Dragon Warrior

Dragon Warrior
Berpencar


__ADS_3

Tengah malam yang dingin dan sunyi guru dan 4 muridnya memulai perjalanan baru mereka, setelah persembunyian yang lama di tempat baru.


Gelapnya malam sudah pasti mengundang banyak apa yang bisa diundang sang malam.


Kukkk.....Kukk.....


Krikkk..... Krikkk....


Wuzzz....


Krokkk..... Krokkk....


Burung hantu, jangkrik, katak, angin saling bercengkrama satu sama lain, seolah saling membahas rapat penting setiap malamnya.


"Bapao tunggu!" panggilannya halus pelan nyaris tak terdengar, mengejar Bapao yang tepat berjalan di belakang gurunya.


"Pasti ketakutan lagi dia," ujar Da Min berjalan cepat nyusul ketinggalan dia.


"Kamu takuti dia lagi?" tanya Fun Cin tersusul Da Min dari belakang, dan lihat saudarinya yang lari terkocar kacir.


"Tidak. Tapi dasar dia saja yang penakut," jawab Da Min tepat di sebelah abang.


Fun Cin tau jika saudaranya itu tidak berbohong, karena suasana tengah hutan menuruni gunung memang terasa seram.


Agar tidak tertinggal lebih jauh, Fun Cin dan Dan Min berjalan cepat dengan beban berat di punggung mereka.


2 jam perjalanan di jalan setapak menuruni gunung berhasil mereka lalui sampai di kaki gunung.


Kedinginan yang kian berkurang semenjak di kaki gunung, disertai matahari yang akan segera terbit malu, menyemangati mereka yang beberapa hari akan tiba di ibukota kerajaan Semangi.


"Ehh....Tadi ketakutan sampai nempel. Sekarang begitu turun gunung lupa daratan," gerutu Bapao ditinggal berjalan sendiri dengan keranjang besar di punggung.


"Guru," panggilnya lembut tepat di belakang gurunya.


"Mmm..." dehem So Po Ta terbiasa dengan muridnya yang manja di belakang.


"Kita segera ke istana kan?" tanyanya berjalan slow.


"Ya"


"Istana itu tentunya penuh makanan, pakaian bagus juga kan?" Ling Ni membayangkan keadaan dalam istana setibanya mereka semua.


"Ya."


"Akan ada juga sambutan untuk kita?" kembali bertanya.


"Nanti kamu lihat saja sendiri," jawab So Po Ta tiba-tiba serius dingin dan berhenti melangkah.


"Ada apa, Guru?" tanya Ling Ni ikut terhenti tanpa nabrak.


"Kalian harus berpencar dengan membawa ini sebagai signal darurat," ucap So Po Ta menunggu 3 murid tertinggal di belakang, sambil mengeluarkan tabung yang berisi mesiu untuk ciptakan isyarat berupa kembang api.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak bisa," jawab Ling Ni tidak yakin aman saat jalan menuju istana seorang diri.


So Po Ta tau bagaimana kemampuan tiap muridnya, dan untuk itu dia berencana membagi dalam 2 kelompok dengan jalur berbeda.


"Ada apa, Guru?" tanya Bapao menyusul berhenti.


So Po Ta tidak menjawab, sampai 2 murid lainnya berkumpul dengan mereka.


Beberapa menit kemudian, Fun Cin dan Dan Min berkumpul. Dengan pembagian yang sudah disesuaikan, maka Fun Cin 1 kelompok dengan Bapao, dan Da Min dengan Ling Ni yang jarang akur tapi punya ikatan persaudaraan terikat erat.


"Guru, aku sama Bapao atao Abang Fun Cin saja," pinta rengek Ling Ni melirik keluh penderita jika bersama.


"Tidak bisa. Ilmu kalian tidak sebanding jika bertemu lawan, jadi apa yang sudah Guru putuskan, kalian lakukan saja," tegas jawab So Po Ta, membagi tabung berisi mesiu .


"Baik," jawab Fun Cin dan Bapao.


Tapi tidak dengan dua musuh debat yang malas untuk berpasangan akur.


Mereka berempat mulai berjalan menuju arah yang sudah ditunjuk guru mereka. Satu melalui jalur gunung lain, dan satunya lagi melalui jalur setapak.


Sedangkan So Po Ta yang bersama naga emas dalam kotak kayu cendana, memilih jalur penuh jurang terjam.


Mau gimana lagi Ling Ni mau berdebat mulut dan ego yang tinggi, jika harus melalui gunung. Biarpun tidak banyak menghadapi musuh benaran, tapi hantu adalah musuh yang lebih mengerikan, tidak bisa tersentuh tapi bisa menyentuh.


"Bang Da Min, ayo lebih cepat jalannya," ucap lembut ketakutan, Ling Ni menarik Da Min yang jalan lambat seperti siput.


"Sabar. Kita akan sampai juga kok," jawab Da Min ngacuhkan keinginan Ling Ni yang nempel kayak perangko jika ada maunya.


"Ckckck.... Ingin beristirahat atau takut?" Da Min menyindir halus tapi tetap sasaran.


"Ihhh... Abang kok gitu sih!. Apa gak capek bawa banyak barang," keluh Ling Ni merasa pundaknya dicolek makhluk astral.


Beerrrr......


Bulu kuduk Ling Ni berdiri merinding. Egonya yang tinggi lari menciut jauh entah kemana.


"Nanti kita tidak bisa lewat jalan pintas warga," ucap Da Min hampir memasuki batas kaki gunung dan pemukiman warga.


"Nggak apa-apa, asal tidak lewat tinggal hantu " celetuk Ling Ni jalan mepet terus merinding.


"Tanganmu tidak usah sampai segitunya," ujar Da Min tercubit remasan tangan Ling Ni.


"Makanya jalannya cepat!" jawab Ling Ni, gigi bergertakkan takut.


Da Min tidak bisa mempercepat lagi langkahnya membawa beban di punggung,dan dipepet erat Ling Ni.


Sampai juga mereka di batas perkampungan, sesuai saran guru, mereka harus menelusuri kaki gunung yang bersebelahan sampai batas dengan ibukota.


"Kita makan dulu," saran Da Min sudah waktunya sarapan pagi.


"Tidak usah," sahut keluh Ling Ni, nolak untuk beristirahat di tempat angker dari pada posko musuh.

__ADS_1


"Tapi aku laper," ujar Da Min berhenti,coba turunkan bungkusan beban pada punggung.


"Aku kasih pil tahan laper " jawab Ling Ni, tidak biarkan Da Min lepaskan beban sebelum sampai pemukiman manusia.


"Haishhh!! Guru kok tega suruh aku 1 kelompok dengan dia," gerutu keluh Da Min sudah berjalan lama dan jauh sejak bangun.


"Abang kok gitu sama aku. Aku kan saudara yang baik " celetuk Ling Ni dengar keluhan Da Min.


"Saudara baik? Hahaha...." tawa Da Min mempertanyakan pernyataan saudari yang baik jika ada maunya.


"Awas saja jika sudah di istana dan ketemu Feng Ni. Aku akan adukan semuanya, biar kau di hukum!" umpat kesal batin Ling Ni, dengan wajah minta dikasihani.


Setelah Ling Ni memberikan sebutir pil tahan laper 12 jam, mereka lanjutkan jalan yang disarankan guru mereka.


.


Di tempat lain waktu yang sama,Fun Cin dan Bapao berada di area pemukiman warga yang sedikit jumlah penduduk.


Mereka beristirahat untuk menyiapkan makanan untuk 3 kali selama perjalanan panjang.


Fun Cin mengumpulkan ranting dan rumput kering. Bapao mengeluarkan bahan makanan untuk diolah dalam jumlah secukupnya untuk mereka makan selama 6 kali, serta yang harus tahan lama.


"Sini Abang bantu ngulen," ucap Fun Cin lihat Bapao mengulen tepung yang sudah bercampur air.


"Oh, baik," sahut Bapao dengan senang hati.


Mereka kompak mengulen tepung sampai kalis, lalu mereka mencubit tepung kalis itu untuk dibentuk bulat-bulat kecil sebelum dimasak sesuai selera pembuat.


"Abang mau dipanggang atau kukus?" tanya Bapao meletakkan wajan datar di atas kayu bakar.


"Kita kukus setengahnya, dan setengahnya lagi dipanggang," saran Fun Cin.


"Baik." Bapao meletakkan peralatan ngukusnya di atas wajan datar.


Sambil ngukus tepung yang akan jadi mantao, Bapao memanggang tepung dalam bentuk pipih bundar menjadi kue panggang polos.


Sementara itu, Fun Cin tetap menjaga kestabilan bara api dengan tiupan angin kencang di ruang terbuka.


Harum mewangi makanan terbawa angin, sudah dipastikan sebentar lagi masakan mereka akan matang sempurna dipanggang.


"Selesai ini, kita beristirahat sebentar sebelum lanjut," ucap Fun Cin membungkus kue panggang dengan daun jati yang dia kumpulkan juga.


"Iya, bang," jawab Bapao melanjutkan sisa tepung yang harus dia panggang dan dimakan.


Masakan semua sudah selesai,kue panggang terakhir mereka makan untuk pengganjal perut sebelum melanjutkan perjalanan.


Emang kurang renyah dan kurang pelengkap untuk temani kue yang mereka masak. Namun tidak masalah buat mereka yang seorang pendekar pengelana.


Dan di tempat lain lagi, So Po Ta dan naga emas ke pulau Bidadari untuk meminjam mestika yang melegenda.


Pulau Bidadari yang dianggap manusia awam hanya sebuah dongeng belaka, akan ada bagi mereka yang sungguh mempercayai dan memiliki ilmu kebatinan tinggi.

__ADS_1


Di sana merupakan rumah kedua bagi para dewa dewi yang tidak diterima untuk tinggal di alam surga langsung. Rumah bagi bidadari yang memiliki darah campuran antara manusia dan dewa atau dewi.


__ADS_2