dapat petunjuk, jika berhasil akan dirampas.
"Ssssttt.... Dinding punya telinga, begitu juga meja dan kursi," agen kembar 2 merasakan pergerakan yang aneh di dekat mereka.
Kembar itu pun berusaha tampak normal dalam kawasan publik. Mereka menghentikan percakapan mengenai tugas rahasia dan kaitannya, dengan mengubah tiap topik percakapan antara mereka.
"Wanita rumah mawar tadi meminta kita kesana, kata Nyonya Mu mereka sudah lama tidak kunjungi," ucap kembar 2 dengan gerak mata mewaspadai sekeliling kedai.
"Boleh. Bagaimana jika malam ini. Aku sudah lama tidak melihat wajah-wajah mereka yang cantik dan menggoda," jawab kembar 1 paham maksud si kembarannya.
Sehabis dari kedai itu, mereka pergi ke rumah mawar. Ya, rumah para wanita cantik, seksi, wangi, memukau sedang menunggu pria-pria kesepian.
Rumah mawar bisa dikatakan sebagai rumah bordir, tempat pria-pria bersenang-senang melepaskan guna gulana.
Tapi tidak dengan si kembar. Mereka pergi kesana dengan tujuan beda. Mereka khusus minta dilayani seorang wanita tua pemilik rumah mawar.
***
Pemilik rumah bordil menghampiri kedua pemuda kembar untuk melayani.
"Kalian ini aneh," tangannya bersapu tangan mengibas genit. "Biasanya yang kemari, akan mencari bunga segar bukan kembang tak bermadu" ucapnya menutup pintu kamar VIP.
__ADS_1
"Iya.Tapi kami lebih nyaman dengan Nona Mu," goda salah seorang kembar, menuangkan air.
"Benar yang dikatakan saudaraku. Hanya Nona Mu saja yang bisa memuaskan kami," tambah godaan si kembar satu lagi melepaskan jubah tebal pelindung.
"Hahaha.... Kalian mau jadikan aku ratu sejagad, melayang di awang-awang sepanjang malam," berjalan genit lalu merangkul pundak si kembar hingga tergempet dengannya.
Sementara mereka bertiga berakting tingkah wajar saat masuk rumah bordil,kedua kembar itu menulis pertanyaan dan pesan sandi di atas meja dipoles tepung.
"Mmm... Kalian ini semakin pintar menggoda," ucap wanita tua pemilik rumah mawar.
Untuk menjawab pertanyaan panjang, wanita tua itu harus berlagat seolah akan mulai melayani adegan ranjang.
Wanita tua itu berjalan pindah,lalu duduk di atas pangkuan salah satu kembar.
"Terlalu banyak mata-mata yang sering kemari," jawab bisik wanita tua pada si kembar yang pangku dia,dan tangan harus menjalar genit melepaskan tiap helaian pakaian hanfu.
"Nona Mu kapan giliran aku," pinta rayu kembar yang lain.
"Tunggu dia,baru kamu," jawabnya dengan lantang dan berpindah posisi pangkuan.
"Sepertinya kami yang harus memuaskan kamu." kembar disebelah langsung memeluk punggung wanita tua yang dipangku saudaranya itu.
"Kita harus lebih hati-hati," ucap halus wanita tua menasehati kedua pemuda kembar, sambil mengecup kedua pemuda.
"Terima kasih," ucap kedua pemuda dengan membalas ciuman di pipi wanita tua.
Demi akting mereka tidak kepergok mata-mata, mereka harus rela menanggalkan pakaian, dan meninggalkan sehelai kain tipis yang menempel. Lalu mereka bertiga naik ke ranjang untuk diduga seperti yang dilakukan pengunjung saat datang.
Kain kelambu terurai lepas dari pengikat, menutup adegan yang akan terjadi pada mereka bertiga dalam satu ranjang.
Lilin yang menyala pun dimatikan dengan tebasan senjata tipis milik kembar.
Apa yang dilakukan agen kembar pada wanita tua pemilik rumah mawar? Mereka tidak melakukan hal aneh,hanya sekedar memijit tubuh wanita tua itu sebagai kompensasi telah melibatkan sebagai mata dan telinga mereka.
Ahhhh.....
Desah wanita tua kesakitan dapat pijitan yang sengaja ditekan kuat.
"Tahan. Sebentar lagi juga lebih enak," ucap kembar yang memperbaiki tulang rusuk punggung yang mulai menopouse.
Arrhhhh....
"Kalian sungguh hebat!" ujar wanita tua dengan ******* menggoda.
__ADS_1