Dragon Warrior

Dragon Warrior
Bab 69 Rindu


__ADS_3

Flash back off


Dengan penghangat api unggun di tengah, ibu dan anak itu melihat bintang bertebaran dimalam dingin.


"Bu, lihatlah bintang yang paling besar dan bersinar itu," nunjuk bintang di kutub barat.


Ratu mengikuti arah tangan Feng Ni nunjuk.


"Iya, besar bersinar," mendapatkan bintang yang dimaksud.


"Mungkin itu adalah jiwa Abang yang tenang di atas sana, dan menjaga kita dari ketinggian"


Air mata sedang kering dimusim dingin, sesedih apa namanya, dan bagaimana perih rasa hati tidak mampu ratu Semangi menggerai air mata.


"Ibu," panggilannya lembut menarik pelan tangan ratu yang remas sapu tangan bersulam naga.


"Ibu baik-baik saja, Nak," meyakinkan pikiran Feng Ni.


"Beberapa masalah harus dilepaskan, agar hati tenang, Bu," tenangkan perasaan sedih kehilangan para putra penerus.


Ratu mengangguk paham, biarpun berbulan sudah mencoba untuk lebih dan lebih ikhlas.


"Angin semakin kencang. Feng Ni antar Ibu kembali ke kamar ya?" ajak setelah cukup untuk turunkan makanan.


"Baiklah. Kamu juga harus beristirahat," tangan dirangkul manja oleh Feng Ni.


Sambil berjalan santai, mereka bernyanyi seiring seirama lagu tentang kehidupan musim dingin.


Terlukis elok wajah cerah ibu dan anak setelah menyanyikan 1 buah lagu sampai tuntas.


"Sampai juga, Bu," berhenti di depan pintu kamar ibunya.


"Mmmm..... Kamu cepat kembali juga ke kamar ya," angguk lalu mengecup kening selamat malam pada anak semata wayangnya.


"Baiklah. Selamat malam, Bu," balas memeluk.


Kaki Feng Ni melangkah ke depan seorang diri tanpa ditemani dayang atau kasim.


Melihat kondisi aman untuk ia berjalan lagi,ia berbelok jalan menuju mercusuar.


"Sudah lama tidak bersua dengan saudara," ucapnya berjalan lengang santai.


Pas di cabang pertigaan, Feng Ni berpas-pasan dengan Kasim Do yang berpakaian mencurigakan.


"Kasim Do?" menatap penasaran.


"Tuan Putri," tingkah gelagapan menyembunyikan sesuatu di balik punggung.


"Anda dari mana dan mau kemana?" lihat arah yang dilalui bukan tempat peristirahatan kasim ketua atau pun tempat ayahnya beristirahat dan bekerja.


"Hamba.... Hamba dari lihat kuda," jawab asal,muka tegang.


"Kuda? Kenapa dengan kuda?" balik nanya, tangan berlipat dada.


"Kuda berisik dari tadi pagi, jadi hamba melihat apa yang terjadi," beruntung sebelumnya dapat kabar dari kasim lain.

__ADS_1


"Oh begitu.Baiklah," pasang muka percaya dan persilahkan Kasim Do untuk lanjut jalan.


"Hamba jalan dulu, Putri," pamit dan cepat menghindari banyak pertanyaan.


Punggung Kasim Do sudah sangat jauh, begitu juga bayangan tak tampak lagi.


Feng Ni juga ingin tau apa yang sedang dilakukan Kasim Do dengan arah barusan. Maka dari itu,ia menelusuri jalan itu.


Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, hanya saja sepi dari penjagaan prajurit.


"Aneh. Untuk apa dia kemari?" Feng Ni kian penasaran dengan gerak gerik kasim pelayan raja.


Semakin penasaran, kakinya melangkah untuk pecahkan beberapa teka teki tersembunyi.


Tidak disangka tempat itu ternyata merupakan tembusan pintu belakang mercusuar.


"Apa yang dia lakukan di sini?" membuka pintu yang digembok dari luar dengan jepit rambut.


Ketika gembok coba dibuka, Feng Ni mendengar suara berisik pada rumah tua dekat mercusuar.


Niat yang ingin masuk ke dalam mercusuar berahli keasal suara berasal.


Pelan-pelan dan amat berhati-hati Feng Ni melangkah dekati rumah tua tersebut.


"Saya coba ngintip dulu," menemukan celah papan tembok bolong.


Tidak disangka, apa yang dilakukan Kasim Do di luar dugaan siapa pun. Mungkin juga tidak akan ada seorang pun yang percaya tanpa melihat langsung.


Feng Ni menutup rapat mulutnya dengan tangan, dan berjalan mundur sebelum ketahuan orang di dalam.


Pintu mercusuar sudah terbuka, dia menaiki ratusan anak tangga hingga ke puncak dimana 3 saudara masih bersembunyi.


Dilangkah hampir akhir, dia bertemu dengan Bapao yang berat membawa bungkusan besar pada punggung.


"Sini saya bantu," ucapnya mendorong bungkusan dari bawah.


"Tuan Putri," sahut Bapao tidak bisa noleh terhalang bungkusan.


"Panggil seperti dulu saja."


"Tidak boleh.Kalau aku latah bagaimana."


"Baiklah. Asal Bang Bapao nyaman."


Sampai juga mereka di depan pintu. Sebuah kode ketukan agar orang di dalam tidak panik ketakutan.


"Akhirnya makanan datang," sambut Ling Ni membuka pintu.


"Lihat siapa juga yang datang," sahut Bapao, ekor mata mengarahkan.


"Feng Ni...." menyingkirkan Bapao halangi pandangan.


"Habis manis sepah dibuang," celetuk sindir Da Min.


"Apa kabar semua?" sapa lembut Feng Ni, ditarik masuk sama Ling Ni.

__ADS_1


"Baik," sahut Da Min dan Fun Cin membungkuk kasih hormat.


"Abang jangan terlalu formal. Saya jadi canggung," menggaruk kepala tidak gatal.


"Tidak bisa, bagaimana pun juga kamu adalah seorang Tuan Putri. Apalagi kami bersembunyi di istana anda." Fun Cin mempertahankan tata krama, sekalipun tidak menyebutkan kedudukan setiap berinteraksi.


"Hehehehe.....Saya jadi malu." Feng Ni tersenyum salah tingkah.


"Aku tidak bisa lama-lama sebelum ketahuan koki," celetuk Bapao tidak bisa ikut bergabung ngobrol.


"Tunggu dulu, Bang. Nanti sama saya saja," ujar Feng Ni agar semua bisa melepaskan rindu sejenak.


Tidak lama mereka mengobrol. Feng Ni langsung keinti permasalahan utama, yaitu pintu belakang yang sudah terbuka, serta aman buat mereka untuk keluar masuk tanpa pengawasan prajurit.


"Boleh saya minta 1 bantuan lagi kah?" tanya Feng Ni merasa bersalah.


"Katakan saja, kami pasti akan bantu," celetuk Ling Ni berkorbar semangat.


"Benar. Tapi, dia hanya ingin keluar saja," sambung Da Min dengan sindiran dingin.


"Kamu jangan asal tuduh. Tidak baik berkata gitu," sahut jutek Ling Ni merangkul lengan Feng Ni.


"Lihat sendiri," cibir Da Min memonyongkan mulut.


"Sudah... Sudah... Kalian ini tidak bisa berhenti untuk berdebat dalam 1 hari kah?" Fun Cin bergeleng kepala narik Da Min menjauh.


Feng Ni ternyata rindu masa dimana ia juga sesekali berdebat mulut dengan saudara laki-laki. Akan tetapi itu hanya tinggal kenangan, yang disimpan dalam hatinya seorang.


"Tidak apa, Bang. Dari pada menyimpan dendam,kan lebih baik begini," jawab Feng Ni.


Ling Ni merasa dibela orang berpengaruh hingga buat dia besar kepala bahwa dirinya lebih benar.


"Kamu jangan bela mereka lagi." Fun Cin narik Ling Ni untuk lepaskan Feng Ni.


"Abang !!" rengek manja Ling Ni telah dipisahkan.


"Bukankah kamu tadi bilang ada yang kami bisa bantu. Apa itu?" tanya Fun Cin ingatkan.


"Iya. Tidak jauh dari pintu belakang mercusuar ini ada rumah tua. Saya ingin Abang selidiki siapa saja yang keluar masuk dan apa yang mereka lakukan dalam rumah tua tersebut."


"Berarti tidak hanya seorang?" Fun Cin perjelas dengan wajah serius menyimak.


"Benar sekali. Ada orang di dalam rumah itu, dan ada yang keluar masuk."


"Baiklah. Masalah ini kamu serahkan pada kami."


"Terima kasih banyak ya, Bang" ucap Feng Ni nunduk terima kasih sudah mau dibantu.


"Jangan berkata begitu. Sebagai saudara kita harus saling berbagi." Fun Cin ikut nunduk.


Feng Ni dan Bapao berpamitan agar tidak kecarian orang lain.


Bapao bakal aman jika berjalan seiring bersama Feng Ni di malam hari. Begitu pula Feng Ni yang punya alasan keluar di jalan yang berbeda.


***

__ADS_1


__ADS_2