Dragon Warrior

Dragon Warrior
Kultivasi Baru


__ADS_3

Mereka berjalan kembali dalam dinginnya tiupan angin musim dingin itu.


Sesampainya pada balai istana utama, mereka bertemu dengan seseorang yang masih muda berparas rupawan.


Siapa lagi jika bukan wujud samaran So Po Ta, yang sedang menunggu pemimpin istana mewah nan megah tersebut.


"Hamba Song Xin Ta memberi hormat." So Po Ta membungkuk hormat, menyapa 2 ratu beda alam.


"Silahkan berdiri," ucap ratu Semangi.


"Ibu, beliau adalah cendikiawan yang tersohor itu kah?" tanya duplikat seakan baru pertama kali bertemu.


"Sepertinya begitu?" ratu Semangi kurang yakin, karena antara ingat-ingat lupa. "Apakah anda sedang menunggu Yang Mulia Raja?"


"Iya, Yang Mulia."


"Apakah keperluan anda datang sudah disampaikan?" tanya ratu Semangi.


"Sudah. Melalui kasim yang ikut raja."


"Mungkin Kasim Do belum menyampaikan, Bu," ucap pelan duplikat Feng Ni.


Ratu Semangi mengangguk kemungkinan tersebut. Karena ia juga melihat kasim yang mengurus kepentingan raja mulai tidak menjalankan tugas semestinya.


Ratu bidadari yang juga ingin tau langsung apa yang sedang terjadi, memiliki inisiatif untuk mengantar tamu istana menemui raja itu langsung.


Ketiganya berjalan menuju tempat raja sedang bekerja.


Di persimpangan jalan, mereka berpas-pasan bertemu agen kembar berjalan tergesa-gesa.


"Kami memberi hormat pada Yang Mulia Ratu dan Tuan Putri," hormat membungkuk kedua pria kembar, terhenti berjalan.


"Berdirilah," jawab ratu dan putri duplikat.


"Anda berdua baru bertemu Raja?" tanya ratu memastikan.


"Iya, Yang Mulia Ratu," serempak jawab.


"Apakah Raja masih bertemu dengan tamu atau pejabat lainnya?"


"Sepertinya tidak lagi," jawab kembar kurus.


"Begitu ya. Baiklah."


"Jika tidak ada yang ingin Ratu tanya. Boleh izinkan kami pergi?" tanya kembar sedikit gemuk.


"Silahkan." ratu Semangi membuka jalan untuk agen istana.


Saat agen kembar berseberangan dengan duplikat Feng Ni, ratu bidadari merasakan marabahaya besar akan menimpa mereka tanpa ada seorang malaikat penolong tiba.


Untuk membantu keduanya, ratu bidadari menyulap keluar bungkusan kantong jimat berisi kertas.


"Tunggu dulu," duplikat berbalik badan.


Agen kembar berhenti dan ikut berbalik badan.


"Tuan Putri memanggil kami?" tanya serentak.


"Iya," jalan menghampiri yang disusul balik.


"Ada apa, Tuan Putri?" tanya mereka dengan wajah senyum sopan.


"Ini untuk kalian," menyerahkan 2 kantongan kain merah isi kertas jimat.


"Apa ini, Tuan Putri?" kembar kurus penasaran dapat misi rahasia lagi.


"Ambillah. Semoga kalian dapat diberkati dewa-dewi," sahutnya singkat dan berbalik.


"Terima kasih, Tuan Putri," ucap mereka walaupun bingung maksud perkataan tersebut.

__ADS_1


Agen kembar kembali berjalan keluar dari istana mencari teka teki dan juga barang bukti penting.


Demikian juga rombongan ratu Semangi, hendak bertemu raja.


Benar apa yang dikira ratu, melihat Kasim Do menasehati raja bak seorang penasehat negara. Rasa kecurigaan makin bertambah kearah pemberontakkan.


"Ibu memikirkan apa?" tanya duplikat mendekat.


"Tidak ada. Cuma heran saja," menoleh ke samping dengan wajah penuh pertanyaan tersirat.


"Jangan pendam di hati. Akan lebih baik jika Ibu berbagi dengan saya," menggenggam tangan ratu Semangi.


Ratu Semangi bergeleng kepala, jika ingin bercerita juga harus sesuai fakta, tidak baik hanya dijadikan rumor dari praduga sendiri.


"Saya akan ketuk pintu," ujar duplikat Feng Ni.


Ratu Semangi ngangguk izinkan putrinya untuk mengetuk pintu.


Tok... Tok....


Suara ketukan juga lembut tidak mengejutkan orang di dalam.


"Siapa?" tanya Kasim Do menggerus batangan tinta kapur hitam.


"Ayah, boleh Feng Ni masuk?" jawabnya lembut.


"Yang Mulia?" Kasim Do menoleh wajah raja yang sedang menulis ukiran syair.


"Masuklah Feng Ni," sahut raja meletakkan kuas tulisan.


"Ngapain putrinya masuk. Hanya mengganggu aku saja," rutuk batin Kasim Do, berjalan buka pintu.


"Silahkan masuk Yang Mulia Ratu dan Tuan Putri." Kasim Do membungkuk persilahkan keluarga itu masuk, nahan kesal.


2 wanita berjalan masuk dan memberi hormat pada raja.


"Terima kasih," sahut ratu Semangi, duduk.


"Terima kasih, Ayah," sahut duplikat duduk di sebelah ratu.


"Ada angin apa mengundang Ratu dan Putri kemari?" memanggil Kasim Do untuk menuangkan minuman.


"Putri Feng Ni yang ada keperluan dengan anda," sahut ratu, menepuk punggung tangan duplikat untuk bicara.


Raja menatap ke arah duplikat putri mereka dengan wajah tenang dan bersahabat.


"Tadi saya bertemu dengan seorang cendekiawan yang ingin bertemu dengan Ayah."


"Oh ya?" raja Xiao Se Mang menoleh Kasim Do yang tidak mengatakan apapun selain seplintiran saran.


"Maaf Yang Mulia, hamba lalai sudah lupa," sahut gelagapan Kasim Do mengeluarkan kertas yang disimpan dalam kantung lengan baju.


"Kali ini saya maafkan! Jika terjadi lagi,kamu akan terima hukuman!" ucap tegas raja menatap marah.


Gulungan dibuka dan dia tidak melihat tulisan apa pun selain sebuah stempel negara.


Namun 5 detik setelah raja melihat balik kertas yang kosong tadi, dia melihat tulisan isi surat.


Matanya tersihir melihat tulisan kanji(Mandarin kuno), isi yang memerintahkan dirinya untuk mengangkat Song Xin Ta secara resmi menduduki salah satu jabatan penting.


Ratu bidadari juga ikut mensugesti pikiran raja melalui telepati.


"Dia orang yang akan membantu negerimu kembali berjaya," sugesti ratu bidadari melekat pada pikiran raja Xiao Se Mang.


Raja Xiao mengangguk patuh, dan menambah stempel baru.


"Sampaikan dekrit ini pada Tuan Song," ucap raja Xiao Se Mang menggulung kertas.


"Baik, Yang Mulia," sahut Kasim Do dengan senyum kisut.

__ADS_1


"Stamina Ayah sedikit berkurang?" tanya duplikat, lihat raut wajah ayah Feng Ni sekelibat nurun.


"Ahh... Tidak juga," merapikan mahkota.


"Yang Mulia harus istirahat cukup.Jangan terlalu memprosir lebih kemampuan," nasehat ratu juga kasihan belum bisa membantu masalah dalam istana.


"Jika ada yang bisa saya bantu. Saya siap membantu," tambah duplikat.


"Kamu dan Ibu lah yang harus banyak beristirahat. Tugas negara, masih bisa Ayah tangani," jawab raja Xiao Se Mang memandang 2 keluarga kecil itu.


"Baiklah. Kapan pun Ayah butuh bantuan, jangan sungkan kasih tau."


Raja Xiao Se Mang mengangguk. Andai saja Tuhan masih meninggalkan satu dua orang putra untuk membantu tugasnya,saat ini pasti setengah beban sudah dibagi.


.


3 Minggu kemudian....


Di dunia dimensi, Feng Ni juga mendapatkan ilmu baru bergabung dengan 3 binatang beracun sebelumnya.


3 kekuatan pengabungan itu masih diolah dalam meditasi untuk lebih nyaman dipakai kelak.


"Bisa juga dia ciptakan ilmu baru," ucap Kim Long juga ikut berkultivasi naik tingkat.


Memang bukan perubahan drastis seperti sebelumnya, tapi cukup memuaskan sebagai penjaga pendekar terpilih.


Sisik emas menyeluruh sebelumnya, timbul warna lain yang menunjukkan peningkatan.


"Emm... Warna merah," ujar Kim Long meliuk demi lihat warna baru yang muncul.


3 binatang yang menjaga tubuh Feng Ni melongo lihat naga raksasa mengoceh dan berputar terus.


Coba 3 binatang itu bisa berkomunikasi layak manusia, pasti mereka sudah mengkritik tingkah Kim Long.


Namun sayang sungguh disayang, tingkat pencapaian kultivasi mereka masih butuh waktu cukup lama. Sampai mereka bisa merubah wujud asli menyerupai sosok manusia.


Ya, mereka harus giat berbuat kebaikan dan berlatih supaya suatu hari nanti impian mereka terkabul.


Melihat wajah Feng Ni mulai berbinar cahaya,3 binatang beracun kembali menempati posisi masing-masing.


Kalajengking tetap pada kaki, ular di pundak, dan tarantula di atas kepala. Dalam seketika, mereka terpental menjauh dari tubuh Feng Ni.


"Ada apa dengan mereka?" Kim Long dibuat kaget kejadian binatang berbisa terpental ngambang.


"Hei kalian kenapa pada terpental begini!" ujar Kim Long memunggut 3 binatang ngambang dalam gravitasi.


Kim Long yang masih tergolong binatang bisa mendengar bahasa sejawatnya itu, baik dari bahasa tubuh dan gerakan mata.


"Ohhh..... Kalian juga tidak tau. Baiklah, kalian istirahat dulu," tinggalkan 3 binatang berbisa untuk selidiki penyebab.


Kim Long melesit cepat dekati cahaya wajah Feng Ni yang memang beda.


Terlihat olehnya wujud Feng Ni yang ingin keluar menonjolkan diri.


"Fokuskan pikiran, keluarkan perlahan saja." Kim Long membimbing perubahan tersebut.


Rrrrgggg......


Gigi-gigi Feng Ni bergertakkan meringis kesusahan mengontrol.


Fuhhh.....


Kim Long menyemburkan api dari mulutnya, membantu Feng Ni rasa kurang nyaman dari beberapa bagian tubuh mengalami perubahan.


3 binatang berbisa tidak berani mengambang dekat. Karena mereka belum siap mati terbakar gosong tanpa melakukan kesalahan.


Dengan bantuan tarantula yang buat jaring sutra raksasa, mereka bertiga bisa tertolong tidak mendekat sedekat mungkin.


"Bukannya menolong,malah menjauh," ekor mata Kim Long melirik sinis 3 binatang yang cari aman.

__ADS_1


__ADS_2