Dragon Warrior

Dragon Warrior
Bab 73. Nasihat


__ADS_3

Da Min dan Feng Ni berjalan balik dekati penjaga yang bungkuk meringkuk kesakitan.


"Biar saya periksa," ucap Feng Ni dengan wajah ibah.


"Pergi kalian !!" jawab ketus penjaga.


"Sudah sakit masih saja angkuh," celetuk sinis Da Min ingin nonjok.


"Lebih baik kami periksa dari pada Tuan kesakitan begini." Feng Ni beri saran terbaik.


"Puihhh.... Tutup mulut busuk kau!!" maki penjaga ludahi todongkan pedang.


"Biarkan orang ini mati kesakitan saja," ujar Da Min narik pergi Feng Ni.


"Jika kejahatan dibalas kejahatan, yang ada dunia penuh penjahat. Maka dari itu, kita harus balas kejahatan dengan cinta kasih," sahut Feng Ni tenangkan suasana hati Da Min.


"Tapi tidak semua orang jahat harus ditolong, kan kita tidak bisa pulang kampung jadinya. Bagaimana pula jika mereka sembuh dan kembali jahat?" argument Da Min yakinkan Feng Ni.


Ughhh....


Penjaga meringkih kesakitan, rasa sakit yang meremas, ngiris organ dalam perut.


"Sini saya tolong," ucap Feng Ni acuhkan Da Min.


Penjaga juga tidak punya tenaga untuk melawan dan berkata lagi.


Akal Feng Ni sedikit menumbalkan penjaga ternyata berhasil bawa mereka masuk pagar.


"Hati-hati, Bang." Feng Ni minta Da Min letakkan perlahan tubuh penjaga bagian pinggang ke bawah secara perlahan.


Da Min tau akal Feng Ni sudah berhasil bawa mereka lebih dekat untuk menguping, tapi masih terkendala penjaga yang sakit dan setengah sadar penuh.


Dengan jarum perak, Feng Ni menotok aliran darah penjaga hentikan rasa sakit.


"Bagaimana ? Lebih baik kan?" Feng Ni bertanya.


Penjaga ngangguk merasa lebih nyaman.


"Saya akan bantu hilangkan rasa sakit yang serang uluh hati Tuan," tusukkan jarum perak pada bagian perut dan dada.


Lihat penjahat memejamkan mata, Feng Ni ambil 1 jarum perak lagi menusuk syaraf tidur pada bagian tengkuk.


"Sudah tidur?" tanya bisik Da Min.


"Sudah. Kita harus cepat Bang," menyimpan jarum perak yang nusuk.


Keduanya mengendap perlahan dengarkan topik pembahasan yang sedang dibicarakan.


Karena dari bagian bawah bangunan dijaga beberapa penjaga, maka mereka terpaksa harus ngintip dari atap bangunan.


Dari lubang atap yang bolong kecil, mereka mengintip dan dengarkan selentingan percakapan.


Hahaha....


Tawa keras orang di dalam bangunan itu lebih dapat mereka dengar jelas dari pada topik pembahasan.


"Pokoknya rencana kita harus berjalan mulus," ucap pria paruh baya sebagai pejabat keuangan istana.


"Tentu saja." pria lain berjabat tangan sebelum bubaran.

__ADS_1


"Kami juga harus segera pulang lanjut tugas penting kita," tambah pria janggut panjang.


"Baiklah. Mari saya antar kalian pulang," tangan bendahara istana mengulur sopan antar tamu-tamunya pulang.


Kereta kuda yang berbasis rapi di depan pintu utama juga siap membawa pulang masing-masing majikan mereka.


Bendahara istana berdiri tegak dengan senyum ramah mengantar orang-orang itu keluar dari pintu gerbang kediamannya.


Saat melihat tidak ada seorang penjaga yang menutup pintu gerbang, bendahara berteriak memanggil penjaga lainnya.


Sontak dia panik gelagapan.


"Jika rahasia ini terbongkar, maka nyawa kami tamat," gumam gusar pria bendahara, mondar mandir kaya gosokkan.


"Cepat kalian periksa.Jika temukan mata-mata cepat kalian habisin saja," titahnya terbalut marah dan takut.


"Siap Tuan," pasukan penjaga segera berpencar, mengepung seluruh kediaman dari segala arah.


"Untung saja kita berhasil kabur," ucap Da Min lompat tinggi tembok.


"Betul Bang. Jika telat sedikit, yang ada sia-sia usaha kita," berhela nafas lega,teringat mereka harus berjalan di atas atap licin tertimbun salju.


"Lebih baik kita kembali ke markas," saran Da Min.


Mereka kembali bergabung dengan 2 saudara yang nunggu berita dalam gubuk reyok tua.


"Bagaimana hasilnya pencarian kalian hari ini?" tanya Fun Cin menyuguhkan teh dalam cangkir retak.


"Berhasil Bang. Ini semua karena akal Feng Ni yang cemerlang," jawab Da Min, cerita lengkap awal sampai selamat.


"Wahhh....Kamu sangat keren," celetuk Ling Ni ngacungkan 2 jempol buat Feng Ni.


Semua ikut tertawa kompak temani putri kerajaan Semangi.


Malam harinya ketika Ling Ni ingin buang air,ia dengar suara yang begitu nyaring.


"Suara apa itu, ya?" gumamnya berjalan maju mundur akibat bulu kuduk merinding berdiri.


Ngeongg.....


Seekor kucing melompat keluar dari tempat kamar mandi darurat.


"Ya ampun ! Kucing itu sudah buat jantungku mau copot." Ling Ni menepuk dada kiri.


Pintu darurat kamar mandi yang berupa kain robekan, tentu buat risih. Namun karena pikiran orang-orang di jaman tersebut masih polos pornografi akut, cukup buat orang yang pakai kamar mandi darurat seperti itu terlihat wajar saja.


"Akhirnya lega perut ini," mengikat kembali celana.


Namanya juga ditempat yang sunyi dan jauh dari rumah warga lainnya, tentu saja beberapa suara aneh akan muncul.


Setiap suara hanya akan membuat Ling Ni gemetar ketakutan akibat trauma sebelumnya. Ditambah Da Min yang menceritakan asal gubuk reyot yang ditemukan untuk jadi markas, saat mereka makan malam tadi.


"Sial Da Min !" umpat kesal Ling Ni berjalan cepat ketakutan akut.


Bammm....


Dia berlari masuk gubuk reyot itu dan menutup kasar pintu yang sudah lepas dari engsel bagian atas.


"Kamu kenapa?" Feng Ni bertanya pada orang pucat ketakutan.

__ADS_1


"Pasti lihat hantu. Ya kan," celetuk sindir Da Min ,naik turunkan alisnya.


"Sial kau!" menyerang Da Min dengan pukulan.


"Begitulah mereka," ujar Fun Cin bergeleng kepala.


"Bukankah benci bisa jadi awal cinta ya, Bang?" tanya Feng Ni teringat pernikahan yang dibatalkan sebelah pihak.


"Semua tergantung ikatan jodoh dan karma sebelumnya," jawab Fun Cin, lihat mimik wajah galau Feng Ni.


"Betul." Feng Ni tercerahkan kembali.


"Coba kamu nasehatin mereka. Mana tau mau dengar nasehat seorang Putri seperti kamu." Fun Cin coba hilangkan kegalauan.


"Jika nasehat Abang tidak didengar, apalagi nasehat saya seperantaraan umur mereka," mengangkat bahu pasrah dengar kegaduhan.


Hahaha ....


Mereka tertawa garing berdua saja. Dan hal itu menghentikan 2 orang yang bergaduh, seakan ditarik penasaran ingin ikut tertawa dalam bagian kebahagiaan itu.


Tidak semua tawa itu merupakan wujud, bentuk dari sebuah kebahagiaan itu sendiri.


Bisa saja tawa merupakan sarung penutup luka yang dirasakan. Atau sebuah cemoohan hasil bergibah.


"Uhhh... Siapa pula akan suka dengan orang seperti dia," jawab keluh manja Ling Ni merangkul lengan Feng Ni.


"Dengar ya!! Kamu itu juga tidak termasuk tipe istri ideal," cibik Da Min menyalurkan keluhan hati.


"Kamu juga bukan tipeku. Tipeku minimal seperti Abang Fun Cin lah," jawab lantang Ling Ni, ngejek julurkan lidah.


"Ehhh.... Jangan kalian bawa Abang kedalam gaduh kalian ya!!" celetuk sambung Fun Cin silangkan tangan tidak mau ditarik masuk dalam perdebatan.


"Dengarin tuh!! Abang saja setuju dengan tipe istri ideal seperti aku. Bukan kamu yang suka ngajak gaduh terus." Da Min besar kepala merasa dapat dukungan.


"Haisshhh.... Bukan gitu juga." Fun Cin tepok jidat susah keluar dari 2 oposisi.


"Tenang saja, kalian sudah punya takdir masing-masing, dan bakal tidak ketukar dengan milik orang lain." Feng Ni jadi penengah.


"Setuju!!" seru serentak 2 oposisi pertengkar.


"Lebih baik kita semua istirahat, biar bisa banyak tugas diselesaikan," saran Feng Ni narik Ling Ni tidur di sebelah.


Malam dingin tanpa api unggun yang menyala hangatkan tidur mereka semua.


Berbekal ilmu bela diri, mereka terus pertahankan ketahanan tubuh sepanjang malam dingin.


Suara burung hantu seakan menghipnotis mereka agar tidur dengan tenang dalam hujan salju yang deras turun selimuti bumi pertiwi.


Esok hari....


Fun Cin terbangun pagi buta, dan menyadari dalam gubuk reyot ada gunung salju di tengah antara mereka, yang muncul dari atap genteng yang bocor kecil.


"Bangun Da Min." Fun Cin goyang pundak orang yang tidur sebelahnya.


Emmmm...


Erang Da Min renggangkan otot sekujur tubuh kaku.


"Cepat bangun, lihat ini." Fun Cin narik bangun Da Min.

__ADS_1


**


__ADS_2