
Kasim Kim berhasil keluar istana,namun tetap harus waspada jangan sampai ada mata-mata lain ngikutin sampai tempat yang hendak dituju.
Langkah terhenti pada sebuah toko perlengkapan alat tulis terbesar di kota. Agar tujuan tidak ketahuan, dia juga harus membeli beberapa perlengkapan alat tulis.
Tidak lupa juga dia meminta pemilik toko untuk membantunya menyampaikan surat serta membeli obat sesuai yang tertera.
"Ingat! Jangan sampai ketahuan! Atau tokomu ini akan ditutup Putri!" bisiknya ngancam pemilik toko dan memberikan sejumlah uang jalan dan beli obat.
"Si-siap," terbata-bata pemilik toko jawab.
"Akan saya promosikan pada keluarga dan teman saya nanti, agar beli perlengkapan tulis di sini," ucap Kasim Kim menjabat tangan pemilik toko dengan senyum ngancam.
"Iya, sama-sama Tuan," sahut pemilik toko gugup.
Kasim Kim keluar membawa bungkusan isi alat tulis, tidak lupa juga dia singgah ke pasar untuk beli beberapa macam keperluan dapur istana.
"Tolong antar ke istana," ucapnya setelah menulis daftar belanjaan.
"Tentu saja Tuan. Kami akan segera mengantarnya," sahut penjual ikan dengan senyum cengengesan ramah.
"Baguslah "
Dia masih harus memesan sayur dan juga bumbu lainnya sebelum kembali ke istana.
"Untung saja, tadi memang mau ke pasar," gumam Kasim Kim berhasil ngecoh mata-mata.
Mata-mata yang bersembunyi ngikutin dari jarak jauh memang terkecoh. Dengan hasil lumrah, tidak ada yang bisa dia sampaikan pada majikannya.
Di rumah sewaan, 3 saudara yang harus hadapi emosi labil kembar kurus ternyata membangunkan kembar satunya lagi.
Mungkin tergolong kategori mukjizat setelah koma berbulan-bulan.
"Saya dimana?" tanya pelan kembar sedikit gemuk.
Suara terikan dan juga nasehat terdengar jelas di telinga. Diantara suara berisik tersebut,ia mendengar suara familiar berpuluh tahun.
Dia coba bangkit dari tidur panjangnya. Tentu saja akan terasa sakit sekujur tubuh yang cukup lama tidak dipergunakan semestinya.
"Siapa kalian?" kembar sedikit gemuk bertanya tanpa sadari ada perubahan baru pada dirinya.
"Saudaraku..." kembar kurus ngesot hampiri kembarannya dan memeluk sedih.
"Kamu siapa?" leraikan pelukan.
"Ini aku! Saudara kembarmu."
"Saudara kembar?" bingung, tapi tidak asing dengan suara.
Inilah salah satu efek yang diperkirakan Ling Ni. Ada benturan tepat mengenai sistem saraf gerak dan daya ingat setelah testimoni sebelumnya.
"Dia kenapa?" tanya bisik Da Min.
"Lupa ingatan," jawab ketus.
"Lupa ingatan? Kok bisa?"
"Jangan bawel! Lebih baik bantu mereka tenangkan kondisi baru mereka," ujar ketus.
Fun Cin paham maksud jawaban Ling Ni.Walau tidak sepintar Ling Ni dalam ilmu pengobatan, tapi dia tau beberapa cara pengobatan darurat.
Bagaimana mereka akan bisa menjawab pertanyaan, jika ada yang lupa ingatan dan emosi labil ?.
__ADS_1
Biarkan itu semua jadi urusan takdir yang bersangkutan. Yang terpenting mereka tetap berusaha semaksimal ngobatin pasien.
Hari sudah sore, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu pagar.
Da Min pun keluar untuk melihat gerangan pengunjung.
"Siapa kamu?" tanya Da Min antara jerjat susunan kayu pagar tidak rapat.
"Aku disuruh bos toko obat ngantar pesanan."
Dia pun bukakan pagar biarkan pengantar obat mendorong gerobak dorong masuk.
"Ongkosnya sudah dibayarkan?" tanya dingin Da Min, halangi pengantar ngintip lebih jauh.
"Sudah Tuan."
"Jika begitu, ayo aku antar keluar," maksa secara halus.
Obat yang dibutuhkan sudah lengkap datang.Ling Ni pun segera meracik beberapa obat diminumkan sebelum makan malam.
Tuk....Takkk..... Tukk....
Suara lumpang keramik menumbuk cepat setiap bahan obat yang dimasukkan. Setelah halus jadi tepung, Ling Ni butuh sedikit madu untuk membuat pil.
"Semoga luka dalam mereka cepat kering. Biar bisa kembali keasal," gerutu Ling Ni membentuk bulatan pil.
Pil sudah selesai, tinggal maksa pasien untuk minum sesuai aturan. Hal ini diserahkan pada Da Min dan Fun Cin, sementara ia memilih untuk masak makan malam mereka.
"Bakal nggak bisa nelan nasi malam ini, Bang," bisik Da Min berkeluh kesah.
"Apa boleh buat," ngangkat bahu pasrah.
Jam makan malam tiba, dengan nasi sepanci beserta tumisan sayur bewarna kuning kecoklatan di atas meja, siap bagi Ling Ni memanggil saudaranya dan 2 pasien untuk makan.
"Ayo kita makan dulu, biar ada tenaga lagi." Fun Cin bujuk agen kembar yang tidak terima kenyataan pahit hidup.
"Lebih baik aku mati kelaparan saja," ujar kembar kurus, memukul kepala dengan kepalan tangan.
"Jangan begini. Apa kamu tidak tau! Jika Feng Ni telah banyak berkorban untuk selamatkan nyawa kalian, Haa!!" Da Min bentak geram.
"Lebih baik makan dulu, ahh" gumam Ling Ni pusing lihat pasien labil.
**
Musim sudah berganti lagi, di musim gugur ini agen kembar sudah terima kenyataan kepahitan hidup mereka. Yang lupa ingatan juga terus berusaha perlahan ingat semua kenangan.
"Nah... Lihat mereka tenang, aku juga bisa santai," ujar Ling Ni tersenyum bahagia.
"Dia tenang,tapi kita tersiksa," bisik gerutu Da Min pada abangnya.
"Sudah berakhir," menepuk pundak orang yang berkeluh.
Feng Ni yang bisa keluar bebas pun datang menjenguk setiap ada kesempatan.
"Kabar mereka bagaimana?" tanya Feng Ni pada tabib khusus di rumah sewaan.
"Lihat mereka sudah bisa berinteraksi dengan kita,berarti sudah 90 persen pengobatan selesai," jawab Ling Ni tuangkan teh hangat.
"Terima kasih sudah berdedikasi untuk negeri saya, Ling," terharu dengan keikutsertaan saudara dari berbagai negeri.
"Jangan begitu. Aku jadi terharu "
__ADS_1
"Kabarmu gimana?" celetuk Fun Cin dari belakang bawa nampan isi mangkuk kosong.
"Baik kok, Bang," menoleh.
"Da Min selalu bilang masakanku tidak enak, tapi 2 Tuan tampan itu selalu senang loh dengan masakanku," adu Ling Ni penuh percaya diri.
"Iya mereka senang, karena wanita cantik yang masak dengan cinta kasih." Fun Cin memuji sambil tersenyum.
"Abang juga senang kan?" harap dapat pujian lagi.
"I-ya," kaku jawab kebohongan.
"Nanti kamu coba masakan aku ya Feng Ni," pintanya.
Dari balik punggung Ling Ni, Fun Cin menyilangkan tangan terima ajakan tersebut. Bisa-bisa mereka hanya menambah jumlah makanan tidak enak.
"Lebih baik saya ikut bantu," sahut Feng Ni ambil jalan terbaik.
"Mana bisa. Kamu ini seorang putri mahkota,dan juga tamu."
"Itu kalau di istana. Tapi jika di luar, saya tetap saudara seperguruan semua"
Fun Cin ngangguk bisa terselamatkan tenggorokan dari masakan enggak enak.
Feng Ni dan Ling Ni ke dapur, bersiap masak makan siang dengan bahan yang tersedia.
Dengar Feng Ni turun tangan pegang kuali, Da Min jadi bisa lebih tenang. Setidaknya masakan Feng Ni tidak lebih buruk, walau tidak seenak masakan Bapao.
Di dapur istana, orang yang dirasanin bersin-bersin, meniup tepung yang membumbung tinggi dalam karung.
"Hei kau!! Tutup mulutmu kalau bersin. Bisa dihukum penggal kami karena kuman yang kau tularkan," koki utama memaki, karena tepung berhamburan di lantai tertiup bersinan Bapao.
"Maaf. Tidak sengaja," cepat tutup hidung dengan kain lap.
"Awas saja kalau aku dipanggil karena perbuatanmu," hardiknya ketus,sambil banting adonan tepung kalis di atas meja.
**
Beberapa macam sayuran selesai ditumis dalam warna hijau kecoklatan.
Ling Ni siap memanggil yang lain untuk penuhi meja kecil itu.
Sumpit Da Min mulai menyumpit masakan buatan Feng Ni yang lebih terlihat menarik dipandang mata.
Diicipi tumisan sayur pertama.
"Ya ampun," muka Da Min datar tidak berani bersuara keluar, mengunyah pelan sayur yang terlanjur masuk mulut.
"Bagaimana rasanya?" Feng Ni menatap lekat.
"Biar Abang saja," celetuk Fun Cin,ambil sumpit untuk coba setelah lihat reaksi Da Min.
Di kolong meja, kakinya diinjak Da Min.
"Kamu kenapa?" Fun Cin menoleh samping.
"Tidak ada. Silahkan makan," sahut tegang Da Min, menyumpit masuk nasi hambar ke mulut.
Sekarang Fun Cin paham maksud tersirat bahasa muka Da Min. Dan tetap harus tenang tanpa ada kecurigaan.
"Enak,Bang?" tanya Feng Ni dan diangguk.
__ADS_1
"Ayo semua makan." Fun Cin persilahkan semua makan.
**