Dragon Warrior

Dragon Warrior
Roda takdir


__ADS_3

"Siap laksanakan!" sahut Bapao bersujud, tangan mengulur ke atas kepala terima titah resmi kerajaan.


"Semoga Yang Mulia panjang umur, Tuan Putri bahagia selalu..." serentak memberi ucapan penghormatan.


Usai acara pertemuan resmi, Ling Ni berkeluh kesah akan keadaan yang kurang nyaman tanpa kehadiran 1 saudarinya.


Rengekan keluh kesah itu selalu ditepis Da Min yang menyelip setiap perkataan Ling Ni.


"Tuh....Lihatkan! Da Min selalu meledekku," adunya pada Feng Ni.


"Ya, ya, ya..... Lapor saja terus" Da Min meledek dengan wajah jutek, berlipat tangan.


"Sudah, tidak usah dengarkan perdebatan mereka. Sebaiknya kamu. Eh, maksud aku, Tuan Putri. Tuan Putri segera balik sebelum ketahuan prajurit" sebagai Abang tertua, dia harus menunjukkan sikap panutan bagi adik-adik.


"Baiklah, Bang," dia pun memang tidak bisa keluar terlalu lama dari bagian utama istana.


Saat Da Min dan Ling Ni berdebat, Fun Cin dan Bapao lah yang mengantar kepergian Feng Ni sampai depan pintu.


"Kalian mau ribut berapa lama?" Bapao berdiri diantara mereka.


"Mana Xiao Feng Ni?" Ling Ni celingukan, mendorong tubuh besar Bapao menghalangi pandangan.


"Sudah pulang." Fun Cin menyiapkan persiapan membawa Bapao keluar mercusuar tanpa ketahuan prajurit penjaga.


"Yahhh....Kok cepat sekali?" rutuk sesal Ling Ni tidak ada tempat pengaduan.


"Hehehehe.... Dia pusing dengar ocehan kamu," sindir Da Min tertawa bergedik bahu.


"Tidak mungkin! Ini pasti karena dengar ocehan kamu!" balas balik menuding.


2 orang lainnya hanya pasrah membiarkan mereka puas beradu mulut.


Sore hari saat penjagaan tidak ketat, Fun Cin membawa keluar Bapao dari mercusuar sampai dinding pembatas istana.


"Setelah ini kamu lurus ikuti peta. Jaga dirimu baik-baik," ucap pelan Fun Cin mengantar selamat Bapao sampai dinding pembatas.


"Baik. Abang dan lainnya juga," berpelukan.


"Sana pergi sebelum ketahuan," membuat pijakan kaki Bapao untuk melompat dengan tangannya.


Bapao memijak tapak pijakan dengan bantuan lemparan fun Cin, dia pun berhasil melompat tinggi lewati tembok pembatas.


"Aku harus segera pergi," gumam Bapao memungut beberapa bekal bungkusan kain berisi makanan kecil.


DIa berlari cepat mengikuti arah yang terlukis pada lembaran kertas.


Melewati tikungan, dia masih harus perhatikan nama jalan dan tetap utamakan keselamatan.


Di belokan kanan terakhir, dia berhenti bersandar tembok pagar rumah orang untuk ambil nafas.


Dirasa sudah cukup tabungan oksigen, dia kembali berlari agar tidak sampai di rumah orang terlalu malam.


"Sepertinya aku sudah sampai," melihat kediaman yang dituju sesuai petunjuk peta.


Di depan tembok pagar kediaman orang itu juga tertulis nama keluarga pemilik rumah.


"Ya, ini." Bapao merapikan pakaian sebelum mengetuk pintu pagar.


Tok....Tok.....


Ketukan cukup keras agar siapa pun yang ada di dalamnya bisa dengar ada tamu yang datang.

__ADS_1


"Selamat malam," sapa Bapao pada pria yang berpakaian pelayan.


"Malam. Mau apa kemari?" sapa dan tanya pelayan itu..


"Aku mau cari Tuan Lim "


"Siapa kamu?" bertanya lebih detail.


"Aku diminta seseorang untuk kemari," mengeluarkan sebuah surat untuk diberikan pada orang tertuju.


"Baik. Kamu tunggu saja di sini." pelayan kembali tutup pintu biarkan tamu berdiri menunggu di luar pintu.


Bapao berdiri mematung tunggu panggilan masuk.


Tidak lama pelayan kembali buka pintu biarkan tamu itu masuk.


"Silahkan ikuti aku," menunjukkan jalan.


Terpampang luas kediaman itu, walau tidak seluas istana dan megah mirip kediaman bangsawan atau pejabat berwenang tinggi.


"Silahkan masuk. Tuan sudah menunggu di dalam," membuka pintu masuk kediaman.


"Baik. Terima kasih," melangkah masuk begitu pintu sedikit terbuka.


Di dalam dia sudah ditunggu pejabat Lim dan juga guru yang lama tidak ketemu.


"Guru," serayanya berlutut menyapa.


"Berdirilah."


"Baik, Guru," lalu menyapa pemilik rumah. "Selamat malam Tuan" memberi salam dunia persilatan.


"Selamat malam juga. Lebih baik kita ke ruang lain," beranjak berdiri memilih tempat rapat lebih aman.


Sementara di ruang tamu tadi, istri pejabat Lim mengatur pelayan perempuan membersihkan dan juga menyiapkan makanan ringan bersama teh panas.


Sampai di ruang baca, pejabat Lim sudah tau apa yang harus diperbuatnya.


Selembar kertas yang berisi tulisan dan tinggal diisi sesuai info beserta stempel keabsahan, sedang dia isi menurut beberapa keterangan yang diberikan Bapao padanya.


"Ini surat mengenai indentitas kamu." pejabat Lim menyerahkan lembar kertas identitas yang sudah dilegalisir stempel sah.


"Pergunakan itu sebaiknya," tambah So Po Ta.


"Baik Guru, Tuan," sahut Bapao menyelipkan surat identitas baru dalam baju.


"Setelah masuk, kamu akan tidak bisa langsung berkontak dengan Tuan Putri. Untuk darinya,kamu bisa menyampaikan info yang didapat saat mengantar makanan." pejabat Lim memberi saran dan juga tugas kedepannya.


"Baik,aku paham," angguknya.


"Kamu ambil ini. Saat ada yang mencurigai, kamu bisa pergunakan dengan menaburnya." Ratu bidadari memberikan kantong berwarna hijau.


"Terima kasih, Nyonya," tidak tau siapa wanita yang ikut membahas masalah penting dengan mereka.


Malam pun kian larut. Karena tujuan Bapao cukup jauh, dia pergi keluar dari kediaman Lim setelah berpamitan.


Dia pergi berjalan menelusuri jalan ramai menuju kampung sebelah, dimana surat duplikat penunjukan dirinya sudah diterima orang yang juga menyamar sebagai keluarga Bapao.


Sampai pada sebuah gubuk tidak terlalu jelek, Bapao disambut oleh seorang anak gadis kecil dan juga wanita paruh baya.


"Nenek, ayah sudah pulang," panggilnya mengandeng tangan Bapao masuk gubuk kecil mereka.

__ADS_1


"Masuk, masuk." Wanita tua keluar menyambut.


Bapao tertegun bodoh, karena ia tidak diberi informasi akan ada keluarga yang mengakui identitas baru dirinya.


"Kalian siapa?" tanya Bapao pada wanita tua.


"Ya ampun, Sing Erl. Masa kamu lupa ibu dan anak semata wayangmu." Wanita tua menangkup wajah Bapao dengan mimik wajah sedih.


"Ibu? Anak?" menoleh kedua perempuan.


"Aku kan belum menikah? Lagian kalian bukan keluarga aku," batin Bapao pusing dibuat perempuan mengakui keluarga.


"Iya ayah. Aku putri ayah, Mei Hwa." gadis kecil memeluk Bapao.


"Ini ibu, ibu mertua kamu," tambah wanita tua.


Bapao hanya dibuat makin pusing 7 keliling. Dirinya ditarik masuk dalam gubuk kecil.


Sampai di dalam, dia pun mendapat penjelasan bersuara pelan dari wanita tua.


"Sing Erl, sekarang kamu sudah ingatkan?" tanya wanita tua.


"Iya, ayah. Ayah ingat Mei Hwa kan?" tambah gadis kecil.


"Hehehehe..... Sudah ingat kok," sahut kaku Bapao sudah paham.


"Ini ada surat dari orang istana. Besok kamu harus segera ke istana. Semua keperluan sudah ibu siapkan," memberi surat duplikat, seakan semua terlihat dan terdengar normal oleh mata-mata yang sedang mengintai gubuk kecil ini.


"Baik, Bu."


"Ayah pasti sudah lelah, Mei Hwa sudah rapikan tempat tidur ayah."


"Terima kasih, nak," ucapnya kaku harus manggil.


Untuk malam ini, Bapao mulai beradaptasi dengan identitas palsu sementara waktunya.


Ia juga tetap harus waspada di tempat yang ternyata lebih berbahaya bersembunyi dari pada dalam mercusuar istana.


Mata sudah terpejam, tetapi sesekali melek lebar setiap ada suara orang menginjak ranting kering berserakan patah jatuh dari pohon.


"Hufff....Aku saja tidak tenang. Pasti mereka lebih tidak tenang terus diawasi," gerutunya dalam batin dan kembali menutup mata.


***


Di istana, 3 orang yang tersisa bersembunyi dalam mercusuar terlihat gelisah pada nasib Bapao yang sudah selamat atau belum.


Sama seperti Bapao, 3 orang itu terus tidur gelisah.


"Aku enggak bisa tidur." Ling Ni beranjak duduk dari tidurnya, memeluk lutut.


"Sama. Aku takut Bapao ketahuan mata-mata," tambah Da Min memiringkan posisi tidur, menghadap Ling Ni.


"Besok kita akan segera tau bagaimana keadaan Bapao." Fun Cin tetap tidur telentang menatap langit-langit atap.


"Kelamaan dong, Bang," jawab Ling Ni habis pertanyaan.


Mereka bertiga pun tetap pada posisi mereka masing-masing. Tidak hanya mencemaskan Bapao, mereka juga mengkhawatirkan guru dan Feng Ni.


Angin musim gugur meniup perlahan mata sayup-sayup mereka, agar roda takdir bisa berputar sebagaimana mestinya dia menggores cerita pada setiap kehidupan di bumi.


Tidak hanya pada manusia dan hewan,juga menggores cerita pada tumbuhan dan alam yang ikut andil dalam setiap kejadian peristiwa.

__ADS_1


Kantuk membelai mata semua orang yang punya tujuan mulia esok hari. Untuk membuat kisah baru dengan harapan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.


__ADS_2