
Bukan gendang saja sebagai pelengkap suasana ceria wayang potehi, tapi ada alat harpa, rebana, gitar kuno yang ikut isi setiap alurnya.
"Pada zaman dahulu kala..., tak kala suatu malam yang indah, ratu Jasmine yang berumur 52 tahun tertidur lelap dalam mimpinya. Dia memimpikan seekor gajah terbang menghampiri dirinya dari atas gunung Himalaya. Dan pada esokkan hari beliau menceritakan mimpi untuk ditafsirkan secara harafiah agar mudah dimengertinya," dalang bercerita awal mula kisah.
Semua menonton serius pertunjukan tersebut, sampai-sampai dayang dan kasim rela berjemur di bawah teriknya matahari siang.
Dalang kembali bercerita kisah pertunjukan itu hingga di puncak cerita, yang berkisah penerus tahta kerajaan melepaskan semua yang berkaitan dengan harta duniawi.
Penerus tahta sekaligus keturunan lebih memilih menjadi sebagai seorang pendeta, dan mengabdi seumur hidupnya dalam kuil.
Batin Feng Ni tersentuh dengan kisah pengorbanan pangeran, rela menukar harta duniawi dengan janji alam surga padanya.
Di akhir dalang bercerita, pangeran negeri India beserta beberapa sanak saudara memilih jalan pelepasan.
Keteguhan Feng Ni mulai kembali, seiring dia yang berdiri tinggalkan sekelompok orang penonton dan pemain.
"Saya harus lebih tegar," ucap batin Feng Ni seraya berjalan lugas.
Naga emas yang bersembunyi pun ikut tersenyum bahagia dengan pantulan energi (Yang) positif.
Masa turut berkabung istana sudah berlalu setelah 7 hari. Hari yang baru dengan serentetan tugas baru juga sedang menunggu.
Feng Ni terlihat tenang untuk menyikapi setiap masalah setelah tercerahkan.
Dirinya yang sebagai pelapor dalam sidang kasus tertutup ke-2, juga menempatkan diri sebatas pelapor bukan orang yang punya kedudukan tertinggi.
"Bukti-bukti kongkrit yang hamba tunjukkan, itu telah diakui keluarga terdakwa," ucapFeng Ni, sambil jendral Mu memberikan gulungan surat dan beberapa buku kas keuangan.
"Dasar keponakan sialan!" umpat paman ke-2 menatap keji, kaki tangan diborgol, pakai baju tahanan.
"Seperti sidang sebelumnya. Saya memberi kesempatan pembelaan diri sebelum keputusan diambil," ucap raja Xiao Se Mang, melihat bukti lengkap.
"Hei kau Se Mang!!" ujar terdakwa menunjuk dengan tangan terborgol. "Kau pikir,kau layak duduk di sana, hah...Cihh... Kau lebih layak duduk di atas tumpukan kotoran anjing!" paman saudara kedua memaki kata-kata kasar.
Hunusan pedang runcing menghadap tersangka kejahatan, karena telah menghina dan jatuhkan harga diri raja.
"Matipun, aku tetap akan rebut tahta yang seharusnya jadi milikku seorang!" serayanya lantang.
"Jika perdana menteri Xiao mau bekerjasama, mungkin Yang Mulia raja dapat peringankan hukuman." Feng Ni kembali nasehati untuk selesaikan dengan cara damai.
Paman ke-2 berdiri nantang mata pedang tajam. Begitu juga prajurit khusus siap menusukkan pedang mereka.
Jlebb....
Sama seperti korban sebelumya, paman ke-2 memilih bunuh diri akhiri sidang tertutup.
Jasad korban bunuh diri juga akan dibawa kasim istana ke rumah duka, sebelum dikebumikan.
Dan sama halnya dengan keluarga sebelumnya, Feng Ni dan yang lainnya pergi melayat.
"Feng Ni pulang duluan ya, Bu," bisik pamitnya pada Ratu Semangi dan diangguk.
Demi keamanan, Kasim Kim ngikutin Feng Ni kemana pun ia mau pergi tenangkan diri.
"Kasim Kim," panggilannya terasa lelah dengan 1 hari problema.
"Ya, hamba di sini," berjalan cepat hampiri.
__ADS_1
"Apa saya bisa masuk surga? Setelah melakukan banyak pembunuhan?" memandang cakrawala kuning kejinggaan.
Sebagai pengabdi negara, tentu ia harus menjawab 'Iya'. Jika sebagai rakyat biasa,ia juga akan jawab 'Iya'.
"Tentu saja Tuan Putri berserta keluarga dapat masuk surga."
Sempit, sungguh sempit atau lugu akan pemikiran rakyatnya tentang kehidupan setelah mati.
Akan tetapi dengar pernyataan Kasim Kim sudah dapat tenangkan hati galau.
"Kita pulang," ucapnya beranjak berdiri dari batu besar.
"Baik," ngikutin.
Kuda tidak dipacu kencang, karena ia tau ada masa dimana seekor binatang juga ingin dihargai majikan mereka.
1 jam perjalanan pelan itu sampai mengantar mereka masuk istana.
Rasa ingin makan juga tidak berselera. Feng Ni memutuskan untuk tidur awal sebelum rombongan orang tuanya kembali dari rumah duka.
Esok harinya, Feng Ni tidak ikut lagi dalam acara pelepasan.
Bukan karena rasa bersalah besar, atau tatapan kejam orang-orang padanya. Melainkan takut pancing keributan orang yang hadir.
Dalam perpustakaan istana, Feng Ni banyak baca buku tata negara beserta hukum lama dan baru.
"Ayo makan dulu, Tuan Putri," ucap Bapao membawa bakpao isi kacang merah.
"Abang," tersenyum paksa.
"Makan dulu biar ada tenaga baru," menyerahkan bakpao kacang merah.
"Ayo makan, biar aku bisa balik ke dapur," memohon.
"Oh, Abang diam-diam keluar tanpa sepengetahuan koki?" sedikit terhibur.
"Sssttt..... Jangan kuat-kuat. Nanti aku di suruh pikul air dari sungai. Mana jauh juga.Hehehe....." jawab juga merasa garing.
Feng Ni mengigit dikit ujung bakpao kacang merah, atas wujud terima kasih perhatian.
"Nah begitu. Habiskan biar cacing-cacing tidak berontak," ngacungkan 2 jempol dan senyum bahagia.
Bapao berpamitan dan keluar ruang perpustakaan dengan senyum lega.
Feng Ni di dalam berhenti lanjutkan kunyah ulenan tepung yang bentuk bundar dengan isian kacang merah.
Selang beberapa menit, Da Min Keluar dari terowongan rahasia dengan kabar bahagia.
Agen kembar yang kehilangan jejak beberapa waktu berhasil terdeteksi keberadaan. Dan kabar itu langsung Feng Ni telusuri sendiri.
Da Min dan Feng Ni keluar setelah meninggalkan titipan surat dalam amplop pada Kasim Kim.
"Hamba ikut, ya," pinta Kasim Kim masih bertanggung jawab jaga putri kerajaan.
"Tidak usah. Sudah ada saudara perguruan yang temani," cepat kenakan caping cadar.
"Anda harus kembali dengan selamat. Jika ada bahaya, cepat kirim pesan kilat," ucap Kasim Kim nginggatkan dan diangguk cepatFeng Ni .
__ADS_1
Feng Ni cepat menyusul 3 saudara yang menunggu di pintu gerbang luar istana.
Kuda dipacu cepat sebelum matahari semakin terik ngengat kulit mereka semua.
Butuh 2 sampai 3 jam mereka tiba ditempat jejak agen kembar berada.
Selain perjalanan jauh, jalan juga penuh bebatuan, lubang dan sulit dilalui dengan kecepatan tinggi.
Hiatttt.....
4 kuda dengan 4 penunggang memacu kuda cepat sampai 1/2 lebih perjalanan lancar tanpa hambatan.
Tinggal 1/32 lagi, mereka perlambat lari kuda.
"Setelah lewat hutan ini, kita akan sampai," ucap Da Min memimpin rombongan.
Mereka lewati semak baru tumbuh dimusim semi, dan batu-batu berukuran besar dan hampir dempetan.
Sekitar 40 meter lagi, rombongan itu sampai pada gubuk penampung agen kembar.
"Kita sudah sampai." Da Min nunjuk gubuk di depan jalan mereka.
Ada kebulan asap keluar dari atap jerami gubuk itu. Dengan lebay, Ling Ni berteriak kebakaran. Tentunya yang lain juga sempat panik.
Turun dari kuda dan berada depan gubuk, mereka disambut nenek tua dengan mulut kunyah buah pinang muda.
"Kalian siapa?" tanya nenek tua lihat rombongan pemuda berpakaian bagus datang ke gubuk kecilnya.
"Nenek,ini aku yang 3 hari lalu datang." Da Min memajukan muka untuk di scan kenal orang yang sudah tua.
Nenek tua miring kepala ke kiri dan kanan untuk kenalin wajah yang sok kenal padanya.
"Nenek sudah ingat??" Da Min tersenyum.
Nenek tua geleng kepala dan menggosok gigi dengan serat buah pinang.
"Feng Ni, nenek itu makan apa sih? Giginya kok merah hitam gitu?" Ling Ni penasaran.
Feng Ni menelaah apa yang dimakan tuan rumah.
"Nenek itu sedang ngunyah pinang. Mungkin sudah lama kunyah pinang, jadi gigi nenek memerah hitam," jelaskan garis besar.
"Oh begitu," ngangguk paham.
"Sini masuk," nenek tua tiba-tiba narik tangan Ling Ni. Dan nutup kasar pintu gubuknya.
Selang beberapa detik, seorang pria berpakaian lusuh penuh tambalan keluar dari balik gubuk belakang, membawa kapak sehabis belah kayu.
"Kalian siapa?" tanya penebang kayu, menjatuhkan ujung tajam kapak ke tanah.
Sebelumnya Da Min belum pernah lihat pria yang muncul, karena sewaktu datang hanya ada nenek tua, seorang wanita, dan 4 orang anak kecil.
"Kami datang dari kota untuk menjemput teman kami yang sudah keluarga ini selamatkan nyawanya," sahut Feng Ni.
Penebang kayu memang belum pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka, tapi sudah dengar kedatangan salah seorang dari mereka.
"Oh,... Kalian temannya. Silahkan masuk gubuk kecil ini," minder ngizinin banyak orang berpakaian bagus masuk gubuknya.
__ADS_1
**