
Esok harinya 2 putri tengah remaja itu bersekongkol merencanakan sesuatu di balik gudang tidak terpakai.
Hal yang mereka rencanakan sudah pastinya tidaklah baik, terutama bagi Feng Ni.
"Ingat, seperti biasa saja sikap kita," ucap putri selir Qi mengingatkan temannya.
Mereka pergi tinggalkan area gudang, mencari sesuatu tanpa perlu diketahui banyak orang lain.
"Tuan Putri mau kemana?" tanya Kasim Do berpas-pasan dengan 2 gadis kecil.
Muka mereka pucat kaget takut ketahuan rencana yang sedang meluncur.
"Kami sedang bermain petak umpet," asal jawab putri selir Xu menarik tangan temannya untuk segera kabur.
"Sebaiknya Putri-putri sekalian jangan ke area sini." pria tua menasehati agar tidak ada yang masuk area bukan tempat permainan cocok untuk anak-anak.
"Baik," sahut mereka dan berlari kabur.
Rencana beserta kelengkapannya sudah siap menjebak korban masuk perangkap.
Atas undangan 2 gadis kecil melalui seorang dayang mereka mengundang saudari tertua untuk jamuan minum teh di siang hari, tentunya tidak dapat tolakkan dari duplikat.
"Baiklah, saya akan pergi," mengibaskan tangan, biarkan dayang menyampaikan balasan undangan minum teh tersebut.
"Kamu yakin ingin pergi ?" tanya ratu rada cemas.
"Ibu tenang saja.Ini sekedar undangan biasa. Bukankah tidak baik jika kita terlalu sering mengibarkan bendera peperangan" jelasnya dengan nada lembut yang tenang.
"Sebaiknya kamu pergi bersama Kasim Kim saja," menyarankan agar ada yang bisa panggil pertolongan.
"Baiklah jika ini mau, Ibu."
Beberapa menit kemudian....
Duplikat Feng Ni dan Kasim Kim pergi hadiri jamuan minum teh di musim dingin awal bulan.
Teh dan peralatannya sudah tersusun rapi siap di santap santai oleh mereka bertiga.
Sambil mendengarkan petikan senar kecapi pemain musik istana, kakak beradik itu bisa berbincang menikmati secangkir atau mungkin beberapa cawan teh hangat.
"Adik memberi hormat pada Kakak," sapa mereka berdua, setengah membungkuk hormat.
"Berdirilah," terlihat normal tidak ingin mencolok.
"Silahkan Kakak duduk di sini." putri selir Xu mengarahkan mereka untuk duduk pada tempat yang sudah disiapkan.
Semua masih tampak normal tanpa kecurigaan. Tapi mata Kasim Kim terus mengawasi setiap dayang dan juga 2 gadis kecil penuh tipu daya muslihat.
"Ngapain kasim tua jelek itu tetap di sini," bisik putri selir Qi pada putri selir Xu.
"Iya. Mengganggu saja," sahut kesal yang sama.
"Apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan ?" tanya duplikat menikmati cawan isi teh hangat dengan sangat santai, tanpa kecemasan apapun.
"I-ya,ada Kak," jawab serentak dengan senyum terukir kelicikan.
"Apa itu?" meletakkan cawan di atas meja batu giok, dan mengusap pinggiran cawan dengan jari telunjuknya.
"Begini Kak. Kakak sungguh-sungguh punya ilmu silat?" tanya asal terpikir putri selir Xu dengan wajah kaku mata terus melihat duplikat mengusap pinggiran cawan.
__ADS_1
"Iya. Tapi hanya sekedar dasar saja," melihat mimik wajah 2 gadis kecil cengar cengir tanpa sebab jelas.
"Boleh kami lihat." putri selir Qi melanjutkan strategi mereka.
"Kakak malu, jika Adik melihat gerakan kakak yang kaku," sahutnya pura-pura malu ikuti alur permainan.
"Tidak apa Kak.Lagian kami juga ingin belajar ilmu silat juga." putri selir Qi membujuk.
"Benar kak. Ayolah tunjukkan pada kami," tambah putri selir Xu dengan senyum tersirat.
"Baiklah."
Hehehehe.....
2 gadis kecil itu tersenyum picik, dengan duplikat Feng Ni beranjak berdiri dari bangku.
"Sebentar lagi dia akan malu," umpat keji batin mereka.
Ratu bidadari beranjak berdiri meraih tongkat yang diberikan dayang padanya.
Ekor mata ratu bidadari juga sedang lihat mimik wajah kedua adik tiri Feng Ni yang begitu keji diusia muda.
"Siapa yang akan mempermalukan siapa," sahut batin ratu bidadari, bersiap untuk unjuk kebolehan dasar tanpa sedikit kekuatan tenaga dalam.
2 gadis kecil semakin tersenyum licik mengukir wajah mereka.
Kasim Kim yang baru menyadari akan niat busuk mereka telat untuk memberitahukan Feng Ni yang sudah terjebak. Sedangkan dirinya sendiri dibekap oleh seseorang dengan obat bius.
"Kalian cepat panggil dayang dan kasim yang lain!" titahnya angkuh sebagai putri selir Xu.
"Baik, Tuan Putri." dayang yang diperintahkan bergegas memanggil.
Seketika area tempat jamuan minum teh di siang dingin menjadi ramai dayang dan kasim yang diperintahkan menonton pertunjukan.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembi...." putri selir Qi menghitung pelan keseruan dimulai, tapi seketika hampir dihitungan terakhir dia berhenti menghitung, merasakan mules perut.
"Kamu kenapa?" tanya temannya menoleh samping.
"Kok perutku sakit seperti digilas," adunya meremas perut, duduk merat merot tidak tenang.
"Kok bisa?" merasa aneh.
"Dah lah...." putri selir Qi berjalan terkocar kacir.
Pruutttt.....
Gas buangan yang bau menembak keluar dari celahnya,membius pernafasan orang disekitarnya.
Uwekkk.....
Putri selir Xu mual dengan aroma bau menyengat. Isian perutnya pun keluar terpancing gas alam milik temannya.
Selang beberapa detik,putri selir Xu mengalami hal sama. Perutnya mulas dan sudah tidak bisa tertahan.
"Putri,anda kenapa?" tanya dayang memapah dirinya yang meringis kesakitan.
"Cepat bawa aku," hardiknya ketus, cengkram kuat bahu dayang.
Dayang tidak bisa teriak kesakitan dengan derita yang dialami. Belum lagi harus menghirup gas alam yang dikeluarkan lebih bau menyengat.
__ADS_1
Kasim dan dayang lain segera bubar kabur begitu 2 gadis tidak ditempat itu lagi.
Ratu bidadari pun berhenti menunjukkan ilmu beladiri dasar begitu semua penonton bubar tanpa pamit.
"Selamat menikmati" ucapnya dengan senyum bahagia.
Ia pun menyadarkan Kasim Kim yang dibius dengan dosis besar bisa sampai 12 jam tertidur pulas.
Dengan totokan aliran darah, Kasim Kim terbangun biar pun masih sangat berat membuka kelopak mata.
"Putri.2 putri ingin mencelakai anda," ucap terbata-bata ngantuk, melihat samar-samar wajah Feng Ni beda.
"Tidak apa.Semua sudah selesai. Mari kita kembali."
Kasim Kim berdiri berjalan sempoyongan ngantuk, ngikutin duplikat dari belakang.
Sesampai di kediamannya, ratu bidadari menyarankan agar Kasim Kim pergi mencari jeruk kasturi yang mentah.
"Terima kasih," ucap Kasim Kim.
Sementara berjalan merem melek ke dapur, dia mendengar selentingan kabar heboh diantara kasim dan dayang.
"Maksudnya apa ini?" tanyanya dalam kantuk dan ingin tau.
"2 putri terus buang gas bau busuk. Mereka juga diere. Tidak ada yang berani bertahan lama dekat mereka" jawab jelas seorang kasim rendahan.
Kasim Kim yang masih ngantuk berat jadi segar setelah dapat kabar bahagia.
"Akhirnya karma dibayar tunai," umpat Kasim Kim menepuk tangan dan berdoa puji syukur pada roda keadilan dunia.
"Anda kenapa?" tanya para kasim kebingungan.
"Tidak apa.Kalian lanjutkan saja tugas," ujarnya menepuk beberapa bahu kasim.
"Ada apa dengan kasim kepala? Bukannya tadi ada ditempat kejadian," seorang kasim bertanya dengan kumpulan orang.
"Benar. Tapi dia pingsan. Mungkin karena tidak kuat hirup gas," sahut wakil kasim ketua, masih merasa eneg dengan bau busuk disekujur tubuh.
Semua kasim dan dayang mengangguk setuju. Rasanya mereka juga butuh berendam air bunga mawar dan melati berjam-jam hingga bau gas tadi hilang dari pikiran. Mereka juga menyesali telah mau dipanggil hanya untuk jadi korban bau busuk plus-plus.
Kasim Kim tidak lagi perlu mencari jeruk kasturi untuk menyadarkan kesadaran. Karena berita yang didengar ampuh memelekkan mata.
"Kabar ini akan saya beritahu pada Ratu," gumam Kasim Kim berjalan lincah riang ke tempat ratu tinggal.
Ratu Semangi dibuat kaget bercampur cemas saat Kasim Kim datang terhuyung-huyung mendatanginya.
"Tarik nafas anda dulu," nasehat ratu biarpun ingin segera tau info, tetapi tetap biarkan informan mengambil nafas setabil.
Dia menarik nafas panjang untuk hentikan debaran kencang katup jantung. Lalu mulai bercerita sesuai yang dilihat.
"Saat hamba sudah mengetahui niat mereka mengundang Tuan Putri, mulut hamba ditutup lalu tidur tidak tau kelanjutannya" jelasnya. "Kabar ini hamba dapat dari mereka yang berkumpul lihat Tuan Putri perlihatkan ilmu beladiri juga."
"Tapi Putri Feng Ni tidak terluka kan?" cemasnya seorang ibu membiarkan anak semata wayang diantara ular-ular berbisa.
Kasim Kim bergeleng kepala meyakinkan keadaan Feng Ni sehat walafiat tanpa cedera sedikitpun.
Lega bagaimana pun jika belum melihat langsung keadaan anaknya, seorang ibu tetap merasa khawatir.
Dan dari itu, ratu ingin inspeksi langsung keadaan Feng Ni.
__ADS_1
Kasim Kim pun mengantar untuk lihat keadaan Feng Ni yang sehat.
**