Dragon Warrior

Dragon Warrior
Reunian


__ADS_3

Memang benar apa yang dirasakan 2 dayang tadi sebelum pergi langkah seribu.


Hati kecil Feng Ni menuntut dirinya untuk lebih mendekatkan pada salah lukisan gambar tua ,yang tidak salah merupakan kakek buyut ayahnya.


"Tuan Putri mau kemana?" tanya Kasim Kim ngikut perlahan.


Feng Ni tidak menjawab, seolah dia ditarik mendekat ke alam lain.


"Tuan Putri, sebaiknya kita keluar. Pastinya anda sudah lelah seharian." Kasim Kim menasehati tanpa berani menghalangi.


"Anda saja," sahut dinginnya tanpa balik noleh.


"Tidak bisa. Tugas saya untuk menemani anda," bulu kuduknya mulai berjoged ikuti aura lampu mistik mirip lampu disco berganti warna warni.


"Keluarlah dulu!" titah lembut Feng Ni berbalik.


"Tapi....Tapi...." Kasim Kim lebih takut dengan lirik Feng Ni dibandingkan lukisan para raja, ratu, pangeran generasi sebelumnya.


Tangan Feng Ni mengibas memerintahkan untuk ditinggal seorang diri. Kasim Kim pun mau tidak mau menuruti perintah Feng Ni. Laki-laki itu pun keluar meninggalkan putri seorang diri di sana.


Setelah Kasim Kim keluar menutup rapat pintu aula,dia berdiri tepat di depan lukisan raja generasi ke-3, yang merupakan kakek buyut ayahnya yang merupakan keturunan ke-7.


Lukisan dalam kertas itu bergerak hidup seakan mempunyai roh jiwa yang masih tersimpan.


"Putri Xiao Feng Ni, saya adalah kakek buyutmu. Semua kejadian yang menimpa kerajaan ini harus segera kamu selesaikan secara bijaksana dan adil. Selanjutnya, kamulah yang akan meneruskan kepemimpinan setelah ayahmu mangkat kelak," ucap orang dalam lukisan, menunjukkan betapa megah berjaya dulu kala kerajaan yang dipimpin olehnya.


Feng Ni ingin menyampaikan juga kesannya terhadap kerajaan saat ini, tapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, seakan terkunci hanya cukup sebagai pendengar budiman.


Wuzzz....


Angin kencang meniup padam lentera yang tadi dihidupkan kasim. Angin yang entah datang darimana setelah pintu tertutup rapat, dan hanya ada beberapa fentilasi udara berukuran standar.


"Kakek," panggilannya dalam kegelapan.


Di luar aula, Kasim Kim memerintahkan prajurit mengambil obor yang menyala untuk menghidupkan balik semua sumbu minyak yang padam tertiup angin juga.


"Cepat hidup kan!!" perintahnya tergesa-gesa takut Tuan Putri kelabakan gelap.


Ctakk....


Dengan jentikan jari, Feng Ni menghidupkan 1 sumbu lentera minyak, cukup baginya untuk melihat jalan keluar.


Begitu dia keluar dari aula, angin yang tadi berderu mulai mengundang gemuruh di akhir musim gugur.


Jderrr.....


"Akan turun hujan," gumam seorang prajurit harus pergi mengambil sarung penutup obor yang nyala terang.


"Tuan Putri, hujan akan segera turun." Kasim Kim memberitahukan perkiraan cuaca.


"Iya," menengadah muka liat kelamnya malam.


Kasim Kim mengantar Feng Ni kembali ke kamar untuk beristirahat setelah perjalanan panjang mereka.


Saat pintu kamarnya dibuka, hujan pun langsung turun lebat, seakan bumi pertiwi bersedih, rindu keadilan dan kedamaian.

__ADS_1


Tiupan angin berselimut rintikan hujan kian membasahi wajah para prajurit penjaga disekitar jalan, setiap sisi bagian istana dalam.


Jderrr....Duarr....


Gemuruh terus bersahutan dengan kilat, percikan kilat menggores langit malam berbentuk ukiran naga sedang turun ke bumi.


"Kilat hari ini sangat menakutkan," ucap prajurit dengan suara besar ditengah hujan turun lebat.


"Benar sekali. Seperti para dewa sedang murka," sahut temannya dengan suara besar juga terkibas air hujan.


Jarang sekali hujan lebat di akhir musim gugur. Meski hujan lebat, itu pun hanya terjadi pada awal musim sampai pertengahan musim gugur saja.


**


Dalam kamar, Feng Ni berganti pakaian tanpa bantuan seorang dayang. Dia benar-benar berubah kepribadian diri, dari seorang tuan putri yang disanjung hormat karena kedudukan serta merupakan keturunan raja, menjadi putri yang kuat gigih dan juga pendekar tangguh.


Kemudian ia duduk bersila di atas tempat tidurnya, memusatkan pikiran untuk berteleport pada Guru-nya.


"Guru, saya sudah tiba di istana," ucapnya memberitahukan keadaan.


"Kamu harus lebih waspada, seperti dugaan kita, mereka lebih cepat 1 langkah untuk segera bertindak," sahut So Po Ta yang juga duduk bersila berteleport.


"Baik, Guru."


Jderrr...... Gludukkk..... Gludukkk.....Jderr.....


Halilintar dan gemuruh saling bersahutan menabuh gendang perang akan segera dimulai.


Biarlah hujan turun lebat membasahi bumi pertiwi tercinta. Dalam buaian angin dingin juga, biarkan para rakyat tak berdosa tidur tanpa kecemasan bakal terjadi perang saudara.


**


Di sebuah paviliun taman kerajaan khusus milik Ratu Semangi, di sana raja dan ratu sedang duduk menikmati teh hangat ditemani kicau burung musim gugur.


"Ananda memberi hormat," ucapnya penuh tata krama, badan membungkuk kepala menunduk.


"Berdirilah," tangan raja mengulur ke arah kursi batu giok di depannya.


Feng Ni berjalan dan duduk tepat yang diperintahkan sang ayah.


Pakaian formal kenegaraan yang dipakai biarpun mewah, tetap bernuansa kabung.


"Kenapa kamu pakai pakaian putih,anakku?" tanya ratu, teringat melepaskan kepergian putranya terakhir setelah sebelumnya juga kehilangan.


"Maaf Ibu, jika Ibu bersedih karena hal ini,saya akan menukarnya," paham bagaimana perasaan yang terlukis jelas pada wajah ratu yang dulu cantik cerah, penuh energik.


"Tidak usah, duduk saja," sambung raja. "Apa kabarmu di luar sana baik-baik saja?" tanyanya.


"Saya baik-baik saja, hanya saja tidak bisa cepat pulang untuk mengantar kepergian Abang," jawabnya dengan perasaan tertekan kesedihan, tangan pun mengepal keras di atas pahanya.


"Asal kamu baik-baik saja, Ibu sudah senang," sahut Ratu, mengusap ujung mata yang basah dengan sapu tangan sutra berukir naga sebagai lambang untuk putra mahkota yang akan segera naik tahta.


"Sudahlah permaisuriku. Kamu jangan terlalu bersedih, pikirkan juga perasaan putri Feng Ni," bujuk Raja, membantu usap tetesan air di pelupuk mata ratunya.


"Benar Ibu. Ibu jangan bersedih lagi. Mungkin dewa langit ingin Abang ke surga dengan tugas lebih mulia," memeluk Ratu dengan dekapan hangat dan kasih sayang seorang anak.

__ADS_1


"Yang Mulia, tolong selamatkan nyawa Feng Ni. Hamba tidak ingin kehilangan seorang anak lagi," seketika Ratu bersimpuh dengan derai air mata, yang terus menggeleng tidak sanggup kehilangan buah hati yang tersisa dalam hidupnya.


"Saya tau. Untuk itu akan lebih baik jika Feng Ni tetap ada di luar istana," jawabnya dengan perasaan tertekan beban dari segala sisi.


"Baiklah jika begitu. Hamba juga akan keluar istana untuk melindungi dia," spontan ambil keputusan yang terlintas dalam benak.


"Jangan. Jika kamu pergi, maka keberadaan Feng Ni bersembunyi akan ketahuan." Raja tidak ingin kehilangan ratu dan putrinya yang tersisa sebagai penerus tahta.


"Ayah, ibu. Kalian tidak perlu mencemaskan apa pun lagi," sahut Feng Ni terharu momen ini. "Saya kembali untuk menemani Ayah, Ibu hadapi semua yang terjadi," memeluk kedua orang tuanya.


Memang jarang Raja Xiao Se Mang menghabiskan banyak waktu untuk anak-anaknya sewaktu mereka semua hidup.


Sekarang tinggal Feng Ni dan 2 putri kecil dari selir yang merupakan hubungan diplomatik antara 2 negeri.


Habis ngobrol reuni keluarga sejenak, raja pun harus kembali beraktivitas mengurus urusan kerajaan.


Hanya tertinggal Feng Ni yang menemani ibunya berwajah pucat lesuh, duduk berjemur mentari pagi.


"Kamu terlihat kurusan," ucap ratu menarik tangan putrinya.


"Tidak juga. Saya justru merasa sehat bugar." Feng Ni tersenyum, meyakinkan kondisi selalu sehat prima.


"Ibu tidak ingin kehilanganmu," mendekap tubuh Feng Ni.


"Ibu tidak akan kehilangan saya. Saya kembali untuk melindungi Ibu dan negeri ini," jawab membatin, membalas pelukan dengan elusan lembut ke punggung ratu.


"Ibu akan lakukan segalanya untuk melindungimu," melepaskan dekapannya, mengelus wajah yang cukup lama tidak terelus telapak tangan seorang ibu.


"Terima kasih, Bu," bersandar kepala di dada ratu.


Kehilangan 3 putranya cukup memukul batin. Dengan kepulangan seorang putri setidaknya mengurangi kesedihan dan kesunyian hidupnya.


Sambil berbincang santai, Feng Ni punya ide untuk memasukkan beberapa orang secara formalitas ke istana.


"Oh ya, Bu. Guru saya bisa meramal masa depan. Jika Ibu berkenan, maukah Ibu diramal beliau?" tanyanya sambil tuang teh ke cawan giok.


"Tidak usah. Masa depan Ibu sekarang adalah kamu," menangkup wajah cantik putrinya yang mengobati kesedihan.


Feng Ni tersenyum lembut, paham maksud tersirat ucapan ratu padanya.


Untuk buat siapa pun masuk ke istana secara formal, Feng Ni terus mengajukan kandidat sesuai kemampuan calon kandidat.


Alhasil Ratu pun menuruti kemauan putrinya yang terus merekomendasikan beberapa orang calon kandidat.


Yang terpilih akhirnya adalah Bapao yang pintar masak menu sederhana semewah dan selezat masakan koki istana.


"Terima kasih ya, Bu. Besok saya akan mengirim surat padanya untuk segera masuk istana," seraya Feng Ni berhambur meluk ratu.


"Iya, iya. Asal kamu senang, Ibu akan lakukan apapun," mengecup pucuk kepala Feng Ni.


Siang itu juga setelah ratu masuk kamar untuk beristirahat, Feng Ni mengendap-ngendap ke bangunan mercusuar untuk menkonfirmasi informasi bahagia.


"Bang Bapao besok akan masuk istana secara resmi. Jangan lupa mengubah identitas pada seseorang yang siap membantu kita," ucapnya memberi gulungan surat perintah, dan satu lagi surat untuk menemui seseorang untuk membantunya masuk resmi.


*

__ADS_1


__ADS_2