
Sudah 1 jam berlalu Kim Long membantu perubahan wujud Feng Ni.
Ekor dan sayap yang keluar utuh dari bagian tubuh Feng Ni, menarik dekat 3 binatang berbisa yang enggan mati sia-sia.
Meski melawan gaya gravitasi, mereka tetap kalah oleh tarikan energi Feng Ni.
"Cepat kalian menyatu !!" ujar ketus Kim Long,kepakkan sayap percepat mereka menyatu.
3 binatang itu saling tarik menarik menolak dihisap energi melebihi batas normal sebelumnya.
Tidak bisa mundur lagi, mereka pun menyatu dengan energi Feng Ni dan meleburkan diri.
"Kan kalian juga mau naik tingkatan, jadi ini waktu bagi kalian menerima hasil jerih paya kalian." Kim Long semakin menyembur besar api.
Jiwa-jiwa yang tersegel memendam dalam diri 3 binatang berbisa itu akhirnya terbuka. Dan untuk menyempurnakan, mereka harus terima panasnya api yang berkobar membara.
Aaarrrrggg.....
Jerit mereka juga sudah terdengar kesakitan, yang sebelumnya hanya berupa ringkikan suara binatang.
"Akhirnya kalian bisa merubah wujud setengah manusia." Kim Long amat puas akan peningkatan level setiap binatang.
Untuk menyempurnakan wujud tersebut, mereka harus banyak berlatih, berbuat kebajikan.
Bukan hal mudah untuk mencapai kesemua tingkatan.Namun dimana ada usaha serta tekad kuat, niscaya suatu hari dapat terwujud.
Waktu kian bergulir,baik di alam manusia ataupun dimensi.
Tidak terasa 49 hari masa latihan serta meditasi Feng Ni sudah capai puncak selesai.
Setelah Feng Ni mampu mempergunakan wujud barunya dan juga para binatang berbisa,naga emas bersiap untuk mengeluarkan mereka dari dimensi latihan mereka.
Di alam manusia musim dingin penuh intrik dan kelicikan bertebaran. Semua pada rebut kekuasaan dan juga posisi tertinggi.
Di dalam kamar seorang diri, Ratu bidadari yang masih dalam penyamaran juga kewalahan untuk selesaikan semua masalah alam manusia yang sukar habis.
Ibarat pribahasa yang mengatakan : Hilang satu tumbuh seribu.
Begitu juga masalah di alam manusia yang setiap diselesaikan pasti akan muncul masalah baru lainnya.
"Akar kejahatan pada setiap orang hanya muncul merusak kehidupan," gumam ratu bidadari melihat cermin kristal.
Beda dengan alam bidadari dan juga dewa yang mengatasi setiap akar permasalahan, dengan membinasakan akar sampai tunas kejahatan dari orang berkesangkutan dengan meditasi spiritual tingkat tinggi.
Walau memiliki ilmu kebatinan sejenisnya,tapi tidak semua masalah bisa diatasi dengan ilmu tersebut.
Ratu bidadari juga harus memakai akal untuk mengahadapi kelicikan orang jahat, yang memiliki unsur tamak dengki bodoh.
"Tuan Putri," panggil seorang dayang dari balik pintu kamar tertutup.
"Masuk."
"Ini herbal yang anda minta." dayang meletakkan nampan isi dedaunan herbal beserta alat penggiling.
"Kamu siapkan juga beberapa kelopak mawar hitam kering," memeriksa pesanan.
"Baik." dayang keluar mengambil permintaan.
Ratu bidadari mulai meracik sesuatu dengan dedaunan herbal, meletakkan bahan yang akan ditumbuk dalam penggiling.
Bahan-bahan itu ditumbuk sampai halus seperti yang dia inginkan.
"Ini ramuan terakhir agar ratu Semangi sembuh," menyaring ramuan herbal, hanya diambil serbuk terhalus hasil saringan.
Selain menyembuhkan, ramuan tersebut juga untuk meningkatkan imunitas kesehatan ratu Semangi.
__ADS_1
"Lebih baik saya sekarang ke tempat kediaman Ratu," membersihkan semua peralatan meracik sebelum keluar kamar memberi ramuan.
Langkahnya yang anggun melangkah keluar kamar.
Begitu hampiri ratu Semangi, dia memberikan ramuan tersebut dalam suguhan teh hangat,guna hilangkan rasa pahit obat tersebut.
"Sore ini, Ibu mandi berendam air panas ya. Saya sudah merintahkan dayang menyiapkan segalanya," ucapnya lembut,memberi buah kurma sebagai pelengkap pengobatan.
"Baik.Baik. Ibu akan nurut pada kamu," sahut ratu Semangi, mengelus lembut wajah putrinya yang amat dewasa dibandingkan sebelumnya.
"Ini semua demi kesehatan Ibu," menangkup tangan yang mengelus wajahnya.
"Baik. Ternyata ilmu yang kamu pelajari di luar istana sangat banyak bermanfaat," memandang lekat netar mata duplikat, bercermin alam semesta.
Ratu bidadari sengaja menampilkan alam semesta untuk dilihat ratu Semangi, guna memberitahukan akan alam semesta bukanlah hanya bumi yang sedang mereka naungi,tapi ada juga alam lain yang tidak terjamah manusia.
"Feng Ni, matamu?" mata ratu Semangi tidak bisa lepas memandang posisi alam semesta yang berputar menunjukkan cara kerja alam itu sendiri.
"Di dunia ini, masih ada dunia. Begitu juga manusia. Di atas manusia pintar ada yang lebih pintar. Dan dari semua itu ada karma dan hukum sebab akibat yang saling berkaitan dalam hidup setiap manusia," sahutnya memberi wajengan ceramah.
"Apakah semua yang terjadi juga merupakan karma?" tanya ratu Semangi ingin pelajari ilmu keagamaan lebih jauh.
"Benar, Bu. Semua ini saling berkaitan seperti benang yang menyatu menciptakan sebuah kain,lalu menjadi pakaian yang kita semua pakai," menjawab secara filsafat keagamaan.
"Lalu, karma yang bagaimana telah Ibu perbuat sebelumnya?" mata berkaca-kaca biarpun ingin tau.
"Apa yang dulu pernah ditanam, maka itu yang akan dituai. Seperti jika kita pernah membunuh secara keji atau sengaja dikehidupan lampu, maka kehidupan sekarang kita akan menuai hasil yang lebih kurang sama. Jika beruntung telah membayar sebagian utang tersebut dengan kebajikan,maka buah yang kita terima tidak akan parah," menunjukkan cara karma setiap makhluk hidup berputar.
Hiksss.....Hiksss....
Ratu Semangi tidak mampu menahan air mata lebih lama sampai penjelasan putri duplikat selesai.
"Ibu baik-baik saja kan?" duplikat menyeka air mata yang ngalir dengan sapu tangan.
"Ibu, baik-baik saja kok." ratu Semangi sesenggukan menjawab.
"Sebaiknya kita masuk ke kamar saja, Bu," bujuknya tenangkan suasana hanyut hati ratu Semangi.
Ratu Semangi mengangguk, berdiri dipapah duplikat putrinya yang ngajak.
Waktu tidak terasa akan segera pertemukan ibu dan anak kandung itu dalam waktu singkat.
Untuk menghindari timpang tindih perbedaan, ratu bidadari mengirimkan semua kejadian pada pikiran Feng Ni.
Song Xin Ta juga telah diberitahukan murid aslinya akan segera kembali menempati posisinya sendiri.
"Tugas selanjutnya akan terlihat gampang, tapi sukar diselesaikan." ratu bidadari memperingatkan garis besar setiap masalah ke depan, bukan hanya berhadapan dengan manusia, tapi iblis ikut andil ciptakan problematika.
"Terima kasih Ratu sudah mengingatkan kembali," sahut So Po Ta membungkuk beri hormat.
"Dia akan kembali bersama Kim Long dalam beberapa waktu lagi," merasakan temannya sudah mulai bersiap keluar dari ruang dimensi.
"Baiklah, hamba mengerti," jawab So Po Ta menyamar.
Ratu bidadari juga mulai bersiap menghilang bersama kepulangan Putri negeri Semangi yang asli yaitu Feng Ni.
Setiap detik juga punya ceritanya sendiri, karena roda karma tidak pernah berhenti sedetik maupun seperempat detik.
Beberapa jam kemudian.....
Kim Long membawa Feng Ni bersama rombongan keluar dimensi, menghirup udara yang seharusnya manusia hirup.
Begitu sampai di alam manusia, Feng Ni harus mulai wajib beradaptasi kembali menapak daratan.
"Kamu kenapa?" tanya naga emas kecil nyelip dalam sanggulan rambut Feng Ni, merasa ikut terguncang.
__ADS_1
"Saya....Saya...." Feng Ni tidak bisa berdiri normal.
"Hei! Salah satu dari kalian keluar dan bantu dia!" hardiknya.
3 binatang berbisa keluar bersama. Mereka tidak paham apa maksud naga emas, dan siapa yang harus membantu.
"Huffff .... Memang susah jika belum berakal," keluh naga emas menggeleng kepala.
3 binatang itu melongo makin tidak ngerti, hanya menunggu perintah jika ada.
"Kamu tebarkan jaring!" titahnya tegas nunjuk tarantula.
"Baik," segera menyemburkan serat benang sutra yang lengket pada tapak sepatu Feng Ni.
"Bisa elastiskan?" masih rasa bergoyang tidak aman nyelip disanggul.
Tarantula pun memberikan kemampuannya untuk bisa berjalan elastis pada jaring buatannya.
"Nah... Begini lebih baik," ujar naga emas sudah stabil tidak terguncang.
"Terima kasih,nona tarantula," ucap lembut Feng Ni sudah tidak terhuyung.
"Ya, sama-sama," kembali bersama 2 binatang bersemayam dalam kantong kain.
Biar masih kaku berjalan normal, tapi tidak akan mempermalukan dirinya saat berjalan.
Apa lagi martabatnya sebagai seorang putri kerajaan yang bakal meneruskan tahta berikutnya.
Sebelum normal beradaptasi, Feng Ni belum berani melepas rindu pada keluarganya terutama sang ibu yang butuh dukungan.
"Saya harus segera bisa tampak normal," batin Feng Ni menyemangati diri sendiri.
"Kamu harus kontrol emosi.Jangan tunjukkan perubahan wujud karena tidak terkontrol," nasehat naga emas,merebahkan diri di atas kasur Feng Ni yang empuk.
"Baik, Kim Long," menarik dan menghembus nafas atur emosional.
Ratu bidadari yang kembali ke kamar Feng Ni cukup takjub kagum lihat aura kultivasi yang maju pesat. Bahkan tidak seekor naga yang menjaga, tapi ada 3 tambahan binatang yang masih tergolong siluman kejam.
"Kamu duduklah," titahnya lembut perintah Feng Ni.
Feng Ni duduk dimana ratu bidadari mengarahkan.
"Kamu cepat bantu dia.Aku butuh istirahat dulu," celetuk naga emas berbaring tengkurap nyantai.
Ratu bidadari bergeleng kepala dengan tingkah temannya yang tidak banyak berubah walau sudah punya ilmu tinggi.
Sementara ratu bidadari memperbaiki pola gerak Feng Ni, 3 binatang berbisa memandang kecantikan ratu yang mereka idamkan.
Bukan Feng Ni tidak cantik, tapi cantiknya ratu bidadari sejajar deretan dewi-dewi surga.
Ekor mata ratu bidadari memandang ramah pada 3 binatang yang merupakan siluman.
"Kalian perbuat kebajikan. Niscaya kelak bisa capai tingkat yang agung," nasehat baik untuk 3 siluman.
Ketiganya ngangguk cepat terima dukungan.
"Sekarang coba jalan," titahnya lembut.
Feng Ni coba berjalan tanpa bantuan serat jaring di kakinya.
Kekakuan tadi hilang bersama kakinya yang menapak langkah demi langkah.
"Kamu sudah tau apa saja yang sudah terjadi selama kamu pergi kan?" memastikan sebelum hilang.
"Sudah Yang Mulia," yakinnya agar tidak timbulkan kejanggalan.
__ADS_1
"Baiklah.Jika begitu kita berpisah sementara waktu," melihat temannya yang tenang tidur tidak bisa diganggu.
Ratu bidadari pun kembali kewujud asli,dan menghilang dalam sekali putaran tubuh.