
Kehidupan baru berawal kembali bersama sisa manusia yang tersebar diseluruh bagian penjuru bumi.
Mereka mulai menata kehidupan yang sudah hancur mulai dari nol kembali.
Feng Ni yang sudah kembali dalam wujud semula juga terlihat tegar dan kuat untuk kembali menapak hidup baru.
Kabar Fun Cin yang tewas dalam medan pertempuran dan diangkat menjadi salah seorang prajurit langit, juga diikhlaskan sang guru.
.
Beberapa hari kemudian,di negeri Semangi yang luluh lantak, ketika So Po Ta bersama murid tersisa bahu membahu rakyat sekitar, salah seorang dari mereka melihat kedatangan sosok lain.
"Guru lihat !!" ujar Ling Ni, nunjuk sosok yang berdiri jalan sempoyongan berbantu sebuah bambu untuk jalan mendekati arah mereka.
"Cepat tolong dia," sahut So Po Ta terharu bahagia.
"Siap." Da Min dan Ling Ni berlari cepat membantu sosok yang sempoyongan.
Brukkk....
Sosok itu terjatuh tidak mampu untuk bangkit walaupun tinggal beberapa langkah berjalan.
Da Min dan Ling Ni membopong sosok yang jatuh sampai tempat mereka berteduh bersama rakyat yang lain.
Sudah 2 hari sosok itu tertidur lelap dengan raut wajah lelah bercampur kesedihan pekat.
"Bagaimana keadaannya ?" tanya So Po Ta berjalan dekat.
"Panasnya sudah turun. Lukanya juga mulai kering." Ling Ni memberi jalan untuk diperiksa lanjut sang guru.
So Po Ta tau jika sosok itu bukan fisik saja yang terluka, tapi jasmani yang tidak mampu diobati orang luar dengan segala macam obat paling mujarab.
"Biarkan dia tidur saja." So Po Ta beranjak hela nafas kasihan.
1 minggu berlalu dalam kondisi alam dan rakyat jelata sudah lebih bersahabat dengan segala sesuatu yang baru.
Setelah kehancuran sebuah kerajaan, hari-hari bagi Feng Ni seakan tidak bermakna.
"Feng Ni ayo makan dulu," bujuk lembut Bapao membawa semangkuk bubur kacang hijau.
Feng Ni bergeleng, mendorong mangkuk untuk jauh.
"Ada masa sebuah kekuasaan itu berakhir untuk diganti dengan yang baru, jauh lebih baik untuk kedepannya," ucap So Po Ta datang jenguk murid yang sudah sadar tapi mengurung diri dalam keheningan sendiri.
Hiksss.... Hiksss.....
Terdengar isak tangis piluh dari luar bilik kamar reyok. Siapa lagi jika bukan Ling Ni yang terhanyut dalam ucapan sang guru.
Ctakkk....
__ADS_1
Orang disampingnya langsung sentil kening Ling Ni, nangis tanpa alur jelas.
"Husshhh....!!Diam jangan berisik!!" Da Min sipitkan mata dinginnya.
"Sakit tau!!" sahutnya usap kening.
"Makanya jangan berlebihan," cibik Da Min, narik pergi Ling Ni.
So Po Ta tau sampai sejauh mana setiap kemampuan murid-muridnya itu mampu bertahan.
"Jika tidak mau makan, biarkan saja," ucap So Po Ta, menepuk pundak Bapao lalu keluar.
Bapao tau maksud gurunya yang biarkan saudarinya terhanyut dalam semua kegundahan.
3 Bulan berlalu. Musim kembali berganti, begitu juga keadaan baru telah merubah kehidupan mayoritas sisa orang.
Hanya Feng Ni yang masih setia duduk termenung sepanjang hari tanpa makan dan minum.
Naga emas yang sudah menduduki jabatan di langit bersama ratu bidadari, juga tidak bisa berbuat banyak, hanya membiarkan waktu perlahan mengikis perasaan beban hati Feng Ni.
"Kim Long, sekarang tidak bisa lagi turut campur urusan manusia sesuka hati." dewi bidadari nasehati naga emas 7 warna.
"Ya, ya, ya. Aku tau," ketus jawabnya memilih pergi jalani tugas kedewanannya, dari pada ikut lirih lihat pendekarnya.
.
1 tahun berganti dengan cepat, biarpun Feng Ni mulai beraktivitas, kenangan setahun lalu masih melekat dalam hati paling dalam.
Feng Ni terdiam, niatnya untuk mendirikan sebuah kerajaan masih belum terlintas dalam pikiran.
Saat makan siang dan berkumpul, So Po Ta juga sampaikan kehendak seluruh rakyat selama berbulan-bulan.
"Coba kamu pikirkan baik-baik. Apa kamu tidak lebih bersalah pada mereka." So Po Ta nasehati secara lembut nan tegas.
Da Min, Ling Ni dan Bapao tidak berani ikut angkat bicara, karena mereka juga kurang paham masalah kerajaan.
"Saya pergi dulu," pamitnya lesu tidak menemani guru dan saudaranya makan siang.
"Feng Ni kamu belum makan apapun," ujar Bapao lihat makanan Feng Ni belum tersentuh.
"Biarkan saja," ucap So Po Ta, tidak dapat lawanan murid.
4 bulan kemudian ......
Banyak bangunan sudah dibangun, tanaman juga mulai membuahkan hasil, begitu juga dalam hal ternak yang sudah mencukupi kebutuhan ratusan jumlah orang.
Setiap hari rakyatnya mengeluh, ternyata membuahkan sebuah keputusan.
Feng Ni membagi 1/4 wilayah negeri Semangi yang ada untuk guru dan saudaranya sebagai tanda terima kasih.Sisa bagian wilayah yang ada, didirikan sebuah kerajaan yang merupakan negeri mayoritas kaum wanita.
__ADS_1
"Tidak bisa. Tanah itu milik rakyatmu." So Po Ta menolak pemberian jasa berlebihan.
"Tidak apa Guru. Saya harap Guru paham maksud keinginan saya," ucap Feng Ni masih kosong pikiran panjang membangun kerajaan maha Adikuasa.
So Po Ta paham betul maksud tersirat muridnya yang selalu bersikap dingin selama setahun terakhir.
"Baiklah.Terserah keputusan kamu," sahut So Po Ta terima pemberian 1/4 wilayah.
Bagi kaum pria negeri Semangi yang ingin berada di wilayah pimpinan So Po Ta, diizinkan Feng Ni untuk mengurus perpindahan secara hukum yang ada.
Meski sudah terbagi, tapi setengah peraturan kerajaan yang dipimpin So Po Ta masih berdasarkan peraturan pusat.
5 tahun kemudian....
Kerajaan megah elok rupawan telah dibangun pada 2 wilayah bertetanggaan.
Negeri Semangi juga berganti nama, dalam sidang rapat dewan majelis tertinggi.
Kerajaan utama diberi nama negeri Kim Long sebagai tanda terima kasih atas segala bantuan dari naga emas. Sedangkan anak kerajaan diberi nama Niwa sebagai wujud terima kasih telah diberikan kehidupan yang baru.
Ling Ni juga diangkat menjadi seorang tabib istana di negeri bawah kepemimpinan Feng Ni.
Untuk 2 saudara prianya, mereka membantu segala kegiatan So Po Ta dalam kerajaan kecil.
Flash on.....
Mengingat semua itu, tentunya tidak mudah untuk menghilangkan semua sejarah kehidupan Feng Ni yang dikategorikan sudah jauh membaik.
"Yang Mulia Ratu " wanita berpakaian seorang jenderal memanggil Feng Ni yang duduk melamun berjam-jam lamanya.
"Hari sudah gelap. Ayo kembali," ucap Feng Ni beranjak bangkit dari duduknya.
"Baik," sahut jendral wanita, memanggil pasukan prajurit untuk berbaris rapi.
Tanpa kereta kencana, Feng Ni menunjukkan sebuah sikap ramah tamah sebagai seorang ratu maha Adikuasa, mengayomi dan melindungi rakyatnya yang minoritas pria dewasa.
"Hati-hati di jalan Yang Mulia," ucap barisan rakyat sepanjang jalan menuju gerbang istana.
Feng Ni mengangguk anggun dengan senyum lembut.
****************
Jangan pernah menilai sebuah objek dari sampul luarnya, coba telaah isi dalam objek tersebut, maka kita akan tau baik buruk objek tersebut.
.
Maaf jika banyak typo kata yang kurang menyambung kata demi kata.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih atas dukungannya dalam bentuk apapun 🙏🤗
__ADS_1
**