Dragon Warrior

Dragon Warrior
Bab 70. Air Rendaman


__ADS_3

Bab 68 . Air rendaman


.


Sampai diperbatasan simpang jalan, Bapao dan Feng Ni berpisah.


"Nanti kalau ketemu prajurit, bilang saja saya habis memanggil Abang, ya," ucap Feng Ni menyarankan.


"Baik." Bapao tersenyum.


Sepanjang jalan Feng Ni terus terpikir akan rumah tua tadi. Mengapa masalah dalam istana lebih rumit dibandingkan masalah yang dialami rakyatnya.


"Ini pasti karena pejabat baru yang bertugas merupakan kaki tangan mereka," duganya.


Tiba juga ia di dalam kamar, bukan hanya sepanjang jalan berpikir, tapi sepanjang malam juga dia memikirkan semua yang saling berkaitan.


**


Esok hari yang tampak biasa sehabis sarapan bersama sambil dengarkan beberapa hasutan, Feng Ni kembali mengerjakan tugas kenegaraan.


Cuitan akan dirinya yang tengah bersekutu dengan iblis masih bisa ia terima.


"Tuan Putri jangan masukkan ke hati perkataan mereka," ucap Kasim Kim menemani Feng Ni menjalankan tugas hari ini.


"Saya paham," jawab datar Feng Ni terus berjalan menuju ruang kerja.


Kasim Kim juga menggeram kesal dengar rumor bertebaran. Tetapi orang yang dirumorkan juga terlihat tenang seolah semua hanya rumor jebakan.


"Silahkan Tuan Putri." Kasim Kim membuka pintu ruang kerja.


"Silahkan duduk. Ada yang ingin saya tanyakan," tangan Feng Ni mengulur pada kursi di samping pintu yang baru ditutup kasim.


Tanya?? Pikiran Kasim Kim dibuat penasaran. Dia pun duduk pada tepat tempat yang ditunjuk.


"Apa anda tau sesuatu tentang Kasim Do?" duduk berhadapan dengan tatapan serius.


"Kasim Do?" bergeleng kepala, karena merupakan Kasim kepala bagian istana utama, yang melayani semua kebutuhan raja.


"Ya," menyandarkan punggung pada kursi.


"Tidak banyak. Tapi rumor yang beredar, setiap malam Kasim Do sering berpatroli seluruh istana seorang diri, memastikan keamanan istana telah terjaga baik."


"Aneh." Feng Ni bergumam.


"Apanya Tuan Putri?" Kasim Kim bingung.


"Bukankah keamanan istana itu merupakan tanggung jawab jendral Li?" mengatakan rasa curiganya.


"Iya juga ya?" baru sadar.


"Bisa saya minta bantuan anda?"


"Katakan saja Putri."


"Saya ingin anda lebih ngawasin gerak gerik Kasim Do. Apapun hasil yang didapat,cepat beritahukan saya," titahnya memberikan plakat miliknya untuk lebih leluasa bergerak ngawasin.

__ADS_1


"Baik Tuan Putri. Berita apapun akan hamba sampaikan," menerima plakat stempel.


Kasim Kim keluar untuk mulai penyelidikan. Dari rumpun kecil,ia mengorek informasi yang bisa ia dapatkan.


Dimana lagi jika tidak pada bagian beberapa dayang berkumpul, yang cepat membuat rumor dan juga dengar segala jenis rumor.


"Kasim Kim," sapa kaget sekelompok dayang yang menjemur pakaian dalam ruang tertutup.


"Mmmm...." tangan mengibas agar mereka tidak usah pasang tampang kaget. "kalian pasti sudah tau rumor yang tersebar kan?" tanyanya dengan tatapan serius.


Semua dayang berjumlah 10 orangan itu berbaris ngangguk dan bergeleng.


"Cepat katakan atau saya akan menghukum kalian!" Kasim Kim pasang tampang sadis sambil ngancam.


Biar sesadis apa, seorang kasim tetaplah kasim yang sudah melakoni tingkah banci selama menjalani jabatan tersebut.


Dayang-dayang itu bukan takut akan tatapan kasim, melainkan mereka takut dengan jabatan yang bersangkutan lebih tinggi dari kasim biasa.


"Su-sudah," jawab mereka terbata-bata.


"Sudah ya....." sahut datar, ngangguk melihat semua dayang juga ngangguk. "Lalu siapa yang sebarkan berita itu !!" kembali membentak, mata menjuling.


Dayang-dayang itu juga merasa bukan mereka yang sebarkan rumor, dan mereka dapat rumor dari sambungan mulut dayang serta kasim lain.


"Cepat katakan !!" Kasim Kim kembali bentak dengan suara tinggi.


Semua menceritakan asal mereka dapat kabar tersebut. Begitu banyak nama yang disebutkan, hingga buat penyelidikan semakin susah menemukan pelaku penyebar ujaran kebencian.


Di ruang baca, Feng Ni berkonsultasi dengan naga emas yang baru saja bangun tidur di dalam kantong.


Naga emas kecil merenggangkan otot-otot naganya yang baru bangun tidur.


"Kim Long," sapa Feng Ni menyuguhkan teh hangat dalam cawan.


"Waktunya mandi..." seru naga emas bersiap berendam dalam air hangat.


Teh yang disuguhkan malah dijadikan tempat pemandian. Dan untuk sementara waktu Feng Ni tidak bisa banyak tanya.


30 menit berlalu, naga emas masih saja enggan bangkit dari cawan. Malah naga kecil itu berniat berendam dalam teko berisi teh hangat.


"Buka tutupnya," ucap ketus naga emas menunjuk teko teh yang panas.


"Baik"


Blurrpppppp....


Naga emas kecil melompat tinggi dan nyemplung dalam teko teh.


Shock? Tentu saja shock. Teh untuk minum dijadikan tempat pemandian seekor binatang.


Ingin berkata jika etika tersebut tidak baik, tapi apa mungkin seekor binatang menghiraukan segala jenis etika dan tata krama.


"Kim Long, bukankah lebih nyaman jika berendam dalam ember ?" Feng Ni menjelaskan dengan hati-hati.


"Tidak usah. Di sini juga nyaman," ketus jawab, mengapung pada permukaan air teh.

__ADS_1


"Tapi ini ....." Feng Ni sukar berkata jujur.


Tokkk.....Tokk.....


Pintu ruang kerja diketuk seseorang. Feng Ni pun menutup teko teh dan biarkan naga itu bersembunyi di dalam sana.


"Masuk."


"Tuan Putri," jendral Mu datang menghadap setelah dapat panggilan.


"Silahkan duduk."


Jendral Mu duduk di kursi berhadapan dengannya. Karena merasa kerongkongan amat kering,ia pun meminta setetes air.


"Saya akan minta dayang membawa teh hangat lagi," ucap Feng Ni enggan memberikan air bekas rendaman.


"Tidak perlu Tuan Putri.Yang itu sudah cukup," sahut jendral Mu mengambil cawan berisi teh dingin.


Glekkk....


Ludah Feng Ni nyangkut di kerongkongan, tidak bisa berkata apa-apa, cukup tercengang lihat air bekas rendaman binatang diminum.


"Terima kasih Tuan Putri," ucap jendral Mu, pria gagah bertubuh besar tinggi, mengelap bibirnya yang sudah basah.


"Ya, sama-sama," jawabnya dengan muka canggung bersalah.


"Tuan Putri ada keperluan apa mencari saya?"


Feng Ni kembali serius untuk membahas hal penting. Dengan tatapan seorang orang berpangkat tinggi, dia bertanya beberapa hal serius yang ia temukan dalam pemeriksaan pekerjaan.


"Jujur saja, untuk biaya alat persenjataan, kita tidak butuh biaya sebanyak itu. Namun kata bendahara semua senjata yang dipakai adalah barang kwalitas tinggi dan di impor dari negeri tetangga," jelas jendral Mu, menunjukkan jumlah perbedaan total keseluruhan uang pembiayaan militer.


"Emmmm..... Saya harus bertanya pada bendahara istana," gumam Feng Ni.


Selain harus memerangi kejahatan, dia juga harus merapikan semua urusan negara.


Teringat dia butuh orang kepercayaan yang bisa melakukan ini, maka dia pun berencana merekut salah seorang saudara seperguruan.


Beda dengan cara Bapao dan Guru-nya yang masuk istana dengan identitas baru.


Untuk kali ini Feng Ni langsung memasukkan saudara lainnya dengan cara sebagai agen rahasianya.


Mendengar hal tersebut, dan dirinya terpilih keluar dari mercusuar berbulan-bulan, membuat Ling Ni menggerutu terus.


"Kamu ini!. Jumpa terus tetap bergaduh. Sekarang punya waktu terpisah, kamu juga menggerutu. Sebenarnya apa sih mau kamu, hhemph!" tanya ketus Da Min berlipat tangan.


"Seharusnya Feng Ni lebih dahulukan aku lah. Masa pilih kamu," tangan nunjuk orang yang bebas menghirup udara kebebasan.


"Oh begitu! Nanti aku akan sampaikan semua keluhanmu, biar didengar dan dimasak Xiao Feng Ni," jawab Da Min, mengemas senjata miliknya.


"Cepat kamu pergi lewat pintu belakang sebelum ketahuan," ujar Fun Cin meleraikan, sekaligus tidak memperlama Feng Ni nunggu.


"Siap," mengikat pedang di punggung.


***

__ADS_1


__ADS_2